Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Hal yang memalukan


__ADS_3

Sore itu Adel pergi ke sebuah minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Ia ingin membeli beberapa keperluan dapur. Beberapa makanan dan bumbu dapur instan dia ambil. Biasanya sang kakak yang melakukan ini. Sejak Nina menikah, Adel mengambil alih semuanya. Ibunya belanja sayuran paling dengan tukang sayur yang lewat depan rumah mereka.


Setelah merasa cukup, Adel membayar belanjaannya ke kasir. Saat menuju kasir Adel berpapasan dengan Kevin yang juga belanja di tempat itu.


"Hei belanja juga?", sapa Kevin.


"Iya nih, belanja keperluan dapur. Belajar jadi seorang ibu", seloroh Adel sambil terkekeh.


"Sudah selesai?", tanya Kevin lagi.


"Iya ini mau ke kasir", kata Adel.


"Ohh, nanti jangan pulang dulu ya tunggu aku di depan, aku mau ambil barang belanjaan dulu", kata Kevin sambil berlalu.


"Kev..", Adel bermaksud berbicara lagi tapi Kevin sudah berlalu dari hadapannya.


Adel menghela nafasnya. Adel menuju kasir dan membayar barang belanjaannya. Sesuai permintaan Kevin, Adel menunggu Kevin di depan di luar minimarket.


Tak lama Kevin sudah berada di dekat Adel.


"Koq kamu ada di minimarket ini?", tanya Kevin penasaran.


"Biasa nyari kebutuhan perut", jawab Adel ringan.


"Emangnya rumah kamu dekat sini?",tanya Kevin lagi-lagi penasaran.


"Iya dekatkoq gak jauh, kamu kenapa ada di sini?", tanya Adel pada Kevin.


"Tadi dari rumah teman, biasa cara bujangan", kata Kevin sambil senyum-senyum.


"Kamu ke sini naik apa?", tanya Kevin karena di lihatnya Adel tidak membawa kendaraan.


"Jalan, kan rumahku dekat sini", kata Adel enteng.


"Ini kamu mau kemana lagi?", tanya Kevin kepo.


"Pulang dong tentunya, kamu mau kemana?", kata Adel.


"Sebenarnya sih pulang juga tapi gimana kalau kamu ku antar pulang?sekalian biar tahu rumah kamu", pinta Kevin.


Adel mengeryitkan dahinya.


"Aku itu orangnya baik hati, suka menolong dan murah senyum, jadi jangan salah paham", kata Kevin santai.


"Iya udah deh kalau gitu", kata Adel.


"Yuuk", kata Kevin sambil berjalan menuju mogenya.


Adel nangkring di belakang Kevin. Kevin memutar motornya dengan sedikit kencang. Tiba-tiba ada mobil yang mau masuk ke area minimarket. Kevin kaget karena mobil itu jg dengan kecepatan agak tinggi. Kevin mengerem motornya secara mendadak. Adel kaget. Karena tidak siap Adel tak sengaja memeluk tubuh Kevin dari belakang. Kevin merasakan buah kenyal Adel menyentuh area tubuh bagian belakangnya. Darah Kevin berdesir. Kevin merasa kaget dengan situasi yang di hadapinya.


Kevin melihat ke arah belakang.


"Kamu tidak apa-apa?", kata Kevin pada Adel yang wajahnya terlihat pucat.

__ADS_1


Adel cuma menggelengkan kepalanya. Kevin turun dari motornya dan menuju mobil yang ada di hadapannya.


"Eh mas bro, kalau mau balapan jangan di sini dong, sono di sirkuit sana, sembarangan luh, ini jalan bukan milik elu doang", kata Kevin setelah sang pemilik mobil membuka kaca mobilnya.


"Iya mas maaf buru-buru soalnya", kata sang pemilik mobil.


"Untung elu minta maaf, kalau tidak ku buat peyek muka elu", kata Kevin kesal.


"Iya mas maaf", kata sang pengendara mobil tersebut merasa bersalah.


Kevin dengan wajah masih merah padam kembali ke motornya. Di lihatnya Adel masih diam seribu bahasa.


"Maaf ya", cuma kata itu yang keluar dari mulut Kevin pada Adel.


Adel hanya diam. Dia sepertinya syok sekali. Kevin memundurkan motornya sedikit baru keluar dari area minimarket tersebut.


"Kanan", kata Adel singkat pada Kevin.


Kevin mengarahkan mogenya sesuai perintah Adel.


"Belok kiri", kata Adel dari belakang.


Kevin melajukan lagi kendaraannya. Lima menit kemudian Adel kembali bersuara.


"Stop",


Kevin menghentikan motornya. Adel turun dari motor Kevin.


"Boleh aku masuk?", pinta Kevin.


Adel diam sejenak sambil memandang tepat di bola matanya Kevin.


"Mari", kata Adel singkat.


Kevin memarkirkan motornya dan mengikuti langkah Adel.


"Ehh udah pulang", sambut sang ibu.


"Iya bu, tadi Adel bertemu dengan teman Adel di sana, dia ngantar Adel pulang", kata Adel seraya menoleh ke arah Kevin.


Kevin mengangguk hormat pada ibu Adel.


"Mari masuk dulu nak, biar ibu buatkan teh dulu", kata ibunya Adel.


"Iya bu ma kasih", jawab Kevin sambil menoleh ke arah Adel.


Adel memberi isyarat pada Kevin untuk masuk. Adel melangkahkan kakinyaasuknke dalam rumahnya. Sang ibu menuju dapurnya.


"Duduk dulu ya, aku mau ngantar belanjaannya dulu ke belakang", kata Adel sambil berlalu.


Kevin duduk di kursi ruang tamu tersebut. Tak lama Adel sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir teh.


"Minum dulu biar rileks", kata Adel masih dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Ma kasih ya", kata Kevin sambil menyeruput teh hangat yang di bawakan oleh Adel.


"Del, maafkan yang tadi ya, sungguh aku tidak sengaja", kata Kevin sambil matanya melirik ke arah dada Adel.


"Bilang aja cari kesempatan", kata Adel sambil menunduk malu.


"Kamu kan tahu sendiri kejadiannya, aku tak sekotor itu Del", kata Kevin.


"Serius amat, sudah lupakan saja. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Jujur tadi sempat syok banget, tapi masih harus tetap bersyukur kita tidak kenapa-kenapa", kata Adel perlahan mencair.


"Syukurlah kamu tidak marah, aku benar-benar takut tadi kamu akan marah besar padaku", kata Kevin jujur.


"Aku kalau marah bukan gitu, aku akan ngamuk nuntut minta kawin sama kamu, puas!", kata Adel mulai beraksi.


"Mau banget", kata Kevin refleks sambil tertawa


"Iihh", kata Adel cemberut.


"Iya udah aku pulang dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi", kata Kevin menghabiskan tehnya, kemudian berpamitan pada Adel.


Adel masuk ke dalam kamarnya setelah Kevin pergi menghilang dari pandangannya. Adel duduk di depan meja riasnya. Ia tak sengaja memandang ke arah dadanya yang membusung indah.


Adel menutup wajahnya membayangkan kejadian tadi. Bagaimana tidak, dadanya tadi menempel sempurna di tubuh Kevin.


"Oohh memalukan sekali", batin Adel masih dengan menutup wajahnya.


Berkali-kali Adel mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Rasanya dia tidak mau lagi bertemu dengan Kevin. Kejadian memalukan itu membuatnya kehilangan muka di hadapan Kevin.


Adel mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi. Adel mengguyur tubuhnya dengan air. Terasa sejuk. Adel melupakan sejenak kejadian yang tadi di alaminya.


Adel melakukan ritual mandinya. Cukup lama dia berada di kamar mandi. Sampai suara sang ibu menyadarkannya.


"Del, Adel", panggil sang ibu.


"Iya bu Adel lagi mandi", sahut Adel dari kamar mandi.


Mendengar jawaban dari si bungsu, ibunya kembali ke belakang dan menyiapkan makan malam mereka.


Rumah itu terlihat hening. Adel lah yang membuatnya selalu cerah. Adel selalu tampak ceria. Membuat suasana rumah nampak ikut berseri. Sang ibu sangat menyayangi Adel. Apalagi sejak Nina menikah cuma Adel yang ada di sisinya.


.


.


.


Selamat membaca ya....


Jangan lupa like, komen dan kasih votenya ya.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2