Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 221 Pertarungan diatas kapal musuh


__ADS_3

Pedang gila tak mau menunggu lama setelah mendengar Dewa langit akan mengemudikan kapal, Pedang gila bergerak cepat, Pedang kelabang biru bergerak kesana dan kemari, satu persatu anak buah kapal pengintai tewas oleh pedang kelabang biru milik Pedang gila.


Kepala pasukan kapal pengintai terus menyerang dengan pedangnya, berusaha membabat Pedang gila yang mengamuk, dan membabat semua anak buahnya yang tersisa.


Kepala pasukan terus memburu pedang gila, berusaha membunuh kakek berwajah merah, yang sudah membuatnya kesal, tapi setiap ia menyerang kakek yang memegang pedang mengerikan itu, kakek itu selalu berhasil menghindari serangannya.


Kepala pasukan kapal pengintai anak buah perkumpulan Bajak merah terus mendesak, kini hanya tinggal ia dan 5 orang anak buahnya yang sedang mengepung Pedang gila.


Pedang melengkung dari ke 6 orang telah naik ke atas, kedua tangan mereka dengan erat memegang gagang pedang panjang yang berat.


Lalu dengan berteriak kencang mereka satu persatu, menyerang pedang gila.


Sementara itu Dewa langit tengah asik memainkan tongkat kemudi kapal, tanpa tahu arah tujuan, Dewa langit mengerakan tongkat kemudi kapal ke kiri dan ke kanan.


Pedang gila menghindari tebasan pedang musuh yang silih berganti, seperti sebuah serangan yang memang sudah diatur, setiap pedang gila menebas, salah seorang menangkis dan yang lain menyerang, walau tingkat kepandaian mereka masih jauh di bawah Pedang gila, tetapi kekompakan mereka menyerang dan bertahan, membuat repot Pedang gila.


Shin mo, Mo kwi dan satu kapal pemburu terus mengikuti kapal musuh, walau merasa aneh melihat gerakan kapal yang kadang ke kanan kadang ke kiri, sehingga membuat bingung mereka yang mengejar kapal, tapi perahu dan kapal pemburu milik Ciao lam terus mengejar kapal pengintai Bajak merah.


Pedang gila sudah merasa sangat kesal, berkali kali serangannya tak membuahkan hasil.


Trang, trang.


Dua kali pedang kelabang biru menangkis serangan ke arah kaki dan badannya.


Pedang gila dengan jurus iblis gila, memutar pedang kelabang biru, ketika dari arah belakang terasa ada angin yang menyambar, Pedang gila menggeser tubuhnya.


Serangan pedang kepala pasukan, lewat di samping tubuh Pedang gila, dan sebuah tusukan lurus ke arah dada membuat pedang gila mundur, lalu lompat ke atas menghindari serangan yang bergerak menebas ke arah kaki.


Setelah lompat, Pedang gila langsung melentingkan tubuhnya, menjauh dari enam orang anak buah perkumpulan Bajak merah.


Setelah kakinya menginjak lantai perahu.


Pedang gila langsung mengangkat pedang, kaki kanan maju, sedangkan kaki kiri di tarik kebelakang, dengan jurus Pedang kilat yang belum lama ia ciptakan, dan diberi nama sambaran kilat biru, siap untuk di keluarkan.


Hiaaaaaaat..!


Teriakan keras terdengar, lalu Pedang kelabang biru, saking cepatnya bergerak hanya terlihat seperti sinar berwarna biru, melesat cepat ke arah anak buah kapal yang paling dekat dengan Pedang gila.


Awaaaas !"


Kepala pasukan berteriak keras memperingati anak buahnya, ketika merasakan hawa tenaga dalam yang sangat kuat keluar dari pedang berwarna biru yang di lancarkan kakek berwajah merah itu.


Creeeep...aaaargh !"


Pedang kelabang biru langsung menembus dada anak buah kapal yang paling dekat dengan Pedang gila, teriak kesakitan terdengar.


Anak buah kapal langsung rubuh setelah berteriak, tak lama kemudian tubuh anak buah kapal langsung biru, akibat racun pedang kelabang biru.


Setelah berhasil menarik pedang keluar dari tubuh korbannya, Pedang gila bersiap kembali.


Dengan posisi jurus sambaran kilat biru.


Pedang gila menatap satu persatu, ke arah anak buah kapal dan kepala pasukan, yang langsung membentuk posisi formasi bertahan.


Pedang gila berteriak kembali.


Hiaaaat..!


Anak buah kapal dan kepala pasukan, mendengar teriakan Pedang gila langsung bersiap, sambil menyabetkan pedang, ada yang memutar, sedangkan Kepala pasukan mundur sambil memutar pedangnya.

__ADS_1


Tapi gerakan gerakan mereka langsung terhenti ketika melihat Pedang gila setelah berteriak tapi tak melakukan serangan.


Kepala pasukan mengerutkan dahi, sambil menatap kearah Pedang gila, lalu bertanya.


"Setelah berteriak kenapa kau diam ?" kepala pasukan itu berkata kepada Pedang gila.


"Apa setiap orang berteriak, harus menyerang ?" Pedang gila berkata.


Phuuuih..!


"Kau pasti tahu setiap orang berteriak, pasti menyerang !" kepala pasukan kapal berkata.


Pedang gila menyambar seorang anak buah kapal yang sedang tak siap, karna mendengarkan mereka bicara,


Whuuut,..Craaash !


Sebuah sabetan langsung mengarah leher, anak buah kapal tak menyadari serangan cepat Pedang gila, kepala anak buah kapal langsung jatuh ketika lehernya terkena sabetan pedang kelabang biru, tak lama kemudian di ikuti tubuhnya jatuh ke lantai perahu.


Curaaaang,...Licik..!"


Kepala pasukan kapal berteriak marah, ketika anak buahnya yang sedang tak siap, di sambar oleh Pedang gila.


Ha ha ha.


"Kau bilang aku curang dan Licik."


Ha ha ha.


Pedang gila tertawa terbahak bahak.


"Kalian dari pertama aku datang mengeroyok aku, tapi kenapa kau tak bilang curang dan licik kepada anak buahmu ?" Pedang gila berkata.


Lalu memberi isyarat tangan kepada 3 anak buahnya yang tersisa untuk bersiap.


Pedang gila lalu mengambil posisi Jurus pedang kilatnya, sambaran kilat biru.


"Awas hati hati !"


Kepala pasukan kapal berkata kepada anak buahnya, ketika melihat posisi dan kuda kuda Pedang gila yang berada di posisi menyerang dengan kecepatan tinggi.


"Kau hati hati dan lihat serangan ku !" Pedang gila berkata kepada kepala pasukan kapal.


Hiaaaat..!


Pedang gila teriak untuk membangkitkan semangat dalam tubuhnya.


Pedang kelabang biru, dengan cepat melesat.


Kepala pasukan kapal sebelum serangan datang sudah lebih dulu menghindar, dengan lompat kebelakang.


Tapi bukan kepala pasukan yang di incar oleh Pedang gila, melainkan anak buahnya yang tersisa, dan berdiri di samping kepala pasukan.


Craaaash..!


Sebuah tangan sebatas siku putus terkena sambaran pedang kelabang biru.


Kepala pasukan yang melihat kembali Pedang gila menipu dirinya, kepala pasukan sangat marah, ia kemudian menyabet ke arah kepala Pedang gila.


Pedang gila menunduk, lalu kakinya menyepak kearah kaki salah seorang anak buah kapal yang tersisa.

__ADS_1


Kraaak..aaargggh


Jeritan kesakitan terdengar sangat memilukan, anak buah kapal yang kakinya patah langsung, terpincang pincang, menahan sakit.


Pedang gìla dengan cepat menendang kembali pinggang anak buah kapal itu, orang yang terkena tendangan pedang gila langsung terlempar dan tercebur ke laut.


Hanya tersisa satu orang kepala pasukan dan 1 anak buah yang tersisa, membuat pedang gila dengan leluasa menyerang mereka.


Kali ini tak ada serangan yang bergantian dan saling bantu menahan serangan, Pedang kelabang biru.


Serangan serangan semakin cepat, kepala pasukan dan anak buah kapal terdesak hebat, mereka berdua hanya bisa melindungi diri sendiri.


Kepala pasukan kapal pengintai menebas pinggang Pedang gila, tapi kakek berwajah merah itu menangkis serangan pedang lawan,


Trang..!


Lalu pedang kelabang biru, menyusuri pedang panjang yang melengkung dan ketika sampai tangan, Pedang kelabang biru naik dan menusuk ke aranh tenggorokan.


kepala pasukan kapal yang tak menyangka, tak bisa menelak, lehernya langsung tembus oleh Pedang kelabang biru.


Anak buah kapal yang sudah ketakutan, langsung melemparkan pedang lalu berkata.


"Aku menyerah, jangan bunuh aku, aku memyerah,"


Mendengar perkataan dari anak buah kapal itu, Pedang gila lalu menotok anak buah kapal.


Setelah menotok, Pedang gila lalu menuju ke belakang kapal, melihat Dewa langit yang tersenyum senyum sambil memegang kemudi yamg seperti tongkat, Pedang gila mengerutkan dahi, dan berkata.


"Kita mau kemana sekarang ?"


"Aku tak tahu," Jawab Dewa langit,


"Arahkan kapal ke perahu guru yang ada di belakang kita." Pedang gila berkata.


"Biarkan saja mereka yang menyusul kita," Dewa langit berkata sambi asik memainkan kemudi kapal.


"Kenapa mereka yang harus menyusul ?" Pedang gila berkata sambil mengerutkan kening mendengar perkataan Dewa langit.


"Kau sudah tua tapi tetap saja tidak pintar pintar," Dewa langit berkata


"Apa maksudmu ?" Pedang gila berkata.


"Coba kau pikir !" jika kita menyusul mereka, itu kan tidak mungkin." Dewa langit berkata.


"Kenapa tidak mungkin ?" Pedang gila berkata sambil mengerutkan keningnya.


Hmm...!


"Aku seperti bicara dengan anak kecil saja," Dewa langit berkata sambil menatap ke arah sahabatnya Pedang gila, lalu bertanya.


"Apa kau pernah lihat kapal yang berjalan mundur ?"


"Belum !" Pedang gila berkata.


"Apa kau tidak berpikir jika kita menyusul Dewa api yang di belakang kita, maka kapal ini harus berjalan mundur, nah itukan tidak mungkin." Dewa langit berkata.


Pedang gila menatap Dewa langit, lalu diam seperti yang sedang berpikir, dan tak lama kemudian Pedang gila berkata.


"Kau benar"

__ADS_1


__ADS_2