
Pedang gila yang mendengar, perkataan dari Pedang baja, bahwa Ling ji dan nenek Kharmila di tawan di kuil tua di sekitar daerah pemakaman yang berada di pinggirang kota Seju.
Pedang gila ragu dan sedang berpikir, apakah aku akan kesana, atau balik terlebih dahulu, kakek berwajah merah itu berkata dalam hati.
Dan akhirnya setelah menghabiskan sisa arak yang berada di dalam guci, Pedang gila langsung melesat ke arah penginapan, untuk membberitahu Mo kwi.
Di depan penginapan tampak Li chun dan Dewa langit, terlihat sedang berjalan ke luar penginapan.
...Li chun yang melihat Pedang gila datang, kemudian menyapa Pedang gila....
''Darimana kau gila ?" Li chun berkata.
Pedang gila lewat di depan mereka berdua, tanpa melihat ke arah Li chun dan Dewa langit Pedang gila langsung masuk ke penginapan, dan berkata ke pada Li chun, ''Dari tadi.''
Pedang gila langsung mendatangi kamar Mo kwi, Ketika Pedang gila masuk, ia melihat Mo kwi, Yie dong dan Kwan bin sedang bercakap cakap.
Melihat Pedang gila datang dan mencium bau arak yang menyengat dari Pedang gila, Mo kwi mengerutkan dahinya, dan bertanya, ''ada apa kakak ?' seperpti orang yang terburu buru.
''Aku sudah tahu, aku sudah tahu guru,'' Pedang gila berkata.
''Tahu apa ?" Mo kwi berkata,''Tempat Subo dan adik di tawan,'' Mo kwi yang mendengar perkataan dari pedang gila langsung berdiri, begitu pula dengan Kwan bin dan Yie dong.
''Apa maksud kakak, cepat ceritakan..!!'' Mo kwi berkata.
Pedang gila lalu menceritakan ketika ia pergi ke pinggiran kota untuk minum arak dan bertemu dengan Pedang baja, Pedang baja mengatakan bahwa subo dan adik di tawan, di kuil yang berada di tempat pemakaman.
Hmm..!!
''Bagaimana menurut paman dan kakek.?'' Mo kwi berkata sambil meletakan surat yang di terima dari seorang pelayan, yang katanya berasal dari kerabat Mo kwi.
Dan surat itu berasal dari Kepala naga yang memberi peringatan kepada Mo kwi, bahwa besok pemuda itu harus menyerah, Jika tidak menuruti keinginan kepala naga, besok kepala Ling ji dan nenek kharmila akan di penggal dan kepalanya akan di gantung di gerbang kota.
''Nak..!!'' sebaiknya kita seperti biasa, seolah olah kita belum tahu kabar tentang tempat mereka, lalu salah seorang dari kita menyamar ke pekamaman untuk melihat situasi kuil dan tempat kita mengintai malam ini.''
''Dan kita juga harus hati hati, siapa yang tahu bahwa ini adalah jebakan pihak kepala naga.''
Mo kwi mengangguk mendengar perkataan kakek angkatnya Yie dong, begitu pula Kwan bin yang menyetujui usul Yie dong.
__ADS_1
Kwan bil lalu memanggil langkah angin, dan memberi tugas kepadanya untuk mengintai kuil di sekitar makam dan tempat tempat yang tersembunyi untuk tempat mereka mengintai.
Langkah angin memberi hormat, setelah mendapat pengarahan, menjalankan tugas yang di berikan kepadanya.
Sedangkan Mo kwi, kemudian duduk untuk bermeditasi menenangkan pikiran, dan melatih tenaga dalamnya.
Tak terasa hari berganti malam pun tiba, di kamar Mo kwi tampak, Yie dong, kwan bin, tabib Huo, Pedang gila, Dewa langit, Li chun dan Langkah angin yang memberi laporan.
''Bagaimana ?'' Mo kwi berkata, sambil menatap langkah angin.
''Hamba sudah mengamati tempat itu ketua, memang ada sebuah kuil tua, Tapi hamba tak melihat pergerakan orang orang, menurut hemat hamba, mereka bergerak di malam hari.''
Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari Langkah angin.
"Bagaimana dengan tempat kita untuk mengamati kuil itu ?" Kwan bin berkata.
Langkah angin, kemudian berkata.
''Tetua, ada dua tempat yang tersembunyi yang bisa sangat jelas melihat kuil itu, tapi kedua tempat itu agak berjauhan jaraknya, kita bisa membagi menjadi dua kelompok,'' Langkah angin berkata.
'Baik, nanti kita bicarakan masalah pembagian kelompok, setelah berada di sana,'' Kwan bin berkata.
Bayangan hitam melesat menembus malam pekat, Langkah angin memimpin di depan, biarpun dia di sebut langkah angin, tapi walau pun sudah mengerahkan segenap kemapuan ilmu meringankan tubuhnya, selain Li chun, mereka semua, tampak santai mengikuti Langkah angin di depan.
Setelah sampai, ke tempat persembunyian pertama,
Gunungan kecil dengan beberapa makam tua, semak belukar dan pohon pohon, memang membuat tempat ini sangat cocok untuk mengintai kuil yang berada di tengah makam.
Posisi kuil yang berada agak di bawah memang terlihat sangat jelas, dari tempat yang menurut Langkah angin adalah tempat persembunyian pertama.
Ketua, lebih baik kita membagi menjadi dua kelompok.
''Baik,'' Mo kwi berkata, Pedang gila, Dewa langit dan Li chun bersama ku, sedangkan yang lain, di tempat persembunyian kedua,'' Mo kwi berkata, ''untuk tanda suara seperti yang biasa saja.'' Langkah angin mengangguk mendengar perkataan dari Mo kwi.
Langkah angin, Yie dong, Kwan bin dan tabib Huo bergerak ke tempat persembunyian kedua, yang di pimpin oleh Langkah angin.
Setelah langkah angin dan yang lain pergi, Mo kwi mengamati kuil itu.
__ADS_1
Suasana tengah malam, tapi malam ini bulan purnama, suasana sinar bulan, membuat komplek pekuburan malah terlihat agak menyeramkan, patok dan batu batu nisan terlihat sangat jelas sekali.
Li chun, yang memang takut dengan yang namanya hantu, merapatkan tubuhnya ke arah Pedang gila.
Pedang gila, ketika merasakan tubuhnya lebih berat, dan kepalanya menoleh, ketika melihat Li chun seperti bersandar kepadanya, Pedang gila mendengus.
Hmm..!!
Belum bertemu musuh kau sudah bikin repot, apalagi nanti jika bertempur, Pedang gila berkata.
''Cuma segitu saja marah,'' Li chun berkata, kemudian Li chun hendak merapatkan tubuhnya ke badan Dewa langit, tapi kakek itu tersenyum, ''kita bukan teman,'' Dewa langit berkata.
Li chun bergerak ke tengah, diantara Pedang gila dan Dewa langit, kalo di tengah aman, Li chun berkata sambil, tertawa pelan.
Ssst, jangan berisik.
Mo kwi berkata, Li chun kemudian diam ketika mendengar perkataan Mo kwi.
Malam semakin larut, dan rombongan kedua pasti sudah menempati tempat per sembunyiannya, sehingga bisa melihat sisi lain dari kuil itu.
Nyamuk nyamuk, mulai menganggu, tapi mereka berempat tak berani, memakai tangan mengusir nyamuk nyamuk itu, terkadang jika sudah tak tahan, tenaga dalam berhawa panas mereka keluarkan, sehingga sebagian nyamuk ada yang hangus terkena hawa tenaga dalam.
''Sudah lama menunggu tapi belum ada pergerakan,'' Mo kwi berkata dalam hati sambil terus matanya tak berpaling dari kuil yang berada di tengah pekuburan itu.
Li chun langsung memegang baju Pedang gila dan Dewa langit, ketika melihat sebuah bayangan putih melesat dengan sangat cepat, keluar dari dalam kuil.
Bayangan berwarna putih itu berkelabat, kemudian telah berdiri di atas sebuah nisan batu.
Satu kakinya di tekuk, sehingga yang terlihat seperti sebuah tongkat yang menopang tubuhnya.
Rambutnya yang berwaran putih berkibar, dan pemandangan di malam bulan purnama, di tengah tanah pekuburan, membuat Li chun hampir teriak, apalagi setela melihat, bukan kaki yang menempel pada batu nisan.
Pedang gila langsung membekap mulut Li chun ketika melihat, mulut pemuda itu terbuka.
Kakek berambut putih dan berbaju dan jubah putih sekilas menatap tajam ke arah tempat Mo kwi bersembunyi, tetapi tak lama kemudian ia kembali melesat ke dalam kuil.
Mo kwi mendengus melihat kakek berambut putih dan berkaki kayu itu, ia berkata dalam hati
__ADS_1
Hmm...!!
Tak salah lagi, dia orangnya