
Mo kwi berdiri tegak didepan kakak angkatnya Li chun, matanya menatap buas kearah Pedang gila dan Tio ban.
"Jika kalian tak mau menyudahi urusan sampai disini, "jangan salahkan aku jika kalian tak bisa kembali kemeja asal kalian," Mo kwi berkata.
"Hiante, tak kusangka kepandaianmu sangat hebat,"..!! Li chun berkata ketika melihat Mo kwi yang telah menyelamatkan nyawanya.
"Kakak, kembalilah kemeja dan obati tangan kakak yang berdarah, biar aku yang membereskan disini,"..!!
Li chun mengangguk dan kembali kemeja, setelah sampai, See in lalu memberi obat, dan membalut luka Li chun.
"Kau jangan sombong dulu anak muda, jangan kau pikir bisa membuntungi pedang muridku, lantas kau merasa jumawa."
Sedangkan dimeja tempat Tan lian dan Yie dong, keduanya menatap kearah Mo kwi, Tan lian yang sudah berumur 30th lebih dan dingin terhadap lelaki, tetapi ketika melihat ketampanan Mo kwi, hatinya merasa bergetar melihat pemuda itu.
Tan lian dengan ilmu memindahkan suara, lalu memerintahkan kepada Tio ban untuk menaklukan Mo kwi, dan jangan membunuhnya.
Tio ban mengangguk kearah ketuanya, ketika mendengar bisikan dari Tan lian.
"Anak muda, begini saja, jika kau mau masuk keperguruan kami, maka urusan ini kita sudahi, tapi jika tidak,"..!!
Kenapa jika tidak,..? Mo kwi memotong perkataan Tio ban dan balik bertanya.
"Jika tidak, aku yang akan memaksamu," Tio ban lalu bersiap, "Kau pakai pedangku," Tio ban berkata sambil melemparkan pedangnya kearah Pedang gila.
"Kita lumpuhkan bocah sombong itu, dan jangan dibunuh," Tio ban berkata kepada muridnya, si Pedang gila.
Mendengar percakapan mereka, darah muda Mo kwi naik kekepala merasa diremehkan, tanpa basa basi pemuda itu menyerang kearah Pedang gila.
Dengan ilmu langkah Dewa angin dan jurus Malaikat pedang, Mo kwi bergerak cepat menyerang kearah Pedang gila.
Pertempuran sengit terjadi, hawa pedang yang sangat tajam dari keduanya, membuat orang orang yang berada ruangan merasa bergidig, melhat cepatnya serangan yang dilakukan oleh kedua orang itu.
Puluhan jurus sudah mereka berdua keluarkan, dan perlahan dengan ilmu Malaikat pedang, Mo kwi berhasil mendesak Pedang gila, Tio ban terkejut, tak menyangka, muridnya Pedang gila bisa didesak oleh pemuda ingusan, yang belum mempunyai gelar.
Sementara itu di meja tempat Tan lian berada.
wajah kakek yang bersama Tan lian, pucat setelah
melihat jurus jurus pedang pemuda itu, Yie dong teringat dengan orang yang sangat ditakutinya.
"Ma,..Maa,...Maaalaikat pedang," desis, Yie dong lalu matanya dengan liar memperhatikan dan melihat satu persatu tamu yang hadir, apakah wajah, orang yang dikenal olehnya, wajah yang selama ini sering menghantui pikirannya, wajah orang yang telah ia khianati bersama dengan Kwi bo, yaitu Hu beng alias Malaikat sesat, yang ilmu pedangnya sedang di mainkan oleh Mo kwi, berada diruangan ini.
__ADS_1
Semakin lama permainan pedang Mo kwi semakin ganas, Pedang gila hanya mampu bertahan dan tak bisa menyerang, menghadapi tekanan dan ilmu pedang Mo kwi yang datang mengalir seperti air.
Tio ban yang melihat situasi didepan mata, lalu melesat masuk pertempuran, untuk membantu murid nya Pedang gila.
Setelah Tio ban masuk, tekanan terhadap Pedang gila berkurang, karna Tio ban selalu menyerang dengan membokong dan mengincar, tempat tempat mematikan dari tubuh Mo kwi.
Sekarang balik Mo kwi yang terdesak dengan kelicikan dari Tio ban, dan orang yang melihat pertandingan mulai mencemo'oh Tio ban yang menurut mereka tak pantas, seorang yang sudah ternama mengeroyok seorang pemuda, tapi Tio ban tak peduli, dan begitu juga terhadap perkataan dari ketuanya untuk menangkap Mo kwi hidup hidup, yang agaknya susah untuk ia laksanakan.
Pedang gila dengan ganas membabat pinggang Mo kwi, pemuda itu berkelit kesamping, tapi Telapak Tio ban, terus mengejar Mo kwi dan Mo kwi merelakan bahu nya terhantam pukulan tangan Tio ban.
Bhuuuuuuk,..!!
Mo kwi terjajar 2 langkah kebelakang, bahunya dengan telak terhantam oleh Tio ban.
Untung tenaga dalam Baja api melindungi tubuh pemuda itu, jika tidak, bahu Mo kwi sudah hancur terkena pukulan Tio ban.
Tan lian hatinya mendadak cemas melihat Mo kwi terluka, dan entah kenapa ia menjadi tak suka dan marah kepada Tio ban, yang sudah melukai Mo kwi.
Mo kwi menyusut darah yang keluar dari bibirnya mengunakan tangan, pemuda itu tersenyum dan matanya menatap bengis kearah Tio ban.
Ha,..Ha,..Ha
"Menyerah lah anak muda, dan ikutlah bersama kami,"..!! Tio ban berkata kepada Mo kwi setelah tertawa.
Tangan kanan sebatas siku berwarna merah mengandung ilmu inti api, sedangkan tangan kirinya sebatas siku, berwarna hitam mengandung ilmu pukulan hitam.
Yie dong yang sedari tadi selalu memperhatikan Mo kwi, ketika melihat perubahan yang terjadi pada kedua tangan pemuda itu, Yie dong sangat terkejut.
"Pasti dia, pasti muridnya," berkata Yie dong perlahan dengan wajah pucat pasi, dan sempat didengar oleh Tan lian.
"Apa yang paman katakan barusan,"..? Tan lian berkata.
Pemuda itu memiliki pukulan hitam, Yie dong berkata dalam hati.
"Ketua, cepat suruh Tio ban mundur sebelum terlambat, dan kita harus segera cepat tinggalkan tempat ini, sebelum guru pemuda itu datang,"...!!
Tan lian terkejut begitu mendengar perkataan Yie dong, apalagi ketika melihat muka penasehat perguruan Tengkorak putih itu pucat pasi, dan wajah Tan lian juga ikut berubah melihat tangan kiri Mo kwi, yang berubah menjadi hitam, ketika Tan lian hendak berteriak menyuruh Tio ban mundur, tapi terlambat.
Mo kwi sudah bergerak menyerang Tio ban, udara diruangan berubah menjadi panas, akibat hawa ilmu inti api yang digunakan oleh Mo kwi.
Nyali Tio ban meleleh melihat perubahan yang terjadi pada tangan Mo kwi, dan perasaan kakek bongkok itu menjadi kacau.
__ADS_1
Dengan ganas Mo kwi melancarkan pukulan pukulan mematikan kearah Tio ban yang selalu dilindungi oleh Pedang gila, tangan Mo kwi terkadang menyabet kearah Pedang gila dengan menggunakan jari pedang yang sudah dialiri pukulan hitam maupun ilmu inti api, hawa jari pedang yang terkadang panas dan terkadang hitam, keluar menyambar nyambar kearah Pedang gila.
Pedang gila tak peduli dengan keadaan tangan Mo kwi ia terus menyerang, dan terkadang menghindari serangan Mo kwi.
Saat pedang gila dan Tio ban menyerang bersama.
Mo kwi dengan seluruh tenaga dalam Baja apinya menangkis tebasan Pedang gila yang menuju leher nya dengan tangan kanan.
Orang orang yang menyaksikan pertempuran terkejut, ketika melihat Mo kwi menangkis tebasan pedang kearah leher, dengan tangan kanan.
"Aaah,"..!! putus lengan pemuda itu, batin See in yang melihat kearah pertempuran.
Tio ban tersenyum licik, kemudian menyerang dari sebelah kiri karna yakin tangan kanan Mo kwi akan terbabat putus oleh Pedang gila.
Mereka yang menyaksikan terkejut, ketika melihat Pedang, tertahan oleh selaput hawa berwarna kemerahan dari tangan Mo kwi, Tio ban yang tak menyangka Mo kwi bisa menahan pedang dengan tangan kosong dan tak terluka, terkejut.
Ia berusaha menahan pukulannya yang akan masuk kedada kiri Mo kwi, tapi terlambat.
Mo kwi memang sengaja memancing Tio ban untuk menyerangnya.
Aaaaaarrrrggghh,..!! terdengar suara jeritan yang sangat memilukan.
Tubuh Mo kwi terpental setombak dan menghantam meja kosong hingga hancur, dada kirinya terkena pukulan Tio ban, tapi kakek bongkok itu menjerit ngeri ketika pukulan hitam Mo kwi bersarang di perutnya, yang langsung membuat isi perut Tio ban hancur.
Tubuh Tio ban perlahan menghitam terkena pukulan hitam Mo kwi dan tewas seketika, sedangkan Pedang gila hanya tertegun dan diam ditempatnya.
Mo kwi yang terlempar, berusaha bangkit kembali, dari mulutnya beberapa kali memuntahkan darah segar.
Li chun yang melihat adik angkatnya terkena pukulan, lalu memburu kearah Mo kwi, begitu juga dengan See in,
Lin eng, Diao chan merasa cemas melihat keadaan pemuda itu.
Sementara Tan lian entah kenapa merasa bersyukur, melihat Mo kwi selamat, walaupun ia melihat pelindung perguruannya tewas didepan matanya, Tan lian seperti tak peduli.
Ketika Li chun dan See in mendekati Mo kwi, sebuah bayangan berkelebat dan telah menghadang didepan Mo kwi yang sedang duduk, sambil memuntahkan darah segar, akibat terluka dalam.
Pedang gila telah berdiri didepan Mo kwi, sambil menatap kearah Li chun dan See in.
Pedang gila yang tak pernah terdengar suaranya, kini berbicara melihat Li chun dan See in yang berusaha mendekati Mo kwi yang terluka.
Sambil melintangkan pedang didepan dadanya, Pedang gila berkata, kepada Li chun dan See in yang berada didepanya yang coba mendekati Mo kwi.
__ADS_1
"Jangan ganggu guruku,"