
Seperti yang di ucapkan hendra saat perdebatan semalam , hari ini hendra dan melani akan keluar dari rumah ibu marni. Mereka akan tinggal di rumah melani, semua barang-barang pun sudah di bereskan tinggal di masukan ke dalam mobil.
" Mas apa masih ada barang yang tertinggal? coba di cek dulu mas, biar tidak balik lagi kerumah ini?" Ucap melani saat hendra hendak keluar kamar.
" Tidak ada sayang, semua sudah mas bereskan. Barang-barng mas memang tidak banyak. Hanya dua koper ini. " Jawab hendra pasti.
" Ya sudah ayuk kita turun, dan berpamitan sama ibu dan hasni bagaimana pun kita tetap harus pamit sama mereka. " Seru melani.
Melani dan hendra turun sambil membawa koper mereka, setelah sampai lantai bawah hendra meletak kan koper nya dan kembali lagi naik ke atas mengambil koper nya yang lain dan turun kembali ke bawah.
" Kalian mau kemana? " tanya ibu marni yang heran dengan koper-koper yang berjejer di ruang keluarga.
" Hendra sama melani mau pindah dari sini bu, hendra ingin mandiri" Jawab hendra.
" Tapi kalian mau tinggal dimana? Tetaplah tinggal disini ndra, ini juga rumah kamu nak." Ibu marni sedikit melemahkan suaranya.
" Maaf bu keputusan hendra sudah bulat, hendra akan tinggal di rumah melani. Nanti kapan-kapan kalian datang lah kerumah melani" Seru hendra lalu mengangkat koper nya keluar rumah untuk di masukan ke mobil.
Ibu marni hanya bisa memandang hendra dan melani yang sibuk dengan koper-koper nya. Ada rasa berbeda saat ibu marni melihat hendra akan meninggalkan rumah nya.
" Bu, maaf kan melani ya. Mungkin selama tinggal sama ibu melani sering membuat ibu marah. Melani pamit ya bu" Ucap melani sambil mencium tangan ibu marni.
Ibu marni membiarkan melani mencium tangan nya. Entah kenapa dia tidak bisa melarang melani mencium tangan nya. Biasa nya dia akan menarik tangan nya seakan tidak mau di sentuh melani.
" Untuk uang bulanan ibu, ibu tidak usah khawatir hendra tiap bulan masih akan mengirimkan nya. Ibu jaga kesehatan ya, kalau ada apa-apa hubungi hendra atau melani" Pamit hendra dan mencium tangan ibu marni.
Ibu marni terdiam, rasa nya dia tidak iklas jika hendra keluar dari rumah ini.
" Ndra sering-sering main kesini ya?" Ucap nya sendu.
__ADS_1
Hendra menganggukkan kepala nya lalu menyusul melani yang sudah duluan masuk ke dalam mobil. Mobil hendra keluar dari pekarangan rumah dan melaju di jalan yang sudah terlihat ramai.
Semalam setelah perdebatan itu ibu marni merenung di kamar nya. Memang benar apa yang di katakan hendra jika dimas lah yang lebih wajib menafkahi nya bukan hendra. Selama ini hendra lah yang sudah banting tulang menafkahi diri nya dan hasni. Dimas sama sekali tidak perduli dengan ibu dan adik nya. Padahal dimas lah anak kandung nya.
" Hendra, maaf kan ibu. Ibu harus bagaimana? Selama ini ibu berlaku tidak adil dengan mu. Itu semata-mata karena ibu tidak mau melihat kakak mu dimas hidup susah." Gumam ibu marni menyesali ketidak adilan yang sudah ia perbuat.
" Apakah aku harus berdamai dengan melani? Tidak.. aku masih kesal dengan wanita itu. Tapi aku tidak mau kehilangan hendra" Ibu marni bergumam sendiri.
" Mungki memang benar apa yang di katakan Aina aku harus bisa menerima wanita pilihan hendra. Aku tidak mau hendra membenci ku. Tapi aku harus memulai darimana?" Gumam ibu marni.
Tanpa terasa ibu marni meneteskan air mata nya, entah air mata menyesali perbuatan nya atau air mata menangis karena hendra pergi dari rumah.
*****
Seminggu sudah melani dan hendra tinggal di rumah nya sendiri. Hari ini rencana nya hendra akan mengajak melani ke reuni SMA, biasa nya dia tidak pernah datang ke acara reuni SMA. Tapi kali ini dia akan datang karena dia sudah punya gandengan alias istri.
Dulu hendra tidak mau datang karena sering di ledikin oleh teman-teman nya.
" Jadi dong sayang, mas ingin mengenalkan istri mas ke teman-teman mas. Biar sekalian kamu juga mengenal teman mas. Tapi kalau kamu tidak nyaman tidak jadi datang tidak apa-apa sayang" Hendra berkata sambil memeluk sang istri.
" Datang saja mas, aku mau kok di kenalin sama teman-teman mas. Siapa tahu nanti kalau ketemu di jalan bisa bertegur sapa" Jawab melani.
Hendra semakin mengeratkan pelukan nya dan tangan nya sudah tidak bisa diam, nafas nya pun sudah mulai memburu. Melani tahu apa yang di inginkan sang suami, padahal tadi malam sudah. Beruntung ini hari libur jadi masih ada waktu untuk beristirahat setelah berolah raga.
Akhirnya terjadi juga olah raga di pagi hari, hendra memang tidak pernah lelah kalau soal olah raga. Setelah setengah jam olah raga mereka pun selesai.
" Terimakasih sayang, istri ku yang paling cantik. Emmhh kapan ya di dalam sini tumbuh hendra junior" Ucap hendra sambil mencium perut melani.
" Semoga secepat nya ya mas, aku pun sudah tidak sabar menantikan hendra junior tumbuh disini. Padahal hampir tiap hari kita berolah raga" Ucap melani sambil terkekeh.
__ADS_1
Hendra hanya mengusap pucuk kepala melani dan menyandarkan di bahu nya.
Waktu semakin berjalan dan sudah menunjukan pukul 12 siang. Hendra dan melani pun sudah siap untuk berangkat ke acara Reuni SMA.
" Mas acara nya di adakan dimana?" tanya melani saat masuk ke dalam mobil.
" Di Cafe Familly sayang. Sayang memang tidak apa-apa kita bawa mobil ini, tidak terlalu berlebihan kah?" Tanya hendra sedikit ragu menakai mobil mewah melani.
" Sudah tidak apa-apa mas. Mas nanti tahu maksud ku memakai mobil ini" Ucap melani.
" Baiklah, ya sudah yuk berangkat. Seru hendra mulai menghidupkan mesin mobil nya.
Hendra mengendarai mobil nya dengan hati-hati karena hendra belum terbiasa mengendarai mobil sport semewah ini. Melani fokus dengan ponsel nya berkirim pesan dengan sahabat nya, Winda.
" Chatt sama siapa sayang? senyum-senyum begitu?" tanya hendra dengan pandangan tetap fokus ke arah depan.
" Winda mas, sahabat ku yang seorang dokter kandungan itu mas. Yang sering aku ceritakan sama mas, nanti dech kalau pas dia libur aku kenalkan. Dia ini dokter super sibuk, maklum dia salah satu dokter kandungan terbaik di kota ini" Ucap Melani menjelaskan.
" Wah bagus itu sayang, nanti kita konsultasi soal program kehamilan sama dia saja. Biar kamu nyaman kalau pas lagi konsultasi." Hendra memberi ide yang bagus.
" Mas benar juga, baiklah nanti aku minta dia atur jadwal buat kita konsultasi. Kenapa aku gak kefikiran dari dulu ya mas" Seru melani sambil tertawa.
Tak terasa mobil mereka pun sampai di tempat acara Reuni di cafe familly. Cafe terlihat ramai karena memang ini jam makan siang dan bertepatan dengan hari minggu pasti banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu di cafe ini.
Hendra dan melani langsung masuk ke dalam cafe, dan menuju ke bagian belakang cafe. Di bagian belakang cafer memang terdapat ruangan Out door yang cocok untuk acara kumpul-kumpul keluarga karena di lengkapi dengan arena taman bermain anak.
"Ayok sayang itu teman-teman mas" Tunjuk hendra ke arah teman-teman nya yang sudah berkumpul.
Hendra menggandeng tangan melani dan berjalan ke arah meja tempat teman nya berkumpul.
__ADS_1
******