
Hendra menepati janji nya untuk menemui orang tua melani di desa Anggrek. Saat ini Hendra dan Melani sudah berada di desa Anggrek. Hendra di sambut dengan ramah oleh kedua orang tua Melani. Begitupun Pak Minto ikut bahagia dengan kedatangan Melani dan hendra.
" Emmh, maaf sebelum nya. Tuan Admaja...."
"Panggil Ayah saja nak Hendra, seperti Melani memanggil ku Ayah" Ucap pak Admaja memotong perkataan Hendra.
"Iy,, iya Tu.. Ehh Ayah" Jawab hendra terbata - bata.
Pak Admaja tersenyum melihat Hendra yang malu-malu. Hendra semakin salah tingkah di depan orang tua Melani.
" Ayah.. Saya kesini memang sengaja ingin mengenal orang tua melani dan keluarga nya, saya berniat ingin melamar melani" Ucap Hendra tertunduk dengan rasa yang takut.
" Apa nak Hendra bisa menerima kondisi Melani yang seorang janda? Seperti yang nak Hendra ketahui Melani ini seorang janda, Ayah takut kamu menyesal dengan menikahi melani" Ucap Ayah melani dengan serius.
" Saya siap menerima apa pun kondisi melani yah, justru saya yang merasa takut dan tak pantas menjadi pendamping Melani. Bahkan saya sendiri hanyalah karyawan Melani di kantor" Ucap Hendra merendah diri.
" Mas.. masalah ini sudah kita bicarakan, saya tidak mempermasalahkan kondisi mas. Aku akan menerima mas apa ada nya begitupun sebalik nya mas" Ucap melani sambil memandang ke arah Hendra.
" Iya nak Hendra, bagi kami harta itu bukan tolak ukur kehidupan. Siapa pun dirimu dan keluarga mu Insya Allah kami bisa menerima. Sekarang semua sudah jelas, tinggal kapan nak Hendra siap membawa keluarga nak hendra kerumah ini. " Ucap pak Admaja menatap serius ke arah Hendra dan Melani.
" Jika nak hendra benar-benar serius, suruh keluarga nak hendra datang dan melamar melani kepada orang tua nya.?" tambah ibu Melani ikut menambahi pembicaraan.
Hendra tidak percaya jika ke dua orang melani bisa menerima keadaan nya yang hanya seorang karyawan. Sekarang tinggal hendra meyalinkan keluarga nya untuk melamarkan melani. Hendra tetap bertekat apa pun yang terjadi tidak akan membuka jati diri melani kepada keluarga nya.
" Insya Allah secepat nya saya akan datang bersama keluarga saya untuk melamar melani secara langsung" Jawab hendra penuh keyakinan.
" Alhamdulillah, baiklah kami tunggu kedatangan keluarga nak hendra. Tapi sebelum nya bapak mau tanya sama nak Hendra. Melani bilang, nak Hendra meminta melani untuk menyembunyikan jati diri dari keluarga nak Hendra, memang alasan nya apa kalau Ayah boleh tahu?" Tanya pak Admaja penuh rasa ingin tahu.
Akhirnya Hendra menceritakan kondisi keluarga nya yang sebenarnya kepada orang tua melani. Tidak ada sedikitpun yang dia tutupi. Semua dia bicarakan sesuai fakta yang ada.
__ADS_1
Pak Admaja dan Istri nya bisa memaklumi alasan dari Hendra. Mungkin memang ini akan lebih baik, sehingga anak nya tidak akan dijadikan sapi perah keluarga baru nya.
" Baiklah kalau itu jadi keputusan nak Hendra, Ayah dan Ibu serahkan semua nya kepada nak hendra. Nak hendra yang lebih memahi keluarga nak hendra." Ucap pak Admaja.
" Terimakasih Yah, Bu " Jawab Hendra dengan senyum ramah nya.
Obrolan mereka pun berlanjut dan akhirnya pak Minto dan Bu Imah pun datang membawakan makanan kesukaan melani.
" Melani kamu sehat nak?" tanya pak minto dan mak imah bersamaan.
" Alhamdulillah melani sehat pak, mak" Jawab Melani tersenyum ramah.
" Pak, mak kenal kan ini mas Hendra. Insya Allah dia calon suami Melani" Ucap melani sambil mengenal kan hendra.
" Alhamdulillah, semoga nak hendra bisa jadi yang bertanggung jawab dan jauh lebih baik dari Raka" Seru pak Minto penuh harap.
Setelah acara perkenalan, mereka semua makan siang dengan menu sederhana dan Soto daging buatan mak imah , makanan kesukaan melani yang dibawakan oleh mak imah tadi.
Beginilah keadaan keluarga melani, walaupun Ayah dan Ibu nya bergelimang harta untuk masalah makanan mereka justru suka denga menu yang sederhana. Tidak harus menu yang mewah dan mahal.
*****
Dua hari setelah kepulangan nya dari desa, Hendra mengutarakan keinginan nya kepada keluarga nya untuk melamar Melani. Setelah acara makan malam selesai Hendra dan keluarga nya berkumpul d ruang keluarga.
" Ada apa kamu mengumpulkan kami disini Ndra? Bahkan mas mu dan mbak mu juga kamu suruh datang?" Tanya ibu marni saat semua nya sudah berkumpul.
" Iya ada apa si Ndra? " Tanya dimas tidak sabar.
Hufftt... Hendra menghela nafas dengan berat seperti dia harus cepat memulai pembicaraan nya. Sebelum yang lain nya banyak pertanyaan juga.
__ADS_1
" Bu, Mas dan mbak serta kamu Hasni kalian saya kumpulkan disini karena aku ingin membicarakan soal aku yang akan melamar Melani. Aku meminta kalian weekend nanti ikut datang kerumah Melani untuk melamar nya" Ucap Hendra dengan serius.
" Kamu serius Ndra mau menikahi Melani? Sebelum terlanjur lebih baik kamu pikirkan lagi. Ibu ingin kamu mendapatkan yang lebih dari Melani, siapa tahu bisa membantu kehidupan kita" Ucap ibu marni dengan serius seolah menolak dengan lembut keinginan Hendra.
" Buat kita? Bukan buat kita ... buat Ibu, mas Dimas dan Hasni. Kalian kenapa selalu memandang semua nya demgan uang?" Tanya Hendra mulai terpancing emosi.
" Bukan begitu maksut ibu Ndra, ibu cuma mau kamu dapat istri yang lebih dari melani. Istri yang memiliki masa depan yang bagus, kamu jangan salah paham dulu." Ucap ibu marni mencoba memberi alasan.
" Lagi pula kalau kamu dapat istri kaya, kamu pasti akan hidup enak. Setidak nya uang gaji mu tidak akan berkurang, uang gaji mu bisa untuk ibu dan hasni." Ucap Dimas seenak nya.
" Mas Dimas jangan gitu dong, anak lelaki ibu kan bukan hanya aku. Mas dimas juga punya kewajiban menafkahi ibu dan hasni, aku sebagai pegawai biasa gaji ku tidak terlalu besar. Mas Dimas juga sudah punya usaha Cafe, setidak nya mas Dimas bisa membantu biaya hidup ibu. Dan untuk kamu Hasni, kamu kurangi gaya hidup mewah kamu. Mas sekarang tidak bisa memberi mu uang banyak-banyak kamu kan tahu mas akan menikah, sudah pasti mas juga banyak kebutuhan. Setelah mas menikah mas juga harus menafkahi suami mas" Seru Hendra membuat Hasni memelototkan mata nya.
" Tidak bisa begitu dong Mas , pokok nya walaupun mas menikah. Mas masih tetap memberikan jatah bulanan yang sama. Lagi pula calon istri mas juga bekerja" Tolak Hasni tidak terima keputusan Hendra.
" Ndra kok kamu begitu sie, hasni kan keperluan nya banyak kalau kamu kurangi bagaimana dia bisa beli barang-barang yang dia butuh kan" Ucap ibu marni membela Hasni.
Aina yang melihat perdebatan antara mertua nya dengan Hendra dan Hasni hanya bisa menggelengkan kepala nya. Mau sampai kapan keluarga suami nya hidup seperti parasit seperti itu.
" Bu, Dek.. jangan begitu dong. Kasihan hendra kalau harus menanggung hidup kalian ber dua. Hendra sudah mau menikah, jadi dia punya kewajiban menafkahi istri nya. Berapapun yang hendra kasih untuk kalian seharus nya kalian bersyukur. Lagi pula aku tiap bulan masih memberi kalian uang bulanan walaupun tidak banyak" Seru Aina akhirnya ikut buka suara.
" Dan untuk mas Dimas tolong kamu juga beri kewajiban mu untuk ibu, mas anak laki laki ibu juga. Mas punya penghasilan juga, penghasilan mas lumayan loh.. " Seru Aina ke arah suami nya.
" Tidak bisa gitu, uang ku aku tabung untuk beli mobil baru. Mobil mu itu sudah tua jadi aku ingin ganti mobil baru" Tolak Dimas memberi alasan.
Keluarga ini kalau soal uang memang selalu ribut, Hendra dan Aina lah yang selalu mengalah. Bahkan Aina pun harus mengangsur bulana pinjaman Bank untuk usaha dimas. Dimas tidak mau mengangsur dengan uang nya sendiri.
*****
Selamat membaca. Terima kasih. 🙏🙏
__ADS_1