
"Di tepi pantai !"
"Apa maksud paman ?" Shin mo berkata sambil menatap Zhou yun dan Hek kwi.
"Ketua, Perkumpulan Bajak merah adalah perkumpulan perompak yang terorganisir dan sangat handal, dari sejak jaman kaisar Hongwu mereka memang sulit untuk di tumpas, hamba selalu mendapat tugas memberantas pasukan mongol di perbatasan, dan belum pernah di tugaskan di laut karna memang bukan keahlian hamba di laut," Zhou yun berkata.
"Laut seperti mainan bagi perkumpulan Bajak merah, jika di darat mereka belum tentu seperkasa di laut, dan masalah tempat di tepi pantai, karna pantai dekat dengan laut dan situasi di pantai, bisa terlihat dari laut dengan jarak tertentu."
"Mereka mempunyai banyak anak buah, rombongan kita, mungkin yang berkumpul nantinya belum tentu sampai 400 orang, dan mereka pasti lebih banyak dua kali lipat daripada kita."
"Jika, peresmian perguruan Pedang timur di adakan di tepi pantai, mereka akan menyiapkan kapal kapal di laut, dan dengan jarak yang sudah mereka atur, mereka bisa menyiapkan pasukan panah untuk menghabisi kita di pantai, dan kita tidak bisa membalas serangan mereka karna terhalang oleh laut, jika kita mempunyai kapal, itu pun belum tentu kita bisa menang dengan mereka, karena mereka sudah mempersiapkan jauh jauh hari untuk peresmian pedang timur dan pertempuran ini." Zhou yun berkata.
Shin mo mengangguk mendengar perkataan dari Zhou yun, begitu pula dengan yang lain.
Paman memang hebat, tak salah Perguruan kita menyebut paman Zhou sebagai ahli strategi perguruan Dewa iblis, paman selalu berpikir kemungkinan kemungkinan yang terjadi setiap pertempuran, dan itu sangat menguntungkan kita, karna kita jadi mempunyai persiapan untuk meng antisipasi setiap serangan lawan," Shin mo berkata, dan mereka yang hadir mengangguk mendengar perkataan Shin mo dan setuju dengan perkataan ketuanya.
Ketika mereka sedang asik bercakap cakap, seorang anggota perguruan datang melapor, bahwa di depan ada yang ingin bertemu dengan Shin mo.
"Suruh kesini," Shin mo berkata.
Tak lama kemudian masuk seorang pria paruh baya, dan rata rata mereka yang di sana mengenal pria itu, yang tak lain adalah Cao cao.
Hmm..!!
"Ada perlu apa tuan ?" Shin mo berkata sambil menatap Cao cao, orang yang selalu berada dekat dengan Dewa sesat selain tabib Song kwan.
Ketua Shin, ketua kami Dewa sesat dan ketua perguruan Pedang timur, tuan minamoto.
Mengundang semua anggota perguruan Dewa iblis hadir untuk menghadiri peresmian perguruan Pedang timur, dan ini surat undangan resmi dari ketua, Setelah berkata, Cao cao kemudian memberikan sebuah kartu undangan.
Shin mo kemudian membuka dan melihat undangan itu, setelah membaca isi undangan itu, Shin mo mengangguk dan menatap tajam ke arah Cao cao dan berkata, "baik, kau beritahu ketua mu, perguruan Dewa iblis akan datang menghadiri peresmian perguruan Pedang timur."
Cao cao mengangguk mendengar perkataan dari Shin mo kemudian pamit undur diri.
"Bagaimana ketua, apa yang tertulis di undangan itu ?" Zhou yun mewakili teman temannya bertanya kepada Shin mo.
5 hari lagi peresmian akan diadakan, dan tuan Minamoto ini agaknya ketua perguruan Pedang timur dan juga perkumpulan Bajak merah.
"Dan apa yang tadi paman berdua katakan memang benar, peresmian perguruan pedang timur akan diadakan di pantai timur kota Gaya," Shin mo berkata.
Zhou yun, Hek kwi dan yang lain diam mendengar perkataan Shin mo.
__ADS_1
"Paman Hek kwi, apa paman mendengar kabar tentang anak Kwi ? Shin mo berkata.
Hek kwi mengelengkan kepala mendengar perkataan dari Shin mo.
"Bagaimana dengan paman Sian bin ?" Hek kwi pun menggelengkan kepala mendengar perkataan dari Shin mo tentang Sian bin.
"Baik lah," Shin mo berkata setelah mendengar perkataan dari Hek kwi.
"Mari kita rundingkan rencana, untuk mengahadapi musuh besar kita, dan mencari cara agar kita tidak terjebak oleh siasat dan rencana mereka, yang akan menghabisi kita di acara peresmian perguruan Pedang timur," Shin mo setelah berkata lalu pamit undur diri untuk ber istirahat.
Semakin hari di kota Gaya semakin ramai, banyak pendekar berdatangan, dari daaerah sekitar dan baekje, Silla dan goguryeo, daratan Tionggoan tanpa terkecuali, Penginapan penginapan semakin penuh.
Orang orang dengan pakaian aneh dan bahasa aneh yang bukan dari Tionggoan banyak berjalan di jalan raya dan rumah rumah makan.
Sedikit saling baku hantam pun sering terjadi antara pendekar pendekar yang sudah mabuk dan berjalan sempoyongan, di jalan jalan raya.
Tapi yang paling banyak terlihat adalah orang orang dari negara liar, dengan pedang panjang yang agak sedikit melengkung dan rambut tengah yang di kuncir, mereka selalu berjalan berkelompok sambil menggoda penduduk dan para gadis yang berjalan di jalan raya kota Gaya.
Para penduduk tak berani kepada orang orang itu, karna mereka tahu sebagian adalah orang orang perkumpulan bajak merah dan para tamu mereka.
Ketika 3 hari sebelum hari peresmian perguruan Pedang timur di kota Gaya, sebuah rombongan berkuda yang mengawal sebuah kereta kuda yang tak begitu besar, masuk dari arah jalan yang berasal dari kerajaan Silla.
Rombongan Mo kwi masuk dari arah barat, kota Gaya, sebuah kereta yang di tumpangi oleh Ling ji dan nenek Kharmila, dan dikawal oleh, Mo kwi dan anak buahnya, karna Gaya adalah kota konflik maka tak ada pemerintahan dan penjagaan ketat di kota Gaya, sehingga para pengunjung, bebas keluar masuk kota ini.
"Hamba pikir mereka sudah sampai ketua, tetapi hamba belum melihat tanda tanda dari perguruan Dewa iblis, mungkin jika kita berada di tengah kota, baru terlihat tanda itu," Kwan bin berkata, Mo kwi mengangguk mendengar perkataan Kwan bin, karna Kwan bin selain pelindung perguruan perguruan tengkorak putih, juga anggota perguruan Dewa iblis.
Ketika mereka sedang bercakap cakap, terdengar percakapan suara keras dengan bahasa campur aduk.
Rombongan depan menghentikan kuda mereka.
Mo kwi melihat Li chun sedang beradu omong dengan rombongan orang orang yang seperti sedang menghalangi rombongan mereka.
Ling ji dan nenek Kharmila turun dari kereta kuda dan berjalan bersama Mo kwi untuk melihat apa yang di ributkan Li chun dengan orang orang itu.
Sekitar 7 orang dengan rambut yang di kuncir di atas sambil membawa pedang panjang yang melengkung dan biasa di sebut samurai oleh orang orang itu.
"Kau ngomong yang jelas," ba ba, be be, kalau mau mabuk mabuk sana di kedai arak, jangan berkeliaran di jalan, Li chun berkata.
Dua orang yang sudah lancar berbahasa yang biasa di pakai berkata.
"Pendatang harus bayar upeti, kepada kami.!"
__ADS_1
Phuuuuih...!!
"Kau pikir siapa kau ini, aku harus bayar pada mu jika mau masuk ke Gaya, kau bukan orang dari Silla atau Baekje, entah darimana, mau nipu ya ?"
Tuan Taiko baru datang, dia ingin bersenang senang, dan kami mau menyenangkan hati tuan Taiko.
"Jadi semua pendatang yang masuk harus setor kepada kami."
"Lalu kau mau minta kepada kami ?"
Ya" orang yang rambut tengahnya di kuncir itu berkata.
"Enak saja kau bicara." lebih baik kau kembali ke tempatmu sebelum kupukul mukamu, Li chun berkata, baru saja datang sudah ada yang bikin kesal, Li chun berkata.
Pedang gila datang dengan Dewa langit, kemudian berdiri di dekat Li chun, sambil menepak bahu pemuda itu, Pedang gila berkata.
"Sabar, sabar."
"Ada apa ?" Pedang gila berkata.
"Masa dia minta uang sama kita, karna kita baru datang, katanya upeti," Li chun berkata kepada Pedang gila.
"Kasih saja..!!"
"Eh," tumben kau ngomong nya lemah, Li chun berkata sambil menatap heran kepada pedang gila.
"Malah jadi kalian yang ngobrol ?" orang asing itu berkata.
Ketika melihat Ling ji, Nenek kharmila dan Mo kwi, datang mengahmpiri.
Lalu orang itu tertawa dan berkata.
"Tidak jadi upeti, tidak jadi upeti, lebih baik wanita itu saja." orang itu berkata, sambil menunjuk ke arah Ling ji dan nenek Kharmila.
Whuuut,..sriiing..crash.
Mendengar perkataan orang itu, setelah menunjuk Ling ji dan nenek Kharmila.
Pedang gila langsung melesat, sambil mencabut pedang kelabang biru dari pinggangnya, kemudian menebas leher orang itu, yang langsung putus, dan kepalanya menggelinding ke arah teman teman mereka, dan tak lama kemudian tubuhnya ambruk lalu menjadi biru, akibat racun pedang kelabang biru.
Teman teman mereka yang berjumlah 6 orang langsung mencabut pedang panjang dan di pegang dengan kedua tangan sambil berteriak teriak ke arah pedang gila, yang berbalik berjalan kembali ke arah Li chun.
__ADS_1
Setelah sampai di dekat Li chun, pemuda itu menepak nepak bahu pedang gila dan berkata.
Sabar, sabar.