Tak Sanggup Untuk Di Madu

Tak Sanggup Untuk Di Madu
Harus operasi


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹🌹🌹


Nabila sudah di tangani oleh dokter di ruang bersalin, sedangkan ibu marni di temani aina berada di luar ruang bersalin mereka sangat menghawatirkan keadaan nabila. Dimas pun sampai sekarang belum bisa di hubungi, ponsel nya aktif tapi di telpon tidak di angkat.


" Bu, apa dimas sudah di hubungi lagi ? " Tanya aina yang ikut menemani ibu marni menunggu nabila melahirkan.


" Belum An ini tadi ibu sudah coba telepon lagi tapi tidak di angkat juga. Apa dia sibuk tetus ponsel nya dia tarok di ruangan nya, sebentar ibu coba telepon hasni siapa tahu ponsel nya sudah aktif" Ucap ibu marni lalu menekan kontak nomor hasni.


Ternyata ponsel hasni sudah aktif dan tidak menunggu lama hasni mengangkat telepon dari ibu nya.


[ Hallo hasni, kamu kemana aja nak dari tadi ibu menghubungi mu tapi ponsel mu tidak aktif ? Dan mas mu juga ibu hubungi tidak di angkat juga ?]


Ibu marni langsung memberondong hasni dengan beberapa pertanyaan tanpa menununggu hasni mengucapkan salam terlebih dahulu.


[ Maaf bu tadi ponsel hasni habis batrai ini baru selesai hasni cas. Memang nya ada apa bu ? apa ada masalah di rumah?"]


[ Mas mu kemana has ? mbak nabila mau melahirkan ini ibu sudah ada di rumah sakit husada, tapi dimas di telepon tidak di angkat juga ]


[ Hasni kesana sekarang bu ]


[ Iya has ibu tunggu ]


" Bagaimana bu apa hasni mau kesini ? dan dia tahu dimas ada dimana ?" Tanya aina.


" Hasni akan segera kesini Na, tapi dia tidak menjawab saat ibu tanya soal dimas. Mungkin dia buru - buru jadi tidak menjawab nya, semoga saja hasni datang bersama dimas. Ibu sangat menghawatirkan kondisi nabila Na" Seru ibu marni dengan mata yang berkaca - kaca.


Sedangkan di tempat lain dimas saat ini sedang berbaring di swbuah brankar rumah sakit. Dimas sedang beristirahat karena tadi pagi saat berangkat ke cafe dia sempat merasakan nyeri pada dada nya hingga terjatuh dari motor.


Beruntung ada dadang yang melihat karena kejadian tidak jauh dari cafe. Dadang langsung membawa dimas ke klinik terdekat.


" Bang dimas sudah siuman, syukur alhamdulillah. Oh iya bang dari tadi ponsel abang berdering tapi aku tidak mau mengangkat nya. Karena ibu bang dimas dan mbak nabila yang menghubungi, aku bingung mau alasan apa sama mereka sedangkan abang tadi bilang tidak boleh bilang siapa - siapa " Seru dadang sambil menyerahkan ponsel dimas.


" Terimakasih ya dang kamu sudah menolong ku, setelah ini kita ke cafe saja aku sudah baikan kok dang " Seru dimas.


" Tapi bang kata dokter abang harus istirahat dulu tidak boleh capek. Agar jantung abang pulih kembali " Seru dadang.


" Terimakasih atas saran nya dang, nanti biar aku istirahat di cafe saja. Untuk luka ini tidak ada yang parah kok cuma lecet di tangan dikit ini saja. " Ucap dimas.


Tiba - tiba ponsel dimas berdering kembali, namun kali ini aina yang menghubungi dimas. Dimas pun langsung mengangkat telepon dari Aina.


[ Hallo Aina ]

__ADS_1


[ Emhh.. hallo dimas maaf aku menghubungi mu, kalau boleh tahu kamu sekarang ada dimana ?]


[ Aku.. aku.. emhh aku masih belanja bahan - bahan untuk dapur cafe Na. Ada apa ya na ?]


[ Nabila masuk rumah sakit Dim, dari tadi kami sudah menghubungi mu tapi tidak ada jawaban. Kalau bisa kamu segera ke rumah sakit sepertinya nabila mau melahirkan ]


[ Apa ? nabila mau melahirkan ?]


[ Iya, segerala ke rumah sakit husada ]


[ Iya terimakasih Na ]


Dimas pun langsung bergegas dan turun dari ranjang langsung mengajak dadang keluar dari klinik dan menuju ruma sakit.


" Bentar bang aku selesaikan dulu administrasi nya " Seru dadang dan langsung berlari ke kasir klinik membayar biaya pengobatan dimas.


Setelah selesai dadang langsung menghampiri dimas yang sudah menunggu di parkiran klinik.


" Maaf ya dang merepotkan mu, nanti kalau urusan nya sudah beres aku ganti uang mu " Seru dimas dan di angguki oleh dadang.


Motor yang di kendarai dadang melaju dengan kecepatan cukup kencang seperti permintaan dimas. Luka akibat jatuh dari motor sudah tidak di rasakan lagi oleh dimas, yang penting bagi nya saat ini cepat sampai di rumah sakit dan menemani nabila melahirkan. Bahkan kondisi jantung nya sudah tidak di perdulikan lagi.


******


" Bagaimana keadaan nabila bu?" Tanya dimas dengan nafas yang ngos - ngosan karena dia berlari dari parkiran sampai depan ruang bersalin.


" Nabila masih di dalam Dim, kamu darimana saja dari tadi ibu teleponin tapi tidak kamu angkat " Seru ibu marni sedikit kesal.


" Maaf bu tadi ada insiden kecil , dimas jatuh dari motor tapi sudah tidak apa - apa kok hanya lecet dikit di tangan dan kaki " Seru dimas tidak sepenuh nya berbohong padahal awal mula dia jatuh karena jantung nya yang nyeri dan dada sesak untuk bernafas.


Ibu marni langsung memeriksa luka - luka di tangan dan kaki dimas. Ada perban di siku kanan dimas pasti itu luka karena jatuh dari motor .


" Tapi tidak ada luka yang serius kan dim?" Tanya ibu marni menghawatirkan dimas.


" Tidak bu, sudah tidak perlu menghawatirkan dimas sekarang kita berdoa saja semoga nabila dan calon anak ku sehat semua nya. Oh iya bu tapi tama dimana bu ? " Seru dimas.


" Iya Bu sekarang kita doakan saja semoga mbak nabila dan bayi nya sehat - sehat semua. " ucap hasni sepemikiran dengan dimas


" Tama ibu titipkan di rumah bu jujuk, iya kita doakan yang terbaik untuk nabila dan bayi nya " Ucap ibu marni.


Tidak lupa dimas mengucapkan terimakasih kepada aina, berkat aina lah saat ini dia sudah berada di rumah sakit kalau aina tidak menghubungi nya belum tentu dia tahu jika nabila akan melahirkan.

__ADS_1


" Terimakasih ya Na " Seru dimas kepada aina.


Aina hanya mengangguk dan tersenyum , dia juga ikut menghawatirkan keadaan nabila apalagi nabila kondisi kesehatan nya sedang tidak baik - baik saja.


* Semoga nabila sehat dan bayi nya lahir dengan sehat * gumam aina.


" Maaf pak apa bapak suami ibu nabila ?" Tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin.


" Iya dokter saya suami nya , ada apa dengan istri saya ?" Tanya dimas semakin menghawatirkan nabila yang ada di dalam sana.


" Begini pak, keadaan ibu nabila tiba - tiba saja drop , sedangkan pembukaan nya dari tadi tidak nambah juga jadi kami harus melakukan operasi secar, karena ketuban ibu nabila juga sudah pecah. " Ucap dokter memberitahu keadaan nabila.


Dimas pun langsung menyetujui keputusan dokter yang menangani nabila. Setelah mendapat persetujuan dari dimas dan dimas menandatangani berkas persetujuan, nabila langsung di bawa ke ruang operasi untuk melakukan operasi secar.


" Bagaimana keadaan nabila sayang ?" Tanya fadli yang kini sudah ada di ruangan operasi.


" Dokter masih menangani nabila mas, tadi nabila tiba - tiba drop jadi tidak memungkinkan untuk dia lahiran normal, mau tidak mau harus secar demi keselamatan bayi dan ibu nya " Ucap aina .


Justru fadli memperhatikan keadaan dimas yang terlihat seperti orang sakit. Sebagai dokter spesialis jantung fadli tahu jika saat ini jantung dimas sedang tidak baik - baik saja. Terlihat dimas sering memegang dadanya, sambil menghela nafas cukup panjang.


Fadli menghampuri dimas yang duduk seorang diri, sedangkan hasni dan ibu nya duduk agak jauh dari dimas.


" Apa kamu sedang tidak sehat ?" tanya fadli mengagetkan dimas.


Dimas tidak bisa berbohong kepada fadli, bagaimana pun fadli adalah dokter yang sudah menangani sakit jantung nya jadi dia pasti tahu saat ini dimas sedang tidak baik - baik saja, dimas pun hanya menjawab dengan sebuah anggukan pelan.


" Lebih baik kamu ikut ke ruangan ku aku akan memeriksa mu, jangan sampai kamu sakit saat istri mu sedang berjuang melahirkan anak mu. " Seru fadli mvuat dimas mendongak menatap ke arah fadli.


Akhirnya dimas pun mengikuti saran fadli, dia bersedia fadli memeriksa kondisi nya demi anak dan istri nya yang masih berjuang di dalam ruang operasi.


" Bu dimas ke mushola dulu ya, kalau ada apa - apa hubungi dimas " Seru dimas berbohong demi kebaikan agar ibu dan hasni tidak menghawatirkan nya.


" Iya dim " Jawab singkat ibu marni.


Dimas pun pergi memgikuti langkah fadli dari belakang, sebenarnya saat ini fikiran nya tidak tenang. Dia menghawatirkan nabila, takut terjadi sesuatu dengan nabila.


******


Tetap dukung karya author ya kak ❤❤❤


TERIMAKASIH 🙏🙏❤❤

__ADS_1


__ADS_2