
Mo kwi semakin ingin menumpas perguruan naga merah, yang selama dalam perjalanannya dan dalam penglihatannya selalu menimbulkan masalah, sebuah perguruan yg melenceng dari aturan yang berlaku, mereka menabrak semua aturan aturan, tapi mereka pandai menyembunyikan kebusukan mereka dan dari luar mereka terlihat seperti perguruan baik baik, dan keyakinan Mo kwi semakin besar ketika mereka tertipu di kampung di kaki gunung Thai san, jika tak waspada maka akan membuat mereka celaka akibat perbuatan para perampok itu, dan entah sudah berapa puluh kali mereka menyergap para pedagang dan pelancong yang lewat di kaki gunung Thai san ini.
Mo kwi dan rombongan melanjutkan perjalanan kekota Tianjin, perjalanan sudah tak begitu jauh, setelah menyusuri kaki gunung Thai san, kemudian sehari menempuh perjalanan mereka sudah melihat jalan raya yang banyak di lalui orang.
Karna ada hanya ada satu jalan besar dan jalan teraman menuju kota Tianjin setelah melewati kaki gunung Thai san.
Mo kwi melihat banyak orang orang berjalan, dan kereta kuda juga ada, tanda suatu kemakmuran kota terlihat ketika melihat rakyatnya sejahtera.
Rombongan Mo kwi ber iriangan dengan rombongan lain dan banyak para peajalan kaki yang akan menuju kota Tianjin.
Semakin mendekati kota Tianjin jalan semakin ramai, dan memang, memasuki ke kota Tianjin harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu, untuk mengantisipasi adanya para perusuh dan prajurit prajurit pelarian, karna perang belum lama berkahir.
Mo kwi pun ikut mengantri karna tak ingin menimbulkan kecurigaan, setelah lolos pemeriksaan Mo kwi masuk dan menginap di sebuah penginapan yang tak terlalu besar, sedangkan Cha pao minta ijin kepada Mo kwi untuk melihat hutan di sebelah barat kota Tianjin.
"Mata malaikat dan Langkah angin, apa yang kalian temukan di kota Tianjin ini ?" Mo kwi berkata.
Kami berdua tidak melhat suatu hal yang aneh ketua.
Tianjin layaknya kota kota besar lain, pasar dan rumah rumah hiburan tersebar, perguruan pun banyak di sini, dan memang, yang paling mencolok adalah perguruan naga merah, karna perguruan naga merah yang terbesar di kota Tianjin jadi tak susah untuk mencari keterangan tentang perguruan itu.
Kalian harus hati hati, karna aku yakin mereka telah mengetahui tentang perguruan naga merah di kota Qu fu.
Aku juga tidak tau apa perbekalan kita ada di kota ini atau Shenyang, untuk beberapa hari sebaiknya kita istriahat di kota Tianjin, Mata malaikat dan Langkah angin lalu pamit undur diri, sementara Pedang gila dan nenek Kharmila berada di kamar mereka dan tak keluar, sedangkan Dewa langit dan Li chun juga istirahat di kamarnya, karna memang perjalanan dari kota Qu fu ke kota Tianjin lumayan jauh, dan medan yang sering keluar masuk hutan di kaki gunung Thai san.
Dan kelelahan itu dirasakan pula oleh Mo kwi yang sedang bersama Ling ji.
"Kwi koko, apa kwi koko ingin di pijat untuk melepaskan penat berhari hari dalam perjalanan. ?"
"Ling moi," kau istirahat lah dahulu, kau juga lelah bukan, aku akan melepas lelah sambil bersemedi untuk, melancarkan aliran darah di tubuhku.
Ling ji mengangguk mendengar perkataan dari suaminya, sebagai orang yang berasal dari dunia persilatan, Ling ji paham akan maksud suaminya, selama dalam perjalanan dari Qu fu, belum pernah sekalipun Ling ji melihat suaminya bersemedi.
Ling ji pergi ketempat tidur, sebenarnya ia sangat rindu akan pelukan suaminya, tapi ia menghargai suaminya dan tak mau memaksa sang suami untuk tidur bersamanya saat ini.
Ling ji terbangun ketika merasakan di kamar terasa panas, dan ia melihat di sekeliling suaminya kabut tipis berwarna merah, dan Ling ji pernah merasa tersiksa akan kabut berwarna merah yang keluar ketika suaminya bersemedi, sewaktu pertama kali ia menjadi budak dan Mo kwi belum menerimanya.
"Kwi koko hari sudah pagi," Ling ji berkata pelan.
Mo kwi perlahan membuka matanya dan tersenyum melihat istrinya yang termuda itu.
Ling ji melihat wajah suaminya kemerahan setelah selesai bersemedi, dan tenaga dalamya pasti bertambah, setelah melakukan semedi sambil melancarkan aliran darah dan melatih pernafasan.
"Kwi koko, aku lihat tenaga dalammu bertambah maju saja, dan hawa tenaga dalamyang seperti kabut dan mengelilingi tubuh Kwi koko, semakin bertambah merah dan panas," Ling ji berkata.
Mo kwi tersenyum mendengar perkataan dari istrinya lalu berkata, mungkin ini berkat Mutiara api dan darah kilin yang pernah aku makan Ling moi.
"Perutku sangat lapar Ling moi, kau pesan beberapa makanan untuk kita berdua" Ling ji mengaangguk mendengar perkataan suaminya, ia keluar sebentar, dan sesudah memesan makanan, Ling ji kemudian balik kembali kekamar.
"Kemana Pedang gila, tumben dia tak kesini, biasanya pagi pagi sudah ribut, ketok ketok kamar ?"
"Pedang gila sedang bulan madu dan di kurung di kamar oleh nenek Kharmila."
Mo kwi tertawa membayangkan nenek Kharmila yang berusaha menundukan Pedang gila di kamar mereka.
Ling ji mencubit pinggang suaminya dan berkata, "kenapa wajah Kwi koko senyam senyum, pasti berpikiran kotor ya ?" eh, Ling moi kau sekarang nakal, sudah berani menyakiti tuan mu sendiri..!!" Mo kwi berkata sambil tertawa tawa.
"Biar saja, tuan ku juga suka menyakiti budaknya," Ling ji berkata sambil melirik manja ke arah suaminya.
"Nanti dulu, kapan aku pernah menyakiti Ling moi ?"
Jika malam tiba dan aku tidur sendiri, itu berarti Kwi koko menyakiti diriku, Ling ji berkata sambil matanya mengerling manja kearah Mo kwi.
Senda gurau dan saling bermanja terhenti, ketika mendengar ketukan di pintu kamar, Ling ji kemudian menghampiri pintu kamar dan membukanya, ternyata 2 orang pelayan membawakan pesanan makanan yang tadi Ling ji pesan.
Setelah menaruh di meja, Mo kwi memberikan pelayan itu masing masing 1 tail perak untuk tips mereka berdua, kedua pelayan itu wajahnya sangat senang karna 1 tail perak bagi mereka sangat besar, mereka bekerja di penginapan selama sebulan hanya di beri 3 tail perak oleh pemilik penginapan.
Setelah beberapa kali membungkuk dan mengucapkan terima kasih, kedua pelayan itu lalu keluar kamar.
Mo kwi semakin lapar melihat hidangan dan bau masakan yang harum, Ketika Mo kwi hendak merasakan sayur daging dengan sendok, Ling ji berkata, "Kwi koko tunggu sebentar."
Setelah berkata Ling ji lalu mengeluarkan sebuah jarum perak dan memasukan kedalam sayuran,
dan ketika jarum peraknya tak berubah warna, Ling ji lalu menyilahkan Suaminya menyantap hidangan yang tersedia, jarum perak memang sudah biasa di gunakan untuk mengetahui ada racun atau tidak di dalam makanan, jika warna jarum berubah hitam, bisa di pastikan terdapat racun dalam makanan itu.
Keduanya lalu menyatap hidangan dengan lahap.
__ADS_1
setelah bersantap Ling ji lalu mengambil kain pembersih yang ada di nampan makanan, untuk membersikan makanan atau kuah yg tercecer, Ketika Ling ji membuka kain pembersih itu di dalam lepitan kain terdapat sebuah surat.
Mo kwi mengerutkan keningnya melihat surat itu, lalu diambil nya dan dibaca.
"Jangan suka ikut campur urusan orang, jika ingin selamat."
Mo kwi mengerutkan keningnya setela membaca surat itu.
Lalu tubuhnya langsung bergerak keluar kamar dengan cepat, serelah bertanya tanya, Mo kwi sampai di tempat para juru masak di penginapan.
Pemilik penginapan menatap heran melihat Mo kwi masuk ke dapur, dan bertanya.
"Ada apa tuan, apa ada yang salah dengan masakan kami ?" pemilik penginapan itu bertanya kepada Mo kwi.
"Siapa yang menyiapkan makanan untuk ku ?" Mo kwi berkata sambil memperlihatkan surat yang terdapat di lipatan kain pembersih, kepada pemilik penginapan, Melihat surat dan tulisan itu wajah pemilik penginapan langsung berubah, "maaf kan kami tuan, kami tidak tau siapa yang melakukannya."
Pria bertubuh gempal itu berkata kepada Mo kwi, wajah nya tampak ketakutan.
Kami juga sedang mengalami musibah, lalu pemilik penginapan itu menceritakan tentang, seorang yang mengacau dan barus saja pergi, dan orang itu membunuh salah seorang pelayan rumah penginapan, tapi mereka tidak tau siapa orang itu.
Mo kwi akhirnya kembali ke kamar, wajahnya tampak berkerut dan sedang berpikir.
Agaknya kabar mengenai kedatanganku sudah sampai di kota Tianjin dan aku yakin bahwa ini pasti perbuatan perguruan naga merah.
Mo kwi lalu berembug dengan anak buahnya dan memberitahu mereka untuk berhati hati, karna pihak musuh sudah memberi sebuah surat peringatan, dan yang pasti, mereka tahu dimana kita tinggal.
Setelah malamnya berembug dan membuat sebuah rencana dengan anak buahnya Mo kwi lalu berkunjung ke tempat kediaman gubenur kota Tianjin
Di sebelah barat kota Tianjin kediaman penguasa no 1 di Tianjin itu Mo kwi datang bersama dengan Dewa langit dan istrinya Ling ji, sementara yg lain menunggu di penginapan, sedangkan Hek kwi menyelidiki keadaan dan situasi dengan caranya sendiri, sedangkan Cha pao masih belum kembali dari hutan di sebelah barat kota.
Mo kwi Ling ji dan Dewa langit, di terima langsung oleh gubernur kota Tianjin, seorang pria bertubuh gempal dan selalu tersenyum.
Gubernur Liao pan, biasa di sebut oleh penduduk kota Tianjin, mempersilahkan Mo kwi duduk.
Mo kwi dan Ling ji memberi hormat, sementara Dewa langit hanya berdiri tanpa memberi hormat kepada gubernur Liao pan.
"Tuan gubernur maaf kan Mo cian yang baru melaporkan kedatangan hari ini," Mo kwi berkata.
"Tuan Mo cian tak usah sungkan, terima kasih hadiah yang tuan Mo cian berikan, Liao pan sangat berterima kasih." Mo kwi tersenyum mendengar perkataan dari Liao pan.
"Tuan Mo cian bebas membuka berapapun cabang usaha di kota Tianjin, dan kami menjamin kenyamanan para pedagang dalam membuka usaha disini," Liao pan berkata.
"Tapi tuan gubernur, aku dengar selentingan dari para pedagang bahwa kita jika membuka usaha di Tianjin harus membayar pajak upeti kepada perguruan naga merah, apa benar begitu ?" Mo kwi berkata sambil menatap ke arah Liao pan.
"Dulu memang seperti itu tuan Mo cian, tapi aku sudah bicara dengan ketua Perguruan naga merah di kota Tianjin si tangan naga bahwa Tianjin tidak bisa seperti itu, sebab Tianjin adalah kota besar, jika mereka melakukannya maka akan menarik perhatian kota raja, dan perguruan mereka akan terkena imbasnya dan akan di cap menjadi perguruan terlarang." Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari gunernur Liao pan.
Tapi hamba mendengar tak seperti itu tuan Liao, dan hamba ragu jika berbisnis harus membayar upeti seperti apa yang di ceritakan oleh para pedagang.
Mo kwi menatap tajam ke arah gubernur Liao pan seperti tak percaya dengan ucapannya.
Setelah bercakap cakap lalu mereka kembali, dan ketika berjalan keluar Mo kwi melihat seorang kakek berpakaian hitam berwajah bengis, tapi wajah nya selalu tersenyum, dan Mo kwi merasakan pancaran tenaga dalam yang keluar dari tubuh kakek itu sangat besar, begitu pula aura pembunuh yang ia rasakan, dan Mo kwi menahan hawa tenaga dalamnya supaya tak terlihat oleh kakek itu, Mo kwi tersenyum dan mengangguk, dan kakek itupun tersenyum.
Setelah keluar dari rumah gubernur, Mo kwi lalu berkunjung ke cabang perguruan tengkorak putih di kota Tianjin, karna jarak yang jauh dari markas pusat di kota Shin tian, cabang di kota Tianjin ini tak besar dan anggota perguruan tengkorak putih di kota ini hanya sekitar 50 orang.
Mereka tak mengenali Mo kwi, dan Mo kwi tak bercerita siapa dirinya kepada tongcu cabang kota Tianjin.
Tuan Mo cian, hamba Ma huan dan di juluki, pisau terbang dari Tianjin, dan berasal dari kota ini, Mo kwi mengangguk mendengar perkataan Pisau terbang.
dan berkata, tuan Ma, apa yang tuan Ma ketahui tenang Perguruan naga merah, Ma huan menarik napas, mendengar perkataan dari Mo kwi.
Mereka perguruan terbesar di kota ini tuan Mo cian, dan mereka di sebut golongan lurus dan kami di sebut golongan hitam, dan baru kali ini ada pedangan seperti Tuan Mo cian datang memgunjungi kami, biasanya mereka tak peduli dan hanya mau berkunjung ketempat naga merah.
Lalu Ma huan berbicara pelan, tuan Mo cian harus berhati hati, aku menghargai tuan Mo cian karna tuan Mo cian sudi berkunjung ke perguruan kami yang mereka sebut golongan hitam.
"Perguruan naga merah tidak seperti yang terlihat, jika tuan Mo cian ingin berdagang di sini tuan harus berhati hati," Mo kwi senang dengan Ma huan yang jujur dan berani berkata walau ia tak mempunyai banyak anak buah di kota Tianjin.
"Tuan Ma huan apa tuan bisa membantu kami jika mengalami kesulitan di kota Tianjiin ini ?" Ma huan menarik nafas mendengar perkataan Mo kwi dan berkata, "tuan Mo cian..!!" kami tak banyak orang di sini jika di bandingkan dengan perguruan naga merah, ibarat telur diadu dengan batu, tapi kami tak peduli jika yang mereka ganggu adalah sahabat kami."
"Jika saja markas pusat tau dengan keadaan kami di sini, mungkin kami akan di beri tambahan anak buah untuk memgimbangi perguruan naga merah yang berjumlah hampir 300 orang yang berada di kota Tianjin ini." Ma huan berkata.
Tuan Ma huan terima kasih atas perjamuan ini, dan Mo cian berharap bila kami mengalami kesulitan di kota ini, perguruan tengkorak putih mau membantu,
dan kami lebih percaya kepada perguruan tengkorak putih walau pun disebut perguruan golongan hitam, daripada naga merah dari perguruan lurus tapi munafik menutupi kebusukan mereka" Mo kwi berkata.
Ma huan sangat terharu mendengar perkataan dari Mo cian, apalagi setelah Mo kwi memberikan Ma huan uang kertas senilai 1000 tail perak yang bisa di cairkan di tempat penukaran uang yang ada di kota Tianjin, setelah bercakap cakap kemudian Mo kwi pamit undur diri dan kembali kepenginapan.
__ADS_1
Ketika berjalan di jalan kota Tianjin beberapa penunggang kuda melihat Mo kwi lalu berhenti dan memberi hormat.
Tuan Mo cian, gubernur Liao pan meminta datang dan melihat, apakah dua orang yang ditangkap oleh perguruan naga merah dan di selamatkan oleh pengawal gubernur Liao adalah anak buah tuan Mo cian, Mo kwi terkejut mendengar perkataan prajurit itu, lalu bergegas mengikuti prajurit dan kembali ketempat kediaman dari gubernur Liao.
Gubernur Liao pan tampak wajahnya sangat cemas dan berkata, "mari tuan Mo, aku menyembunyikan dua orang yang sudah terluka itu di tempat aman, supaya tidak di temukan oleh anggota perguruan naga merah." Mo kwi mengangguk lalu mengikuti gubernur Liao ketempat kedua orang yang di sebut adalah anak buahnya.
Mereka lalu berkuda menuju arah barat tempat yang di sebut aman oleh gunernur Liao.
Sebuah rumah berbentuk Kotak yang tak jauh dari hutan dan tak jauh dari rumah gubernur Liao, memang Mo kwi melihat tempat itu agak terpencil dan jauh dari keramaian.
Gubernur Liao lalu membuka kunci, dan membuka pintu rumah yang terlihat berat itu dan berkata, "silahkan tuan Mo lihat biar Liao pan yang berjaga di luar." Mo Kwi mengangguk lalu masuk kedalam rumah, bersama Ling Ji dan Dewa langit.
Mo kwi melihat dua orang yang tengah duduk terikat dan mulut meraka di sumpal kain, tubuh mereka penuh luka lebam dan ada beberapa bekas sayatan pedang.
mereka berdua adalah, Mata malaikat dan Langkah angin.
Mo kwi mengerutkan keningnya melihat kedua mulut anak buahnya itu, duduk terikat dan mulut tersumbat kain.
Mo kwi mengerutkan keningnya lalu berteriak kencang, paman, Ling ji cepat keluar kita di jebak.
Dewa langit langsun melesat kearah pintu begitu pula dengan Ling ji, sementara Mo kwi membuka tali yang mengikat anak buahnya.
Blaaaaannk...!!
Mo kwi mendengar suara kencang dari arah pintu dan langsung melesat, ia melihat Dewa langit dan Ling ji berdiri terpaku sambil menatap pintu rumah.
Kita terlambat Kwi koko, Ling ji berkata wajahnya tampak geram.
Hahahaha
Terdengar suara tertawa kencang dari luar, tawa dari gubernur Liao pan.
Kau pikir kami orang bodoh, setelah kau bantai habis kawan kawan kami di kota Qu fu, apa kau pikir kami akan diam saja, suara Liao pan kencang terdengar sampai di dalam ruangan tempat Mo kwi berada.
Hmm...!!
"Tak kusangka, seorang gubernur yang terhormat mau bekerja sama dengan para perampok yang berkedok sebuah perguruan silat."
"Tutup mulut mu...!!" Liao pan berkata.
"Kami sudah memperingatkan dirimu di penginapan, tapi kau tak mengindahkannya, maka kematian yang akan kalian terima, dan perguruan kami akan membereskan semua anak buahmu di penginapan."
Liao pan berkata.
"Jangan buang buang tenaga untuk keluar, rumah batu ini memang khusus di pakai untuk membunuh orang orang yang ber ilmu tinggi seperti kalian, kami tidak ahu siapa kalian sebenarnya, dan ada dendam apa terhadap perguruan naga merah, tapi perguruan naga merah tak pernah mengampuni musuh musuhnya."
Hahahaha.
"Pengawal, bakar mereka dan sisanya ikut aku ke penginapan," baik gubernur komandan pengawal itu berkata.
Mendengar perkataan gubernur Liao pan, Mo kwi sangat geram dan juga cemas terhadap anak buahnya lalu berkata kepada Ling ji dan Dewa langit, kalian mundur.
Mo kwi kemudian, duduk lalu mengerahkan hampir semua tenaga dalamnya, setelah menarik napas dalam dalam, lalu mengerakan kedua tangannya.
Sebuah cahaya merah sangat panas keluar dan menghantam pintu rumah batu, pukulan naga api adalah pukulan terhebat selain jari iblis yang di miliki oleh Mo kwi, menghantam keras pintu rumah batu.
Blaaamm...!!
Suara keras terdengar, dan rumah batu sedikit berguncang, tapi tetap pintu tak bergeming.
Komandan prajurit yang mendengar suara keras dari hantaman Mo kwi terkejut, lalu komandan prajurit memerintakan anak buahnya meletakan kayu kayu besar dan ranting yang sudah banyak tersedia di sekeliling rumah batu, hingga hampir menutupi rumah batu itu.
"Bakaaar...!!"
Api dari kayu kering ditambah minyak bakar, membumbung tinggi membakar rumah batu tempat Mo kwi di sekap.
Mo kwi di dalam rumah batu menggelengkan kepala, lalu masuk kedalam, setelah mengetahui bahwa pukulan naga api miliknya tak bisa membuat pintu yang terbuat dari baja tebal itu rubuh.
"Bagaimana kwi koko ?" Ling ji berkata, sementara Dewa langit sedang mengurut ngurut tubuh Mata malaikat dan Langkah angin yang masih tak sadarkan diri.
Mo kwi mengelengkan kepalanya mendengar perkataan Ling ji.
Dan ketika merasakan hawa di dalam rumah batu, mulai terasa panas dan semakin lama semakin panas, dan juga tadi mendengar perkataan, bakar.
Mo kwi tersenyum kecut dan raut wajahnya terlihat sedih, Mo kwi lalu berkata kepada Ling ji.
__ADS_1
"Mereka sedang membakar kita"