Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 94 Perjalanan Menuju Shin Tian


__ADS_3

Setelah mendapatkan bahan obat dari juragan Lan, Tan bu ong lalu menyuruh tabib untuk mengobati penyakit yang di derita oleh anak buahnya, sedangkan Dewa bumi dan Hantu darah pulang kehutan larangan sambil membawa bahan obat untuk menyembuhkan dan mengatasi wabah yang menyerang para penghuni hutan larangan, sementara Dewa langit, kakek bertubuh tinggi dan tak banyak bicara, menjadi pengawal orang yang mereka sebut Dewa api, yang tak lain adalah Mo kwi.


Sedangkan kakek tiri Mo kwi, Juragan Lan hampir semalaman bercakap cakap dengan cucunya, dan mendengarkan cerita Mo kwi, "sungguh menderita kau sewaktu kecil nak..!!" jika saja dari dulu aku tau, aku yang akan mengurus mu dengan kasih sayang,"


"Terima kasih kakek..!!" Mo kwi berkata sambil memeluk kakek tirinya, ayah dari Lan hong giok, dan Juragan Lan akhirnya malah, tak mau menerima duit sisa yang kurang untuk bahan obat, malah memberi Mo kwi, ratusan tail uang emas, setelah itu juragan Lan pulang kembali ke kota Gui zhou,


Pagi hari, di meja sudah tersedia menu untuk sarapan pagi, dan makanan ringan untuk mereka yang belum berselera untuk makan, di sekitar meja panjang, duduk Mo Kwi, Tan bu ong, sepasang walet terbang, Pedang gila dan Dewa langit yang duduk berdampingan, Mata elang, dan Li chun yang matanya terus menatap kearah kedua kakek bertubuh tinggi, tapi tak banyak bicara, terutama Li chun melihat kepada orang yang di sebut Dewa langit, kakek yang ia dengar dari cerita Mata elang, suka main tangkap dan hantam.


"Tetua tan kita tak bisa membawa anggota perguruan yang sedang sakit, dan bagaimana persiapan kuda kuda, yang akan kita pakai menuju kota Shin tian..?" Mo kwi berkata.


"Ketua, para anggota sedang mengumpulkan kuda kuda yang akan kita pakai, Kiam kun juga ikut menyumbang 50 ekor kuda kepada kita," mendengar kata Kiam kun, Mo kwi lalu bertanya.


"Tetua Tan, bagaimana menurutmu dengan Kiam kun..?" Ketua tak usah khawatir, saudara Kiam kun adalah seorang Kuncu ( lelaki sejati ) perkataannya bisa kita percaya, hamba mengenal Kiam kun sudah lama, yang jahat adalah adik seperguruannya, Pedang angin," Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari Tan bu ong.


"Lantas berapa hari kita sampai di Shin tian..?" jika kita bergerak dengan 300 orang berkuda, hamba rasa, dalam waktu 3 hari kita akan sampai," Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari Tan bu ong,


"Dan jangan lupa kereta bahan obat dan perbekalan, karna kita pasti membutuhkan dengan banyaknya anggota yang kita bawa."


"Ketua jangan khawatir, itu semua sudah kami persiapkan," Tan bu ong berkata, ia kagum kepada ketuanya yang masih muda itu, yang sangat teliti dalam mempersiapkan sesuatu hal.


Setelah beberapa hari, akhirnya kuda kuda, kereta perbekalan dan bahan obat telah siap, mereka lalu bergerak menuju kota Shin tian, markas utama dari perguruan tengkorak putih.

__ADS_1


Dengan adanya kereta perbekalan dan bahan bahan obat, kecepatan mereka tak maksimal, melewati desa dan kampung kampung, Mo kwi dan pasukannya, selalu membantu, bahan bahan obat ia keluarkan bila ada desa yang membutuhkan, begitu pula dengan desa yang kelaparan, mereka membantu dengan memberi bekal ala kadarnya, untuk mengatasi sementara.


Menurut seorang cengcu ( ketua perkampungan ), ada sebuah benteng pertahanan yang baru dibuat di dekat desa mereka, dan benteng dari kayu itu mereka sering melihat prajurit prajurit berpakaian khusus, dan ratusan prajurit kaisar Zhiangwen, mereka suka mengambil paksa hasil panen dan ternak para penduduk dengan alasan untuk bekal perang.


Agaknya para siwi yang mengepalai para prajurit itu, dan sepertinya mereka mendirikan, sebuah tempat perbekalan, untuk menampung hasil rampokan dari desa dan kampung kampung yang terdapat di sekitar sini, lalu mereka kirimkan, ke prajurit prajurit, yang akan bergerak masuk, entah ke shin tian, atau bisa jadi, untuk mengepung Beiping dari berbagai sudut, dan memang, di daerah ini tempat yang strategis, karna berada di tengah, di antara 3 kota, Pin jiang, Shin tian dan Beiping.


"Cengcu, bisa tunjukan kepada kami markas mereka..?" cengcu yang sudah tua itu mengangguk, "kapanpun tuan muda ingin kesana, Hamba siap mengantar, para penduduk kampung sangat membenci mereka, tidak hanya hasil bumi dan ternak, para gadis desa juga mereka culik untuk dijadikan pemuas nafsu para prajurit." kami mengerti jika hanya hasil bumi yang mereka ambil, tapi anak gadis kami yang mereka ambil, membuat kami sakit hati dan tidak terima, tapi kami tak bisa berbuat apa apa, melawan para prajurit terlatih, hanya dengan 20 orang, mereka bisa menghabiskan kampung kami ini.


Cengcu tak usah Khawatir, nanti malam kita habisi mereka dan mengambil semua apa yang mereka ambil berikut bunganya, "bunga" Cengcu berkata.


"ya bunganya adalah nyawa mereka semua," Mo kwi berkata, wajah Cengcu ceria mendengar perkataan Mo kwi.


Malam itu dengan membawa 50 orang anggota pilihan, Mo kwi, sepasang walet terbang, Pedang gila, Dewa langit dan Li chun, bergerak mengikuti Cengcu.


Sedangkan Tan bu ong dan Mata elang menunggu di perkampungan dan berjaga jaga.


Mo kwi menatap kearah benteng yang menurutnya lumayan besar tapi memang belum rampung, dan tengahnya masih terlihat belum ada bangunan, hanya tenda tenda, ketika ia melihat dari atas pohon.


Melihat ada dua orang petugas jaga, yang sedang berkeliling, Mo kwi yang ingin berkata untuk menyergap mereka, sebuah bayangan sangat cepat, langsung melesat, dan terlihat prajurit itu langsung terkulai, ketika kedua tangan masing masing mencekal leher mereka kemudian mematahkannya, bayangan itu kemudian balik kembali, dan berkata kepada Mo kwi, "sudah beres" Mo kwi tersenyum melihat aksi Dewa langit, sedangkan Li chun melotot, dalam hatinya berkata, orang ini lebih lebih dari Pedang gila.


Kakak Li dan sepasang walet terbang, kalian bersiap mendobrak pintu benteng, setelah aku, Pedang gila dan Dewa langit mengacak acak mereka di dalam.

__ADS_1


Setelah memberi instruksi, 3 buah bayangan melesat kearah benteng, dan meloncat ke dalam, dengan perlahan lahan, Mo kwi memerintahkan, Pedang gila dan Dewa langit membakar tenda tenda milik prajurit.


Dan suasana gaduh dan teriakan teriakan terdengar di malam itu.


Kebakaran,..Kebakaraaan,..Kebakaraaaan.


Para prajurit yang belum tidur langsung keluar tenda dan melihat, tapi setelah keluar, bayangan pedang biru dan hijau, melesat dengan cepat membabat dan menebas mereka semua, para prajurit yang panik lari berhamburan menyelamatkan diri.


Beberapa orang siwi keluar dari tenda besar, tapi mereka tak sempat menyadari, siapa yang menyerang, karna bayangan pedang, menebas kepala dan badan, lalu sebuah tangan yang menangkap leher dan langsung mematahkannya,


Setelah melihat api keluar dari dalam benteng, Sepasang walet terbang dan Li chun langsung melesat, di ikuti oleh anggota perguruan tengkorak putih. mendobrak pintu benteng, dan langsung menyerang para prajurit yang sudah kocar kacir di acak acak oleh Mo kwi, Pedang gila dan Dewa langit.


Suara teriakan dan jeritan terdengar dimalam itu, dan tak membutuhkan waktu lama, akhirnya benteng itu dapat Mo kwi kuasai, dan tak ada satupun Prajurit dari Kaisar Zhiangwen yang berada di benteng itu, selamat dari amukan Mo kwi dan pasukannya.


Setelah mereka berhasil, dan mengumpulkan harta rampasan dan tawanan yang ada dalam benteng, mereka kembali, hanya luka luka kecil yang dialami oleh anggota perguruan tengkorak putih.


"Cengcu,..!!" kami besok akan melanjutkan perjalanan, dan benteng itu bagus untuk dijadikan perkampungan, tapi Cengcu harus berhati hati, karna tidak menutup kemungkinan, nanti ada prajurit yang datang untuk memeriksa benteng itu.


Esok pagi hari, dengan diiringi oleh hampir semua penduduk kampung, yang sebagian menangis melepas kepergian Mo kwi dan anak buahnya.


Mo kwi berangkat meneruskan perjalanan, menuju Shin tian, setelah berhasil menghancurkan benteng itu, Mo kwi bertekad selama perjalanan menuju Shin tian, ia akan menghancurkan benteng benteng yang ia temui, dan ia berkata kepada Cengcu untuk bersabar, semoga perang cepat berakhir dan rakyat tidak menderita lagi akibat perang.

__ADS_1


Cengcu, matanya berkaca kaca, menatap kepergian Mo kwi, dalam hatinya berkata.


"Semoga cita cita luhurmu terkabul anak muda."


__ADS_2