Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Melamar Aina


__ADS_3

🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹


Fadli semakin serius dengan hubungan nya bersama Aina, keseriusan fadli patut di apresiasi. Tidak membuang banyak waktu fadli hari ini akan datang ke rumah orang tua Aina untuk melamar sang pujaan hati.


Perjalanan menuju rumah orang tua Aina tidak terlalu jauh hanya memerlukan waktu empat puluh lima menit sampai.


Hari ini fadli datang melamar Aina dengan membawa Mama nya, Jimmy sang kakak dan Sina kakak ipar nya dan Ibu Linda ibu dari Sina. Papa Fadli sudah meninggal saat fadli masih kuliah kedokteran di luar negeri.


Saat ini Aina sudah berada di rumah orang tua nya di desa Makmur jaya, sebuah desa yang berada tidak jauh dari perkotaan. Masyarakat desa makmur jaya bisa dibilang semua hidup makmur, terlihat dari rumah-rumah warga yang rata-rata sudah permanen. Desa makmur jaya warga nya juga banyak yang bekerja di perusahaan - perusahaan besar di kota. Karena jarak tempuh dari desa ke kota tidak terlalu lama jadi banyak warga yang mencari nafkah di kota.


Sebelum nya fadli sudah bertemu dengan orang tua Aina beberapa hari yang lalu saat mengantarkan Aina pulang kr desa makmur jaya. Saat itu fadli sudah mengutarakan niat nya untuk menjadikan Aina istri nya, dan orang tua Aina pun menerima niat Fadli dengan baik. Orang tua Aina meminta fadli untuk datang melamar secara langsung bersama keluarga nya, dan fadli menyanggupi semua nya.


" Tapi maaf, sebelum nya apa nak Fadli tahu status anak saya yang seorang janda?" Tanya Papa aina kepada fadli untuk memastikan nya.


" Saya dan keluarga saya sudah tahu Pak, begitupun Aina dia juga tahu status saya yang seorang duda" Jelas fadli kepada orang tua Aina.


Papa Aina menganggukkan kepala nya, Acara lamaran Aina dan Fadli pun berjalan dengan lancar. Dan satu bulan lagi mereka sepakat menggelar pernikahan.


" Karena ini adalah pernikahan kami yang ke dua saya dan mas Fadli sudah sepakat tidak akan mengadakan pesta, kami hanya mengundang keluarga dan beberapa rekan kerja kami saja dan para tetangga saja." Seru Aina di tengah-tengah kedua keluarga.


Mereka tidak mempermasalahkan hal itu yang terpenting pernikahan mereka sah secara agama dan negara. Sina sang kakak ipar fadli tampak sudah mulai akrab dengan Aina.


" Kak, sebagai kado pernikahan mau kah kamu memberikan hadiah satu unit apartemen yang baru saja kamu resmikan itu?" Ucap fadli sambil tersenyum ke arah kakak nya yang sedang meminum kopi nya.


* Dasar ini anak, tidak ada malu apa di depan calon papa mertua nya bilang seperti itu. Padahal tanpa dia minta aku sudah mempersiapkan hadiah itu untuk nya, dasar bar bar bener adik ku ini, pasti sudah ketularan istri ku* Gumam Jimmy dalam hati.

__ADS_1


" Kamu tenang saja kakak sudah menyiapkan hadiah pernikahan untuk kalian." Ucap Jimmy.


" Pak Waluyo beginilah asli nya adik saya, walaupun sudah tua masih saja bertingkah bar - bar seperti anak ABG harap dimaklumi saja ya pak. " Seru Jimmy sambil tertawa.


Pak Waluyo bukan nya heran justru ikut tertawa mendengar ucapan Jimmy. Pak waluyo tidak menyangka bisa berbesan dengan seorang pengusaha yang terkenal di negeri ini.


Acara lamaran sudah selesain dan keluarga Fadli pun sudah pulang dari setengah jam yang lalu. Kini tinggallah Aina dan kedua orang tua nya yang sedang berbincang-bincang.


" Aina, papa tidak menyangka jika Fadli adalah anak dari keluarga Hilmawan, adik dari Tuan Jimmy. Papa kira dia hanya seorang dokter, tapi siapa pun Fadli papa harap semoga dia bisa membahagiakan mu, bisa menemani mu hingga kalian menua. " Ucap papa waluyo penuh harap.


" Aamiin" Aina dan sang Mama mengaminkan ucapan Papa nya secara serempak.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Dimas saat ini masih berada di rumah kontrakan nya, semenjak sang anak sakit beberapa hari yang lalu dimas tidak berjualan lagi. Baru hari ini dia akan mulai berjualan, sore ini dia akan berkeliling seperti biasa nya. Tama sudah di ambil oleh ibu Rt, sebenarnya dimas tidak enak kalau harus merepotkan ibu Rt terus menerus. Dia berencana akan mencari orang untuk mengasuh anak nya saat dia pergi berdagang, dengan sistem bayaran harian.


Dimas pun mulai menghidupkan motor nya, dan melajukan ke jalanan. Dimas memilih berkeliling ke komplek-komplek perumahan, sebelum nya dimas izin terlebih dahulu dengan satpam komplek dan alhamdulillah satpam komplek mengizinkan dimas berjualan keliling perumahan.


Saat dimas sedang berkeliling tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nya.


Dimas berhenti tepat di depan rumah orang yang memanggil nya tadi.


" Mas beli roti nya 10 ya"Seru pria yang memanggil dimas.


" Iya mas, mau yang isi apa? Loh ini kan pak dokter yang waktu itu di rumah sakit Husada?" Seru dimas saat menyadari siapa yang membeli dagangan nya, dan ternyata itu adalah fadli. Baru setengah jam yang lalu fadli dan keluarga nya sampai rumah.

__ADS_1


" Ini kan mas yang anak nya sakit itu ya? Bagaimana keadadaan anak nya mas? Sudah sembuh?" Tanya fadli betuntun.


" Alhamdulillah sudah mas..." Seru dimas terjeda.


" Fadli, panggil saja saya fadli tidak usah pakai dokter -dokter segala. Oh iya roti nya ada isian apa saja?" Tanya fadli yang mulai memilih roti yang akan di beli.


Fadli memilih beberapa roti isi coklat dan keju, fadli memang gemar makan roti dengan isian coklat dan keju. Dia juga membeli roti isi kacang hijau juga untuk sang ibu. Fadli membeli 10 roti dengan harga 10 ribuan, setelah membayar roti nya fadli pun masuk ke dalam rumah nya.


" Terimakasih mas fadli" Seru dimas berterimakasih


" Sama - sama mas, mari mas saya masuk dulu. Kapan-kapan lewat sini lagi ya" Seru fadli sebelum masuk meninggalkan dimas.


Setelah fadli masuk kedalam rumah nya, dimas pun melajukan motor nya lagi untul berkeliling. Mata dimas memperhatikan rumah - rumah yang ada di samping kanan kiri nya, rumah yang mewah dan rata-rata berlantai dua.


* Rumah disini mewah-mewah, kapan aku bisa punya rumah semewah ini. Ah mimpi ku terlalu tinggi, aku hanya seorang pedagang roti. Mau sampai tua pun aku tidak akan bisa punya rumah seperti ini* Gumam dimas dalam hati.


Hari ini roti dimas habis semua terjual, dimas sangat senang sore ini bisa mengantongi uang 100 ribu dari laba hasil jualan roti. Dimas semakin semangat untuk berjualan, dimas pun sebelum pulang mampir ke minimarket terlebih dahulu untuk membelikan susu anak nya.


Uang pemberian dari Hasni waktu itu sama sekali belum dimas pergunakan, uang itu masih dimas simpan untuk keperluan tama nanti saat dia sudah tidak pegang uang lagi. Dimas mengambil satu kotak susu lalu membayar nya di kasir, lalu dimas pulang ke rumah kontrakan nya.


Tepat saat adzan magrib dimas sudah sampai di rumah kontrakan nya, setelah membersihkan badan nya dan sholat magrib dimas baru kerumah ibu Rt untuk mengambil Tama dan menyetor uang roti hasil penjualan nya sore tadi .


🌹🌹🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹🌹🌹


*******

__ADS_1


Jangan lupa tetap berikan dukungan nya untuk karya Author ya kak. Like, Komen, Vote, Klik favorite dan berikan Hadiah nya 🙏❤ Agar Author semakin semangat untuk menulis nya.


Terimakasih 🙏


__ADS_2