
Sarapan bihun goreng sudah terhidang di meja makan, hendra yang melihat ada menu bihun goreng di atas meja pun heran. Karena hendra tidak merasa meminta di masakin bihun goreng. Biasa nya memang hendra yang sering minta di masakin mene tersebut tapi saat makan malam, tidak untuk sarapan.
" Bu, tumben pagi-pagi masak bihun goreng? " Tanya hendra sambil meminum kopi nya.
" Iya mas itu Nona Melani yang minta. Ibu juga heran mas, nona melani kan tidak suka bihun. Tapi tadi pas di dapur dia minta di masakin menu itu" Bu mina menjelaskan kepada hendra.
Hendra mengangguk-ngangguk kan kepala nya sambil terus berfikir, kenapa melani pagi ini sedikit berbeda. Hendra pun melanjutkan meminum kopi nya.
" Mas, aku cantik gak?" Tanya melani yang baru datang dan mendekat ke arah hendra.
" Istri ku ini selalu cantik, tumben banget dandan begini." Tanya hendra sedikit heran.
Bukan nya menjawab melani justru diam dan memsnyunkan bibir nya sambil menghentak-hentak kan kaki nya ke lantai. Melani lalu duduk dan memakan menu bihun goreng pesanan nya.
Hendra yang melihat kelakuan istri nya yang aneh pun mengira jika sang depresi karena pertemuan nya dengan sang ibu kemarin.
" Sayang, kamu kenap si? kok cemberut dan sejak kapan kamu suka bihun? Setau mas kamu gak suka makanan itu. Sini biar mas saja yang makan bihun goreng nya, kamu makan pakai sayuran dan ayam saja ya" Ucap hendra lalu mengambil bihun goreng yang sedang melani makan.
Hiks...Hiks...Hikss
Saat hendra mengambil piring bihun goreng yang ada di depan melani, melani justru menangis.
" Mas jahat, mas gak sayang sama istri" Ucap melani sambil sesunggukan.
" Aduh kenapa si sayang, mas salah apa?" Hendra semakin kebingungan karena tangis melani semakin kencang.
Bu mina yang berada di dapur pun menghampari ke meja makan ingin tahu kenapa melani menamgis.
" Non melani kenapa mas?" Tanya bu mina sambil mengusap punggung melani.
" Saya tidak tahu bu. Apa karena bihun goreng nya saya ambil? " Seru hendra menebak.
" Iya.. itu kan bihun goreng aku yang minta. Itu bu mina aku suruh buat 1 piring saja khusus buat aku. Tapi kenapa mas ambil hu hu huuu" Melani bicara sambil menangis.
__ADS_1
Hendra dan bu mina heran dengan kelakuan melani, tidak seperti biasa nya melani merajuk seperti ini apalagi cuma gara-gara bihun goreng.
" Maaf.. maaf sayang ini mas kembalikan bihun nya, belum mas makan kok. Mas belum sempat makan karena kamu sudah nangis duluan" Hendra berkata jujur sambil tertawa.
" Mas.. Jadi mas gak ikhlas" Melani semakin merajuk.
" Ikhlas dong sayang, sudah di makan ya. Habis ini kita ke kantor, ayuk dimakan lagi ini kalau dingin jadi tidak enak lagi." Ucap hendra merayu melani yang sedang merajuk.
Melani mengambil bihum yang di berikan oleh hendra dan memakan nya dengan lahap dengan wajah yang berbinar bahagia.
Bu mina yang masih berdiri di dekat melani heran melihat melani makan bihun selahap itu.
" Apa jangan-jangan Non melani hamil makanya kelauan nya sedikit aneh" gumam ibu marni.
Bu marni pun kembali lagi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang sempat tertunda karena ada tragedi bihun goreng di meja makan.
" Seperti nya aku harus membawa melani ke dokter, aku takut istri ku kenapa-kenapa. Kelakuan nya pagi ini aneh banget, seperti anak kecil yang merajuk. Apa jangan-jangan dia benar depresi. Oh tidak, jangan!" Gumam hendra dalam hati.
******
Melani menemui paman harun di ruangan nya karena paman harun meminta melani untuk menemui nya, ada sesuatu hal yang ingin paman harun sampaikan.
" Paman memanggil saya?" Tanya melani saat sudah berada di ruangan paman nya.
" Iya mel, duduk dulu. Sebentar ya paman selesaikan berkas ini dulu" Ucap paman harun masih tetap fokus dengan berkas nya.
Melani duduk di sofa yang berada tidak jauh dengan meja kerja sang paman. Melani mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruang kerja sang paman.
" Dari dulu ruangan paman tidak berubah, bahkan foto mendiang istri nya pun masih rapi tersusun di meja kerja nya." Gumam melani pada dirinya sendiri.
Paman harun sudah selesai memeriksa berkas-berkas dan kini sudah duduk bersama melani.
" Kamu kelihatan gemukan mel? Kamu bahagia mel?" Tanya paman harun saat sudah duduk di samping melani.
__ADS_1
" Aku bahagia paman, mas hendra juga memperlakukan aku dengan baik. Aku juga merasa badan ku sedikit gemukan" Jawab melani sambil terkekeh.
Paman harun tersenyum mendengar jawaban melani, sepertinya hendra benar-benar menyayangi melani terbukti melani bisa tersenyum bahagia seperti sekarang ini. Karena sudah lama paman harun tidak melihat sang keponakan nya tersenyum dan sebahagia ini.
" Oh iya ada masalah apa sehingga paman memanggil ku kemari? Apa perusahaan sedang ada masalah? Proyek paman bermasalah?" tanya melani beruntun.
" Tidak.. semuanya baik-baik saja. Paman ingin membicarakan soal suami mu" Seru paman harun datar.
" Kenapa dengan suami ku paman? " Tanya melani kaget, takut jika hendra melakukan kesalahan besar sampai-sampai paman harun sendiri yang bicara pada nya.
Paman harun melihat perubahan raut wajah melani, senyum yang terukir di bibir nya pun kini sudah tidak ada. Berganti dengan raut wajah yang begitu cemas.
" Kamu jangan cemas begitu Mel, suami mu tidak melakukan kesalahan apa pun. Justru paman mendapat laporan suami mu itu salah satu karyawan yang berpotensi dan bisa di andalkan. Selama beberapa bulan ini dia bekerja dengan baik, walaupun dia terhitung karyawan baru, kurang lebih 6 bulan suami mu bekerja semua baik dan bagus" Paman harun memuji kinerja hendra.
" Lalu apa yang ingin paman sampaikan soal mas hendra kepada ku?" Tanya melani semakin tidak sabar.
Akhirnya paman hendra menyampaikan keinginan nya kepada melani. Dan paman harun meminta melani untuk menyetujui nya.
" Paman serius ingin pensiun? Tapi kalau melani butuh bantuan paman masih mau membantu ku kan? Aku masih harus banyak belajar lagi paman, aku pun masih butuh bantuan dari paman" Seru melani dengan wajah sedih nya.
" Iya kapan pun kamu butuh bantuan paman kamu tinggal hubungi pangan atau datang kerumah paman. Paman siap membantu mu kapan saja. Paman yakin suami mu juga tidak kalah hebat dari paman, paman sudah mempertimbangkan keputusan paman. Hendra itu bisa di andalkan" Paman harun masih saja memuji kinerja suami melani.
Melani tersenyum bahagia mendengar ucapan sang paman, baru kali ini paman memuji suami nya. Bahkan saat masih dengan Raka dulu paman harun sama sekali tidak pernah membicarakan soal Raka dengan nya. Paman selalu meminta untuk tetap merahasiakan status nya pada Raka. Ternyata insting paman nya memang terbukti.
" Baiklah paman, nanti aku bicarakan dulu dengan mas hendra. Semoga mas hendra tidak menolak nya karena aku tahu betul siapa mas hendra, dia itu tidak gila dengan kedudukan aku sendiri sudah pernah membicarakan soal jabatan baru untuk nya tapi dia menolak nya mentah-mentah." Kata melani kepada sang paman yang hanya di anggukin oleh paman nya.
" Kalau mas hendra setuju, minggu depan kita adakan rapat direksi untuk pengangkatan mas hendra. Untuk seminggu ini berarti paman harus masih stay di perusahaan belum dapat cuti" Seru melani sambil tersenyum ke arah paman nya.
" Baiklah, kalau ibu Direktur sudah memutuskan seperti itu paman bisa apa" Jawab paman harun dan di sambut tawa bahagia ke dua nya.
Setelah pembicaraan mereka selesai,melani kembali lagi ke ruangan nya. Kebetulan jam makan siang pun sudah tiba, Melani malas makan siang keluar jadi Melani hanya meminta Raya untuk memesankan makanan di kantin kantor saja.
******
__ADS_1
Alhamdulillah sudah up baru lagi kak. Jangan lupa Like, Komen, Vote dan berikan hadiah nya.
Selamat menjalankan ibadah puasa. Terimakasih 🙏🙏🙏