Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Dokter Fadli


__ADS_3

Aina sudah kembali lagi ke kota setelah setelah dua minggu berada di luar kota untuk melaksanakan seminar kedokteran yang di ikuti dokter rumah sakit seluruh provinsi, Aina dan teman nya mewakili dari rumah sakit tempat nya bekerja.


Siang ini Aina datang ke cafe yang sudah lama dia tinggalkan. Aina datang tepat jam makan siang, jadi keadaan kafe terlihat ramai semua kursi hampir terisi oleh para pengunjung.


" Cafe semakin ramai ya Da?" Ucap Aina sambil melihat kesekeliling cafe yang memang ramai.


" Iya bu, cafe memang semakin ramai dan penghasilan semakin meningkat. " Jawab ida memberitahu kenaikan omset cafe.


" Alhamdulillah" Seru Aina.


Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang ingin membayar makanan nya memanggil nama Aina, kebetulan Aina memang duduk di dekat meja kasir bersama Ida dan Titin pegawai kasir nya.


" Dokter Aina" Panggil laki-laki yang berdiri di depan meja kasir


Merasa nama nya di panggil Aina pun menoleh ke arah sumber suara, ada laki-laki yang tidak asing bagi nya berdiri di hadapan nya dengan tersenyum ke arah nya.


" Dokter Fadli" Seru Aina yang ternyata mengenali laki-laki di hadapan nya.


" Wah ternyata saya benar, anda benar dokter Aina. Tadi waktu saya melihat anda, saya kira saya salah lihat. Ternyata pengelihatan saya benar" Ucap dokter Fadli dengan senyum ramah nya.


" Oh iya dokter fadli, dokter fadli sama siapa? " Tanya Aina lagi.


" Saya sendiri, tadi habis dari rumah sakit husada ada urusan disana. Oh iya dokter Aina ini bukan nya bertugas di Rumah sakit Husada kan?" Tanya dokter fadli.


Merasa perbincangan nya semakin panjang, Aina memilih untuk mengajak dokter fadli duduk di kursi yang kosong. Karena jika terus di meja kasir akan mengganggu para pelanggan yang hendak membayar.


" Maaf ya dok, kita ngobrol nya jadi pindah di sini. " Seru Aina yang merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa dokter Aina, santai saja. Saya bisa ngobrol dimana saja. Oh iya tolong jangan terlalu formal begitu dong,panggil saja fadli. " Ucap dokter fadli memberitahu.


" Baiklah, anda juga panggil saja saya Aina tidak usah pakai embel-embel ibu dokter" Seru Aina sambil tertawa.


Obrolan mereka pun semakin berlanjut, mereka saling menceritakan pengalaman kerja nya. Saling bertukar pengalaman saat bekerja di rumah sakit. Sejauh ini Aina merasa doktet fadli orang yang baik, tutur kata nya pun sopan.

__ADS_1


" Jadi cafe ini milik kamu? Wah ternyata kamu hebat juga ya, sudah sebagai dokter dan punya usaha cafe seperti ini. Benar-benar wanita hebat" Seru fadli memuji Aina.


" Awal nya cafe ini bukan aku yang menjalankan, tapi mantan suami ku. Sudah lima bulan ini aku yang mengambil alih" Seru Aina memberitahu fadli, entah kenapa dengan fadli dia bisa bicara secara terbuka seperti ini.


Fadli nampak dengan serius mendengarkan apa yang di sampaikan Aina. Bahkan dokter fadli saja tidak menyangka jika Aina sudah berpisah dengan suami nya, karena setau fadli Aina memang sudah menikah.


" Maaf ya Aina, karena aku kamu jadi cerita soal mantan suami mu." Ucap fadli merasa tidak enak.


" Ehh... apa, aku tadi memang bicara soal apa ? Aku ngelantur ya" Seru Vera yang baru menyadari ucapan nya.


Fadli tertawa melihat ekspresi wajah Aina yang kebingungan, menurut fadli justru wajah Aina terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


" Sudah-sudah kamu tidak perlu bingung seperti itu kok, aku bukan laki-laki yang ember. Jadi apa yang kamu ceritakan tadi aku pastikan hanya aku yang tahu. " Ucap fadli membuat Aina semakin malu.


" Berarti kalau kita sering ketemu dan ngobrol seperti ini tidak ada yang marah, secara kamu sudah sendiri jadi aman kan." Seru fadli menggoda Aina.


Aina terdiam, dia terlihat bingung dengan ucapan dokter fadli. Aina merasa ada yang aneh dengan dokter fadli.


Aina mengerutkan kening nya, dia heran kenapa dokter fadli bisa membaca dalam fikiran nya. Padahal Aina dan dokter fadli jarang sekali bertemu, tapi kenapa pertemuan kali ini mereka terlihat sangat akrab.


" Mulai minggu depan aku sudah bekerja di rumah sakit husada, jadi kita akan sering bertemu. " Seru dokter fadli mencairkan suasana yang sempat sunyi.


" Kenapa kamu pindah?" Tanya Aina sambil meminum jus mangga nya.


" Karena ingin dekat sama kamu" Seru dokter fadli membuat Aina tersedak.


Uhukk... uhukk.. uhukk..


Dokter fadli dengan sigap menepuk punggung Aina. Aina kaget melihat Fadli yang membantu nya menepuk-nepuk punggung nya. Fadli menyadari perbuatan nya, lalu dengan cepat menjauhkan tangan nya dari punggung Aina.


" Maaf, tadi aku reflek saat melihat mu tersedak" Seru Fadli membela diri nya sendiri.


" Aku tersedak juga karena kamu" Gerutu Aina pelan.

__ADS_1


" Maaf-maaf tadi bercanda, hehee.. aku pindah karena aku memang ingin pindah biar dekat dengan orang tua ku. Orang tua ku kan tinggal di kota ini, aku kerja di kota lain karena dulu istri ku tidak mau ikut ke kota ini. Jadi mau tidak mau aku harus mengikuti kemauan istri ku, ya walaupun sudah 3 tahun menikah tetap saja aku di tinggalkan nya" Fadli menjelaskan kepindahan nya di kota ini.


Aina hanya menyimak dan mendengarkan tanpa memberikan komentar apa-apa. Dia sendiri sebenarnya bingung mau berkomentar apa.


" Oh iya Aina, aku permisi dulu ya. Aku mau balik ke luar kota menyelesaikan kepindahan ku, ada berkas yang harus aku selesaikan di rumah sakit yang lama. Lain kali nanti aku mampir ke sini lagi, lagi pula minggu depan insya allah aku sudah bekerja di rumah sakit husada. Aku permisi ya" Ucap Fadli berpamitan untuk balik ke luar kota lagi.


" Iya terimakasih sudah mampir di cafe ku semoga kamu tidak kapok ya, hati-hati" Ucap Aina mengakhiri pembicaraan nya.


" Terimakasih kembali" Seru fadli.


Fadli pun keluar dari cafe dan menuju ke parkiran untuk mengambil mobil nya, pandangan Aina masih tertuju ke mobil fadli yang mulai meninggalkan parkiran cafe.


" Orang nya sudah jauh bu, ngelihatin sampai segitu nya. " Seru Ida yang tiba-tiba berdiri di samping Aina dan mengagetkan Aina.


" Apa-apaan sih kamu Da, si..siapa juga yang ngelihatin fadli. " Aina menjawab dengan terbata-bata karena ketahuan ida sedang memperhatikan fadli.


" Oh jadi laki-laki itu nama nya fadli? Sepertinya dia suka sama ibu, Saat ibu berbicara tadi pandangan pak fadli terus ke arah ibu. Kalian cocok kok bu, ayuk bu sikat saja." Ucap ida sambil tertawa dan langsung berlari menjauh dari Aina.


" Dasar karyawan kurangajar, awas kamu ya Da" Gerutu Aina.


Aina masih belum siap untuk menjalin sebuah hubungan, ada rasa trauma dan takut yang belum hilang dari dirinya. Tapin jika ada laki-laki yang benar-benar mencintai dan menyayangi nya bahkan bisa menerima status Aina, Aina akan mencoba untuk membuka hati nya untuk laki-laki itu.


" Bu sudah jangan melamun, ini makan siang untuk ibu. Ini sudah jam dua siang loh bu, pasti ibu belum makan kan? Makanya ini aku bawakan makanan untuk ibu , nasi goreng spesial untuk ibu Aina yan cantik" Seru ida yang datang membawakan Aina nasi goreng.


" Terimakasih ya Da kamu memang tahu aja kalau aku belum makan, tapi ingat kamu masih harus menerima hukuman dari ku karena tadi sudah berani mengejek ku" Ucap Aina sambil melirik ke arah ida.


Aina pun memakan makan siang nya dengan lahap, dia memang sangat lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan hanya meminum segelas susu hangat saja.


******


Yang pada tanyak Aina, ini aku up bab khusus Aina semoga kalian suka ya. Jangan lupa tetap berikan Like, Komen, Vote dan klik favorite serta berikan hadiah nya.


Terimakasih. 🙏❤

__ADS_1


__ADS_2