
Hari ini dimas berjualan di pasar dengan membawa sang anak yang masih berumur empat bulan, karena ibu Rt ada acara keluarga. Sebenarnya tama mau di bawa oleh ibu Rt tetapi dimas tidak membolehkan nya dengan alasan tidak mau jika ibu Rt kerepotan.
Beruntung tama kecil anteng dan tidak rewel, dimas menidurkan anak nya di lapak tempat dia berjualan. Lapak ini sebenarnya dulu punya tetangga dimas,lapak berukuran 2x2 meter itu akhirnya di sewakan sama dimas dengan sewa 150 ribu perbulan.
" Mas kok anak nya dibawa? kenapa tidak di tinggal sama ibu nya saja?" Tanya ibu-ibu yang datang membeli roti.
" Ibu nya lagi sakit bu, jadi terpaksa saya bawa. Oh iya ibu mau beli roti yang mana?" Tanya dimas mengalihkan pembicaraan.
" Saya mau yang isi kacang hijau 5 ,yang harga lima ribuan saja ya mas" Ucap sang ibu dan dimas langsung mengambilkan 5 roti isi kacang hijau dan memasukkan kedalam plastik dan menyerahkan nya kepada si ibu.
" Terimakasih bu" Jawab dimas saat sang ibu membayar roti nya.
Si ibu pun pergi dari lapak dimas dan beralih kelapak tukang sayur untuk berbelanja sayuran.
Sebenarnya dimas tidak tega membawa tama untuk ikut berjualan, tapi mau bagaimana lagi kalau dia tidak berjualan uang darimana untuk membeli susu sang anak.
" Mas saya mau roti isi keju yang harga sepuluh ribuan 3 sama isi coklat nya 3 yang harga lima ribuan. " Ucap pelanggan dimas yang baru datang.
" Iya mbak sebentar saya siapkan, " ucap dimas yang mulai mengambilkan pesanan pelanggan nya.
" Ini uang nya mas" Ucap sang pembeli dan mengulurkan uang 50 ribuan.
Saat dimas mengambilkan uang kembalian sang pembeli itu pun memberikan kembalian nya untuk dimas.
" Kembalian nya lima ribu ambil saja mas" Ucap mbak pembeli itu lalu pergi dari lapak dimas.
Dimas hanya bisa berucap terimakasih kepada sang pembeli yang sudah berbaik hati. Dimas pun duduk kembali di dekat sang anak sambil mengajak sang anak berbicara, beruntung sang anak sama sekali tidak rewel.
* Alhamdulillah kamu tidak rewel nak, maafkan ayah ya. Ayah terpaksa mengajak mu berjualan di tempat yang sempit ini. Semoga kelak kamu jadi anak yang sukses, tidak seperti ayah mu ini* Gumam dimas dalam hati.
Penjualan dimas hari ini lumayn ramai, banyak roti yang sudah habis. Hanya tinggal beberapa bungkus saja yang tersisa, sisa nya bisa dia jual nanti sore dengan cara berkeliling. Dengan begitu dimas bisa mendapatkan pendapatan lebih. Bisa untuk menambah beli susu dan popok bayi. Dimas juga harus menabung untuk biaya bayar kontrakan dan untuk keperluan tak terduga.
Saat hendak pulang dimas sudah membereskan lapak nya, dan akan menngendong tama. Saat dimas menggendong tama , dimas kaget karena anak nya badan nya panas dan muncul bintik - bintik merah di tubuh nya.
__ADS_1
" Sayang badan kamu panas? Tapi kamu gak rewel dan ini kenapa muncul bintik merah di tubuh kamu?" Dimas semakin mencemaskan keadaan tama.
Dimas langsung buru-buru membawa tama ke dokter yang dekat dengan pasar. Saat tiba di rumah sang dokter ternyata dokter tidak ada di rumah dan tempat praktek juga masih tutup.
Akhirnya tama membawa tama ke rumah sakit, dengan berpanas-panasan dimas mengendarai motor nya sambil menggendong tama. Tidak perlu waktu lama dimas sudah sampai di rumah sakit.
" Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya suster yang di bagian pendaftaran.
" Anak saya demam dan badan nya keluar bintik-bintik merah, tolong anak saya sus" Ucap dimas dengan cemas.
" Baik pak, bapak jangan cemas ya. Bapak langsung ke dokter anak saja ya pak, ruangan nya ada di lantai dua. " Ucap sang suster dengan ramah.
" Baik suster, terimakasih"
Dimas langsung naik ke lantai dua sesuai dengan arahan sang suster. Setelah sampai lantai dua dimas langsung mencari ruang prakter dokter anak.
" Maaf pak, dokter nya sedang keluar makan siang bapak bisa tunggu di kursi tunggu dulu ya pak. Saya catat nama anak dan usia nya dulu ya pak. " Ucap ramah sang suster.
" Anak nya kenapa pak?" Tanya sang dokter yang baru saja datang.
" Anak saya demam dan muncul bintik merah di tubuh nya, tolong anak saya dokter" Ucap dimas mengiba.
" Maaf pak saya bukan dokter umum atau dokter anak, saya dokter spesialis jantung" Ucap sang dokter yang ternyata dia adalah fadli.
" Saya bantu hubungi teman saya yang dokter anak saja ya pak" Ucap fadli yang langsung menhambil ponsel di kantong celana nya dan mulai menghubungi sahabat nya yang berprofesi sebagai dokter anak.
Akhirnya dokter anak yang bernama Tedi itu pun sudah datang dan langsung menyuruh dimas membawa sang anak untuk masuk ke ruangan nya.
" Pak dimas tidak usah cemas, ini bukan bintik demam berdarah, ini hanya campak yang sudah biasa terjadi pada anak-anak. Nanti minum kan vitamin ini 2x sehari ya pak. Dan jangan di ajak pergi-pergi dulu" Ucap dokter tedi menjekaskan.
" Terimakasih pak dokter" Jawab dimas.
Fadli yang tadi ikut masuk kedalam ruangan merasa kasihan melihat kondisi dimas yang datang seorang diri dengan menggendong sang anak.
__ADS_1
" Kalau boleh tahu bapak tinggal dimana?" Tanya fadli.
" Saya tinggal di desa Delima" Jawab dimas dengan jujur.
Fadli dan Tedi kaget saat dimas menyebutkan tempat tinggalnya, desa delima itu bukan nya jauh dari rumah sakit ini.
" Jauh banget pak, bapak naik apa kesini?" Tanya tedi yang mulai kasihan dengan dimas.
" Saya naik motor berdua dengan anak saya ini, tadi kami baru saja pulang dari pasar karena saya memang berjualan di pasar. Tadi sudah datang ke tempat dokter yang dekat pasar tapi dokter nya tidak ada dan tempat praktek nya juga tutup" Dimas menjelaskan.
" Istri bapak kemana?" Gantian fadli yang bertanya karena dia penasaran.
Dimas hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan dari dokter fadli. Tidak mungkin dimas mengatakan ibu nya gila dan di bawa orang tua nya.
" Saya bercerai dengan istri saya, dan anak ada sama say" Jawab dimas dengan pelan, setidak nya dimas tidak membohongi fadli dan tedi.
Fadli dan Tedi benar-benar terenyuh mendengar cerita dari dimas.
" Baik pak saya permisi dulu" Ucap dimas yang ingin meninggalkan ruangan tedi.
" Iya pak silahkan, semoga anak nya lekas sembuh. Kalau ada apa-apa segera bawa kemari lagi ya pak" Ucap tedi dengan ramah.
Dimas menganggukkan kepala nya lalu pergi meninggalkan ruangan tedi. Dimas kembali mengendarai motor nya sambil menggendong tama, cuaca panas membuat tama kecil tidak nyaman. Tama menangis saat perjalan pulang, dimas semakin bersedih melihat tama kepanasan dan menangis.
*Semoga ayah ada rezeki lebih ya nak, agar bisa beli mobil biar bukan yang bagus asal tidak membuat kamu kepanasan seperti ini. Maaf kan ayah ya nak" Gumam dimas sambil tetap fokus mengendarai motor nya.
*****
Jangan lupa tetap berikan dukungan nya untuk novel Author ya kak.
Selamat membaca.
Terimakasih.
__ADS_1