Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 92 Dua Dewa Hutan Larangan


__ADS_3

Hutan larangan adalah sebuah tempat penuh misteri layaknya lembah neraka, jika lembah neraka hanya Kim mo dan kedua adiknya, sedangkan Hutan larangan, yang terdapat di lembah gunung hitam, di perbatasan antara Beiping dan Shin tian, anggota Hutan larangan tidak banyak, tapi rata2 mereka bersipat ku koay ( aneh ) tak mau diatur, tak suka di perintah, dan ketua Hutan larangan disebut dengan panggilan Dewa bumi, dan mereka menganut kepercayaan dari nenek moyang mereka turun temurun.


Seorang Hantu darah maju, kau hanya merah di muka, sedangkan aku merah semua, jadi kau kalah tua, Pedang gila tak menjawab perkataan Hantu darah, tapi melintangkan pedang kelabang biru di dadanya.


Hantu darah mengeluarkan senjata semacam pengaris yang terbuat dari batu giok hitam, yang keras dan juga mengeluarkan hawa dingin, lalu bersiap sedia,


mereka yang berada di sekitar keduanya mundur,


Pedang gila lalu melesat, pedangnya menyambar kearah dada Hantu darah, Hantu darah menggerakan penggaris giok hitam untuk menangkis.


Traaaang...!!


Kedua senjata bertemu, tangan keduanya bergetar, lalu keduanya mundur, Hantu darah terkejut melihat pedang pusaka lawan, yang keras, setelah melihat penggaris Giok hitam miliknya tak menjadi cacad ketika beradu dengan pedang kelabang biru.


Hantu darah kali ini balik menyerang kearah pedang gila, serangan mengunakan penggaris giok hitam, sangat aneh, terkadang menebas, tapi bisa berubah jadi menampar dengan bagian pipih dari penggaris itu, Pedang gila menghindari serangan serangan dari Hantu darah, tubuh pedang gila bergerak cepat, dan pedang gila, mengeluarkan jurus pedang kilatnya,


Hanya sinar pedang warna biru yang melesat, dengan cepat kearah, Hantu darah, semakin lama keduanya semakin cepat, hanya bayangan merah dan hitam yang bergerak, saling sambar, berusaha menjatuhkan lawan.


Tan bu ong dan Kiam kun terkejut melihat kedua orang itu, ilmu keduanya jelas diatas mereka, tapi mereka tak kenal dengan keduanya, hanya pernah dengar nama Hutan larangan, tapi tak tahu siapa orang yg berada disana, sedangkan kakek bermuka merah, mereka sama sekali tak kenal siapa kakek itu.


Serangan silih berganti, pedang kelabang biru sangat ganas dan selalu mengincar tempat tempat kematian dari Hantu darah.


Serangan pedang berwarna biru dengan sangat cepat meluncur, menusuk kearah leher.


Hantu darah, Hantu darah bergerak menghindar kesamping, kemudian, kakinya menendang kearah pinggang, Pedang gila tak menghindar, tangan kirinya menangkis kaki Hantu darah.


Bhuuuk..!!,


kemudian pedang gila, setelah menangkis, langsung bergerak pedangnya menyambar kearah dada Hantu darah,


Kali ini Hantu darah mundur kebelakang, lalu keduanya bersiap kembali.


Sebelum keduanya bergerak, 2 buah bayangan melesat kearah mereka, 2 orang berpenampilan aneh telah berada di situ, satu orang dengan tubuh pendek dan satu lagi dengan tubuh yang tinggi, dan keduanya sama2 memelihara jenggot panjang berwana putih.


Melihat orang yang datang, lalu sepasang Hantu darah menghampiri dan memberi hormat.


Maaf kami belum bisa membereskan mereka.


"Kalian mundur...!!" Orang yang bertubuh pendek berkata.

__ADS_1


"Baik Pocu ( ketua benteng ) Hantu darah berkata, kemudian berdiam di belakang orang yang pendek dan di sebut Pocu, yang tak lain adalah Dewa Bumi.


Maaf jika kami tak sopan, kami memang sedang membutuhkan bahan bahan obat, di hutan larangan sedang terserang wabah penyakit, dan kami sudah memberi uang muka kepada saudara Pedang angin untuk bahan obat ini.


Kiam kun mengerutkan kening ketika mendengar perkataan dari kakek bertubuh pendek itu, kemudian menatap kearah pedang angin yang wajahnya pucat.


"Omongan mu mana yang benar adik, kau jangan coba coba mengadu domba antara pedang kembar dan perguruan tengkorak putih..!!" aku tahu kau berambisi menjadi ketua, dan aku sering mendapat laporan laporan tentang kelakuan buruk mu.


Hmm...!! kami memang telah membuat perjanjian, dengan saudara pedang angin, akan membantunya menjadi ketua, asalkan dia mau membantu mencari bahan obat yang kami butuhkan, dan uang muka juga sudah kami kirim, jadi kami yang berhak untuk bahan bahan obat ini.


"Tunggu dulu..!!"


Mo kwi berkata kemudian berdiri disamping pedang gila, "kakak mundur dan lindungi kakek..!!" Lan guo in dan Hu fan an, terkejut mendengar Mo kwi menyebut kakek kepadanya dan menatap kepada pemuda tampan didepannya, tapi tak berkata apa apa.


"Maaf tuan, tapi bahan obat ini adalah, kepunyaan perguruanku, dan sudah memesan kepada kakek ku sebelum Pedang angin, Pedang angin ingin merebut bahan obat ini, Mo kwi berkata.


Tan bu ong terkejut mendengar Mo kwi menyebut perguruanku, dan ketika melihat Mata elang yang sudah ia kenal, Tan bu ong mengerutkan kening dan berpikir, siapa pemuda itu, begitu pula dengan juragan Lan.


Sebuah bayangan bergerak, kemudian Pedang angin sudah tercekal, dan di pegang oleh kakek bertubuh jangkung, "kau coba menipu kami ya," kakek jangkung itu berkata, pucat wajah pedang angin, keuntungan yang sedikit lagi ia raih, seperti terbang, berikut roh nya yang seakan juga ikut pergi.


"Ular muka dua, adik, jangan ragu lagi..!!" setelah mendengar perkataan kakek bertubuh pendek itu, lalu terdengar suara.


Kepala dari pedang angin pecah, dihantam oleh kakek bertubuh jangkung itu.


"Nah, orang ini sudah mati, apa kami boleh membawa bahan obat ini..?"


"Itu urusan mu dengan pedang angin, tapi bahan obat ini milik kami," Mo kwi berkata.


"Kau aneh, sudah ku tolong, masih saja cari masalah, siapa kau sebenarnya..?" kakek pendek itu berkata.


"Kau dulu, sebagai pihak pengacau yang bicara..?"


Mendengar ia disebut pengacau, wajah kakek pendek itu berubah, matanya tajam menatap Mo kwi.


"Aku Dewa bumi, pocu hutan larangan, dan ini adikku Dewa langit." kami jarang keluar dan mengganggu orang, tapi jika di sebut pengacau, hmm,.!! mulutmu pantas di robek," Sebuah bayangan melesat kearah Mo kwi, Dewa langit, bergerak, dan telah Memegang, tangan Mo kwi yang sudah dialiri oleh ilmu sisik naga, sehingga Dewa langit yang mencekal tangan Mo kwi tak bisa memencet urat nadi seperti yang tadi ia lakukan, kepada pedang angin, karna tangan Mo kwi sangat keras sepert sebuah besi baja.


Pergi kau, Mo kwi mengibaskan tangannya.


Dewa langit lalu melepaskan tangan Mo kwi dan kembali ketempat Dewa bumi, "orang ini boleh juga kakak, Dewa langit berkata kepada Dewa bumi."

__ADS_1


Mendengar perkataan adik nya, Dewa bumi mendengus. lalu bergerak, telapak tangannya kemudian menghantam kearah perut Mo kwi.


Mo kwi tak menghindar melainkan menangkis serangan Dewa bumi, tangan mereka beradu.


Dhuaar,..!!


Keduanya lalu sama sama mundur selangkah kebelakang.


Mo kwi dan Dewa bumi sama sama terkejut, ketika mengetahui tenaga dalam mereka imbang, "rupanya kau punya isi hingga berani bicara..?"


Setelah berkata, kemudian Dewa bumi menyerang kembali, gerakannya sangat cepat dan selalu mengincar bagian bawah dari tubuh Mo kwi, dengan tubuh yang hanya setinggi pinggang Mo kwi, Dewa bumi memang lebih di untungkan, menyerang tubuh bagian bawah, Mo kwi menggunakan langkah kilin, selalu bisa menghindari serangan serangan Dewa bumi.


Tak terasa puluhan jurus sudah mereka lalui, dan beberapa kali beradu tangan, membuat Dewa bumi gigit jari, karna tangannya makin lama makin terasa panas, Dewa bumi makin terdesak oleh Mo kwi.


Sebuah bayangan melesat dan langsung menyerang Mo kwi, Dewa langit yang melihat kakak nya terdesak lalu ikut membantu, kemudian kedua nya bekerja sama, Dewa bumi menyerang bagian bawah, sedangkan Dewa langit menyerang bagian atas.


Pertempuran lebih dasyat kembali terjadi, kali ini yang menyaksikan mundur lebih jauh, karna tenaga dalam yang mereka bertiga keluarkan sangat besar.


Serangan kedua dewa itu sangat kompak, sehingga Mo kwi lambat laun mulai terdesak, ketika Mo kwi meloncat menghindari serangan Dewa bumi yang mengincar kakinya, Dewa langit yang melihat peluang bagus, langsung menghantam kan tangannya kearah bahu kiri Mo kwi.


Dheeees..!!


Mo kwi terhuyung mundur selangkah, bahunya terasa nyeri akibat hantaman Dewa langit, dengan amarah yang meluap, tangan kanan Mo kwi bergerak menghantam dengan ilmu pukulan Naga api, kearah Dewa langit.


"Awaaaaaas adik...!!"


Dewa bumi menubruk adik nya hingga mereka berdua bergulingan di tanah dan terhindar dari pukulan Naga api, sementara, sebuah sinar merah yang sangat panas, langsung menghantam sebuah pohon besar yang berada si belakang Dewa langit, yang langsung hancur dan hangus terkena pukulan Naga api, Mo kwi.


Dewa bumi dan langit wajah mereka pucat pasi melihat pohon yang terkena pukulan Naga api dari Mo kwi, begitu pula orang orang yang berada di situ.


Dan wajah kedua Dewa itu makin pucat, melihat seluruh tubuh Mo kwi, perlahan dari hitam kemudian menjadi Merah, dan kedua dewa itu ingat dengan perkataan dan pesan guru dan tetua tetua mereka yang telah meninggal dunia.


Jika ada seorang yang mempunyai ilmu yang bisa membuat tubuh mereka berwarna merah, seperti api, dan pukulannya berhawa panas, kalian harus tunduk kepada orang itu, karna dia adalah perwujudan dari Dewa api, Dewa tertinggi dalam ajaran kepercayaan nenek moyang kita,


Suatu kepercayaan dan ajaran yang dianut dan di percayai oleh para anggota hutan larangan, yang menyembah api suci, ajaran turun temurun dari nenek moyang mereka dari hutan larangan.


Mata Mo kwi sudah berubah buas melihat ke empat orang itu mendatangi, ilmu Raja hitam dengan tenaga dalam baja api, telah ia keluarkan, dan tangan kanan kirinya, sudah terisi dengan ilmu naga api dan inti api, hingga kedua tangan Mo kwi terlihat lebih merah, dari tubuhnya.


Dewa bumi yang berada didepan, memberi hormat kepada Mo kwi, dengan diikuti oleh Dewa langit dan sepasang Hantu darah, Dewa bumi kemudian berkata.

__ADS_1


Penghuni hutan larangan, memberi hormat kepada Dewa api.


__ADS_2