
Di sebuah restoran mewah dimas sudah memboking satu meja untuk makan malam dengan Aina. Malam ini dimas berencana ingin memperbaiki hubungan nya dengan Aina yang sedikit merenggang karena pertengkaran tempo hari.
Aini saat ini hanya bisa mengikuti ajakan dimas dengan tidak menolak nya. Mungkin juga ini makan malam terakhir untuk mereka, sehingga Aina mengiyakan ajakan dimas.
Dimas memang benar-benar lelaki yang romantis, Aina tidak bisa memungkirinya jika dimas memang tipe pria yang romantis. Malam ini saja meja yang dia sewa sudah di sulap sedemikian rupa. Sebuah meja yang hanya ada dua kursi, terlihat lilin mengitari nya dan lampu-lampu indah mengelilingi serta setangkai mawar merah di atas meja.
Aina takjub dengan apa yang sudah di siap kan dimas, tanpa terasa air mata nya menetes.
* Andai semua ini tidak untuk menutupi penghianatan mu mas, aku pasti akan sangat bahagia. Kebersamaan ini mungkin yang terakhir untuk kita*" Gumam Aina dalam hati.
" Sayang kamu kenapa menangis?" Tanya dimas yang mrlihat air mata jatuh dari mata indah Aina.
Aina mengusap air mata nya dengan tissu yang ada dalam tas kecil nya.
" Ah tidak mas, aku hanya terharu dengan semua ini. Ini semua mas yang siapkan?" Tanya Aina berbohong.
" Iya ini semua aku yang siapkan dan di bantu oleh karyawan restoran ini. Malam ini aku ingin memperbaiki hubungan kita yang beberapa hari ini terasa hambar. Maaf ya sayang kalau aku selama ini sudah menyusahkan mu " Seru dimas sambil menggenggam tangan Aina.
Aina hanya diam membisu, tidak menjawab satu patah kata pun. Hanya senyum simpul yang mengukir di bibir nya.
" Kita makan dulu ya , habis itu nanti kita dansa" Seru dimas lalu melepas genggaman tangan nya.
Mereka berdua pun makan malam dengan diam, Dimas nampak sering mencuri pandang ke arah Aina. Aina tahu tapi hanya memilih diam untuk segera menyelesaikan makan malam nya setelah itu dia ingin cepat pulang dia sudah muak dengan semua kebohongan ini.
Namun tiba-tiba ponsel dimas bergetar, ada panggilan masuk dari seseorang. Dimas melihat ponsel nya lalu mereject panggilan itu.
" Kenapa di riject mas, siapa tahu penting" Seru Aina , sebenarnya dia tahu siapa yang menghubungi dimas. Siapa lagi kalau bukan Vera si wanita simpanan dimas.
" Tidak kok sayang, malam ini mas ingin menghabiskan waktu dengan mu. Tidak mau mengurus soal pekerjaan dulu" Ujar dimas dengan senyum menghias bibir nya.
Aina mengangguk lalu melanjutkan makan nya lagi, namun lagi-lagi ponsel dimas terus berdering. Membuat nafsu makan Aina hilang seketika.
" Angkat saja mas, daripada brisik begini" Seru Aina kesal.
" Baiklah mas angkat telpon di sana sebentar ya sayang" Seru dimas sambil menunjuk ke arah belakang Aina.
" Iya udah sana" Jawab Aina dengan ketus.
Dimas pun beranjak dari tempat duduk nya lalu berjalan kearah belakan Aina, sedikit menjauh dari Aina.
[ Hallo , ada apa si sayang]
[ Mas kamu dimana? Tolong kesini mas perut ku kram sakit banget mas]
__ADS_1
[ Aku lagi sama teman sayang, kamu coba minum obat apa gitu buat ngilangin rasa sakit nya]
[ Aku tidak mau tahu pokok nya mas harus kesini, aku takut anak kita kenapa-kenapa, ini sakit banget mas !!]
[ Baiklah, mas akan kesana sekarang kamu tenang ya]
Dimas langsung mematikan sambungan telepon nya, dimas nampak panik dia juga sebenarnya takut jika calon anak nya kenapa-kenapa. Mau tidak mau dia harus segera datang kerumah Vera.
" Sayang maaf sepertinya makan malam kita terganggu, mas ada urusan yang emergency. Kamu tidak apa-apa kan jika pulang naik taksi" Seru Dimas yang terlihat sangat panik.
Aina yakin pasti terjadi sesuatu dengan Vera, dia tidak boleh egois bagaimana pun Vera saat ini sedang hamil, dia juga takut terjadi sesuatu dengan anak Vera bagaimanapun bayi itu tidak bersalah.
" Iya tidak apa-apa mas, aku bisa naik taksi" Jawab Aina yang nengiyakan .
" Terimakasih sayang" Ucap dimas lalu mencium kening Aina dan langsung pergi meninggalkan Aina seorang diri.
Aina menatap sendu ke arah dimas, sepertinya pilihan untuk bercerai yang Aina ambil adalah pilihan yang terbaik.
******
Pagi hari di rumah yang di tempati oleh Dimas dan Vera. Saat ini Vera sedang terbaring di ranjang nya. Dokter menyarankan Vera untuk lebih banyak istirahat.
" Sayang mulai hari ini kamu jangan pergi-pergi lagi, ingat kata dokter kamu harus banyak istirahat. Beruntung semalam calon anak kita tidak apa-apa" Seru dimas yang duduk di pinggir ranjang.
" Iya tapi sekarang kamu harus istirahat tidak boleh pergi dulu. Ya sudah mas buatkan sarapan dulu ya, kamu mau sarapan apa?" Tanya dimas dengan lembut.
" Aku mau minum susu sama roti bakar selai coklat saja mas" jawab Vera.
" Tunggu disini mas buatkan dulu sarapan nya" Ujar dimas lalu beranjak dan keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan sarapan sang istri tercinta nya.
Dimas sekarang benar-benar sangat menyayangi dan mencintai Vera, Padahal dulu dia hanya sekedar butuh saja dengan tubuh Vera. Semakin mereka sering bersama rasa cinta dan sayang untuk Vera tumbuh dan semakin tumbuh dalam hati dimas.
Begitupun perasaan nya terhadap Aina, sampai sekarang cinta nya untuk Aina masih sangat besar. Dimas ingin memiliki mereka ke dua nya.
Jam sudah menunjukan jam sembilan pagi, tapi dimas baru membuat sarapan ,karena semalaman dia menjaga Vera yang sedang sakit jadi dia bangun kesiangan. Tiba-tiba terdengar pintu ruang depan ada yang mengetuk.
Tok Tok Tok
" Permisi" Suara orang memanggil dari arah luar rumah.
Dimas yang penasaran langsung menuju ruang depan untuk membuka kan pintu tamu yang datang.
Ceklek...
__ADS_1
Setelah pintu di buka tampak seseorang berdiri di depan nya, bahkan dimas sendiri tidak mengenalinya.
" Cari siapa ya mas?" Tanya dimas memicingkan mata nya.
" Benar ini rumah bapak Dimas Pradipta?" tanya orang itu.
" Benar, mas darimana?" tanya dimas lagi.
" Saya datang mengantarkan surat ini pak, mohon di terima" Ucap nya.
Dimas pun menerima surat itu dengan penasaran, setelah itu tamu yang mengantar kan surat pun izin pamit. Lalu dimas masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
" Surat apa ini? Kenapa ada tulisan dari pengadilan agama?" Gumam dimas dengan perasaan yang mulai tidak enak.
Tidak menunggu lama dimas pun membuka surat itu dan membaca isi nya. Betapa terkejut nya dimas saat mengetahui isi dalam surat itu.
Deg
" Surat gugatan perceraian dari Aina?" Gumam dimas dengan pelan.
Dimas berulang kali membaca surat itu, dia beranggapan siapa tahu dia salah membaca. Setelah tiga kali mengulang ternyata sama saja, benar surat gugatan dari Aina.
" Kenapa Aina melakukan ini? Apa salah ku?" Gumam dimas tak sadar diri dengan kesalahan nya.
Dimas beranjak dari sofa dan bersiap-siap pergi menemui Aina. Vera yang melihat dimas sudah rapi pun heran karena yang dia tahu tadi dimas sedang membatkan dia sarapan.
" Loh mas mau kemana? mana sarapan nya?" Tanya Vera dengan penuh pertanyaan.
Sapaan dari Vera menyadarkan nya, dia tadi melupakan kehadiran Vera.
" Sudah mas buatkan ada di meja dapur, kamu ambil sendiri ya. Mas ada urusan yang sangat penting ini menyangkut kelangsungan hidup kita. Seru dimas lalu keluar kamar dengan tegesa-gesa
" Kenapa dengan mas dimas? tumben dia pergi tidak mencium ku dulu" Gumam vera heran.
Dimas melajukan mobil nya dengan kencang dia tidak perduli dengan pengendara yang lain, yang ada dalam fikiran nya saat ini adalah seger menemui Aina. Dimas sempat menghubungi ponsel Aina tetapi tidak ada jawaban dari Aina.
" Sialan, kalau aku dan aina bercerai bisa jatuh miskin aku. Terus bagaimana nasib Vera dan anak ku nanti. Brengsek..!!" Gerutu Dimas dengan kesal.
Dimas tidak mau bercerai dengan Aina, bagaimanapun cara nya dimas akan mempertahan kan Aina.
******
Nahh sudah mulai seru kan ??? Jangan lupa tetap dukung karya Author ya kak. LIKE KOMEN VOTE klik Favorite dan berikan Hadiah nya. 🙏🙏
__ADS_1
Di bab selanjut nya bakalan lebih seru lagi.. Kalau Like dan komen nya banyak aku Up kelanjutan nya hari ini juga. 🙏🥰❤