
"Yie dong, penasehat dan juga otak dari perguruan tengkorak putih, desis See in.
Keempat orang itu lalu naik kelantai 2 rumah makan, setelah bercakap cakap dengan seorang pelayan.
Mo kwi yang memperhatikan perubahan wajah See in ketika melihat 4 orang itu lalu bertanya.
"Paman kenal dengan orang itu,"..?
See in yang wajahnya telah kembali seperti sedia kala, lalu tersenyum dan berkata.
"Namamu Mo kwi ya, apa kau bisa silat,"..? See in tak menjawab pertanyaan Mo kwi, malah balik bertanya.
"Hanya untuk menjaga diri paman," Mo kwi menjawab sambil tersenyum.
"Aku melihat wajahmu seperti ada kesamaan dengan saudaraku," See in berkata.
Mo kwi tak menjawab, ia hanya tersenyum mendengar perkataan See in, pemuda itu lalu menyantap hidangan, tanpa memperdulikan mata Lin eng yang selalu memperhatikan Mo kwi.
Mo kwi tak tahu bahwa orang yang berada dihadapannya adalah saudara dari ketua perguruan Dewa iblis, kok See in, anak dari Kok pin an, si telapak es, penjaga daerah utara dari perguruan Dewa iblis dan kakak dari Kok soat gi, istri kedua dari ketua perguruan Dewa iblis, Shin mo.
Setelah bersantap dan bercakap cakap sebentar, lalu Mo kwi pamit undur diri, dan kembali kepenginapan.
ketika Mo kwi sampai dipenginapan, ia melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar sedang cekcok dengan pelayan rumah penginapan.
"Masa penginapan yang begini besar tidak ada kamar kosong, apa kau pikir aku tak sanggup bayar,"..? pemuda itu berkata.
"Maaf kan kami tuan muda, memang benar, kamar di rumah penginapan kami sudah penuh, dan tak ada kamar kosong,"..!! Pelayan itu berkata.
Mo kwi lalu masuk kepenginapan dan setelah sampai, kemudian berkata.
"Jika saudara ini mau, ia bisa tinggal sementara dikamarku, itu juga jika saudara ini, mau tidur di kursi."
Pemuda itu tersenyum ketika mendengar perkataan Mo kwi, wajahnya sangat gembira, karna hari sudah larut malam, dan susah untuk mencari penginapan yang dimana mana penuh.
"Terima kasih kawan," pemuda itu berkata sambil memberi hormat kepada Mo kwi.
Keduanya lalu bercakap cakap dikamar dan saling memperkenalkan diri, Mo kwi senang kepada pemuda itu, walau sedikit agak agak brangasan dan terlihat bodoh, tapi pemuda yang mengaku bernama Li chun itu jujur dan polos.
"Ada keperluan apa saudara Li, dikota Kaifeng ini,"..? Mo kwi berkata.
__ADS_1
"Eh, kau panggil aku saudara terus, panggil aku toako" ( kakak ) dan aku akan memanggilmu Hiante" ( adik bukan saudara kandung ) dan kita menjadi saudara, Li chun berkata sambil tertawa senang.
Baik toako, Mo kwi tersenyum, ia suka dengan kakak barunya yang jujur dan polos itu.
He,.He,.He,..aku punya adik baru, adiku bertambah lagi, Li chun berkata sambil tertawa tawa.
"Adik," guruku diundang kesini.
Oleh siapa ya,"..? Li chun seperti berpikir, "ah masa bodoh, yang penting ada tulisan kaifeng di undangan itu," Mo kwi tertawa mendengar perkataan dari kakak barunya itu.
karna Sumoi ( adik sepeguruan ) sedang bertapa menyelesaikan ilmu hebat, jadi guru menunggu Sumoi selesai, dan aku disuruh lebih dahulu kesini, nanti mereka menyusul.
Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari kakaknya. Li chun yang menyebut gelarnya sendiri dengan nama Beruang gunung.
Besok kau ikut denganku kesana, Li chun berkata sambil menunjukan surat undangan, Mo kwi lalu melihat undangan yang atas nya bertuliskan, Undangan Khusus, dan tulisan, di kota kaifeng berkumpul untuk menjadi saudara.
Keesokan harinya, dua orang pemuda berjalan menuju rumah kediaman gubernur Kaifeng, Zhang xuan, dan ternyata mereka tak hanya berdua, banyak juga orang orang yang berpenampilan aneh, yang mendatangi tempat kediaman gubernur Zhang xuan.
Li chun memberikan kartu undangan kepada seorang pria paruh baya yang bermata satu, setelah melihat surat undangan itu, kemudian pria itu bertanya, "kau ada hubungan apa dengan Malaikat gunung,"..?
"Aku muridnya," pria itu lalu melihat kearah Mo kwi, ia mengerutkan kening seperti pernah melihat pemuda itu, tapi dimana, ia sudah lupa.
"Sudah lah toako," Mo kwi berkata tak ingin timbul keributan, karna melihat kakak barunya sudah terlihat marah, kepada orang yang bermata satu itu."
Mo kwi masih ingat pria itu adalah Elang mata satu, salah satu pengawal dari gubernur Zhang xuan, dan bila terjadi keributan, maka usahanya untuk masuk akan menjadi kacau, makanya Mo kwi lalu berusaha menenangkan kakak angkatnya Li chun, untuk menenangkan diri.
"Tenyata adik seperguruan pemuda dogol ini."
Elang mata satu berkata dalam hati sambil melihat Mo kwi, kemudian memberi isyarat kepada penjaga pintu gerbang untuk membuka, lalu mempersilahkan Li chun dan Mo kwi masuk kedalam.
Seorang busu lalu mengantarkan mereka masuk kedalam ruangan yang besar dan terlihat sudah banyak orang, yang duduk sambil berbincang dan minum arak, yang disediakan oleh tuan rumah.
Ketika Li chun dan Mo kwi masuk keruangan yang seperti tempat latihan silat, karna di pinggir pinggirnya terdapat banyak rak rak yang isinya berbagai macam senjata seperti untuk latihan.
Seorang gadis terus menatap kearah Mo kwi ketika masuk kedalam ruangan, gadis itu duduk bersama gubernur Zhang dan seorang perempuan yang belum begitu tua dan masih terlihat cantik.
Gadis itu adalah Diao chan, anak dari gubernur Zhang dan murid dari Ang hwa, ketua perguruan bunga api, salah satu dari 4 aliansi perguruan golongan putih yang dulu sangat terkenal, dan sekarang aliansi itu sudah pecah, dan bergerak sendiri sendiri.
Karna perguruan Harimau putih yang bubar setelah ketuanya Houw ko tewas oleh Shin mo dan tidak ada penggantinya, lalu perguruan pedang suci yang sempat goncang karna ditinggalkan ketuanya Tan huo yang menjadi gila. kemudian digantikan oleh Liu kang,
__ADS_1
Liu kang juga terlihat hadir dalam pertemuan ini.
Diao chan terus memperhatikan Mo kwi.
Sementara setelah masuk, Mo kwi memandang tamu tamu undangan yang hadir, dan ia lalu tersenyum kemudian mengangguk, ketika melihat See in yang juga sedang melihatnya sambil tersenyum.
"Kakak, mari kita duduk disana," sambil berjalan diikuti oleh Li chun.
"Paman, kita bertemu kembali," Mo kwi berkata sambil tersenyum, "apa boleh kami bergabung,"..?
Dan ini kakakku Li chun Si beruang gunung.
"Silahkan, Silahkan," See in berkata sambil mengeserkan kursinya, karna didalam ruangan ini terdapat meja meja terpisah dan disetiap meja ada 6 buah kursi.
Dengan suara berat Li chun berkata, "kau adalah teman adikku, berarti temanku juga," Li chun berkata sambil tertawa tawa, kemudian duduk mendahului Mo Kwi.
Hmm,..!! "seorang pemuda dogol rupanya," See in berkata dalam hati, ketika melihat raut wajah Li chun.
Tiba tiba terdengar suara, ketika tamu undangan sudah banyak yang hadir dan duduk diruangan.
"Tuan tuan yang terhormat, ruangan ini adalah tempat untuk para undangan khusus, sementara undangan lain yang tak bertulisan khusus berada di luar," Zhang xuan berkata kepada para tamu undangan.
Kami ingin memberikan sebuah penghargaan kepada para tamu undangan yang hadir diruangan ini, dan menjalin persahabatan, gubernur Zhan xuan berkata.
Sebelum gubernur Zhang xuan berkata lebih lanjut.
Cui im yang satu meja dengan Mo kwi berdiri dan berkata.
"Aku Cui im, mewakili ayahku Qiu pek lim, ketua perguruan Naga langit, datang memenuhi undangan dan sekaligus mau bertanya mendengar perkataan tuan gubernur tadi, apa maksud dari memberilkan pernghargaan, dan menjalin pershabatan dengan orang yang berkumpul disini,"...?
Suasana kemudian menjadi gaduh diruangan itu, setelah mendengar perkataan Cui im, Sedangkan Mo kwi menundukan wajahnya, ketika semua mata yang berada didalam ruangan melihat kearah meja mereka, setelah Cui im berkata.
Sementara disudut ruangan, perempuan bercadar yang duduk berempat dalam satu meja, dan pernah Mo kwi lihat dirumah makan, mendengus ketika mendengar perkataan dari Cui im.
"Maaf,..Maaf,"..Gubernur Zhan berkata, "suatu kerhormatan bagi kami, perwakilan dari perguruan Naga langit sudah bisa hadir."
Sebelum Zhang Xuan berkata lebih lanjut.
Terdengar suara lembut yang dialiri tenaga dalam dari sudut ruangan yang berasal dari wanita bercadar, suara lembut itu walau pelan tapi terdengar sangat jelas, oleh telinga para tamu undangan yang hadir dan berada dalam ruangan ini.
__ADS_1
"Apa hebatnya perguruan Naga langit,"