Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Pagi yang berbeda


__ADS_3

Hari sudah beranjak malam, ibu marni dan Aina masih berada di rumah melani. Aina memberanikan diri bertanya tentang rumah yang melani tempati. Dari tadi dia penasaran tapi urung untuk bertanya.


" Mel, ini rumah siapa? Apa kalian mengontrak di rumah ini, pasti mahal ya mel?" Tanya aina ingin tahu .


Belum sempat melani menjawab rasa penasaran Aina, ibu marni sudah lebih dulu berbicara.


" Kalian tinggal lagi sama ibu ya? Rumah ibu terasa sepi tanpa kalian, Hasni juga jarang dirumah karena dia sudah bekerja part time. Kalian mau kan tinggal sama ibu? soal uang bulanan ibu tidak akan menuntut lebih, berapa pun yang kalian beri ibu pasti terima. Sayang uang nya kalau harus buat bayar sewa rumah ini, lebih baik kalian tabung untuk buka usaha" Ibu marni berbicara dengan bijak.


Hendra dan melani saling pandang, sepertinya ibu marni benar-benar belum tahu soal rumah ini. Akhirnya melani memutuskan untuk memberitahu perihal rumah yang dia tempati.


" Bu, biarkan kami belajar mandir ya bu. Aku dan mas hendra bukan nya tidak mau tinggal sama ibu dirumah ibu, tapi aku dan mas hendra tidak bisa meninggalkan rumah ini juga. Karena rumah ini adalah rumah kami sendiri, kami tidak menyewa" Melani berbicara dengan nada rendah karena takut ibu marni tersinggung dengan penolakan nya.


" Hah!! Ini rumah kalian?" Seru ibu marni dan aina bersamaan dengan mata yang hampir lompat dari kelopaknya.


" Benar bu, rumah ini milik melani. Rumah ini dimiliki melani jauh sebelum menikah dengan hendra. Melani memiliki rumah ini saat dia masih gadis. Jadi ini murni milik melani, tidak ada campur tangan hendra sama sekali. Sebenarnya melani itu anak orang berada cuma dia tidak mau memperlihatkan apa yang dia punya. " Hendra menambahkan agar tidak ada salah paham.


Ibu marni dan Aina terdiam, ibu marni seakan tertampar dengan ucapan hendra barusan. Selama ini ibu marni selalu beranggapan melani wanita yang hanya menghambur-hamburkan uang hendra. Ternyata semua itu salah besar, dan kenyataan itu ibu marni melihat dan mendengar nya sendiri.


" Maafkan ibu mel" Ibu marni semakin tertunduk, dia semakin malu atas perbuatan nya.


" Untuk apa minta maaf lagi si bu, dari tadi loh sudah minta maaf. Melani nanti lama-lama kenyang karena kata permintaan maaf dari ibu" Jawab melani sambil bercanda dan tertawa.


Aina dan Hendra tertawa mendengar jawaban dari melani. Ternyata melani ini sangat baik dan tidak pendendam.


Melani mengajak Ibu marni dan Aina ikut makan malam sebelum pulang.


" Makan malam dulu yuk Bu, mbak! Ini sudah waktunya makan malam. " Ajak melani kepada kedua tamu nya.


Aina dan Ibu marni menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti melani menuju ke ruang makan yang ada di ujung dekat tangga.


Setelah makan malam, karena sudah semakin malam ibu marni dan aina berpamitan pulang. Melani memeluk sang mertua dan istri kakak iparnya.

__ADS_1


" Hati-hati ya mbak bawa mobil nya. Jangan ngebut sudah malam. Apa perlu hendra antar pulang saja" Hendra menghawatirkan kakak ipar dan ibu nya.


" Sudah tidak usah, mbak sudah biasa juga nyopir sendiri. Apalagi kalau pulang dari rumah sakit malam-malam pun tetap bawa mobil sendiri" Tolak Aina tidak mau di antar adik ipar nya.


Selesai berpamitan aina dan ibu marni pulang dengan perasaan lega dan jauh lebih baik. Ibu marni nampak terlihat binar bahagia di wajah nya.


" Ternyata melani berhati malaikat, mungkin jika ibu yang di perlakukan seperti melani. Ibu tidak akan memaafkan orang itu. Terimakasih ya Allah engkau telah memberikan ku menantu-menantu yang berhati lembut. " Ucap ibu marni dengan sungguh-sungguh.


" Iya bu, dan aina minta ibu benar-benar berubah jangan mengulangi kesalahan yang sama. Biarkan hendra dan melani hidup bahagia. Kasihan hendra bu selama ini sudah hidup penuh penekanan dari ibu dan mas dimas" Aina berbicara sesuai fakta yang ada.


Ibu marni tertegun mendengar ucapan Aina, Dirinya lah yang sudah memperlakukan hendra dengan tidak adil. Bahkan selalu menuntut lebih dari apa yang sudah hendra berikan.


*****


Pagi hari ini udara terasa sangat dingin, tidak seperti biasa nya udara pagi sedingin pagi ini. Melani yang masih berada di atas tempat tidur tiba-tiba merasakan sesuatu bergejolak dari dalam perut nya.


Melani terburu-buru turun dari ranjang dan lari ke dalam kamar mandi.


Hoek Hoek Hoek


" Kamu kenapa sayang? " Tanya hendra sambil memijit tengkuk melani dengan pelan.


" Tidak tahu mas, mungkin aku hanya masuk angin. Karena semalam aku makan hanya sedikit dan kamu semalaman meminta jatah yang lebih" Jawab melani sambil mengerucutkan bibir nya.


Hendra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.


" Mas antar ke dokter ya sayang?" tawar hendra yang menghawatirkan kesehatan sang istri.


Melani menggelengkan kepala lalu keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan tubuh nya di kasur empuk nya.


" Beneran gak perlu ke rumah sakit?" tanya hendra lagi.

__ADS_1


" Tidak usah mas, nanti pasti sembuh kalau diminumin obat. Ya sudah mas mandi aja duluan, nanti kita berangkat ke kantor bareng saja mas" Ucap melani sambil memejamkan mata nya. Perut nya masih terasa tidak enak dan sedikit mual. Hendra pun mengikuti ucapan sang istri, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Akhirnya melani turun ke dapur untuk meminta teh hangat kepada bu mina. Sepertinya saat ini hanya teh hangat yang bisa meredakan rasa mual nya.


" Bu mina tolong buatkan aku teh hangat" ucap melani saat sudah berada di dapur.


" Iya Non, tumben minum teh non biasanya kalau pagi-pagi seperti ini minum susu" Ucap bu mina heran.


" Tidak tahu ini bu, perut saya rasa nya tidak enak. Kalau minum susu takut nya justru mual nya tidak hilang" Jawab melani lalu duduk di kursi dekat dapur.


Tidak menunggu lama teh hangat buatan bu mina sudah terhidang di depan melani. Melani menghirup aroma teh yang masih mengepul itu.


" Bu mina bisa buatkan aku sarapan bihun goreng campur bakso, sepertinya enak makan bihun goreng bu. " Ucap melani sambil membayangkan bihun goreng yang sangat lezat.


Ibu mina menganggukkan kepala nya dan menatap heran ke arah melani, karena tidak biasa nya melani minta di buatkan bihun goreng. Karena setahu bu mina melani tidak suka dengan bihun. Tapi ibu mina tetap memasak apa yang diminta oleh melani.


Melani beranjak dari tempat duduk nya dan kembali ke kamar nya untuk siap-siap ke kantor. Saat sampai di dalam kamar di lihat nya hendra sudah siap dengan setelan kantor nya.


" Mas turun duluan tidak apa-apa, aku mau mandi dan siap-siap ke kantor. Oh iya maaf ya mas tadi aku lupa menyiapkan baju untuk mu" Ucap melani tidak enak dengan sang suami.


" Tidak apa-apa sayang, bagaimana perut nya masih mual tidak?" Tanya hendra mendekat ke arah melani.


" Sudah hilang mual nya, tadi aku minta buatin teh hangat sama bu mina. " Habis minum teh lebih enakan.


" Oh ya sudah kalau masih mual lebih baik istirahat saja dulu tidak usah ke kantor. Mas tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang" Seru hendra.


" Aku sudah tidak apa-apa kok mas" Melani tersenyum ke arah sang suami.


" Ya sudah mas turun duluan , mas tunggu di meja makan ya" Ucap hendra lalu berjalan keluar kamar.


Melani langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak menunggu lama melani pun sudah siap dengan baju kerja nya, dan menyusul hendra turun kebawah untuk sarapan.

__ADS_1


*****


Kira-kira melani kenapa ya? Ada yang tahu?


__ADS_2