Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 218 Siasat Dewa Laut Selatan


__ADS_3

Shin Mo dan rombongan Mo kwi bergabung, di kapal besar milik Dewa laut selatan, Ciao lam


Shin mo, memeluk kakeknya, bisa di sebut juga ayah, karna mereka bertiga keluarga Shin mo dari kecil.


Kim mo berkata, "kami terlambat bukan !" sambil jalan kesini, kami menghabisi beberapa perompak, sehingga datang terlambat.


Mereka kemudian bercakap cakap.


Ling ji, Nio nio dan nenek Kharmila berkumpul.


Sedangkan Hek mo langsung menghampiri Mo kwi dan menepak nepak pundaknya.


"Adik, kita bertemu lagi."


Ha ha ha.


Hek mo berkata, lalu tertawa.


"Hai gila, Jaga adikku baik baik," Pedang gila tak menjawab perkataan Hek mo.


"Kakak, apa kau sehat sehat saja ?" Mo kwi berkata sambil tersenyum,


Hek Mo berkata, "aku sehat dan tak kurang satu apa, aku malah tambah,"


"Hitam"


Pedang gila berkata memotong perkataan dari Hek mo.


"Eh, apa kau bilang, coba katakan sekali lagi !"


"Sudah lah kakak, Seperti tidak tahu saja Pedang gila," Mo kwi berkata.


"Jika bukan pengawalmu yang setia, sudah ku bikin jadi perkedel," Mo kwi tersenyum sambil menenangkan hati Hek mo, orang yang tidak mau di panggil kakek, tapi maunya dipanggil kakak oleh Mo kwi.


Mu ryeong menghampiri Mo kwi kemudian memberi tahu, bahwa ia di tunggu di dalam ruangan kapa,l untuk membicarakan langkah ke depan, menyerang perkumpulan Bajak merah.


Mokwi dan Hek mo kemudian berjalan ke ruangan kapal.


Shin mo, Kim mo, Mu ryeong, See in, Mo kwi, Hek mo, Zhou yun dan Dewa laut selatan berkumpul.


Mereka membicarakan langkah yang akan diambil untuk menyerang pulau Tamna yang merupakan markas dari perkumpulan Bajak merah.


"Kita harus waspada dan jangan sampai lengah. Pertempuran di laut beda dengan di darat, di laut kita harus mempertahankan kapal yang kita pakai, karna kapal adalah nyawa kedua kita," Ciao lam berkata.


"Kapal tenggelam kita kalah, itu sudah menjadi aturan bertempur di laut."


Semua yang berkumpul mengangguk mendengar perkataan Dewa laut.


"Kita bagi 3 kekuatan yang saling berhubungan."


"Aku membawa 25 kapal, saudara Mu ryeong sepuluh kapal dan saudara See in sepuluh kapal, rombongan kapalku akan menjadi rombongan inti melawan kekuatan utama kapal perkumpulan Bajak merah.


"Sementara rombongan saudara Mu ryeong dan saudara See in menjadi pasukan penyergap."


"Aku sudah mempelajari pulau Tamna."


"Dari dulu aku ingin sekali menumpas perkumpulan Bajak merah, tapi kekuatan laut yang ku bangun belum mampu menandingi perkumpulan Bajak merah, jadi aku terus membuat kapal atau mengambil kapal perompak yang kami tumpas, dan terkumpul 25 kapal ini." Ciao lam berkata.


"Pulau Tamna di kelilingi karang karang yang tidak terlihat karna ombak yang besar di sekeliling pulau, jika kita tak tahu arah jalan masuk yang aman, kapal kapal kita akan tenggelam oleh batu batu karang, dan kita tak bisa melepaskan jangkar di tempat yang dekat dengan mereka."


"Lantas apa yang harus kita lakukan paman ?" Shin mo berkata kepada Ciao lam.

__ADS_1


"Kita pancing mereka keluar dan melakukan pertempuran terbuka di tengah laut, tapi kemungkinan itu kecil karna mereka harus mempunyai lebih banyak kapal dari kita," kemudian Ciao lam berkata kembali.


"Mereka bertahan di pulau dan menyerang kita dari pulau mereka, berusaha supaya kita tak bisa mendarat, meriam dan alat pelontar panah, mereka akan sangat berbahaya buat kita." Shin mo mengangguk mendengar perkataan dari Ciao lam.


Ciao lam lalu mengambil tiga buah benda bulat dan panjang, semacam tongkat kecil, tarik sumbu yang ada di kembang api ini, lalu lepaskan ke udara, walau siang hari cahaya dari alat tanda bahaya tetap akan terlihat."


"Pas sekali tersisa 3 kembang api ini, masing masing satu, jika genting lepaskan tanda, siapa yang terdekat langsung bergerak membantu."


Mu ryeong dan See in mengangguk mendengar perkataan dari Ciao lam.


Kemudian masing masing mengambil sebuah kembang api dan di selapkan di ikat pinggang mereka.


"Aku mempunyai 25 kapal, 20 kapal besar dan yang 5 adalah kapal kecil yang di pakai untuk mengintai.


Kapal kecil yang bisa bergerak dengan cepat, 10 sampai 15 orang bisa masuk di kapal yang kami sebut kapal pemburu, juga bisa di pakai untuk pembuka jalan, sambil melihat karang karang yang bisa mencelakai kapal besar,"


"Mereka pasti juga mempunyai kapal kapal pengintai seperti kita," Ciao lam berkata


"Tuan Mu ryeong bergerak ke kiri, dan saudara See in ke kanan !" kami akan bergerak lurus melihat langsung dari tempat yang bisa kami dekati, sedekat mungkin dengan pulau Tamna.


Mu ryeong dan See in mengangguk mendengar perkataan Ciao lam.


"Sekarang kita bagi bagi orang, masing masing yang mempunyai kepandaian tinggi menyebar, untuk membantu bila ada penyergapan."


Mereka mengangguk mendengar perkataan dan penjelasan dari Dewa laut selatan, Ciao lam.


Shin mo, Mo kwi, dan kedua pengawal Mo kwi satu kapal dengan Ciao lam.


Sedangkan Nio nio, Ling ji dan nenek Kharmila satu kapal, dan yang lainnya terbagi bagi menyebar di semua kapal.


Kapal Ciao lam adalah kapal terbesar di antara 40 kapal, beberapa meriam menghiasi kapal Ciao lam, di kawal dengan dua kapal pemburu, dan beberapa perahu kecil di pinggir kiri kanan kapal, siap dipakai jika di perlukan.


Ciao lam sudah mendengar bisikan bahwa ketuanya yang sekarang akan mundur, dan menyerahkan jabatan ketua kepada anaknya.


"Tuan muda, apa mereka berdua pengawalmu ?" Ciao lam berkata sambil menunjuk Pedang gila dan Dewa langit yang sedang minum arak di pinggir kapal.


"Benar paman !"


"Memangnya kenapa dengan mereka berdua paman ?" Mo kwi berkata sambil tersenyum.


"Mereka berdua sangat nyentrik tuan muda !"


"Aku perhatikan sejak mereka datang ke kapal ini."


"Mereka selalu berdua, dan aku perhatikan walau mereka sering berdua, tapi mereka aku lihat jarang bicara," apa mereka bermusuhan tuan muda ?" Ciao lam berkata.


Ha ha ha


"Paman !" mereka berdua memang begitu, mereka akrab tanpa bicara paman."


"Tapi mereka berdua setia kawan, saling bantu dan bahu membahu," Mo kwi berkata.


"Tuan muda pintar mencari pengawal."


"Pengawal memang harus tak banyak bicara, lihat dan sikat," Ciao lam berkata.


Ketika tengah asik bercakap cakap, tiba tiba seorang kapten anak buah kapal datang melapor.


"Ketua !" sepertinya ada 2 kapal pemburu musuh sedang mengintai kita.


Hmm..!

__ADS_1


"Mereka sudah curiga, ketika mereka hendak masuk pulau Tamna, kita pernah lihat dan mereka juga lihat kita, mereka ingin memastikan siapa kita sebenarnya," Ciao lam berkata.


"Lalu apa yang harus kami lakukan ketua ?"


"Kita sergap mereka !" jika bisa ringkus hidup hidup itu lebih baik, siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk jalan untuk masuk ke pulau Tamna dengan aman."


"Tuan muda apa ingin bersenang senang ?" Ciao lam berkata kepada Mo kwi.


"Bersenang senang apa paman ?" Mo kwi berkata.


"Kapal pemburu kita akan mengejar, sementara kita pakai perahu kecil mencegat arah kapal mereka melarikan diri, bagaimana ?" Ciao lam berkata kepada Mo kwi sambil tersenyum, dan mulai menyukai pemuda yang akan menjadi ketuanya itu.


"Biar aku satu perahu dengan Mo kwi paman,"


Shin mo berkata, sambil melangkah mendekati Mo kwi dan Ciao lam.


"Apa kau sudah belajar berenang ?" Shin mo berkata sambil menatap Mo kwi.


"Sejak kejadian di telaga, anak Kwi sedikit sedikit sudah bisa berenang ayah,"


Shin mo mengangguk mendengar perkataan Mo kwi.


"Baik !" ketua bersama dengan tuan muda, hamba sendiri saja," Ciao lam berkata.


Setelah di beri perintah, kapal pemburu menaikan layar, kapal kemudian bergerak cepat mengejar ke arah kapal pengintai lawan.


Ciao lam, memegang pinggir perahu kecil.


Perahu kecil yang muat dua orang, dengan tenaga dalam di angkat, lalu ia lemparkan ke laut.


Byuuur..!


"Silahkan ketua, dan ini pendayungnya, !" tapi lebih enak lagi mendayung dengan tangan yang di aliri tenaga dalam," Ciao lam berkata sambil memberikan pendayung kepada Mo kwi.


Shin mo dan Mo kwi lalu melesat ke arah perahu kecil, Mo kwi lalu mendayung perahu kecil yang di taiki mereka berdua, perahu lalu bergerak.


Ciao lam kemudian melemparkan sebuah perahu, lalu melompat ke arah perahu itu, setelah sampai, lalu tangannya bergerak seperti mendayung, perahu kemudian melesat dengan cepat, karna Ciao lam menggunakan tenaga dalam ketika mendayung dengan tangan.


Pedang gila dan Dewa langi yang melihat Mo kwi dan Shin mo satu perahu, lalu Ciao lam juga turun dan pergi dengan perahu.


Keduanya saling tatap, tanpa berkata, lalu Dewa langit mencengkram sebuah perahu, yang sedikit besar dan cukup untuk mereka berdua, lalu melemparkannya ke laut.


Tanpa berkata mereka berdua lompat ke arah perahu.


Lalu Dewa langit duduk di belakang, sementara Pedang gila berdiri di depan.


Dewa langit melihat Ciao lam, lalu meniru apa yang Ciao lam lakukan tadi, perahu pun langsung melesat, melewati perahu yang di pakai oleh Mo kwi.


"Mau kemana meraka," Mo kwi berkata sambil mengerutkan kening melihat perahu yang di pakai oleh Dewa langit dan Pedang gila.


Perahu melesat dengan cepat, rambut putih Pedang gila berkibar kibar tertiup angin.


"Jangan terlalu cepat," Pedang gila berkata.


Tanpa berkata, Dewa langit mengurangi tenaga dalamnya, dan mengurangi kecepatan perahu.


"Kau bisa berenang ?" Pedang gila berkata, sambil berdiri di depan tanpa melihat ke arah Dewa langit, matanya menatap ke arah laut luas di sekelilingnya.


"Tidak," Jawab Dewa langit.


Pedang gila mengerutkan dahi mendengar perkataan Dewa langit, lalu berkata.

__ADS_1


"Sama"


__ADS_2