Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 183 Semua Anggota Berkumpul


__ADS_3

Ling ji terus menunggu, Pedang gila dan nenek Kharmila kemudian Dewa langit datang, mereka sampai di depan pintu kamar, tapi ketika Pedang gila akan membuka pintu, Ling ji memberi isyarat tangan sambil menggelengkan kepala.


Nenek Kharmila kemudian menarik tangan Pedang gila sementara Dewa langit berdiri di depan kamar bersama yang lainnnya.


mereka ber 4 terus menunggu Mo kwi selesai menghimpun tenaga dalam, dan hari beranjak siang.


Gubernur Liang cu, Hek mo dan Hek kwi datang menghampiri.


Hek mo mengerutkan keningnya, ketika melihat mereka semua berkumpul di depan pintu.


"Sedang apa kalian berkerumun di situ, apa sedang menunggu jatah makan ?" Hek mo berkata.


Paman..!!" tadi sebelum pergi, tabib Song memberi tahu, bahwa Kwi koko sudah mulai bisa mengumpulkan tenaga dalamnya yang buyar dan sebentar lagi sembuh, dan tabib Song sekalian pamit


karna inilah hari terakhir dia mengobati Kwi koko.


Hari terakhir, pamit..!!"gubernur Liang cu berkata, "kenapa dia tidak bilang padaku kalau mau pamit."


Hek kwi yang mendengar perkataan dari gubernur Cu langsung membuka pintu kamar kemudian melesat masuk, dan Hek kwi ketika berada di depan Mo kwi yang tengah bersila, langsung duduk lalu membuka capingnya wajahnya langsung menunduk dan tak lama kemudian tampak air mata menetes di lantai ruangan, sedangkan mereka yang terkejut melihat kelakuan Hek kwi, ikut memburu masuk.


Ketika melihat Mo kwi yang tengah duduk bersila.


mereka langsung, lemas dan kemudian duduk bersama Hek kwi, air mata mereka bercucuran.


Sedangkan Ling ji, langsung meraung raung, dan ketika hendak menubruk dan memeluk suaminya.


Nenek Kharmila langsung memegangi dan memeluk gadis itu, dan tak lama kemudian, Ling ji langsung tak sadarkan diri.


Mo kwi tengah duduk bersila, dengan sebuah pisau kecil yang seukuran dengan pisau raja neraka, tapi berwarna merah, yang setengah badan pisau tertancap di atas perut Mo kwi, dan di depannya tampak 2 ekor ular berwarna merah, sedang menunggu.


Tubuh bagian belakang Mo kwi memang masih terlihat normal, tetapi ketika sudah berhadap hadapan, tampak pemandangan yang sangat mengerikan, mata pemuda itu tertutup, wajahnya dan seluruh tubuh bagian depan berwarna merah.


dan yang paling merah dan terasa panas di daerah sekitar perut yang terdapat pisau darah naga, sementara 2 ular penjaga Mo kwi tampak beringas dan bergerak di seputar kaki pemuda itu.


Hek mo wajahnya berubah sangat kelam.


"Tidak salah lagi, pisau darah naga ini adalah milik Dewa sesat, tabib itu anak buah Dewa sesat."


Hek mo menatap gubernur Liang cu dan berkata.


"Dimana tempat tinggal tabib itu, jika kau menyebut tidak tau, akan kuhancurkan kota Tianjin sekarang juga," wajah kakek brewok bermuka hitam terlihat sangat gusar.


"Rumah tabib Song di sebelah timur kota Tianjin, dan hanya ada 1 rumah di sekitar tempatnya tuan."


Mendengar perkataan dari gubernur Liang cu, Hek mo, Dewa langit, dan Pedang gila yang entah kenapa air matanya bercucuran ketika melihat keadaan Mo kwi seperti itu.


Ada sebuah perasaan kehilangan di hati Pedang gila melihat gurunya, sebelumnya Pedang gila tak pernah merasakan apapun dalam hatinya, dan selalu dingin.


Ketiganya langsung melesat kearah timur kota Tianjin.


Hek kwi ketika akan medekati Mo kwi, Coa mo dan Coa kwi, mengangkat kepala, dan bersiap hendak menyeran Hek kwi.


Hek kwi, menatap tajam kedua ular itu dan berkata, aku adalah sahabat majikan kalian, dan ingin memerika Tuan muda, harap para sahabat memberi ijin," Hek kwi setelah berkata, Hek kwi memberi hormat, dan kedua ular sahabat Mo kwi seperti mengerti apa yang di bicarakan oleh orang yang berada di depan mereka, kedua ular itu akhirnya, diam di dekat kaki Mo kwi.


Hek kwi mengamati pisau darah naga yang menancap di perut Mo kwi, lalu, memegang nadi pergelangan tangan pemuda itu, walau sangat lemah, tapi masih ada denyut nadi yang bisa di rasakan oleh Hek kwi.


Tetua prajurit malam Dewa iblis itu, wajahnya tak sepucat tadi, ada secercah harapan di hati Hek kwi ketika merasakan denyut kehidupan masih berada di dalam tubuh pemuda itu.


Hek kwi perlahan mencabut pisau darah naga dari perut Mo kwi, dan ketika di cabut, tak ada darah yang keluar, dan di sekitar luka tusukan seperti bekas terbakar, dan dari tubuh pemuda itu keluar hawa yang panas.


Perlahan Hek kwi membaringkan Mo kwi di tempat tidur.


Sementara itu di tempat kediaman tabib Song, ketika berhasil, menusuk Mo kwi, dan di lihat oleh Cao cao.


Mereka langsung kembali ke tempat kediaman tabib Song tanpa ada yang menghalangi.


Setelah memberi tahu Dewa sesat bahwa tugas nya berhasil dan Cao cao juga melihatnya.


Tabib Song lalu berkemas, mereka pergi meninggalkan tempat itu ke markas rahasia milik Dewa sesat di lain tempat, sambil merampungkan ilmu nyawa iblis dan menghidupkan 10 penjaga neraka.


Ling ji setelah sadar terus menangis di sisi tempat tidur, nenek Kharmila berusaha menenangkan Ling ji bahwa Mo kwi masih hidup, tapi mereka juga tak tahu apa yang harus di lakukan.


Beberapa tabib yang ada di kota Tianjin di datangkan untuk memeriksa, tetapi mereka hanya bisa menggelengkan kepala, karna tak tahu sakit apa dan bagaimana cara menyembuhka pemuda itu.


Akhirnya Hek kwi langsung mengirimkan surat kekota raja, memberitahu keadaan Mo kwi kepada putri Qiao dan supaya putri Qiao juga memberitahu perkampungan lembah awan dan tabib Huo beserta Guan yu untuk segera secepatnya datang sebelum terlambat.


Perkampungan lembah awan.


Shin mo tengah membaca surat dari menantunya putri Qiao, dan Shin mo langsung meremas remas surat itu, wajah nya terlihat kelam, sangat terlihat wajahnya yang sedang marah dan gusar tak bisa disembunyikan dari orang orang yang tengah berkumpul Shin mo, aura pembunuh dari Shin mo keluar, memenuhi ruangan itu


Tapi perlahan aura pembunuh mulai hilang.


Shin mo menarik nafas dalam dalam, sambil menatap kearah anak buahnya, satu lagi masalah besar yang harus di selesaikan oleh perguruan Dewa iblis.


Giok lim menatap ketuanya dan berkata, "Ketua jika boleh tahu apa isi surat yang tadi ketua baca ?"


"Ternyata otak dari semua kerusuhan ini adalah Dewa sesat."

__ADS_1


Sinie Suthay dan Giok lim terkejut mendengar perkataan Shin mo.


"Jadi Dewa sesat masih hidup ketua ?" Shin mo mengangguk, lalu berkata, "dan menurut keterangan surat itu, mertuaku majikan pulau es, telapak salju sudah tewas oleh mereka."


Sinie suthay, Giok lim dan anggota lain yang hadir tampak wajah mereka murung mendengar perkataan Shin mo.


"Sinie seperti biasa, aku perintahkan menjaga perkampungan lembah awan,"


Sinie melaksanakan perintah ketua,


Paman Wu bai, tolong beritahu paman pedang hitam dan Kauw kwi serta Dewa racun di perguruan mereka, suruh mereka membawa murid perguruan mereka yg terhebat, dan berkumpul di kota Tianjin


Aku, paman Huo dan paman Guan yu, serta paman Giok lim serta paman Zhou yun akan langsung menuju Tianjin, setelah memberitahu putri Qiao, di kota raja sekaligus mencari, Sian bin


Di dalam surat juga di beri tahu bahwa Mo kwi terluka oleh anak buah Dewa sesat, dan pelindung perguruan sedang memburu mereka bersama dengan Dewa kipas dan Cha pao.


Sinie suthay dan yang lain terkejut mendengar perkataan Shin mo, kita harus bergegas, besok kita berangkat.


Sementara di kota Shin tian, juga terlihat geger ketika mendengar Mo kwi terluka, Kwan bin, Yie dong dan Tan lian sangat cemas, lalu di putuskan, Kwan bin dan Yie dong yang akan berangkat ke kota Tianjin sambil membawa anggota perguruan yang paling hebat, Sedangkan Tan lian menunggu di markas pusat sambil mengatur anak buah mereka supaya tidak resah mendengar bahwa ketua mereka terluka.


Setelah mempersiapkan sesuatunya, dan menangkan istri keduanya Soat gi yang mendengar ayah nya tewas oleh anak buah Dewa sesat.


Shin mo pagi pagi langsung menggebrak kudanya bersama rombongan anggota perguruan Dewa iblis, bergerak kearah kota raja terlebih dahulu kemudian langsung menuju Tianjin.


Kuda kuda terus di pecut dan berlari layak nya di kejar setan, rasa cemas mendengar putranya terluka membuat Shin mo terus memacu kudanya tanpa henti.


Sedang kan di kota kota raja ( Nanjing ) putri Qiao tampak mondar mandir, wajahnya pucat dan matanya tampak bengkak karna sering menangis, apalagi setelah menerima surat kedua yang di kirimkan oleh Hek kwi yang mengatakan bahwa Mo kwi kritis karna di tusuk oleh tabib yang berusaha mengobatinya, membuat putri Qiao semakin cemas, Han lian juga sama seperti putri Qiao, wajahnya tampak murung dan matanya bengkak karna seharian menangis, setelah di beritahu oleh putri Qiao isi surat yang di kirimkan Hek kwi, dari kota Tianjin.


Tenangkan hatimu nak, doakan suami mu,


Kaisar Yongle yang tengah berada di kamar putri angkatnya berkata ketika melihat putri Qiao gelisah dan mondar mandir di dalam kamar.


Bagaimana Qiao qiao tak khawatir ayahanda, mendengar Kwi koko sudah terluka tapi masih di incar oleh musuh musuh nya, dan sekarang terbaring tak sadarkan diri.


"Ah, Ling ji..!!" jika sampai terjadi apa apa terhadap Suamiku, akan ku cincang tubuhmu, bagaimana bisa, seorang istri menjaga suaminya tetapi masih saja bisa di lukai, putri Qiao berkata dengan wajah geram.


Kaisar yongle hanya bisa menggelengkan kepala melihat kecemasan putri angkatnya, Qiao qiao.


Shin mo sampai di kota raja, setelah bercakap cakap sebentar dengan kaisar Yongle, Shin mo kemudian bercakap cakap dengan Qiao qiao di ruangannya.


"Ayah..!!" putri Qiao dan Han lian memberi hormat kepada mertuanya.


Apa ada perkembangan terbaru dari kabar Mo kwi ?


Shin mo berkata kepada putri Qiao, putri Qiao lalu memceritakan isi surat yang di kirimkan oleh Hek.kwi dari kota Tianjin.


Hamba belum bisa memastikan dan memberi kesimpulan apapun ketua, pisau darah naga, jika orang tertusuk oleh pisau darah naga, maka dsrahnya akan kering karna racun panas yang tedapat di pisaiu itu. dan jika mendengar tabib itu, aku pernah mendengar kabar burung bahwa salah satu anak buah Dewa sesat, ada seorang tabib bernama Song kwan, dan di sebut tabib hitam.


"Betul, betul..!!" nama itu Paman Huo, Song kwan," putri Qiao berkata.


"Jika bemar kenapa Paman Hek kwi dan Kakek Hek mo tak mengenali tabib itu, sebagai salah seorang anak buah Dewa sesat ?" Shin mo berkata.


"Jarang ada yg mengenal Song kwan ketua..!!" karna dia memang jarang memperlihatkan diri, hamba kenal juga hanya nama tapi tidak mengenal orangnya, hamba pernah menyelamatkan anak buah Dewa sesat, mereka berkata jika ada tabib Song maka mereka tak kan datang padaku.


"Dari sanalah aku tahu mereka mempunyai seorang tabib handal yang bernama Song kwan."


Shin mo mengangguk mendengar perkataan dari tabib Huo, dan setelah menunggu kabar dari wubai, Shin mo, akan melanjutkan perjalanan kembali ke kota Tianjin.


Ke esokan harinya Shin mo mendengar kabar bahwa banyak anggota Mo kwi bergerak dari Shin tian menuju Tianjin, dan Wu bai memberi kabar bahwa lebik baik ketuaanya berangkat terlebih dahulu dan nanti bertemu di Tian jin karena Mo kwi sangat membutuhkan pertolongan tabib Huo dan Guan yu.


Setelah mendapatkan kabar berita, dari salah seorang anak buah Sian bin, Shin mo lalu bergegas menuju kota Tianjin.


Putri Qiao bermaksud untuk ikut, tapi Shin mo meminta putri Qiao untuk bersabar karna, perjalanan yang jauh, dan putri Qiao yang belum memiliki kepandaian akan membuat mereka lebih lama lagi menempuh perjalanan, dan setelah kaisar Yongle ikut membujuk akhirnya putri Qiao membatalkan niatnya, dan membantu kaisar Yongle mengatur pemerintahan, di era kekaisaran Yongle yang baru berdiri.


Shin Mo dan rombongan memacu kuda kuda mereka.


Hari berganti hari rombongan terus berpacu dengan waktu, Kota Qu fu sudah lewat dan mereka tengah iatirahat, untuk memberi makan dan minum kuda, paman apa masih jauh dari sini ke kota Tianjin ?


Setelah melewati gunung Thai san ini, kita tak lama lagi akan sampai ke kota Tianjin, Tabib Huo berkata,


Tabib Huo sudah berkeliling daratan Tionggoan untuk, memgobati penduduk yg tertimpa musibah, sehingga, Huo in hapal jalan jalan yang biasa di pakai menuju kota besar.


Setelah di rasa cukup istirahat dan kuda kuda juga sudah di beri makan dan minum, Shin mo dan rombongan melanjutkan perjalanan kembali, menuju kota Tianjin.


Rombongan bergerak menuju ke kota Tianjin, tapi mereka tak begitu memecut kuda, untuk memberi waktu kuda mereka untuk mencerna makanan yang baru saja masul ke perut kuda.


Hari mulai senja, dan mereka baru saja melewati pinggiran hutan di kaki gunung Thai san.


Shin melihat seorang yang tengah duduk di sebuah batu, kepalanya tertunduk dan tak bergerak, dari pakaian nya, tampak seperti pakaian seorang pendekar.


Tapi kepala nya tertutup, sebuah caping bambu dengan cadar hitam.


Shin mo terus memperhatikan orang yang tengah duduk itu, dan yang lain pun ikut melihat kearah orang berbaju merah dan bercaping itu, yang tetap menunduk.


Dan seperti tak peduli dengan debu dan suara bising kuda.


Shin mo terus memperhatikan orang itu.

__ADS_1


Dan ketika tengah asik memperhatikan orang itu, terdengar suara seperti lonceng kecil yang berbunyi.


klining..klining..klining.


Mendengar suara lonceng berbunyi, orang yang tengah duduk di batu itu lalu berdiri dan lansung melesat menyerang ke arah rombongan Shin mo.


Shin mo yang selalu memperhatikan orang itu, terkejut dan langsung menangkis tangan yang tegak lurus dan menyambar kearah leher tabib Huo.


Plaak..bhuuk.


Tangan kiri Shin mo, menangkis tangan kurus dan kulit putih yang sangat pucat itu, lalu tangan kanan langsung di hantamkan ke perut pendekar berbaju merah itu.


Pendekar yang hanya diam itu, langsung terpental ketika perutnya tertinju oleh pukulan Shin mo.


"Siapa kau...?" Shin mo berkata.


Tapi tak di jawab oleh pendekar berbaju merah itu.


Setelah rubuh, tanpa ada suara, orang bercaping itu bangkit dan langsung menyerang ke arah Shin mo.


Pendekar baju merah memukul kepala Mo kwi, lalu tangan kiri dengan kuku yang panjang berwarna hitam menyambar kearah pinggang.


Shin mo menangkis pukulan kearah kepala, dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menepak pergelangan tangan pendengkar berbaju merah itu.


Plak, plaak.


Dua serangan dan dua kali di tangkis, Shin mo sudah menambah tenaga dalamnya, untuk mengetahui tingkat tenaga dalam pendekar itu, tapi berapapun tenaga dalam di tambah dalam setiap pukulan dan menangkis terkadang memukul sehingga pendekar baju merah itu jatuh tapi langsung bangkit dan terus menyerang kearah Shin mo.


Puluhan jurus berlalu, dan keduanya saling serang.


Klining...klining.


Mendengar suara lonceng, pendekar berbaju merah itu, langsung menjerit jerit dan suaranya sangat menyeramkan.


Dan serangannya semakin ganas, kuku beracun menyambar kerah dada, sedang kan tangan satunya lansung mencakar ke arah wajah Shin mo.


Shin mo, menangkis tangan yang mencakar wajahnya, sementara itu kakinya menendang tangan yang ke arah dada.


Plak..dhes


Setelah berhasil di tangkis, Shin mo langsung


Melesat sambil tangannya dengan jurus Iblis gila,


menyambar caping pria berbaju merah itu.


Dan tangan kiri menghantam perut, pendekar berbaju merah itu.


Bet,..Bhuuuk...!!


Sisi caping terhantam tangan kanan Mo kwi, sedangkan tangan kiri dengan tenaga hampir 9 bagian menghantam pinggang pendekar berbaju merah itu.


Tubuhnya melayang dan menghantam sebuah pohon besar.


Patah pinggang mu, Shin mo berkata dalam hati.


Tapi wajah Shin mo langsung berubah ketika, melihat pendekar baju merah itu bangkit kembali seperti tak merasakan sakit walau terkena hantaman dengan tenaga dalam hampir sembilan bagian.


Shin mo beserta rombongan tertegun, ketika pendekar baju merah itu semakin lama semakin mendekat.


Wajah pendekar baju merah itu terlihat sangat pucat seperti tanpa darah, dan matanya terlihat hanya rongga hitam, Shin mo mengerutkan keningnya melihat wajah aneh pendekar berbaju merah itu.


Huo in, wajahnya berubah melihat pendekar berbaju merah itu.


"Ketua..!!" tebas semua anggota tubuhnya, sebelum bertambah ganas," Huo in berkata, sambil menyambar pedang yng tergantung di pelana kuda.


Shin mo langsung menangkap pedang yang di lemparkan ke arahnya.


Wajahnya menatap kearah pendekar berbaju merah itu, tiba tiba terdengar suara lonceng kecil.


klining..klining.


Tiba tiba pendekar berbaju merah itu mendengar suara lonceng, berbalik dan langsung melesat pergi dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan.


Huo in menarik nafas dalam dalam, matanya terus menatap kearah menghilangnya pendekar berbaju merah itu.


Shin mo yang melihat raut wajah Huo in yang seperti cemas, dan wajahnya tampak seperti takut bertanya,


"Paman,..!!" apa paman kenal dengan pendekar itu ?


Shin mo berkata.


"Hamba tidak mengenal siapa pendekar berbaju merah itu ketua."


"Tetapi setelah melihat ketua bertarung, dan beberapa kali dia terkena pukulan dan hantaman ketua tanpa merasakan sakit, hamba masih juga ragu."


"Tetapi ketika melihat wajahnya yang tidak tertutup oleh caping, hamba sangat yakin."

__ADS_1


"Bahwa orang itu salah satu dari, 10 penjaga neraka."


__ADS_2