
Di sebuah rumah sakit hari ini Melani jadwal periksa kandungan. Siang ini melani di antar oleh Ibu marni, karena hendra ada meeting di luar kantor yang tidak bisa di tinggalkan.
Perut melani sudah semakin membesar, di usia kandungan yang sudah tujuh bulan melani semakin sering lelah, sehingga urusan kantor sementara semua nya di serahkan kepada Hendra.
" Bu , setelah ini kita mampir di rumah makan padang yang ada di dekat lampu merah sana ya. Itu rumah makan langganan aku dan mas hendra. " Ucap melani saat sudah keluar dari ruangan winda.
" Iya mel, kebetulan ibu juga sudah lama tidak makan masakan padang. " Ucap ibu marni.
" Bu melani mau ke toilet bentar ya, ibu tunggu saja disini" Ucap melani.
" Iya sudah ibu tunggu di sini ya sambil nunggu antrian ambil obat dan vitamin kamu" Ujar ibu marni sambil menunjuk kursi barisan antrian tempat pengambilan obat.
Melani pun langsung pergi menuju toilet yang letak nya tidak jauh dari tempat pengambilan obat. Saat melani masuk ke dalam toilet tidak sengaja melani melihat wanita seperti Vera tapi melani acuh karena dia buru-buru sudah ingin buang air kecil.
Acara buang air kecil pun sudah selesai, melani keluar dari toilet dan hendak pergi menyusul sang ibu mertua.
Tapi tiba-tiba ada suara seseorang yang mengaget kan nya.
" Oh ternyata benar kamu" Seru Vera yang berdiri di hadapan melani.
" Iya ini aku memang nya kenapa, aku juga tidak menyangka yang aku lihat tadi benaran kamu. Oh kamu juga sedang hamil, perut kamu sudah terlihat membuncit" Ujar melani sambil pandangan nya mengarah ke perut Vera.
" Iya aku hamil 4 bulan, memang nya kamu saja yang bisa hamil? " Seru Vera mencibir melani.
* Padahal vera baru sekitar tiga bulan kemarin bilang kalau dia baru menikah, tapi kenapa sekarang sudah hamil 4 bulan* Gumam Melani dalam hati.
Vera tidak nyaman dengan tatapan tajam dari melani, seakan tatapan melani tatapan yang penuh selidik.
" Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Dasar wanita sinting" Tanya vera yang merasa tidak nyaman.
" Bukan nya kamu baru tiga bulan menikah? Tapi kok sudah hamil 4 bulan? Ternyata kamu nabung duluan" Cibir melani tak kalah pedas dengan kata-kata Vera.
Vera tergagap mendengar ucapan melani, memang benar apa yang di katakan melani saat dirinya dan dimas menikah Vera memang sedang berbadan dua. Karena dia dan dimas memang sering melakukan nya saat belum menikah.
__ADS_1
" Terserah saya dong, itu bukan urusan mu. Kamu jangan ikut campur dengan urusan saya" Seru Vera dengan nada marah.
" Vera.. Vera kapan sih kamu mau tobat nya. Ingat Ver kamu itu masih sah istri nya mas Raka, dan pernikahan mu yang sekarang itu tidak sah. Seharus nya kamu urus dulu perceraian mu dengan mas Raka baru kamu menikah lagi. Kasihan anak kamu Ver, dan jangan menikah dengan suami orang" Ujar melani masih bicara baik kepada Vera.
" Hai.. dasar wanita sinting. Jangan ikut campur urusan ku. .!! Kamu irikan dengan ku karena aku bisa menikah dengan pengusaha cafe. Cafe nya ada dimana-mana, dan aku juga di belikan rumah baru dan lihat nih kalung ku berlian juga baru." ucap vera sambil menunjukkan kalung yang melingkar di leher nya.
Melani hanya menanggapi dengan senyum kecut nya, melani tahu siapa suami vera yang sekarang. Hanya seorang lelaki pecundang yang mengandalkan harta dari istri sah nya.
" Melani" Tiba-tiba ibu marni datang menyusul melani ke toilet, karena melani terlalu lama jadi ibu marni memutuskan menyusul melani ke toilet takut terjadi apa-apa.
" Ibu..!! Kenapa kesini, aku sudah selesai kok bu" Seru melani.
" Ibu takut kamu kenapa-kenapa. Eh ini siapa mel?" Tanya ibu marni sambil melihat ke arah Vera.
Vera tersenyum sinis ke arah ibu marni, dia tidak tahu jika ibu yang bersama melani adalah ibu kandung dimas yang berarti ibu marni adalah mertuanya .
" Oh ini Vera bu, wanita yang dulu pernah merebut suami ku" Jawab jujur melani sengaja ingin melihat reaksi ibu marni.
" Jadi ini wanita pelakor?" Tunjuk ibu marni ke arah Vera.
" Yang sopan sama orang tua!!" Bentak melani tidak terima.
" Eh nenek tua jangan seenak nya kamu ngatain aku pelakor. Nenek-nenek peot saja belagu" Seru Vera marah.
PLAKK
Ibu marni tidak terima dikatakan nenek-nenek peot oleh Vera. Tangan bu marni dengan sengaja menampar pipi Vera yang ber mek up tebal dengan keras sampai tangan ibu marni teras sakit juga.
" Jaga mulut mu wanita sialan, jangan sampai kamu aku tampar lagi. Ayok mel kita pulang, jangan di ladenin lagi wanita gila seperti ini" Seru bu marni dengan marah lalu menggandeng tangan melani untuk meninggalkan tempat itu.
" Dasar nenek peot,nenek-nenek sialan. Akan aku adukan kamu sama suamu ku. Dasar sialan...!!!" Maki Vera dengan lantang sambil memegang pipi nya yang bekas tamparan ibu marni.
Vera meringis kesakitan di bagian pipi nya, pipi vera terlihat memerah akibat tamparan dari ibu marni. Vera pun pergi meninggalkan toilet itu untuk menyusul sang suami yang sudah menunggu di parkiran.
__ADS_1
Sedangkan di parkiran rumah sakit dimas cemas karena Vera tidak kunjung datang juga. Tadi sebelum pulang Vera izin ke toilet tapi sampai sekarang belum balik ke mobil juga.
Saat dimas akan membuka pintu mobil nya untuk menyusul Vera ke toilet, tiba-tiba dimas melihat Melani dan Ibu marni ke luar dari lobby rumah sakit. Dimas tidak jadi turun dari mobil , dimas tetap bersembunyi di dalam mobil.
" Kenapa ada ibu sama melani juga? Beruntung aku tadi tidak jadi keluar dari mobil. Kalau ibu tahu aku ada di sini pasti banyak pertanyaan dari nya" Dimas bicara sendiri di dalam mobil.
" Semoga ibu tadi tidak ketemu Vera. Ehh kalau pun mereka ketemu, mereka kan tidak saling mengenal." Ucap dimas terkekeh.
Tanpa dimas sadari sebenar nya tadi melani melihat nya saat dimas akan membuka pintu mobil. Tapi dimas langsung menutup nya lagi dan tetap duduk di belakang kemudi. Melani tahu betul jika itu dimas.
" Kita jadi mampir ke rumah makan padang mel?" Tanya ibu marni saat sudah duduk di dalam mobil.
" Ehh jadi bu" Jawab melani singkat. Dia masih ke fikiran soal pertemua nya dengan Vera di toilet tadi. Bagaimana reaksi ibu marni jika tahu Vera adalah istri ke dua dimas. Dari pertemuan ibu dan Ver tadi mereka ber dua sama-sama saling benci.
Mobil melani pun keluar dari parkiran rumah sakit, saat mobil melani sudah keluar dari parkiran Vera pun sampai di parkiran lalu masuk kedalam mobil dimas.
" Kenapa lama sekali si sayang?" Tanya dimas yang belum tahu kondisi pipi Vera.
" Sudah jalan saja mas, aku lagi malas membahas nya" Seru Vera.
" Pipi kamu kenapa sayang?" Tanya dimas saat menyadari pipi Vera yang terlihat merah dan sedikit memar.
" Ini tadi di tampar ibu-ibu bar bar mas, dia tidak terima aku katain nenek peot" Adu vera kepada dimas.
" Mumpung masih di rumah sakit kita obati saja ya" Ucap dimas yang khawatir dengan pipi Vera.
" Sudah kita pulang saja aku mau mengobati pipi ku yang bekas tamparan nenek peot ini dirumah saja, nanti beli obat nya di apotik saja." Ucap Vera menolak tawaran dimas untuk di obati di rumah sakit.
Dimas pun melajukan mobil nya keluar dari parkiran rumah sakit, tidak lupa dia terlebih dahulu mampir ke apotik yang ada di dekat rumah sakit untuk membelikan obat Vera untuk mengobati bekas tamparan tadi.
******
Selamat pagi kakak Reader tercinta, tetap dukung karya Author ya.
__ADS_1
Selamat membaca. Terimakasih...
Salam sayang untuk para pembaca dari Author ❤❤😍😍