Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Akibat ban bocor


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


Kehamilan aina hari ini sudah masuk sembilan bulan, usia kehamilan aina memang saat itu hanya selisih dua bulan dengan usia kehamilan mira. Fadli semakin posisif dan semakin ketat menjaga aina.


Aina sama sekali tidak di perbolehkan pergi sendiri meskipun dengan sopir. Kemana pun Aina ingin bepergian harus ada fadli di samping nya.


Orang tua aina pun saat ini sudah berada di rumah aina , mereka memang sengaja datang satu bulan sebelum aina melahirkan. Karena ayah aina juga ada urusan di kota jadi mereka memilih datang lebih awal.


" Mas hari ini pulang jam berapa ?" Tanya aina saat fadli sedang bersiap ke rumah sakit .


" Mas jam 10 pagi ini ada jadwal operasi, dan setelah itu ada pertemuan dengan para dokter senior. Ada apa sayang? Apa ada yang kamu inginkan?" Tanya fadli sambil memakai sepatu nya.


" Tidak Mas, aku cuma ingin jalan-jalan ke taman di ujung jalan sana. Biasa nya kalau sore kan di sana ramai, kalau begitu aku pergi sama ibu dan si mbak ya mas" Ucap aina penuh harap.


Fadli tidak bisa menolak keinginan istri nya, jika harus menunggu nya sudah pasti tidak bisa. Karena dia juga pulang belum pasti jam ny jam berapa.


" Baiklah, tapi kamu jangan capek-capek ya. Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi mas. " Ucap fadli lalu mengecup perut buncit aina.


" Hai anak papa yang cantik, hari ini jalan-jalan ke taman sama mama dulu ya, karena papa masih ada kerjaan..Besok-besok kalau papa sudah tidak sibuk papa ikut jalan - jalan juga, kamu baik-baik dalam perut mama jangan nakal ya sayang " Ucap bimo berbicara dengan calon anak yang ada dalam kandungan aina.


Aina tersenyum sambil mengusap-usap perut nya yang semakin buncit. Dia benar-benat bahagia karena sebentar lagi akan resmi menjadi seorang ibu, hal yang sangat dia dambakan selama bertahun-tahun.


" Iya papa " Seru aina menirukan suara anak kecil.


Fadli semakin gemas hingga dia mencubit pipi aina yang semakin cuby.


" Auw.. sakit tahu mas. Ini pipi bukan bakpau tau" Seru aina kesal karena fadli mencubit pipinya sedikit kuat.


" Hehe Maaf sayang, mas terlalu gemas dengan kamu." Seru fadli lagi.


" Iya awas kalau besok seperti itu lagi, ya sudah ayok kita keluar kamar untuk sarapan pasti Ayah sama ibu ku sudah menunggu di meja makan. Tidak enak kalau mereka terlalu lama menunggu kita" Ucap aina dan di anggukin oleh fadli.

__ADS_1


Fadli dan aina pun ke luar kamar dan menuju makan, benar saja disana ayah dan ibu aina sudah duduk dan menunggu mereka untuk sarapan bersama.


*******


" Terimakasih ya om sudah mau memberi ku tumpangan" Ucap nina saat hendak turun dari mobil bimo.


Tadi saat hendak berangkat ke butik motor nina ban nya bocor , sehingga nina membawa motor nya ke bengkel. Nina tadi nya berniat naik angkot untuk menuju butik.


Sudah sepuluh menit menunggu angkot tak kunjung lewat dan nina mencoba memesan ojek online namun belum dapat juga. Sekarang nina sudah tidak tinggal lagi di kontrakan lama nya, tapi sudah seminggu yang lalu nina tinggal di rumah minimalis yang di beli Raka. Jarak nya memang lumayan jauh dari tempat kerja nina.


Saat sedang menunggu angkot, mobil bimo tadi berhenti di depan nina dan menawarkan nina untuk berangkat bareng.


" Iya sama-sama , nanti pulang nya aku jemput ya ?" Ucap bimo.


" Tidak perlu om, aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau merepotkan om. Aku itu sudah terbiasa mandiri dan pergi-pergi juga biasa naik motor panas - panasan. Jadi aku tidak cocok naik mobil mewah dan ber Ac kayak gini Om " Seru nina menolak tawaran bimo.


" Bisa tidak sih kamu jangan panggil aku Om, kok sepertinya aku ini tua banget. Umur kita mungkin selisih 6 atau 7 tahun. Panggil saja nama ku atau Kak bimo itu lebih baik" Seru bimo bersungut kesal.


" Terserah kamu deh gadis bar - bar " Seru bimo yang akhirnya mengalah.


* Cihh dia tidak mau di pannggil om tapi dia sendiri memanggil ku gadis bar - bar kan aneh * Gumam nina dalam hati.


Nina pun turun dari mobil, dia tidak mau makin lama di mobil pasti makin lama juga perdebatan nya dengan bimo.


" Di antar siapa Nin, pacar kamu ?" Tanya putri saat nina baru saja masuk ke dalam butik.


" Apaan si Put, bukan lah.. males banget punya pacar songong kayak gitu. Ngatur - ngatur seenak nya masak dia mau di panggil kak sedangkan dia memanggil ku gadis bar - bar kan songong pria itu. Sudah bagus aku panggil dia Om, karena memang umur kita kurang lebih selisih 6 atau 7 tahun saja dan kalau gak mau di panggil Om mau aku panggil paman atau kakek saja dia. Benar-benar menyebalkan . " Gerutu nina dengan kesal.


Putri hanya bengong mendengar nina cerita panjang lebar, sampai mulut nya tanpa sadar terbuka mangap jika ada lalat lewat pasti bisa masuk kedalam mulut putri.


" Woeee awas mulut nya kemasukan lalat " Seru nina yang baru menyadari jika putri mulut nya mangap lebar.

__ADS_1


" Eehhh... kamu cerita sudah seperti kereta lewat saja Nin panjang kali lebar, sampai aku bingung harus menanggapi nya bagaimana. Ngomong-ngomong ganteng gak cowok tadi, kalau kamu gak mau buat aku saja ya ?" Tanya putri sambil memainkan mata nya.


" Terus tunangan kamu mau di kemanain, jangan coba-coba untuk mendua karena mendua itu tidak enak tapi lebih enak meniga. Ha ha haaaa " Seru Nina dengan tawa lebar nya.


Begitupun dengan putri, dia ikut tertawa dengan apa yang di bilang nina barusan. Namun tiba-tiba tawa mereja berhenti karena Jesi datang.


" Hello... yuhuuuu... helo sayang - sayang ku kalian pada ngetawain apa sih? Bagi - bagi dong, ada cerita apaan ?" Tanya Jesi dengan suara gemulai nya.


" Itu Kak , si Nina di taksir cowok tajir tapi dia tidak mau. Kalau dia tidak mau kan bisa buat aku saja. Secara cowok tajir kok di anggurin, di embat yang lain baru tahu rasa dia " Ucap putri dengan mulut ember nya.


Putri sebenarnya orang yang baik dan pengertian, hanya mulut nya saja memang yang sering ember. Tapi kalau untuk masalah yang benar-benar pribadi putri bisa di andalkan, dia benar-benar bisa menyegel mulut nya. Putri kerja dengan melani sudah lama, dari awal melani membangun usaha butik nya dari nol, putri juga banyak belajar dari melani.


" Mana-mana... mana cowok tajir nya, kalau si nina gak mau boleh dong buat akike saja " Ucap Jesi sambil mengedipkan mata nya.


" Kak Jesi telat, dia sudah pergi. Sudahlah ayuk kita mulai kerja , kebanyakan ngobrol kagak kelar - kelar dech kerjaan, yuk mulai kita buka butik ini dengan senyum bahagia..." Seru nina lalu pergi meninggalkan jesi dan putri.


Jesi dan putri pun mengikuti langkah nina, jesi menuju tempat tugas nya dan putri juga menuju tempat nya masing-masing.


Walaupun putri di percaya untuk mengelola butik, putri tidak merasa berbangga hati. Dia tetap minta kepada teman-teman nya untuk saling bekerja sama mengembangkan butik. Nina juga salah satu partner kerja putri untuk membantu nya mengelola keuangan dan laporan keuang butik.


Tiap awal bulan nina dan putri lah yang melaporkan keuangan butik kepada melani langsung.


*****


🌹🌹🌹🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹🌹🌹🌹


AUTHOR TETAP MEMINTA DUKUNGAN NYA UNTUK KARYA AUTHOR YA KAK 🙏❤


HARI INI AUTHOR SUDAH UP 3 BAB, SEMOGA PARA PEMBACA SUKA DENGAN KARYA AUTHOR. ❤❤


TERIMAKASIH 🙏❤

__ADS_1


__ADS_2