Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 60 Perseteruan Dua Penguasa Di Mulai


__ADS_3

Setelah meninggalkan goa di gunung berapi yang entah apa nama gunung itu, tempat Mo kwi dan Pedang gila menetap selama 3 bulan dan mendapatkan warisan dari pendekar Naga api.


Mo kwi sampai di sebuah kota yang lumayan besar, melihat disakunya masih ada uang yang cukup untuk bersantap, Mo kwi butuh informasi dan rindu makanan yang dimasak oleh seorang ahli, karna selama ini hanya makan, buah dan hasil buruan pedang gila yang hanya di bakar tanpa di beri bumbu apa apa.


Mo kwi, melihat sebuah rumah makan yang tak terlalu besar dan terlihat ramai kemudian masuk dan memesan beberapa makanan dan arak.


"Kakak duduk lah, jangan selalu berdiri dibelakangku," Mo kwi berkata sambil tersenyum kepada Pedang gila yang berdiri di belakangnya, karna orang orang mulai memperhatikan keduanya, Pedang gila kemudian duduk setelah Mo kwi berkata.


Ketika pelayan mengantarkan beberapa macam makanan, Mo kwi kemudian bertanya, nama kota, kepada pelayan rumah makan.


"Jadi nama kota ini adalah Chengdu," dan menurut pelayan, kota besar yang tak terlalu jauh dengan kota ini adalah Kota Xi'an.


Setelah hidangan lengkap, tak butuh waktu lama, semua makanan yang tersedia, habis tanpa sisa oleh mereka berdua, dan keduanya lalu santai sambil minum arak yang telah dipesan.


Mo kwi tak mengetahui, bahwa saat ini situasi sudah panas antara Kaisar Zhiangwhen dan raja muda Yan, perang perang kecil sudah terjadi diperbatasan kedua wilayah milik kedua penguasa itu.


Dan di beberapa kota, banyak mata mata dari kedua penguasa itu yang berkeliaran, untuk mencari informasi, dan orang orang dunia persilatan lah yang selalu mendapat perhatian dari kedua mata mata, penguasa yang berseteru.


Mo kwi dan Pedang gila yang tengah minum arak, tak peduli walau beberapa pasang mata, selalu memperhatikan tingkah dan gerak gerik mereka.


Setelah membayar 5 tail perak untuk hidangan yang mereka makan, lalu keduanya meninggalkan rumah makan dan bergerak keutara, ke arah kota Xi'an, seperti yang ditunjukan oleh pelayan rumah makan.


ketika sudah keluar dari gerbang kota chengdu, Mo kwi dan Pedang gila melihat 5 orang sedang berdiri disisi jalan.


ketika mereka melewati kelima orang itu, salah seorang dari mereka berkata.


"Maaf tuan, jika boleh tau, hendak kemana tuan berdua akan pergi ?"


Mo kwi mengerutkan dahi mendengar perkataan orang itu, kemudian berkata, "apa maksud Tuan, apa aku mengenal Tuan,"..? Mo kwi balik bertanya.


Tapi percakapan mereka terputus ketika mendengar seorang tertawa terbahak bahak.


Ha,..Ha,..Ha.


Akhirnya mata mata penghianat negara, dikota Chengdu, bisa kita keatahui.


Adik, rejeki kita hari ini lumayan besar, dua orang pria paruh baya berpakaian merah, berjalan mendekati sambil berkata.

__ADS_1


Kelima orang yang tadi mencegat Mo kwi, melihat kedua orang itu, wajah mereka pucat pasi.


Siapa mereka, Mo kwi berkata kepada kelima orang itu yang terlihat sangat ketakutan, melihat kedatangan kedua pria paruh baya, yang berpakaian merah dan berwajah bengis.


"Me,..Meereka adalah sepasang Srigala api,..!! tokoh golongan sesat yang menguasai kota Chengdu," tuan berdua sebaiknya tinggalkan tempat ini, tapi perkataan orang itu terputus ketika mendengar, salah seorang dari Srigala api berkata.


"Kalian pikir, bisa lari dari hadapan kami," tak lama kemudian terlihat debu mengepul dijalan, dan sepuluh ekor kuda sampai, kemudian semua penunggangnya turun dan memberi hormat kepada Sepasang Srigala api dan menyebut ketua.


Melihat mereka, makin pucat wajah kelima orang itu.


"Kalian berdua jika pendukung raja muda Yan, akan mati bersama kelima mata mata itu, jika bukan, maka ikut dengan kami, dan bergabung dengan perguruan Srigala merah," orang tertua dari sepasang Srigala api berkata, sambil menatap kearah Pedang gila, yang memiliki kulit wajah berwarna merah, dan terlihat seram, yang dianggap pemimpin atau guru dari Mo kwi yang terlihat masih muda.


Pedang gila hanya diam, tak menjawab perkataan Srigala api.


"Kurang ajar, ditanya oleh ketua, bukannya jawab malah diam," salah seorang dari sepuluh penunggang kuda itu berkata, sambil mengeluarkan senjata seperti cakar srigala dari besi dan di pakaikan di keduan tangannya, lalu maju kedepan.


"Ketua,.!! "biar murid memberi pelajaran kepada orang itu," penunggang kuda yang bertubuh besar dan masih muda itu menjura kepada ketuanya, dan berkata.


Hmm,..!!


Srigala api setelah mendengus, kemudian mengangguk mendengar perkataan anak buahnya, kemudian berkata.


Tapi Pedang gila hanya diam.


Kelima orang yang disebut mata mata raja muda Yan, wajah mereka makin pucat mendengar perkataan Srigala api, dan berpikir bahwa nyawa mereka akan berakhir di tempat ini.


Srigala api yang melihat Pedang gila seperti acuh dan tak mendengar perkataannya, merasa kesal dan memberi isyarat kepada a Cong.


A cong setelah mendapat Isyarat dari ketuanya lalu maju, dan memasang kuda kuda didepan Pedang gila.


Mo kwi dan kelima mata mata itu lalu mundur dan berdiri agak jauh di belakang Pedang gila.


"Anak muda, apa gurumu sanggup menghadapi mereka,"..? orang tertua dari kelima orang itu bertanya kepada Mo kwi, "aku tak tau paman," Mo kwi berkata.


Mendengar perkataan Mo kwi, makin pucat wajah kelima orang itu.


A Cong setelah bersiap, sesudah menarik napas dalam dalam, tanda mengerahkan tenaga dalam, kemudian melesat kearah Pedang gila, Srigala api tersenyum melihat gerakan a Cong.

__ADS_1


Sreeeeeeet,...Craaaaash,..!!


Semua yang berada disana tertegun.


Meraka hanya melihat sebuah sinar biru berkelabat, dan tubuh a Cong yang melesat, lalu turun dan diam.


Perlahan pinggang a Cong bergeser, tubuh atas nya sebatas pinggang lalu jatuh, terpotong dua, lalu berubah warna menajdi biru, terbabat sangat rapi, oleh ketajaman dan kecepatan, Pedang kelabang biru milik Pedang gila.


Semua orang melotot tak percaya, melihat aksi pedang gila, kecuali Mo kwi yang hanya tersenyum.


Sepasang Srigala api sangat terkejut melihat aksi Pedang gila, sedangkan kelima orang yang bersama Mo kwi, wajah mereka yang tadinya pucat, sekarang mulai merah kembali, ada sebuah harapan dari wajah mereka melihat aksi pedang gila, orang tertua dari mereka berbisik kepada Mo kwi, "ternyata gurumu hebat anak muda."


"Ternyata kau adalah seorang tokoh, tapi tak punya malu menurunkan tangan keji kepada orang yang masih muda," Srigala api dengan wajah yang kelam, berkata kepada Pedang gila yang tak menjawab, dan wajahnya tanpa ekpresi mendengar perkataan dari Srigala api.


Pedang gila memang mengalami kemajuan yang sangat pesat karna sering berlatih dengan Mo kwi selama berada di gunung berapi, ilmu pedang kilatnya semakin cepat, dan gerakannya susah di tebak.


Srigala api melihat Pedang gila hanya diam tak menjawab setiap ia berkata menjadi murka, dan memberi isyarat kepada 9 orang anak buahnya untuk maju, melawan Pedang gila.


Kesembilan anak buah Srigala api kemudian mengepung Pedang gila.


Mereka lalu melesat bersamaan, menyerang kearah Pedang gila yang ikut melesat, sinar biru dari Pedang kelabang biru berkelebat sangat cepat, dan susah diikuti oleh mata, bergerak kekanan dan kekiri, membabat kearah sembilan orang anak buah Srigala api, dan terakhir ketika Pedang gila meloncat kesamping menghidari bokongan, sambil membabat kearah leher pembokongnya, dan sebuah kepala mengelinding jatuh kearah Srigala api, kesembilan mayat tergeletak dengan bermacam potongan tubuh berwarna biru, akibat racun dari pedang kelabang biru bereserakan, setelah selesai, Pedang gila meloncat mundur dan pedang kelabang biru tetap tak terlihat bentuknya, oleh mereka yang berada disitu, selain Mo kwi.


Wajah sepasang Srigala api pucat, melihat potongan tubuh anak buahnya, sedangkan kelima orang yang bersama Mo kwi tanpa sadar bersorak, melihat kehebatan Pedang gila.


Sepasang Srigala api mengeluarkan senjata berbentuk Cakar srigala dari besi, yang hitam tanda mengandung racun keji.


Kalian boleh maju bersama, salah seorang dari Srigala api berkata.


Mendengar perkataan Srigala api, Pedang gila menoleh kearah Mo kwi.


Melihat Pedang gila menoleh kearahnya, Mo kwi berkata, "kau saja yang hadapi, tapi jangan pake lama, kita harus cepat kekota Xi'an," mendengar perkataan Mo kwi, karna sudah kebiasaan dan susah hilang, Pedang gila menjawab, "baik guru."


Mendengar jawaban Pedang gila semua yang berada disana tertegun, tak menyangka orang semuda ini disebut guru, oleh Pedang gila.


Kelima orang yang bersama Mo kwi sangat terkejut, kakek tua yang wajah nya merah menyeramkan, dan ilmu pedangnya cepat bagaikan bayangan setan, menyebut guru.


Muridnya saja mempunyai kepandaian seperti itu, apalagi gurunya

__ADS_1


Senyum lebar terlihat dari wajah kelima orang itu.


__ADS_2