Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Takut terbongkar


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


Hari terus berjalan dan kini usia kehamilan Aina sudah masuk 5 bulan, namun aina masih tetap bekerja di rumah sakit. Sebenarnya fadli meminta nya untuk berhenti sampai dia selesai melahirkan. Jiwa sosial Aina tidak bisa di cegah lagi, aina akan ambil cuti saat kehamilan nya masuk 8 bulan nanti.


Seperti biasa hari ini Aina sedang berada di rumah sakit, jadwal tetap hanya sampai jam 12 siang. Setelah selesai praktek Aina akan memeriksakan kandungan nya di dokter kandungan yang di rumah sakit yang sama dengan tempat nya bekerja.


Jam istirahat makan siang pun sudah selesai, kini dokter kandungan membuka kembali jam praktek nya.


Aina ikut menunggu dalam antrian dan duduk bersama ibu-ibu hamil yang lain nya. Jas dokter nya sudah dia lepas sehingga tidak ada yang tahu jika Aina juga berprofesi sebagai dokter.


Walaupun aina istri dari pemilik rumah sakit tempat nya memeriksakan kandungan, Aina tetap mengikuti prosedur rumah sakit dengan membudidayakan sistem antri. Aina hanya ingin memberikan contoh yang baik, tidak serta merta sebagai istri pemilik rumah sakit harus di nomor satu kan. Fadli hanya bisa pasrah dengan keinginan Aina, dia tidak mau memaksakan kehendak nya.


" Sudah berapa bulan bu? " Tanya Aina kepada ibu-ibu yang duduk di samping nya. Perut nya sangat besar aina memperkirakan sang ibu sudah mendekati HPL nya.


" Baru 6 bulan mbak" Jawab sang ibu ramah.


Aina terdiam memikirkan jawaban dari ibu itu, seakan tidak percaya dengan jawaban ibu di samping nya.


" Saya hamil kembar mbak" Ucap ibu di samping aina yang mengetahui kebingungan aina.


" Oh kembar, pantas saja terlihat besar perut nya bu. Ini anak yang keberapa bu?" Tanya aina lagi.


" Anak ke dua mbak, anak pertama saya laki-laki sekarang sudah umur 12 tahun. Jarak nya jauh ya mbak dengan kehamilan ke dua nya, lima tahun yang lalu saya hamil tapi keguguran saat masih dua bulan dalam kandungan" Ucap ibu di samping aina yang diketahui bernama Rahama.


Aina dan Rahma terus mengobrol hingga datanglah mira yang juga ingin memeriksakan kandungan nya. Usia kehamilan mira saat ini sudah tujuh bulan, mira datang dengan di temani bimo. Semenjak bimo berubah lebih baik, bimo rajin ikut menemani mira memeriksakan kandungan nya.


" Tolong budaya kan antri Mir" Seru Aina yang melihat mira ingin menyetobot antrian bu Rahma.


Saat bu Rahma di panggil justru mira yang akan masuk ke dalam ruangan praktek dokter Ayu.


Bimo juga heran kenapa mira bisa menyerobot antrian orang, tadi bimo sudah mengajak nya untuk periksa ke rumah sakit lain agar tidak mengantri, namun mira menolak nya karena dia punya alasan lain memeriksakan kandungan di rumah sakit tempat fadli bekerja.


" Maaf ya mbak , istri saya mungkin tadi salah dengar. Dia kira nama nya yang di panggil" Ucap bimo meminta maaf.


" Dasar istri anda saja yang aneh, sudah tahu datang terakhir tapi mau duluan saja. Tidak lihat apa masih ada 5 orang lagi, berarti istri anda itu terakhir" Seru ibu rahma yang tidak menerima alasan bimo.


" Eh ibu-ibu setengah tua, kenapa kamu marah sama saya. Kalau saya tidak mau antri memang kenapa? Saya orang kaya kapan pun saya bisa masuk duluan ke dalam ruangan dokter ayu!!" Sentak mira dengan kesal nya.


" Idihh di kasih tahu malah nyolot sudah kayak pemilik rumah sakit saja mau di prioritaskan, bahkan pemilik rumah sakut pun mungkin tidak senaif kamu" Jawab ibu rahma tidak mau kalah.


Keributan pun tidak bisa di hindari, bimo mencoba menenangkan mira dengan cara mengajak mira duduk sedikit menjauh dari ruang tunggu, sedang kan Aina menenangkan ibu rahma dengan mengusap punggung nya dengan lembut.

__ADS_1


"Sabar bu, ingat lagi hamil jangan terbawa emosi nanti tensi nya bisa tinggi" Ucap aina memperingatkan ibu rahma.


Ibu rahma pun duduk kembali di kursi yang sedari tadi dia duduki.


" Sayang kenapa kamu bisa se bar-bar itu, malu tahu kita jadi tontonan orang seperti tadi. Bagaimana kalau ada yang mengenali ku, bisa-bisa aku malu dan bisa jadi berita di luaran sana. " Ucap bimo saat mira sudah mulai tenang.


" Maaf sayang aku tadi terbawa emosi" Jawab mira singkat. Pandangan nya mira terfokus kepada Aina yang saat ini sedang duduk sendiri karena ibu-ibu yang tadi berdebat dengan mira sedang berada di dalam ruang praktek dokter Ayu.


Tiba-tiba fadli datang menghampiri Aina dengan berlari tergopoh-gopoh. Tadi ada seorang suster yang memberitahu nya jika terjadi keributan di depan prakter dokter Ayu. Fadli menghawatirkan aina sehingga dia langsung menghentikan pekerjaan nya dan langsung menghampiri Aina.


" Sayang kamu tidak apa-apa kan?" Tanya fadli dengan nada cemas nya.


" Aku tidak apa-apa mas, tadi cuma ada sedikit keributan karena ada yang mau menyerobot antrian. Aku tegur justru dia malah marah-marah tidak terima" Ucap aina dengan senyum manisnya.


" Terus sekarang mana orang nya?" Tanya fadli ingin tahu.


" Itu sedang di tenangkan suami nya" Aina menunjuk dengan melirik ke arah mira duduk.


Fadli mengikuti arah pandangan aina, saat mendapati orang yang di maksud aina, fadli pun terkejut dengan orang yang duduk tidak jauh dari tempat nya.


" Mira " Seru fadli.


" Iya, wanita bar - bar itu yang ingin menyerobot antrian orang." Jelas aina dengan kesal.


" Loh mbak aina ini istri nya dokter fadli ya?" Tanya ibu rahma dengan sopan.


" Iya bu, saya istri nya dokter fadli. " jawab aina.


Mira dan bimo pun mendekat dan duduk di kursi tunggu seberang Aina. Pandangan mira terus tertuju kepada fadli dan aina.


" Kenapa mbak aina ikut antri, padahal mbak aina kan bisa langsung periksa tanpa antri-antri begini. " Tanya ibu rahma lagi membuat aina semakin bingung mau menjawab apa.


" Istri saya ingin meraskan ikut mengantri bu, dia tidak mau di prioritaskan" Fadli menjawab pertanyaan ibu rahma.


" Baguslah sadar diri, jangan mentang-mentang suami istri seorang dokter dan bekerja disini jadi harus selalu di prioritaskan" Seru mira yang ikut berbicara.


" Mira, kamu bisa diam tidak !! tidak usah cari masalah lagi, jangan bikin malu diri mu sendiri !!" Bentak bimo penuh penekanan.


" Sudah kamu diam saja sayang, kamu tidak usah ikut-ikutan masalah ini biar jadi urusan ku saja. Karena wanita itu memang dari dulu tidak menyukai ku" Ucap mira dengan tangan nya menunjuk Aina.


Bimo heran kenapa istrinya bisa sebenci itu dengan wanita yang bernama Aina itu.

__ADS_1


" Memang kamu mengenal wanita yang bernama Aina itu?" Tanya bimo penuh selidik.


Mira baru terdiam, dia tidak mungkin jika mengatakan Aina adalah rival nya dalam mendapatkan cinta nya Fadli kembali. Bimo tidak tahu jika fadli adalah mantan suami mira yang bimo tahu saat menikahi mira, mira adalah seorang janda yang di tinggal mati suami nya.


" Kamu pasti tidak menceritakan siapa kami yang sesungguhnya kepada suami mu ini, atau jangan-jangan kamu memang menutupi semua nya dari suami mu. " Tanya Aina dengan senyum sinis nya, sehingga mira terdiam dengan wajah yang memucat karena takut jika bimo mengetahui semua kebohongan nya.


" Maksud kamu apa?" Tanya bimo yang bingung.


Aina tahu jika mira pasti menyembunyikan status nya saat menikah dengan bimo. Semua terlihat karena bimo sama sekali tidak mengenali fadli.


" Diam mulut mu wanita sialan!!" Teriak mira dengan lantang.


" Sekali lagi kamu membentak istri ku, aku pastikan hidup mu akan menyesal, Mira !!" Ancam fadli yang tidak terima mira membentak aina.


" Hai bung, anda seorang dokter tidak sepantas nya anda mengancam seperti itu, kalau atasan anda tahu anda bisa di keluarkan dari rumah sakit besar ini" Bimo mencoba membela mira.


Kini suasana semakin memanas, hingga dokter ayu pun ikut keluar untuk melihat keributan di depan ruang praktek nya. Beruntung para ibu hamil sudah selesai memeriksakan kandungan nya dan dokter Ayu meminta nya segera pergi untuk tidak melihat keributan itu.


Namun ibu rahma tidak mau pergi karena keributan itu juga dirinya ikut andil di dalam nya jadi dia tetap akan membantu aina menghadapi mira.


" Maaf pak bimo dan mira sepertinya ucapan anda itu tidak akan pernah terjadi. Direktur rumah sakit tidak akan memecat dokter fadli, karena memang beliaulah Direktur Rumah Sakit Husada ini, beliau pemilik sah rumah sakit ini" Ucap dokter Ayu menjekaskan agar keributan segera berhenti.


Mira kaget dan tidak percaya jika fadli adalah pemilik rumah sakit besar ini, yang dia tahu rumah sakit ini adalah milik keluarga Hilmawan.


" Dokter ayu pasti bohong!! tidak mungkin fadli si miskin ini pemilik rumah sakit besar ini, aku tahu betul siapa dia. Lelaki miskin yang berprofesi sebagai dokter jantung, dengan gaji yang pas-pasan bahkan untuk biaya hidup sebulan saja tidak cukup. " Mira tetap tidak percaya dengan ucapan dokter Ayu.


" Kamu sebelum nya sudah mengenal dokter Fadli? Kenapa kamu bisa tahu tentang dokter fadli?" Tanya bimo penuh selidik tatapan nya tajam ke arah mira.


Deg


Mira baru tersadar dengan ucapan nya, dia melupakan keberadaan bimo. Dia tidak mau bimo mengetahui semua nya, dia belum siap berpisah dari bimo karena apa yang di inginkan nya belum tercapai. Apalagi kalau bukan menguasai sebagian harta yang di miliki bimo.


*******


🌹🌹🌹🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹🌹🌹🌹


Jika banyak yang Like dan Komen , lanjutan bab ini akan Author up hari ini juga.


Tetap berikan LIKE, KOMEN , HADIAH DAN VOTE NYA SEBANYAK MUNGKIN ❤❤


JANGAN LUPA KLIK TOMBOL FAVORITE ❤❤

__ADS_1


DI TUNGGU RATE BINTANG 5 NYA KAK 🙏❤


TERIMAKASIH ❤❤


__ADS_2