Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 173 Terjebak Di Sebuah Kampung


__ADS_3

Hek kwi melesat seperti hantu dan tiba di dekat penebang kayu itu dan berkata, "Cha pao rupanya kau masih mengenali suaraku yang jelek ini..!!"


Hmm..!!


"Aku bukan orang yang bisa melupakan teman," Cha pao berkata.


Hek kwi lalu berkata kepada Dewa langit.


"Dewa langit, lepaskan tangan mu ?" Dewa langit tak peduli dengan perkataan dari Hek kwi dan terus memegang kampak dari orang yang di panggil Cha pao oleh Hek kwi.


"Jadi Dewa langit adalah kau ?" Cha pao berkata, tapi kulihat tampangmu tak mirip dengan Dewa yang sering kulihat di kuil kuil.


"Aku tinggal di hutan, bukan di kuil, Dewa langit berkata sambil menatap tajam kearah Cha pao.


Hek kwi menatap kearah Mo kwi, dan Mo kwi mengerti maksud dari Prajurit malam itu.


"Paman, lepaskan tanganmu,..!!" Dewa langit setelah mendengar perkataan Mo kwi lantas melepaskan tangannya dari kampak milik Cha pao.


Li chun lalu berkata.


"Paman, kau kenal dengan tukang kayu ini ?"


"la adalah temanku, dan memang julukannya adalah si tukang kayu."


"Cha pao, apa yang kau lakukan di sini ?" Hek kwi berkata, aku melihat sebuah kayu bagus lalu menebang nya.


Phuuiih...!!


Kalau menebang pohon liat liat, bagaimana jika kami lewat lalu pohon yang kau tebang itu rubuh menimpa kami.


Kau kirim saja alamat rumah mu, nanti aku akan membayar ganti rugi, Cha pao membalas perkataan Li chun, Mo kwi tersenyum sedangkan Hek kwi yang sudah membuka capingnya gelengkan kepala, lalu berkata, "Cha pao, apa kau tau bahwa perguruan kita sudah mendapatkan ketua ?"


"Apa kau bilang ?" perguruan sudah mendapatkan ketua, lalu dimana dimana ketua sekarang Cha pao berkata, lalu Cha pao memberi hormat kepada Dewa langit dan berkata, "maafkan kan Cha pao, yang tak tahu bahwa ketua sudah menjadi Dewa."


Dewa langit tertegun, begitu pula yang lainnya.


hanya Hek kwi yang tersenyum melihat tingkah Cha pao.


"Cha pao kau salah orang, ketua tidak ada di sini, tapi di wakili oleh putra beliau, dan setelah kembali dari tugas, tuan muda inilah yang akan menjadi ketua kita yang baru."


Cha pao lalu menghampiri Mo kwi dan langsung bersujud, ketika Mo kwi akan menghalangi, sebuah isyarat tangan dari Hek kwi membuat Mo kwi membatalkan niatnya.


"Cha pao, si tukang kayu, pembuat istana Dewa iblis beserta isinya memberi hormat kepada ketua."

__ADS_1


Mo kwi yang memang sudah merasa Cha pao adalah salah seorang anggota Dewa iblis karna melihat Hek kwi yang jarang tersenyum tetapi ketika melihat Cha pao, terlihat senyum lebar di wajahnya tak kaget mendengar perkataan dari Cha pao, tapi Li chun nenek kharmila dan Ling ji, terkejut, sedangkan Dewa langit dan Pedang gila seperti tak peduli.


"Dan kau Li chun, harap berlaku sopan pada Cha pao karna dia lebih tua dari mu, bahkan dari Pedang gila sekalipun," Hek kwi berkata, semua yang mendengar perkataan dari Hek kwi terkejut, selain Dewa langit dan Pedang gila.


"Cha pao, sering masuk keluar hutan hanya untuk mencari kayu berkualitas, dan di dalam hutan Cha pao sering menemukan buah ataupun tanaman langka yg susah di dapatkan dan menjadi impian kaum dunia persilatan, tapi tidak semua buah berkhasiat, terkadamg bentuknya menarik, tapi buah itu sangat beracun, dan Cha pao tak peduli semua itu, yang ia baru lihat ia makan, lalu pikirannya agak terganggu jika melihat orang yang tak di kenal, jika Cha pao sedang normal dia adalah orang yang pintar dan ramah, dan yang pasti, tenaga dalamnya sangat hebat dan tak kalah dengan pelindung Dewa iblis."


Mo kwi terkejut mendengar perkataan Hek kwi bahwa tenaga dalam Cha pao sama dengan pelindung Dewa iblis, sedangkan Mo kwi sendiri pernah merasakan ketinggian ilmu dan tenaga dalam Hek mo yang dulu pernah mempermainkannya.


Lalu terlintas sebuah akal dari Mo kwi apa Cha pao akan kenal dan mau ikut bersamanya.


"Paman Cha,..!!" kami akan berangkat ke kota Tianjin, jika paman mau iku dengan kami, kami akan senang tapi jika tidak, juga tak apa, tapi sebelumnya paman cha harus membantu kami terlebih dahulu menyingkirkan pohon besar yang tadi paman Cha tebang dan menghalangi perjalanan kami.


"Ketua tunggu sebentar," setelah berkata, Cha pao langsung


Melesat dengan ilmu angin gunung dan tubuh nya telan berada di atas dan kampak nya tampak berkilat, lalu di hantamkan ke tengah batang pohon besar.


Suara keras menggelegar terdengar ketika batang pohon yang besar itu hancur berkeping keping akibat hantaman kampak dengan tenaga dalam tinggi.


Semua yang melihat aksi Cha pao mengelengkan kepala karna mereka belum tentu bisa melakukan apa yg Cha pao lakukan.


Ilmu pukulan kampak pembuka hutan Cha pao memang dasyat, Hek kwi berkata dalam hati.


Semua yang melihat tertegun,


Sedangkan Pedang gila mendengus sambil berkata.


Yang dikatakan Pedang gila memang benar, akibat besar nya tenaga dalam yang di keluarkan, bukan saja batang pohon besar itu hancur, tetapi tanah di bawah batang pohon berlubang sangat besar, dan kereta tak mungkin bisa melewatinya.


Hek kwi tersenyum, Ling ji tertawa, sedangkan Mo kwi menggelengkan kepala.


Cha pao memeberi hormat kepada Mo kwi dan berkata, "maaf ketua hamba terlalu bersemangat."


"Mo kwi tersenyum dan berkata, jadi bagaimana kita bisa lewat paman Cha ?"


"Ketua tenang saja dan beristrahat, biar hamba yang membereskan." Mo kwi mengangguk mendengar perkataan Cha pao.


Rombongan lalu istirahat, dan makan perbekalan yang ada, sedangkan Cha pao sibuk, dan hanya terdengar kampak nya bergerak sangat cepat membelah batang kayu, yang di pakai untuk menutupi lobang.


Setelah selesai bersantap, tak lama kemudian Cha pao memberi isyarat agar kereta bergerak malanjutkan perjalanan, kayu kayu yang rata menutupi lubang bekas hantaman Cha pao.


Sementara itu Nenek Kharmila berkata dari dalam kereta kepada Hek kwi, yang kini kembali menjadi kusir kereta.


Saudara Hek kwi, sewaktu aku dan ayahku datang, kami tak melihat saudara Cha pao.

__ADS_1


Hek kwi tertawa pelan mendengar perkataan dari nenek Kharmila lalu berkata.


Cha pao memang jarang bersama, karna dia lebih sering berada di hutan sekitar tempat insu, dan selalu menebang kayu yang menurutnya bisa di jual untuk kayu bakar.


Nenek kharmila mengangguk mendengar perkataan daei Hew kwi.


"Pantas waktu itu aku tak melihat Cha pao di tempat insu."


"Cha pao walaupun tenaga dalamnya tinggi dia tidak terkenal di dunia persilatan, karna memang ia tak pernah mau ber urusan dengan dunia persilatan, tapi insu sangat sayang karna kepolosan dari Cha pao,"


Tanpa terasa nenek Kharmila berbicara dengan Hek kwi, rombongan sampai di sebuah desa kecil.


Ketika melihat sebuah rumah makan kecil, mereka kemudian masuk dan memesan beberapa masakan untuk mengganjal perut.


Mo kwi menatap tajam kearah pelayan yang datang sambil membawa makanan.


Mo kwi dan rombongan kemudian melahap makanan, tapi belum habis semua masakan, tiba tiba Li chun berkata, "adik entah kenapa tiba tiba aku ngantuk sekali."


Braaak...!!


Setelah berkata, Kepala Li chun langsung jatuh dengan keras di meja tempat makan, dan satu persatu mereka menguap lalu tertidur pulas.


Hahaha


Setelah terdengar tawa kemudian muncul puluhan pria berwajah bengis, dari dalam rumah rumah penduduk


"Dasar orang kaya yang bodoh, mudah sekali mereka tertipu, cepat geledah dan kirim semua hartanya ke perguruan naga merah di Tianjin..!!" kakek yang tadi berpakaian pelayan berkata,


"Tapi yang perempuan bawa ketempat ku, nanti malam aku akan bersenang senang dengannya."


Mereka lalu mengeledah, ketika mereka menggeledah kedalam saku baju Pedang gila, yang sedang tertidur sambil duduk di kursi.


Pedang gila tak kuat menahan rasa geli ketika tangan para perampok yang menyamar sebagai penduduk desa masuk kedalam saku bajunya.


Mulutnya senyam senyum, perampok yang melihat bibir Pedang gila senyam senyum mengerutkan Dahi nya dan berkata kepada kakek yang dianggap sebagai pemimpin mereka.


"Cengcu ( ketua kampung ) kenapa yang satu ini seperti sedang senyam senyum," perampok itu berkata, "Mungkin dia tertidur sambil bermimpi indah," orang yang di panggil Cengcu berkata.


Setelah mendengar perkataan dari ketuanya, perampok itu kemudian tangannya menggeledah kembali baju luar dan saku dalam Pedang gila.


Dan kembali terlihat senyum di bibir Pedang gila, tapi kali ini sang perampok tak peduli, tangannya masih terus meraba, saku dalam Pedang gila.


Ketika tangan perampok itu menyentuh perut dan pusar kemudian hendak meraba pinggang.

__ADS_1


Kepala perampok itu tepat berada di depan kepala Pedang gila, ketika tangan perampok itu meraba pusar, Pedang gila membuka mata, dan mata mereka tepat saling berhadap hadapan, kejut bukan kepalang perampok itu, apalagi ketika mendengar dengan nada berat sambil matanya melotot ke arah perampok yang sedang meraba pusar nya, Pedang gila berkata.


Apa yang kau pegang ?


__ADS_2