Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Dimas Vera semakin dekat


__ADS_3

Usia kehamilan melani kini sudah dua bulan, setelah mengetahui kehamilan nya dua minggu yang lalu rasa mual nya justru sudah tidak ada lagi, hanya melani sekarang mudah lelah sehingga sekarang pekerjaan kantor banyak di handel oleh hendra.


Dan untuk kedekatan Dimas dan Vera pun semakin berlanjut, Vera tiap hari datang ke cafe dimas untuk sekedar bertemu dimas atau meminta uang kepada dimas. Dimas begitu terlena oleh kecantikan Vera, sehingga dia lupa dengan Aina istri nya yang sudah menemani nya dari dia belum punya apa-apa.


" Mas, kamu sekarang kok jarang pulang bahkan pulang pun terlalu larut?" tanya aina saat dimas sedang menikmati kopi di pagi hari.


" Aku akhir-akhir ini sibuk dek , Cafe ramai terus. Jadi aku harus ikut turun tangan juga. Kasihan karyawan pada kualahan, mau nambah karyawan sementara tidak dulu. Masih penyesuai sama hasil nya dulu. " Jelas hendra berbohong.


" Mas, emmhh... cafe kamu kan sudah mulai ramai dan penghasilan pasti nya sudah lumayan. Bagaimana kalau mulai bulan depan cicilan di Bank mas sendiri yang mengangsur. Selama satu tahun ini kan sudah aku yang membayar nya" Ucap Aina dengan bijak nya.


" Kok kamu hitung-hitungan gitu si dek, kamu kan tahu cafe ku baru saja berjalan. Uang nya juga cukup buat bayar karyawan sama modal lagi." Seru Dimas tidak setuju dengan usul Aina.


" Mas.. Selama setahun aku sudah bantu bayarin cicilan bang. Mas sendiri kan yang waktu itu bilang, kalau cafe sudah jalan mas akan bayar sendiri cicilan nya. Kenapa sekarang mas jadi berubah begini, aku tidak pernah tahu hasil dari cafe mu berapa ? Nafkah untuk diriku pun kamu memberi ala kadar nya bahkan kau tak memberi kan!!. Bahkan uang nya kemana pun aku tidak tahu, karena kamu memang tidak pernah memberitahu ku." Aina berbicara dengan hati yang bergemuruh karena terlalu emosi dan tak habus fikir dengan jalan fikiran sang suami.


Dimas tercengang melihat Aina bisa semarah itu, istri penurut nya sekarang sudah bisa berbicara dengan amarah. Dimas mulai ketakutan jika Aina marah pasti uang cicilan bank tidak akan di bayar kan nya.


" Maksud mas bukan begitu sayang. Nanti klo penghasilan cafe benar-benar sudah lebih mas bakal yang bayar cicilan bank nya. Sekarang cuma bisa untuk membayar karyawan dan di putar untuk modal, sisa nya dikit mas tabung untuk beli mobil. Mas malu pakai mobil kamu terus" Kata dimas masih terus berbohong.


Aina tidak percaya dengan apa yang di ucapkan sang suami, sebab dia tahu dari karyawan yang kerja di cafe jika penghasilan cafe dalam enam bulan terakhir ini mengalami peningkatan hingga 25%.


" Bukan nya mas tadi bilang kalau mas sibuk karena cafe sekarang ramai. Tapi barusan mas bilang hasil dari cafe kecil. Yang benar yang mana mas? Cafe ramai kok gak ada uang nya? memang mereka datang makan minum tidak bayar? atau uang nya habis mas pakai untuk senang-senang?" Tanya Aina memberondong pertanyaan .


Dimas kelabakan dan kebingungan mendapati pertanyaan dari Aina yang bertubi-tubi. Dia bingung harus beralasan apa lagi agar Aina bisa percaya seperti dulu lagi.


" Sayang, kamu tidak percaya sama suami mu sendiri? Mas mana mungkin menggunakan uang itu untuk foya-foya atau senang-senang, mas tahu modal cafe itu dari kamu. Gak mungkin mas seperti itu" Hendra masih saja berbohong.


" Sudahlah mas ini masih pagi aku tidak mau ribut lagi malu sama tetangga,aku capek mau istirahat sebentar sebelum berangkat kerja.Aku berangkat jam 10 tolong kalau kamu mau ke cafe pakai motor saja, mobil mau aku pakai" Seru Aina lalu pergi meninggalkan Dimas yang diam mematung.

__ADS_1


" Kalau mobil di pakai Aina, terus aku janjian sama Vera nya bagaimana? Hari ini aku mau nganterin Vera shopping. Kenapa si Aina jadi begini, dulu dia tidak seperti ini" Gumam Dimas dalam hati.


Sedangkan di tempat lain Hendra dan melani sedang berbahagia dan berkumpul dengan keluarga nya. Setelah mengetahui melani hamil kedua orang tua melani datang ke kota untuk menemui melani. Orang tua melani sangat bahagia mendengar kabar kehamilan melani,begitupun dengan ibu marni. Sejak mendengar kehamilan sang menantu ibu marni sering datang kerumah melani.


" Melani tidak lagi ingin makan apa-apa bu, nanti kalau melani menginginkan sesuatu pasti melani bilang. Lagi pula disini juga ada ibu mina yang selalu siap memasakkan permintaan ku" Seru melani saat sang ibu dan mertua terus bertanya melani menginginkan apa.


" Baiklah kalau kamu perlu sesuatu dan ingin makan sesuatu beritahu kami ya nak" Ucap bu marni dengan lembut.


Melani sangat terharu dan bahagia melihat kasih sayang yang di berikan ibu nya dan mertua nya.


" Ternyata seperti ini di perhatikan dan disayang oleh mertua. " Gumam melani dalam hati. Dulu selama menikah dengan Raka melani tidak mendapatkan kasih sayang dari sang ibu mertua.


" Siap ibu-ibu ku yang baik hati" Jawab melani sambil memeluk ke dua nya.


Hendra dan Ayah mertua nya sedang membicarakan masalah perusahaan. Hendra diminta pak Admaja untuk menghendal perusahaan selama melani hamil.


" Apa tidak apa-apa aku yang menghandel nya Yah, hendra takut hendra tidak sanggup. Karena hendra juga baru belajar" Seru hendra mencoba menanyakan lagi.


" Tidak apa-apa kamu kan suami melani jadi tidak ada salah nya kamu membantu mengurus perusahaan. Kalau ada yang tidak kamu mengerti kamu bisa tanya sama melani atau pun paman harun." Pak admaja memberi saran untuk hendra.


" Baiklah Yah, tapi untuk masalah proyek kerja sama biar melani yang memutuskan Yah, aku belum pantas untuk memutuskan. Dan semua urusan kantor masih memakai tanda tangan melani. Aku hanya menjalankan nya saja" Hendra menyampaikan keinginan nya.


" Kalau itu keinginan mu, baiklah tidak masalah. Kamu bicarakan lagi sama istri mu" Ucap pak admaja menepuk pundak hendra dan tersenyum bangga.


Pak Admaja sangat menghargai keputusan Hendra, dia semakin yakin hendra adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab dan tidak mau memanfaatkan keadaan.


" Ternyata pilihan melani kali ini benar-benar baik. Semoga anak dan menantu ku selalu hidup bahagia" Gumam pak Admaja dalam hati.

__ADS_1


Vera datang ke cafe dimas tepat saat jam makan siang, Vera memakai baju yang menujukan lekuk tubuh nya dan mek up yang tebal. Vera berjalan lenggak-lenggok bak model papan atas.


Vera sudah tidak malu lagi keluar masuk cafe tanpa permisi. Karyawan yang melihat kelakuan Vera pun di buat geram. Vera bersikap seolah Nyonya pemilik cafe yang tiap datang selalu menyuruh ini dan itu.


" Mas, katanya mau nemenin aku shopping." Tanya Vera sambil bergelanyut manja di lengan Dimas.


" Iya sayang, tapi kita naik taksi online saja ya. Mobil mas lagi mas servise" Ucap Dimas berbohong padahal mobil nya di pakai oleh Aina.


" Tidak masalah yang penting kamu temani aku shopping" Jawab Vera dengan manja nya.


" Baiklah ayo kita berangkat, aku sudah pesan taksi online sebentar lagi sampai, kita tunggu di depan saja ya" Dimas mengajak Vera keluar dari ruangan nya.


Mereka keluar ruangan dengan bergandengan tangan mesra. Banyak para pengunjung cafe yang memandang ke arah mereka. Para pengunjung cafe mengira jika Vera adalah istri dari Dimas sang pemilik cafe.


" Wanita itu siapa si mbak, kok gaya nya seperti model begitu. Kalau istri nya pak Dimas seperti nya bukan. Soalnya dulu istri pak dimas pernah datang kemari tapi bukan wanita itu" Tanya salah satu karyawan cafe kepada teman nya yang bekerja di bagian kasir.


" Aku gak tahu, mungkin saudara nya pak dimas. Sudah jangan ikut campur urusan pak dimas, kalau dia tahu kita membicarakan nya kita pasti di pecat" Jawab sang kasir.


" Apa yang harus aku lakukan, kalau aku memberitahu mbak Aina soal pak dimas yang selingkuh. Pak dimas sudah mengancam akan memecat ku" Gumam karyawan yang di bagian kasir.


Karyawan itu mengenal Aina dengan baik, dulu dia pernah di tolong Aina saat sedang mengalami kecelakaan dan Aina lah yang menolong dan mengobati nya.


Dia pun sudah di ancam oleh dimas, jika mengadukan nya kepada Aina maka dia akan di pecat.


*****


Selamat membaca 🙏🙏 Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE , KOMEN nya ya kak.

__ADS_1


__ADS_2