Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Pulang ke kota


__ADS_3

Sudah seminggu ini Hendra dan Melani berada di desa, mereka tidak pergi Honymoon seperti pasangan pengantin baru yang lain. Mereka hanya liburan di sekitar tempat tinggal orang tua melani.


Pagi ini Hendra dan Melani akan kembali lagi ke kota, rencana nya mereka sementara akan tinggal satu atap dengan Ibu marni.


Awal nya Melani tidak mau karena dia sudah punya rumah sendiri mengingat Ibu marni pun orang yang tidak menyukai melani. Tapi akhirnya Melani mengikuti kemauan sang suami, Hendra berjanji tidak akan lama tinggal di rumah ibu marni. Sebenarnya rumah ibu marni adalah rumah peninggalan orang tua Hendra, bahkan surat rumah pun sudah atas nama Hendra.


" Ayah, Ibu kami pamit ya, maaf kalau selama hendra disini merepotkan Ayah sama Ibu" Ucap Hendra berpamitan.


" Kami merasa tidak di repotkan Nak, Ayah sama Ibu titip Melani ya Nak. Bahagiakan dia sayangi dia dan jika kamu sudah tidak menginginkan nya lagi, tolong pulangkan kembali kepada kami" Ucap Ayah melani sambil memelul hendra.


" Hendra janji akan selalu menyayangi dan membahagiakan melani " ucap hendra yakin.


" Ayah, ibu melani pamit ya. Ayah dan Ibu jaga kesahatan" ucap melani sambil memeluk ayah dan ibu nya.


Setelah mencium tangan Ayah dan Ibu nya Melani dan hendra pun langsung berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Kali ini mobil yang di kendarai adalah mobil melani sendiri.


"Sayang apa pun yang terjadi tolong jangan tinggalkan mas" Ucap hendra saat sedang berada di perjalanan pulang.


" Iya mas" Jawab melani sambil memberikan senyum manus nya.


Mobil terus melaju membelah jalanan, hendra mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


" Mas nanti kita mampir ke rumah ku dulu ya mas, ada beberapa keperluan ku yang akan aku ambil" Ucap melani saat sudah memasuki jalanan kota.


" Iya sayang, kita nanti istirahat dulu di rumah. Ketempat ibu nya agak sorean saja tidak apa-apa" Hendra memberikan ide yang membuat melani senang.


Sebenarnya melani masih trauma dengan yang nama nya ibu mertua, apalagi ibu marni sifat nya tidak jauh berbeda dengan Almarhum ibu lasmini.


Hendra memeperhatikan istrinya yang dari tadi nampak gelisah. Ada rasa tidak tega dalam hati hendra karena sudah memaksa melani tinggal serumah dengan ibu nya.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya hendra ingin mencari tahu kenapa melani gelisah.


" Ehh tidak ada apa-apa mas. Aku.. aku hanya...." Melani menjeda pembicaraan nya karena hendra sudah menyahut pembicaraan nya.


" Nanti kita bicarakan di rumah ya, ini sebentar lagi sampai" Ucap hendra yang mengerti kekalutan sang istri.

__ADS_1


Benar saja setelah sepuluh menit mobil mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah melani.


Tin... Tin.. Tin..


Pak Ahmad berlari dari dalam rumah untuk membukakan pintu gerbang. Setelah pintu gerbang di buka mobil mereka pun masuk ke halaman rumah.


" Selamat siang Non, Tuan" Sapa pak ahmad, pak ahmad memanggil hendra dengan Tuan.


Mendengar pak Ahmad memanggil nya dengan sebutan Tuan, hendra justru tertawa sampai perut nya sakit.


Pak ahmad justru heran kenapa Tuan nya justru tertawa sendiri, apakah Tuan nya ini sudah gila.


" Mas kamu kenapa? Tertawa gak jelas?" Tanya melani sambil menepuk lengan hendra.


" Haha tidaj apa-apa sayang mas cuma tertawa karena pak ahmad memanggilku Tuan. Hahaaa" Hendra berbicara dengan masih tertawa.


" Maaf Tuan kalau saya salah" Ucap pak ahmad merasa tidak enak.


" Pak ahmad, tolong jangan panggil saya Tuan. Panggil saya seperti biasa pak ahmad memanggil saya. " Ucap hendra memberitahu pak ahmad.


" Ehh mana bisa begitu, Mas.. Ehh tuan hendra kan sudah menikah dengan Non melani. Jadi tuan hendra sekarang sudah jadi majikan saya dong" Tolak pak ahmad memberikan alasan nya.


" Iya betul sayang, pak ahmad tidak perlu memanggil ku Tuan." Ucap hendra sambil merangkul pundak sang istri.


Melani melirik ke arah tangan hendra, tangan nya memang tidak bisa di kondisikan. Sudah tahu ada pak ahmad sudah main rangkul-rangkul saja depan orang.


Pak Ahmad pun mengiyakan permintaan sang majikan, tetapi sebenarnya dia justru tidak enak memanggil majikan nya dengan panggilan Mas.


" Ya sudah lah, orang kaya memang aneh" Gumam pak ahmad pada diri nya sendiri.


Melani masuk ke dalam rumah nya duluan, Hendra sedang menurunkan koper di bantu dengan pak Ahmad. Setelah koper semua turun dari mobil. Hendra membawa nya masuk sendiri tidak meminta tolong kepada pak Ahmad. Sebenarnya tadi pak ahmad mau membawakan koper nya tapi di larang hendra, pak ahmad di minta stay di pos saja.


******


" Sayang kalau kamu tidak nyaman tinggal dengan ibu ku tidak apa-apa, kita tinggal di kontrakan saja bagaimana?" Ucap hendra saat sedang duduk di ruang Tv sambil menonton Tv.

__ADS_1


" Kok mengontak si mas? Kan sudah ada rumah, rumah ini mau di kemanain?" Tanya melani tidak mengerti maksut sang suami.


" Emmhh gimana ya sayang, ini rumah kamu. Mas merasa tidak enak kalau harus tinggal di rumah mewah mu ini. Mas seperti tidak pantas" Jawab hendra sambil menatap wajah sang istri.


" Mas dari awal kan sudah kita bahas masalah ini, tolong jangan di permasalahkan lagi. Aku tidak mau kita berdebat hanya karena masalah tempat tinggal" Ucap melani dengan suara sedikit memelas.


Hendra terdiam, sebenarnya masalah ini memang sudah du bicarakan saat sebelum pernikahan. Ayah melani pun meminta nya untuk menempati rumah ini saja. Dengan alasan biarlah uang yang untuk mengontrak bisa di tabung untuk buka usaha.


" Iya sayang, maafkan mas ya. " Ucap hendra sambil memeluk melani.


Melani semakin mengeratkan pelukan nya, sehingga sesuatu punya hendra yang berada dibawah sana ikut terbangun.


Tanpa menunggu lama Hendra langsung menggendong melani ke kamar dengan ala bridal style.


Terjadilah olah raga pada siang hari, udara dingin yang di sebabkan oleh AC di dalam kamar tidak membuat mereka kedinginan. Keringat sebesar biji jagung membasahi kedua tubuh insan yang sedang mabuk cinta itu.


Setelah olah raga siang selesai, mereka membersihkan diri nya masing-masing dan bersiap untuk makan siang. Sebenarnya makan siang yang sudah terlambat, karena sudah jam dua siang.


Setelah makan siang hendra dan melani akan berangkat ke rumah ibu marni. Semua perlengkapan melani sebelum nya sudah melani siapkan.


Melani tidak membawa banyak baju, hanya beberapa baju rumahan dan baju untu kerja. Karena mereka tidak akan lama tinggal di rumah ibu marni.


Hendra dan Melani sudah memutuskan akan tinggal di rumah yang sekarang melani tempati. Tinggal dirumah ibu marni mungkin hanya sekitar satu bulan, sambil mereka mencari alasan untuk tidak tinggal di rumah ibu marni.


" Sudah siap semua sayang?" tanya hendra saat akan keluar dari rumah.


" Sudah mas, aku tidak bawa banyak baju. Kita kan gak lama tinggal disana. Koper mas mana?" tanya melani yang tidak melihat koper hendra.


" Oh koper mas sudah mas masukin mobil duluan, tinggal koper kamu saja. Sini biar mas masukin ke mobil" Seru hendra sambil mengambil koper yang ada di samping melani. Lalu hendra keluar dan memasukan koper ke dalam bagasi mobil.


Melani menatap kepergian hendra dengan senyum yang mengembang. Baru kali ini melani di perlakukan bak Ratu oleh laki-laki. Laki-laki yang sangat menyayangi nya dan memanjakan ny.


" Bismillah, semoga selama tinggal disana baik-baik saja " Ucap melani sebelum berangkat menuju kediaman ibu marni.


Mobil mereka pun meninggalkan kediaman Melani, saat ini mang usin yang mengendarai mobil. Setelah sampai rumah ibu mertua mobil akan dibawa pulang oleh mang usin, semua itu atas permintaan hendra.

__ADS_1


Hendra tidak mau keluarga nya memanfaatkan barang-barang yang di miliki Melani. Kalau saat nya sudah tepat Hendra akan membuka siapa Melani sebenarnya kepada keluarga nya.


******


__ADS_2