Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Isi surat


__ADS_3

Hubungan Aina dengan fadli semakin dekat saja, Aina sudah mulai nyaman saat sedang bersama fadli. Tetapi sampai saat ini hubungan Aina dan Fadli masih hanya sebatas teman dan rekan kerja. Fadli belum mengungkapkan isi hati nya kepada Aina, Fadli masih membiarkan Aina menata hati nya terlebih dahulu.


Hari ini seperti biasa Aina sedang melakukan tugas nya sebagai dokter, profesi aina adalah dokter umum. Segala macam karakter pasien sudah dia hadapi. Aina menjalankan semua nya dengan hati yang bahagia tanpa ada rasa terbebani, karena dokter adalah cita-cita nya dari kecil.


" Dokter Aina, seperti nya dokter semakin dekat saja dengan dokter ganteng. Kapan nih diresmikan?" Tanya Nuri seorang suster asisten Aina di rumah sakit.


" Dokter ganteng? " Seru Aina yang memang tidak tahu siapa dokter ganteng yang nuri maksud.


" Itu loh dok, si dokter Fadli, para suster nyebut nya dokter ganteng. Habis memang dia ganteng banget dok dan sudah seperti aktor korea" Ucap Nuri sambil terkekeh.


Aina hanya tersenyum mendengar ucapan narsis dari sang assisten nya. Yang dikatakan nuri memang benar si, Fadli memang tampan postur tubuh nya tinggi dan hidung nya mancung .


" Saya dengan dokter fadli hanya berteman saja kok Nur, kalau kami dekat ya karena memang kami sudah kenal dari dulu. Kalau kamu atau teman-teman kamu mau daftar tidak masalah, dokter fadli masih sendiri kok. " Ucap Aina tersenyum ke arah Nuri, dilihat nya nuri hanya senyum-senyum sendiri.


" Saya kan sudah punya tunangan Dok, dokter fadli itu cocok nya sama dokter Aina. Aku kira dokter Aina dengan dokter fadli pacaran, aku doakan semoga dokter aina dan dokter fadli bisa bersatu" Seru Nuri dengan antusius .


" Aamiin" Tanpa sadar Aina mengaminkan ucapan dari Nuri. Nuri tertawa mendengar ucapan aamin dari dokter nya.


Jam praktek Aina sudah habis, Aina memilih membereskan barang-barang nya dan bersiap untuk pulang. Hari ini Aina sangat lelah sekali, pasien hari ini lebih banyak dari hari biasa nya. Jam tiga sore Aina sudah bersiap untuk pulang, dia sudah berada di parkiran dan mulai melajukan mobil nya kejalanan.


Hari ini dia tidak bertemu fadli di rumah sakit, karena hari ini memang fadli ada jadwal operasi jadi Aina memilih tidak menemui Fadli. Hanya saja fadli tadi sebelum masuk ruang operasi dia mengirim pesan kepada Aina, jika malam ini Fadli akan mengajak nya untuk makan malam.


Tanpa terasa mobil Aina sudah sampai di rumah nya, rumah yang dulu pernah ia tinggali drngan dimas selama 4 tahun, rumah yang penuh kenangan. Walaupun menyakitkan jika ingat kebersamaan nya di rumah ini bersama dimas, Aina tidak akan menjual rumah nya.


" Huhh hari ini aku lelah sekali, aku ingin mengistirahatkan tubuh ku dulu. Nanti malam fadli akan mengajak ku makan malam, fadli memang pria yang baik." Gumam Aina sendiri.


Tiba-tiba pandangan Aina tertuju ke pada laci kecil yang ada di meja rias nya. Dia merasa ingin sekali membuka laci itu, seperti ada sesuatu yang dia simpan dalam laci itu tapi lupa barang apa yang dia simpan. Aina pun bangun dari ranjang nya lalu membuka laci kecil itu.


Saat membuka laci itu Aina menemukan sebuah amplop putih berada di dalam laci, Aina mengambil Amplop itu dan mengingat - ingat amplop yang dia pegang.

__ADS_1


" Amplop ini... Ini kan yang diberikan melani beberapa bulan yang lalu. Amplop dari Vera? Iya benar ini dari Vera sekitar 4 bulan yang lalu, kenapa aku tidak mengingat nya." Aina bicara pada diri nya sendiri.


Aina membuka amplop itu lalu duduk di ranjang nya dan membaca isi surat dalam amplop.


*Hai Aina... Ini aku Vera. Aina maafkan aku yang sudah merebut kebahagiaan mu, aku memang wanita yang tidak tahu diri. Aku selalu saja merebut kebahagian orang lain, maafkan aku Aina. Tuhan kini telah menghukum ku, hidup ku sekarang sangatlah susah, semua yang aku punya lenyap begitu saja.


* Aina, aku tahu kamu pasti sangat membenci ku.. Tapi tolong maafkan aku. Aina, sampai sekarang aku tahu mas dimas masih sangat mencintai mu dia masih menyayangi mu. Setelah anak ku lahir kalian rujuk lah, biar aku yang pergi dari kehidupan kalian. Bencilah diriku, tapi jangan kau benci mas dimas karena akulah yang selama ini sudah merayu mas dimas. Sekali lagi tolong maafkan aku Aina.


* Salam dari ku Vera.


Aina melipat kembali kertas surat itu dan memasukkan kembali ke dalam amplop dan menyimpan nya kembali. Aina tidak menyangka Vera meminta nya untuk rujuk dengan dimas.


" Aku bisa memaafkan kalian, tapi bukan berarti aku mau untuk rujuk dengan mas dimas" Ucap Aina pada diri nya sendiri.


Dilihat nya jam dikamar sudah menunjukan pukul lima sore, masih ada waktu sekitar satu jam untuk mengistirahatkan tubuh nya sebelum dia bersiap untuk makan malam dengan Fadli.


******


" Aduh cucu oma, kamu ganteng banget si. Baru juga dua hari oma tidak mengunjungi mu, oma sudah kangen banget" Ucap ibu marni sambil menciumi Vino yang berada dalam gendongan nya.


Ibu marni sekarang memanggil sang cucu dengan panggilan Vino, bukan babby H lagi karena badan Vino yang gemuk jadi bukan seperti bayi lagi. Merasa aneh saja harus memanggil babby H.


" Ibu sendirian saja?" Tanya melani sambil meletakkan teh hangat untuk sang mertua.


" Iya ibu sendiri, hasni masih kerja. Ibu sudah kangen banget sama Vino jadi ibu datang saja sendiri" Ucap sang ibu mertua.


Semenjak ada Vino ibu marni memang sering datang kerumah melani sekedar untuk melihat vino atau pun bermain dengan Vino. Bahkan kadang ibu marni pun menginap dirumah melani. Melani sudah menawarkan ibu marni untuk tinggal bersama nya, tetapi ibu marni menolak nya dia lebih nyaman tinggal dirumah almarhum suami nya yang tidak lain adalah ayah hendra.


" Orang tua mu kapan datang lagi mel?" Tanya ibu marni sambil meminum teh nya. Vino sudah di ambil oleh baby siter nya.

__ADS_1


" Belum tahu bu, baru satu minggu yang lalu kan mereka kesini. Melani kadihan mereka bu kalau harus sering-sering kesini karena perjalanan nya jauh. " Ucap melani menjelaskan.


" Iya sih mel, bagaimana kalau kita yang datang saja kerumah mereka. Pasti mereka sangat senang, tapi ya nunggu hendra ada waktu dulu." Usul ibu marni.


" Boleh itu bu,nanti melani coba bicarakan dengan mas hendra. Melani juga sudah lama tidak berkunjung ke desa kangen juga suasana desa" Seru melani.


Ibu marni pun senang melihat melani yang menerima usul nya, walaupun belum tahu kapan bisa berangkat nya setidak nya melani sudah mau menerima usul ibu mertua nya.


" Bu maaf, boleh melani bicara sesuatu sama ibu?" Tanya melani yang terlihat serius.


" Mau bicara apa mel? bicaralah" Seru ibu marni yang tidak tahu apa yang ingin melani bicarakan.


Huftt..


Melani menghela nafas dengan berat,dia mulai pembicaraan nya.


" Bu, apa ibu tidak ingin bertemu cucu ibu, anak dari mas dimas?" tanya melani dengan pelan takut sang ibu mertua marah mendengar pertanyaan nya.


Ibu marni terdiam, tidak bisa di pungkuri dalam hati nya dia sangat merindukan anak laki-laki nya itu. Dia juga ingin melihat cucu nya dari dimas. Tapi sampai sekarang pun dimas tidak menemui dirinya dan tidak tahu dimana keberadaan nya.


" Ibu tidak tahu dimana keberadaan dimas dan istri nya mel, ibu ingin sekali bertemu dimas dan anak nya." Seru ibu marni dengan suara pelan nya.


" Bu, nanti melani coba cari alamat nya mas dimas. Nanti kalau sudah ketemu kita bisa temui mas dimas sama-sama" Ucap melani yang kini sudah memeluk ibu mertuanya.


Melani memeluk sang mertua yang terlihat bersedih karena mengingat anak laki-laki nya. Melani dengan lembut mengusap punggung ibu marni yang saat ini sedang menangis di dalam pelukan nya.


*******


Nah akhirnya surat dari Vera dibaca juga sama Aina? Kira-kira Aina mau gak ya balikan sama dimas?

__ADS_1


Jangan lupa tetap berikan dukungan karya Author dengan cara LIKE, KOMEN, VOTE dan KLIK FAVORITE dan Jangan lupa berikan HADIAH nya. ❤❤❤


TERIMAKASIH, SELAMAT MEMBACA 🙏


__ADS_2