Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 91 Keributan Di Kota Pin jiang.


__ADS_3

Mo kwi dan rombongan nya yang hanya sekitar kurang lebih 40 orang terus bergerak ke arah kota Pin jiang.


"Bagaimana situasi Pin jiang..?" Mo kwi berkata kepada Sepasang walet terbang, dan Mata elang.


Pin jiang adalah kota perbatasan, kedua pemerintahan ada disana, tapi kita belum tau, apa kota ini sudah jatuh ke tangan Kaisar Zhiangwen, atau belum, lelaki dari sepasang walet terbang berkata.


"Jadi bagaimana menurut ketua..?" Mata elang bertanya.


"Apa cabang dari perguruan tengkorak putih di kota Pin jiang, termasuk cabang yang besar..?" lumayan besar ketua, setahu kami cabang ketiga setelah Beiping dan Shin tian, lantas apa perguruan kita mengusai kota Pin jiang ini..?" sayangnya bukan kita,


"Pernah beberapa kali, Tan bu ong, si Raja tongkat tongcu dari Pin jiang mencoba, tapi selalu gagal, Kota pin jiang di kuasai oleh perguruan Pedang kembar, perguruan golongan putih, yang di pimpin oleh Pendekar pedang kembar, Kiam kun, mereka termasuk partai besar yang tidak mau ikut aliansi 4 aliansi golongan putih.


"Jadi Kiam kun itu berpihak kepada siapa, kaisar Zhiang wen atau Raja muda Yan..?" setahu hamba mereka dalam posisi tidak mendukung siapa siapa ketua..!!" Mata elang berkata, sebagai mata mata, ia tahu seluk beluk kota, yang menjadi tempat nya berkeliaran.


"Baik seperti yang aku sudah katakan, kita berpakaian biasa," jangan ada yang memakai lambang perguruan tengkorak putih.


"Sambil kita melihat situasi, Kakak Li dan sepasang walet terbang menunggu saja di sini, aku dan 5 orang termasuk Mata elang, akan masuk dan melihat situasi, jika aman, nanti Mata elang akan memberi tanda supaya kalian bisa masuk, Li chun dan sepasang walet terbang mengangguk," mendengar perkataan Mo kwi


Mo kwi kemudian melangkah ke gerbang Kota Pin jiang, karna situasi gawat dan banyak para pengungsi yang berdatangan, mereka berlima antri, dan di depan Mo kwi ada rombongan pedagang yang lumayan besar dengan kereta kuda dan beberapa pengawal, seorang kakek yang masih gagah, dan berpakaian mewah, kebetulan melihat Mo kwi, dan begitu pula sebaliknya, keduanya lalu tersenyum.


Karna mereka dibelakang rombongan pedagang itu, Mo kwi dan rombongannya sudah seperti kumpulan pedagang, seorang pria paruh baya berbisik kepada seorang Tauwbak ( pemimpin rombongan Sipil ) yang bertugas memeriksa orang orang yang masuk.


Tauwbak itu mengangguk angguk mendengar bisikan pria paruh baya itu, Lalu memberi isyarat tangan, kepada penjaga, kemudian penjaga itu menghampiri rombongan pedagang yang berada didepannya, Mo kwi pun beserta kelima anak buahnya ikut terseret, dan akhirnya menjadi satu dengan para pedagang.


Pria paruh baya yang membisiki Tauwbak itu lalu menghampiri kereta kuda, kemudian berkata,


"Juragan telah di tunggu oleh ketua kami, pendekar pedang kembar."


Setelah masuk, Mo kwi tadinya ingin berpisah dari rombongan pedagang, tapi kemudian, terdengar suara pria paruh baya dari perguruan pedang kembar, berkata, "mau kemana kalian..?" tempat telah disiapkan, lebih baik kumpul bersama," pria itu memandang tajam kearah Pedang gila, yang wajah nya berwarna merah.


Mo kwi takut terjadi keributan lalu akhirnya bergabung lagi dengan para pedagang.


Seorang kakek turun dari kuda, lalu memberi hormat, "aku Hu fang an, memberi hormat kepada, Pedang angin," sudah lah paman Fang, julukan mu sendiri adala pendekar pedang tunggal, aku jadi malu.


"Tuan pedang angin terlalu memuji, dibandingkan dengan kalian kakak beradik, apalah arti dari pedang tunggal," Fan an berkata.


Mo kwi melihat Mata elang gelisah, Mo kwi tau apa yang membuat Mata elang cemas, karna takut penyamaran mereka terbongkar, karna 5 orang berpakaian hitam dengan gambar tengkorak putih di dada kiri mereka, dengan masing masing membawa tongkat, tengah datang menghampiri.

__ADS_1


"Tunggu dulu..!!" tuan Fan, tuan salah alamat bila ikut dengan mereka.


"Apa maksud mu, dan siapa kau..?" kami yang memesan bahan bahan obat itu, untuk mengobati anggota perguruan kami, tuan boleh tanyakan kepada atasan tuan, aku Tan bu ong, yang memesan bahan obat itu."


Mendengar nama Tan bu ong, pintu kereta terbuka, turun lah seorang kakek yang masih gagah, dengan pakaian yang sederhana.


"Saudara Fan, benar surat dan uang muka, atas nama tuan Tan bu ong."


"Tunggu dulu juragan, pihak kami akan membeli bahan obat itu, dan harganya akan kami lebihkan,"


Bu ong, apa kau mau unjuk gigi di Pin jiang..?


"Kau hanya punya 400 anggota, sedangkan pedang kembar mempunyai 700 anggota, dan kau belum tentu menang melawan ku, apalagi melawan kakak ku, dan kita belum berdamai, terakhir kita bertemu, keburu dipisahkan oleh fihak penguasa kota."


"Aku tau..!!" kau membeli bahan obat itu untuk dijual kembali, dengan harga 2x lipat, tapi aku membeli bahan obat untuk, anggota perguruan kami yang terluka, dan sakit," Tan bu ong berkata.


"Tuan Pedang angin," juragan tua itu memberi hormat, lalu berkata, "kami para pedagang hanya mengandalkan kepercayaan, dan karna kepercayaan itulah yang membuat nama perusahaan kami terus berkibar, kami akan membawakan yang kami punya, dan yang tuan Kiam kun butuh kan, tapi sekarang barang yang kami bawa, adalah kepunyaan tuan Tan bu ong."


"Kami harap tuan Pedang angin, besar hati."


"Kau mengaku dari golongang putih, tapi sipat dan kelakuan mu sudah melebih dari golongan hitam seperti kami," Tan bu ong berkata.


Setelah berkata, Tan bu ong memutar tongkatnya


Pedang angin juga siap sedia.


Raja tongkat bergerak terlebih dahulu kemudian menghantam kan tongkatnya kearah, kepala pedang angin.dengan ringan Pedang angin, bergerak menghindar, lalu melesat menyabetkan pedang nya kearah pinggang.


Tan bu ong menarik tongkat. kemudian menghantam kannya kearah pedang Angin yang mengincar tubuhnya.


Keduanya lalu betempur,


Pedang angin dan Raja tongkat, saling serang,


Debu berterbangan, disekitar mereka, dan mereka tampaknya seimbang.


Tiba tiba, datang bayangan putih, mendekati pertempuran, dan terdengar teriakan.

__ADS_1


"Berhenti,.!!"


Seorang kakek berpakaian putih dengan 2 buah pedang di punggung tiba, dan yang berteriak menyuruh mereka berhenti.


"Ada apa ini, apa yang terjadi..?"


"ka,..kakak..!!" pedang angin berkata, dia ingin merampas bahan obat yang hendak kubeli.


"Apa benar begitu..?" Kiam kun, alias pendekar pedang kembar berkata.


"Maaf tuan, sebenarnya kurang tepat apa yang tadi dikatakan oleh tuan pedang angin,"


"Bahan obat ini adalah pesanan tuan Tan bu ong, bukan barang tuan Pedang angin."


Barang Barang itu pesanan kami melalui saudara Pedang angin, dua buah bayangan berwarna merah, dengan kedok juga berwarna merah.


Hmmm..!! "kalian adalah orang orang dari hutan larangan...?" Benar, kami sepasang Hantu darah, akan mengambil bahan obat ini, karna hutan larangan sangat membutuhkannya..!!"


Semua yang berada di sana termenung mendengar perkataan kedua orang yang disebut sepasang Hantu darah.


Enak saja kau bicara, lagak mu sombong sekali, kami dari perguruan tengkorak putih, tak takut dengan nama hutan larangan,


Perguruan kami adalah perguruan terbesar dari golongan hitam, sedangkan hutan larangan, hanya bisanya cuma mengandalkan wajah wajah serem.


Kau pikir perguruan tengkorak hitam mampu melawan kami, ketua perguruan tengkorak putih saja pernah ku buat babal belur, apalagi cuma kau yang hanya seorang Tongcu.


"Lan guo in," barang mu kami bawa, sepasang Hantu darah lalu berkata kembali, jangan kau pikir kau adalah mertua Siauw mo, sehingga kau merasa aman."


Mendengar di sebutnya mertua Siauw mo alias Shin mo, ayahnya.


Mo Kwi lalu menepak bahu pedang gila, yang langsung berjalan, kemudian berdiri dihadapan Juragan Lan guo in dan saling tatap dengan salah seorang dari Hantu darah


Lalu pedang gila berkata


Merah lawan Merah.


.

__ADS_1


__ADS_2