
Minggu berganti bulan namun hubungan bimo dan mira tetap renggang bahkan walaupun mereka sudah tinggal satu rumah mereka jarang sekali berbicara, beetemu pun saat sarapan dan makan malam.
Kandungan mira sudah sampai bulan ke sembilan,menurut hitungan dokter sekitar seminggu lagi mira akan melahirkan. Mira menanti kelahiran anak nya dengan penuh harapan cemas, dia takut jika bayi nya lahir bimo akan melakukan tes DNA.
Sebenarnya tanpa mira ketahui bimo sudah melakukan tes DNA kepada bayi yang di kandung mira, dua hari yang lalu saat mengantarkan mira periksa kandungan bimo telah meminta dokter untuk mengetes DNA bayi dalam kandungan mira tanpa sepengetahuan mira. Saat dokter mengambil sampel dokter beralasan jika itu hanya untuk pemeriksaan kesehatan sang bayi.
Hari ini hasil tes DNA itu keluar, bimo berencana akan mengambil hasil tes nya sendiri.
" Mas, menurut dokter seminggu lagi aku akan melahirkan. Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi kita?" Tanya mira dengan senyum mengembang saat mereka sedang sarapan bersama.
" Aku belum menyiapkan nama untuk anak itu lagi pula aku sibuk. Kamu saja yang memberikan dia nama" Jawab bimo dengan nada ketus.
Mira mendengus kesal, dia sangat geram dengan perlakuan bimo kepada nya. Seolah bimo menganggap mira bukanlah istri ny. Segala macam cara sudah mira lakukan untuk memperbaiki hubungan nya dengan bimo. Namun bimo tetap saja dingin dengan nya.
" Aku berangkat!" Seru bimo menyudahi sarapan nya dan langsung pergi meninggalkan mira.
* Aku tidak akan melepaskan mas bimo begitu saja, jika anak ini tidak bisa aku pergunakan untuk mengambil hati nya lagi aku akan gunakan cara lain untuk menaklukkan lagi hati mas bimo * Batin mira sambil menatap kepergian bimo yang semakin menjauh.
Mobil yang di kendarai bimo sudah sampai di rumah sakit, bimo pun langsung menuju ruangan dokter.
" Pak bimo ini hasil dari tes yang bapak minta" Ucap dokter sambil memberikan amplop putih berlogo rumah sakit kepada bimo.
Dengan penuh penasaran bimo langsung mengambil amplop putih yang di berikan oleh dokter Sigit. Dengan tangan gemetar bimo pun membuka amplop itu.
Deg..
Jantung bimo seakan berhenti berdetak saat membaca hasil yang tertulis di kertas putih itu.
" Jadi benar anak itu bukan anak ku" Gumam bimo pelan namun dokter sigit masih bisa mendengar nya.
" Dari hasil tes itu 99 % anak itu bukan anak pak bimo, semoga pak bimo kuat dengan kenyataan ini" Seru dokter sigit menguatkan bimo.
" Iya dok terimakasih" Jawab singkat bimo.
Dengan langkah lunglai bimo keluar dari ruangan dokter sigit, bimo pun duduk di kursi lorong rumah sakit dengan perasaan yang tidak menentu. Pasal nya saat mengantarkan mira periksa kandungan dua hari yang lalu, bimo melihat pergerakan bayi dalam layar USG dan mendengarkan langsung detak jantung bayi. Saat itu lah hati bimo tergerak untuk memiliki bayi itu dan ingin menjadi ayah yang baik untuk nya, bimo sudah jatuh cinta dengan bayi dalam kandungan mira.
Namun siapa sangka jika bayi itu kenyataan nya bukanlah anak nya. Bimo sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi.
" Apa yang harus aku lakukan, anak itu ternyata memang bukan anak ku. Tapi aku juga ingin memiliki nya, andai anak itu darah daging ku mungkin aku bisa untuk mengambil hak asuh nya saat aku menceraikan mira" Seru bimo sambil menjambak rambut nya.
__ADS_1
Dan saat yang bersamaan fadli pun datang menghampiri bimo yang sedang terlihat kacau.
" Pak bimo" Panggil fadli mengagetkan bimo.
" Dokter fadli" Seru bimo.
Fadli lalu duduk di samping bimo dan menepuk pundak bimo dengan pelan.
" Siapa yang sakit pak, sehingga pak bimo ada di sini?" Tanya fadli mencari tahu.
Bimo menggeleng dan tanpa basa-basi bimo memberikan amplop yang sedari tadi bimo pegang kepada fadli.
Fadli pun tidak tahu apa maksud bimo memberikan amplop kepada nya, namun saat membaca bagian depan amplop putih itu fadli tahu maksud bimo. Fadli pun dengan segera membuka amplop putih itu dan membaca isi dalam amplop.
" Ini hasil tes DNA milik pak bimo dengan anak pak bimo?." Tanya fadli memperjelas kembali.
" Iya dok, ternyata selama ini mira sudah membohongi ku. Dia hamil dengan laki - laki lain, tapi betapa bodoh nya aku selama ini hanya diam dengan kebohongan mira. Seharus nya aku mencari tahu semua kebenaran ini dari dulu" Ucap bimo menyalahkan diri nya sendiri.
" Bimo, kamu jangan seperti ini. Walaupun anak itu bukan darah daging mu, setidak nya kamu masih bisa menyayangi nya dan memiliki nya. Tetap sayangi anak dan istri mu,Mira" Ucap fadli dengan memanggil bimo tanpa sebutan pak.
Bimo hanya tersenyum menanggapi ucapan fadli, dia tidak mungkin cerita kalau dia akan menceraikan mira setelah mira melahirkan. Bimo tidak mau semakin mempermalukan dirinya sendiri di hadapan fadli, cukup kebohongan mira yang mempeemalukan nya saat itu.
*******
Sampai di rumah sakit mira langsung di ruangan bersalin dan di tangani oleh dokter. Bimo tidak mau menemani mira di dalam ruang bersalin, hanya bi atun yang menemani mira.
" Pak bimo tidak mau masuk untuk menemani sang istri melahirkan?" Tanya dokter ayu.
" Tidak dok, saya tidak bisa melihat darah sata phobia darah" Ucap bimo beralasan.
Dokter ayu mengangguk, dia paham dengan seseorang yang menderita phobia. Kalau di paksakan justru akan berakibat fatal untuk si penderita.
Ooeek Ooeekk Ooeekk
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin.
" Apa itu tangisan bayi yang mira lahirkan?" Tanya bimo pada diri nya sendiri.
Dokter ayu pun keluar dari ruang bersalin dan menghampiri bimo.
__ADS_1
" Selamat ya pak, bayi bapak lahir dengan selamat bayi nya perempuan dia cantik seperti ibu nya. Ibu mira juga keadaan nya baik" Ucap dokter ayu memberitahu bimo.
" Terimakasih dokter" Jawab bimo.
Dokter ayu pun mengangguk dengan senyum ramah nya, tidak lama suster keluar dari ruang bersalin membawa bayi yang baru saja mira lahirkan untuk di bersihkan.
Kini mira sudah di pindahkan ke ruang rawat, bimo pun masuk ke dalam ruang rawat mira.
" Bagaimana keadaan nya bik?" Tanya bimo kepada bi atun yang setia menunggu mira.
" Nyonya baik-baik saja tuan, baru saja tertidur. Tadi nyonya menanyakan tuan" Ucap bik atun.
" Bibik sekarang boleh pulang, biar mira saya yang jaga. Ini uang untuk bibik naik taksi" Ucap bimo sambil menyerahkan dua lembar uang merah kepada bi atun.
" Terimakasih tuan, kalau begitu saya permisi" Seru bi atun pamit.
Sepeninggalan bik atun, bimo tetap berdiri di samping ranjang mira dengan tatapan yang sulit di artikan. Hati bimo saat ini benar-benar sedang tidak baik.
" Kamu istirahat lah" Seru bimo saat melihat mira terbangun.
" Anak kita mana mas?" Tanya bimo.
" Dia masih ada di ruangan bayi sebentar lagi suster akan membawa nya kesini" Seru bimo.
Benar saja selesai bimo bicara suster masuk dengan mendorong box bayi yang di dalam nya ada bayi mira.
" Tuan, Nyonya ini bayi nya. Pak bayi nya tadi belum di adzanin sekarang silahkan di adzanin" Ucap suster sambil memberikan bayi kepada bimo.
Tanpa ragu lagi bimo pun mengambil bayi yang di berikan oleh suster, bimo memandangi bayi mungil cantik itu dengan senyum mengembang. Bimo pun mengadzani bayi mungil itu dengan rasa bahagia.
********
🌹🌹🌹🌹 SELAMAT MEMBACA 🌹🌹🌹🌹
Akhirnya mira melahirkan juga, tunggu kisah mira dan bimo selanjut nya ya ❤❤
Jangan lupa tetap berikan dukungan nya untuk karya AUTHOR 🙏❤
TERIMAKASIH 🙏❤❤
__ADS_1