
Setelah menunggu lama akhirnya anak dimas lahir juga bayi laki-laki yang sehat. Namun berbeda dengan sang bayi, Vera sang ibu justru terbaring lemah dalam keadaan kritis.
Dimas semakin panik saat mengetahui Vera kritis dan harus transfusi darah, karena Vera sempat pendarahan saat operasi. Fikiran dimas pun teralih pada sang bayi yang baru saja dilahirkan Vera. Bagaimana nasib sang bayi jika Vera kritis, siapa yang akan membantu nya mengurus bayi nya. Di saat seperti ini dimas teringat dengan ibu nya, seandainya dia bersikap baik kepada sang ibu mungkin dia tidak akan serapuh ini.
" Ibu.. Saat ini dimas membutuhkan mu bu, maaf kan dimas bu" Sesal dimas dan menangis sambil mencium bayi mungil nya.
" Vera bangun Ver..." Seru dimas.
" Maaf pak, untuk saat ini biarkan pasien beristirahat. Semoga ibu Vera segera tersadar, tadi kami sudah melakukan transfusi darah sebanyak 2 kantong. Seperti yang sudah saya jelaskan ibu Vera tadi sempat pendarahan dan memerlukan transfusi darah." Ucap sang dokter menjelaskan.
" Iya Dok, terimakasih. Kira-kira kapan istri saya bangun dok.?" Tanya dimas dengan sedih nya.
" Kita doa kan saja ya pak semoga istri bapak segera siuman" Seru sang dokter sambil menepuk pundak dimas lalu pergi meninggalkan ruang rawat Vera.
Dimas meletakka bayi nya dalam box dorong bayi yang di sediakan di ruang rawat Vera.
Setelah itu dimas meminta suster untuk membawa bayi nya ke ruangan bayi.
" Vera, tolong bangun Ver. Lihat anak kita sudah lahir, anak kita jagoan Ver. Kelak dia yang akan menjadi pelindung kita." Ucap dimas sambil menggenggam tangan Vera.
Dimas baru ingat jika dia belum membayar uang DP rumah sakit, dimas pun bergegas menuju tempat admistrasi untuk menanyakan biaya rumah sakit.
" Mbak saya mau menanyakan biaya atas nama Vera Indriani" Tanya dimas saat sudah berada di ruang administrasi.
" Tunggu sebentar ya pak, saya cek dulu " Ucap sang pegawai yang bertugas.
Setelah menunggu total biaya yang harus dimas bayar sudah di cetak di dalam kertas.
" Ini pak total biaya atas nama ibu Vera andriani ini juga sudah termasuk biaya operasi, biaya dua kantong darah, perincian yang lain bisa bapak lihat di kertas ini" Ucap sang suster dengan ramah nya.
Dimas menerima kertas yang di berikan oleh suster itu lalu melihat nominal yang harus dimas bayarkan.
" 20 juta !!! 20 juta cuma sampai perawatan satu malam saja" Seru dimas.
__ADS_1
" Mbak ini biaya sampai malam ini saja, berarti untuk hari berikut nya masih ada biaya lagi." Tanya dimas dengan wajah bingung nya.
" Iya pak benar" Jawab suster dengan ramah .
Dimas pun membayar kan biaya untuk tagihan hari ini saja 20 juta, untuk besok dia tidak tahu lagi harus cari uang kemana lagi. Uang yang dia pegang hanya tersisa 10 juta, dia hanya berharap Vera segera sadar dan sembuh.
*****
Sudah dua hari Vera di rawat dan sampai hari ini juga Vera belum juga sadar. Dimas selama dua hari ini tidak bisa bekerja karena harus menunggu Vera yang sampai sekarang belum sadar juga.
Hari ini juga pak Rt dan istri nya datang kerumah sakit untuk menjenguk Vera dan melihat bayi Vera. Mereka sudah tahu kondisi Vera, dimas yang mberitahukan keadaan Vera sehingga dia tidak bisa bekerja.
" Pak dimas yang sabar ya, jangan bersedih kasihan anak bapak kalau bapak terus bersedih. " Ucap pak Rt menguatkan dimas.
" Iya pak terimakasih" jawab dimas pelan.
" Pak dimas bagaimana kalau anak bapak sementara biar saya rawat dulu, pak dimas fokus sama mbak Vera saja" Ucap Bu Rt menawarkan untuk menjaga anak dimas.
" Apa tidak merepotkan bapak dan ibu, saya merasa tidak enak pak bu" Ucap Dimas yang merasa tidak enak merepotkan orang lain.
" Kami tidak merasa di repotkan, kami justru senang bisa menolong pak dimas" Ucap bu Rt.
Akhirnya dimas pun menyetujui usul dari bu Rt, untuk sementara merawat anak dimas di rumah nya. Semua keperluan sang bayi yang tadi nya sudah Vera siapkan di dalam tas, dimas berikan kepada ibu Rt untuk di bawa pulang bersama sang bayi.
Sebelum berpamitan pak Rt memberikan amplop yang berisi uang sumbangan dari warga.
" Terimakasih pak, terimakasih atas kebaikan bapak dan ibu. Dan sampaikan ucapan terimakasih ku kepada para tetangga yang lain ya pak " Seru Dimas sambil membungkukkan badan nya.
Pak Rt dan istrinya pun pulang dengan membawa anak dimas yang sementara waktu akan mereka rawat, sampai menunggu Vera sembuh.
Sementara itu di sebuah rumah yang terlihat sepi, Hasni dan ibu nya sedang bersantai di ruang Tv sambil menonton Tv yang menayangkan Gosip para selebritis.
" Bu kira-kira kabar mas dimas bagaimana ya bu. Sudah hampir 4 bulan mas dimas tidak ada kabar nya bahkan untuk nomor ponsel nya pun sudah tidak bisa di hubungi" Seru hasni saat sedang duduk menonton Tv di dengan sang ibu.
__ADS_1
" Ibu tidak tahu Has. Sepertinya mas mu benar-benar marah sama ibu sampai dia tidak mau menemui atau menghubungi ibu lagi. Ibu hanya berdoa semoga mas mu dan istri nya baik-baik saja. " Ucap ibu marni yang sedih mengingat tentang dimas.
" Istri mas dimas sepertinya sudah melahirkan bu, setau hasni usia kehamilan nya tidak jauh dari mbak melani. Kira-kira anak mas dimas laki-laki atau perempuan ya bu" Ucap hasni lagi yang membuat ibu marni semakin bersedih.
Ibu marni termenung memikirkan ucapan hasni, Apakah benar istri dimas sudah melahirkan? Bagaimana kehidupan dimas saat ini. Sebenarnya ibu marni sudah beberapa malam ini selalu memimpikan dimas.
* Semoga kau dan istri mu baik-baik saja Nak, jika kamu tak baik-baik saja temuilah ibu nak* Gumam ibu marni dalam hati. Dan tanpa terasa air mata nya menetes dan tak bisa di tahan lagi.
Hasni yang melihat ibu nya menangis merasa bersalah karena sudah membahas tentang dimas.
" Bu maafkan hasni, hasni tidak bermaksud untuk membuat ibu sedih. Maaf bu" Seru hasni yang merasa menyesal.
" Tidak.. kamu tidak salah. " Seru ibu marni sambil memaksakan untuk tersenyum.
Sebenarnya hasni ingin memberitahu ibu nya soal laki-laki yang pernah dia lihat beberapa hari yang lalu. Laki-laki yang berjualan roti dengan mengendarai motor butut yang sangat mirip dengan dimas, bahkan hasni menyakini jika orang itu adalah dimas.
Kalau orang itu benar dimas, berarti dimas hidup dalam kesusahan. Itulah yang saat ini hasni fikirkan.
" Ibu mau masuk kamar dulu ya Has, ibu ingin istirahat. " Seru ibu marni lalu beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju kamar nya.
" Iya bu" Jawab hasni singkat.
Hasni berjanji akan mencari tahu soal laki-laki penjual roti yang pernah dia lihat tidak jauh dari taman kota.
* Apa aku harus cerita dengan mas hendra ? Tapi aku tidak mau mengganggu kebahagian mas hendra dengan menceritakan apa yang aku lihat waktu itu, aku yakin jika mas hendra mengetahui keadaan mas dimas dia akan mencari nya. Aku tahu hati mas hendra itu tidak tegaan. Tapi bagaimana jika mbak melani marah dan tidak setuju. Sudahlah lebih baik aku tidak memberitahu mas hendra, aku akan berusaha mencarinya sendiri* Hasni bermonolog dengan diri nya sendiri.
******
Terimakasih buat para reader yang masih setia dengan Novel " Tak sanggup untuk di madu ", maaf kalau misal ceritanya tidak sesuai dengan imajinasi kalian.
Harap berikan saran dan kritik yang membangun ya kak,jangan kritikan yang bikin aku Down 🙏😍
Terimakasih dan Selamat membaca. 😍😍
__ADS_1