Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 44 Ketua Yang Tak Tahu Etika


__ADS_3

"Maaf paman,"..!! "Pria bertopeng ini bukan murid ku, dan aku juga tak tau kenapa ia memanggilku guru."


Liu kang tak membantah perkataan dari Mo kwi, karna orang yang berada diruangan mengetahui, sebelumnya, pria bertopeng itu dengan ganas menyerang Mo kwi dan berusaha membunuhnya, tapi entah kenapa setelah Tio ban tewas, pria bertopeng itu lalu menyebut Mo kwi sebagai gurunya.


Liu kang mengangguk mendengar perkataan pemuda itu.


"Jika paman mempunyai kepentingan dengannya, paman tanya saja orangnya," Mo kwi berkata.


"Hai orang tua, apa kau tak liat adiku terluka,"..? Li chun berkata kepada Liu kang.


Liu kang yang melihat pertempuran dan mendengar percakapan mereka tahu bahwa berbicara dengan Li chun tak kan ada hasilnya, karna pemuda itu adalah pemuda Dogol.


Liu kang lalu menatap kearah Pedang gila.


"Aku melihat ilmu pedangmu ada kemiripan dengan ilmu pedang dari perguruan pedang suci, jika aku boleh tahu, siapakah anda sebenarnya dan darimana anda memperoleh ilmu pedang yang mirip dengan ilmu pedang dari perguruan pedang suci,"..? Liu kang bertanya kepada Pedang gila.


Tapi tak ada jawaban dari Pedang gila, ia hanya diam, seperti tak mendengar perkataan dari Liu kang.


Wajah Liu kang mulai berubah ketika sudah menunggu, tapi tak ada jawaban dari Pedang gila atas pertanyaannya.


Liu kang setelah menunggu lama masih tetap tak ada jawaban, kemudian mengeluarkan pedang.


Mo kwi mengerutkan dahi, begitu melihat Liu kang mengeluarkan pedangnya.


Tiba tiba See in tampil dan berkata.


"Maaf ketua, ilmu pedang sangat luas dan dalam, terkadang ada kemiripan, itu adalah hal yang wajar, kenapa ketua Liu mempermasalahkannya."


"Maaf tuan See in, aku tau kau adalah menantu dari ketua perguruan Naga langit, tapi ini bukan urusan mu, kuharap kau tidak ikut campur dalam urusan ini."


Ha,..Ha,..Ha,..!! "Aku bukan ikut campur dengan urusan ketua Liu, tapi apa tidak lucu seorang ketua perguruan besar golongan putih memaksakan kehendak, terhadap seorang pemuda yang sudah terluka,"..?


Mendengar perkataan dari See in, wajah Liu kang berubah kelam, ia sebagai ketua perguruan besar merasa tidak dihargai oleh See in dan Mo kwi.


Liu kang lalu mengeluarkan pedang.


Melihat Liu kang mengeluarkan pedang, wajah See in seperti kesal, ia kemudian meloloskan Pedangnya.


"Baik,..!! "Jika ketua Liu ingin bermain main, aku akan melayani."


Mo kwi yang mendengar perkataan Liu kang, dan merasa orang tua itu seperti memaksakan kehendaknya, merasa kesal, kemudian berkata.


"Kau adalah ketua perguruan besar, tapi sipat mu seperti seorang berandal gunung," Mo kwi berkata.


Tak usah banyak cakap, kalian maju saja berdua biar cepat.


Ha,..Ha,..Ha,


"Ketua perguruan pedang suci terdahulu Tan huo sangat sopan, dan selalu menghargai orang, sangat berbeda dengan ketua sekarang, yang sipatnya seperti anak kecil," See in tertawa kemudian berkata.

__ADS_1


Liu kang yang mendengar perkataan dari See in amarahnya tak bisa dibendung lagi.


Tanpa memberitahu lagi Liu kang lalu bergerak dengan cepat menyerang kearah See in.


Kau sudah terluka minggirlah, See in berkata kepada Mo kwi.


Kemudian See in melesat, dan menangkis pedang Liu kang yang bergerak cepat kearahnya.


Sementara gubernur Zhang hanya bisa menggelengkan kepala sambil melihat kearah dinding yang terdapat sebuah lukisan besar.


Acara yang bertajuk, mengikat tali persaudaraan yang ia gelar malah menjadi ajang pertempuran, dan gubernur Zhang hanya bisa menarik napas dalam dalam, sambil melihat pertarungan yang terjadi antara ketua perguruan pedang Suci dan See in dari kursinya.


Sementara Diao chan tanpa malu memegang tangan Mo kwi lalu menarik, menjauhi pertempuran, diikuti oleh Pedang gila dan Li chun.


Sementara Lin eng yang selalu memperhatikan Mo kwi, matanya menatap tajam kearah tangan Diao chan yang menarik tangan Mo kwi, wajah gadis itu cemberut melihatnya.


Pertempuran sengit terjadi antara Liu kang dan See in, bunga api memercik ketika pedang mereka beradu, dan agak nya dalam hal tenaga dalam See in masih kalah dengan Liu kang, terlihat setelah beradu pedang atau pukulan, See in selalu tergetar dan mundur.


Liu kang merasa diatas angin mengetahui ia menang tenaga dalam dengan See in, dan serangannya semakin gencar berusaha untuk beradu tangan dan pedang untuk menguras tenaga dalam See in.


See in bukannya tidak mengtahui maksud dari Liu kang, tapi ia susah keluar dari lingkaran hawa pedang yang bergulung dan keluar dari pedamg Liu kang.


Udara terasa dingin ketika See in dengan tangan kirinya mulai mengeluarkan ilmu khas ayahnya yang berasal dari istana es.


Pertarungan imbang kembali, Liu kang yang waspada ketika udara menjadi dingin lebih berhati hati, melawan See in.


See in terdesak kembali ketika permainan pedang Liu kang bertambah cepat, dan See in hanya bisa bertahan dari serangan serangan Liu kang tanpa bisa membalas.


Cui im yang melihat suaminya terdesak merasa khawatir dan cemas, begitu pula dengan Lin eng putrinya.


dalam satu lompatan sambil merentangkan kedua tangan, Liu kang menebaskan pedangmya kearah kepala See in.


Cui im terkejut melihat serangan itu, ia kemudian melemparkan selendangnya kearah Liu kang.


Selendang berwarna putih melesat dengan cepat kearah dada Liu kang, Selendang yang berubah menjadi keras itu, melesat dengan cepat.


Liu kang yang melihat sebuah selendang melesat dengan cepat kearahnya, kemudian menghindar, sambil berputar lalu menebas kearah selendang itu.


Craaaassh,..!!


Selendang itu putus terkena tebasan pedang Liu kang, dua buah bayangan melesat ke arah See in.


Cui im dan Lin eng telah berada disamping See in yang telah bergerak mundur, ketika lolos dari serangan, dibantu oleh istrinya.


Ha,..Ha,..Ha.


"Ternyata hanya begini kemampuan dari kakak ipar ketua perguruan Dewa iblis yang kesohor."


"Bisa selamat, karna berlindung di ketiak istrinya."

__ADS_1


Liu kang tahu See in kakak ipar dari Shin mo, setelah di bisiki oleh salah seorang anggota perguruan Pedang suci, tadi ia tak menyebut hal itu, karna masih ingin melihat kemampuan dari See in.


Liu kang selama ini memang mencari Shin mo untuk meminta pertanggungan jawabannya, karna sudah membuat ketua perguruan pedang suci terdahulu, Tan huo hilang dan tak diketahui rimbanya.


Wajah See in kelam membesi mendengar perkataan yang amat menghina dari Liu kang.


"Sangat tak pantas kata kata seperti itu keluar dari mulut, seorang ketua perguruan golomgan putih.:


See in berkata kepada Liu kang.


"kenapa aku harus malu,"...?


"jika tak ditolong oleh istrimu,"


"kau takan bisa bicara lagi, karna kepalamu akan lepas dari badan, apa aku salah berkata,..? Liu kang berkata sambil tersenyum mengejek kearah See in.


Mo kwi yang mendengar perkataan dari Liu kang terkejut, ia baru mengetahui bahwa See in adalah kakak ipar ketua Dewa iblis, Shin mo.


"Tunggu dulu,"..!! Mo kwi berkata sambil berjalan perlahan menghampiri, diikuti oleh Pedang gila, Li chun dan Diao chan.


"Paman See mundurlah,"..!! Mo kwi berkata


"Kau sudah terluka nak, sebaiknya mundur dan tinggalkan tempat ini," See in berkata.


"Paman, orang tua ini tadi yang mencari gara gara padaku, biar aku bicara sebentar padanya."


See in yang mendengar perkataan Mo kwi akhirnya mundur, dan menyarungkan pedangnya kembali, kemudian berkumpul bersama istri dan anak gadisnya.


"Aku sudah terluka dalam, tapi jika kau mau bertarung, aku akan meminta 2 sahabat ku untuk melayanimu, tapi sahabat ku itu sangat ganas, takutnya nanti kau akan mati."


Phuiiiih,..!!


Liu kang meludah mendengar perkataan Mo kwi.


sementara dua orang murid dari perguruan pedang suci sudah berada di samping ketuanya.


Salah seorang dari mereka berpikir, bahwa dua sahabat mo kwi adalah Li chun dan orang bertopeng.


"Tak pantas sahabatmu melawan ketua kami, biar aku saja yang melayani kedua sahabat mu itu,"..!! murid dari Liu kang berkata dengan sombongnya.


Sebelum mulut dari murid Liu kang berkata lebih lanjut, sebuah sinar merah melesat dengan cepat kearahnya, kemudian balik kembali kearah Mo kwi


Wajah murid Liu kang yang tadi berkata, tiba tiba berubah, lambat laun wajahnya menghitam, kemudian ambruk dan tewas dengan mengenaskan, tanpa tahu siapa yang menyerangnya.


Tamu undangan yang berada diruangan terkejut, tak menyangka, murid Liu kang begitu mudah dirobohkan oleh Mo kwi.


Dan mereka lebih terkejut lagi, ketika melihat dua ekor ular sebesar jari kelingking, berwarna merah api dengan panjang hanya sejengkal, telah bertengger di pundak Mo kwi.


Coa mo dan Coa kwi siap untuk bertarung.

__ADS_1


__ADS_2