Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Perhatian Jimmy


__ADS_3

"Kau?", kata Nina kaget.


Nina celangak-celinguk seakan mencari sesuatu.


"Kamu sama siapa?", tanya Nina.


"Apa aku terlihat bersama orang lain di sini?", tanya pria tersebut.


"Aahh sudahlah lupakan, ada apa kemari?apa ada urusan kantor yang belum aku selesaikan?", tanya Nina beruntun.


"Apa aku tidak di suruh masuk dulu gitu?", tanya si pria.


"Oh iya, yuk masuk", kata Nina mempersilakan masuk.


"Maaf tadi kamu seperti mencari sesuatu, cari apa?", tanya sang pria.


"Gak ada kak, cuma pengen mastiin apa kak Jimmy datang sendirian atau ada yang bersama kak Jimmy, gitu",jelas Nina sedikit berbohong pada pria itu yang ternyata adalah Jimmy bosnya Nina.


"Apa aku terlihat seperti seorang maling?", tanya Jimmy pada Nina.


"Sudahlah lupakan saja, kita bicara yang lain saja, ada apa kak Jimmy datang malam-malam kemari?", tanya Nina.


"Apa kedatanganku mengganggumu?",Jimmy balik bertanya.


"Hmm maaf kak, nggak koq yuk masuk", kata Nina pada Jimmy yang notabene sebagai bosnya di kantor.


"Tadi aku kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir kemari", kata Jimmy setelah duduk di kursi tamu.


"Ohh kirain ada apa", kata Nina sambil tersenyum.


Jimmy terpaku melihat Nina tersenyum.


"Kak koq bengong, ada apa?", tanya Nina mengagetkan Jimmy.


"Hmm senang aja kalau lihat kamu lagi senyum", kata Jimmy tanpa ragu.


"Iihh kak Jimmy bisa aja, aku ke belakang dulu ya ambil minum dulu", kata Nina seraya bangun dari tempat duduknya.


"Gak usah repot, aku gak lama", kata Jimmy tak mau merepotkan Nina.


"Gak papa kak, kamu ke sini kan gak tiap hari", kata Nina kemudian menuju dapur untuk mengambil minum.


Nina datang membawa secangkir teh dan cemilannya.


"Di minum kak", Nina menyuruh Jimmy untuk menikmati teh buatannya.


"Iya ma kasih ya", kata Jimmy sembari menyeruput teh tersebut.


"Jadi kalian cuma tinggal bertiga ya di rumah ini?",tanya Jimmy.


"Iya kak", jawab Nina.


"Kalau boleh tahu, setelah ayah kamu meninggal kamu kuliah biaya dari mana?", tanya Jimmy sedikit menjurus ke pada urusan pribadi.


Seketika wajah Nina berubah muram. Ada kesedihan di sana.


"Maaf kalau pertanyaanku membuat kamu sedih", kata Jimmy menyesal.


"Tidak apa-apa kak. Setelah ayah meninggal ibu yang menjadi tulang punggung, tapi lama-lama aku kasihan melihat ibu yang semakin hari kesehatannya mulai menurun. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari kerja. Walau awalnya ibu sempat menentang keputusanku, tapi aku bisa membagi waktuku antara kerja dan kuliah. Dan alhamdulilah aku bisa menyelesaikan kuliahku tepat waktu", kata Nina panjang lebar.

__ADS_1


"Gadis tangguh", puji Jimmy.


Nina tersenyum getir.


"Aku selalu bersyukur dengan segala keadaan, walau ayah sudah tidak ada tapi aku masih punya ibu yang kuat dan sabar", kata Nina mulai merasakan panas di matanya.


Jimmy melihat perubahan di wajah Nina.


"Maaf kalau aku mengingatkan kamu tentang almarhum ayahmu", kata Nina.


"Gimana kalau kita keluar sebentar untuk sekedar makan, mau?", tanya Jimmy sambil tersenyum memandang Nina.


"Tapi kan udah malam kak", tolak Nina halus.


"Yang bilang siang siapa, memang sekarang udah malam, mau ya?", kata Jimmy lagi.mengulang pertanyaannya.


"Aku bilang ibu dulu ya", pinta Nina.


Jimmy mengangguk. Nina masuk ke dalam mencari keberadaan ibunya. Tak lama Nina kelaur lagi.


"Gimana?", tanya Jimmy tak sabar.


Nina tersenyum dan mengangguk.Jimmy langsung menarik tangan Nina.


"Yuukk", kata Jimmy.


"Eehh tunggu", kata Nina sambil melepaskan tangannya dari pegangan Jimmy.


"Kenapa?", tanya Jimmy tak mengerti.


"Aku pakai baju ala rumahan gini gak papa ya?", tanya Nina.


"Bisa aja", kata Nina.


"Iya serius, yuuk ahh nanti keburu tutup tempat makannya", kata Jimmy sambil melangkah keluar. Nina mengekor di belakang Jimmy. Jimmy mengajak Nina makan di salah satu tempat makan favoritnya.


"Mau pesan apa?", tanya Jimmy setelah mereka duduk di kursi.


"Apa aja deh, yang penting kamu yang bayarin", canda Nina santai.


"Takut amat bayarin aku, tenang aja aku yang ajak tentunya aku yang bayar", sambut Jimmy dengan candaannya.


"Iya iyalah masa bos minta bayarin sama sekretarisnya", kata Nina santai. Jimmy mengucek pucuk kepala Nina. Jimmy memesan makanan sama untuk mereka berdua. Mereka menikmati makan mereka.


Keduanya bercanda tanpa ada kata sungkan. Mereka tidak terlihat seperti bos dan bawahan. Mereka layaknya seperti seorang sahabat. Mereka bercanda, tertawa dan cerita satu sama lain.


"Nin kapan-kapan kita nonton yuk, kalau sekarang kan udah malam, nanti ibu kamu marah kalau pulang terlalu malam, lain malam aja, kalau siang kan gak sempat, oh atau minggu siang, bisa gak?", tanya Jimmy.


Nina yang memang hobi nonton film langsung menerima ajakan Jimmy.


"Serius ni kak?aku suka banget nonton, mau dong", kata Nina sedikit manja.


"Oke hari Minggu kita nonton, aku jemput, dandan yang cantik", kata Jimmy enteng.


"Dandan? untuk siapa juga aku dandan?lagian aku gak pinter dandan", kata Nina .


"Serius amat jadi orang, cuma bercanda, kamu walau gak dandan tetap cantik koq", puji Jimny.


"Kak Jimmy bisa aja", kata Nina salah tingkah.

__ADS_1


"Pakai apa aja deh yang penting jangan baju tidur", kata Jimmy santai.


"Ishh suka banget sih ngeledekin orang", kata Nina.


Jimmy tertawa melihat muka Nina yang cemberut.


"Udah jangan cemberut, muka kamu jelek kalau di tekuk gitu", kata Jimmy.


"Kak Jimmy juga sih, senang banget ledekin orang", kata Nina.


"Iya deh maaf", kata Jimmy.


Setelah selesai makan Jimmy minta dua porsi untuk di bungkus pada pelayan.


"Untuk apa?",tanya Nina.


"Untuk adik ipar dan calon mertua", kata Jimmy enteng.


"Oohh", kata Nina polos. Nina tak tahu kalau yang di maksud Jimmy adalah adik dan ibunya.


Jimmy tersenyum penuh arti. Tapi Nina bersikap biasa saja. Sedikitpun tidak melihat kejanggalan dari sikap Jimmy. Perhatian yang di tunjukkan Jimmy tak di anggapnya serius.


"Yukk", ajak Jimmy pada Nina.


Mereka pulang. Jimmy mengantarkan Nina pulang ke rumahnya.


"Ini bawa", kata Jimmy memberikan bungkusan yang tadi di belinya.


"Lho katanya tadi untuk..", Nina belum selesai ngomong tapi sudah di potong Jimmy.


"Minggu jangan lupa ya, aku jemput", kata Jimmy kemudian pergi meninggalkan Nina yang terlihat bengong.


"Orang aneh", kata Nina seraya melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Del buka pintunya", kata Nina dari luar.


" Bentar", suara Adel dari dalam.


Adel membukakan pintu. Nina masuk. Adel mengunci kembali pintunya.


"Ibu sudah tidur ya?", tanya Nina pada Adel adiknya.


"Iya udah dari tadi", jawab Adel.


"Oh ya sudah, ini ada makanan, simpan satunya buat ibu", kata Nina.


"Kak Jimmy baik banget ya kak", kata Adel.


"Tadinya itu buat calon mertuanya dan calon adik iparnya tapi gak jadi, di kasihnya buat kamu aja", kata Nina sembari duduk di kursi tamu.


"Jangan-jangan yang di maksud kak Jimmy itu adalah ibu dan aku", tebak Adel.


"Apa?", kata Nina lantang.


Bersambung....


Tolong vote, komen dan likenya ya...


Jangan lupa mampir juga ke karyaku lainnya:

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2