Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Hamil


__ADS_3

Jimmy pulang dari kantor. Seperti halnya pengantin baru pada umumnya, yang pertama di cari ketika pulang adalah sang isteri. Jimmy mencari keberadaan Nina. Jimmy masuk ke dalam kamar tapi tak menemukan Nina. Jimmy menuju teras belakang rumahnya dan di lihatnya di sana Nina sedang membersihkan halaman belakang rumahnya.


"Sayang kamu lagi ngapain?", tanya Jimmy.


"Ini loh Bang, tanah belakang ini kan masih luas, gimana kalau kita tanam jenis buah-buahan?di samping bisa untuk penghijauan, kita juga bisa menikmati buahnya nanti, gimana?setuju gak?", tanya Nina semangat.


"Emangnya mau nanam apa?", tanya Jimmy seraya mendekat ke arah Nina.


"Yang gampang berbuah aja, seperti mangga, rambutan, pisang, dan jambu, oh iya satu lagi sirsak. Pasti menyenangkan kalau udah berbuah, gimana?", tanya Nina.


"Terserah kamu sajalah, nanti abang pesanin bibit unggul di teman Abang, dia ahli pembibitan", kata Jimmy.


"Suami yang baik, oke kita akan mulai besok dengan memesan bibit terlebih dahulu", kata Nina semangat.


"Iya udah sekarang kita masuk, Abang laper nih", kata Jimmy seraya memegang perutnya.


Jimmy dan Nina masuk ke dalam rumah. Nina meminta ijin untuk mandi sebentar. Nina merasa gerah setelah membersihkan area belakang rumahnya tadi. Jimmy mengiyakan. Tak butuh waktu lama Nina sudah selesai dengan ritual mandinya.


"Bentar amat mandinya", celetuk Jimmy.


"Tadi udah mandi, cuma setelah bersihin belakang rumah tadi rasanya gerah banget", jawab Nina yang sudah berganti pakaian.


Nina meninggalkan Jimmy di kamar menuju dapur. Nina menyiapkan makan siang buat suami tercinta. Setelah semua siap barulah Nina memanggil sang suami.


"Yuk Bang makannya udah siap", ajak Nina pada Jimmy suaminya.


"Ayo, udah pada misscall nih tentara di dalam", canda Jimmy.


"Abang ahh bisa aja", kata Nina seraya menggandeng tangan Jimmy.


Keduanya tertawa seraya menuju meja makan.


"Ini kamu semua yang siapin?", tanya Jimmy setelah duduk di kursi makan.


"Menurut Abang siapa?", tanya Nina balik.


Nina mengambilkan nasi buat sang suami.


"Feeling aku sih istri Abanglah, kalau begini abang gak salah pilih dong, udah cantik, baik, pintar, pandai masak lagi. Paket komplit dah pokoknya", puji Jimmy.


Nina hanya tersenyum mendengar pujian suaminya.


"Jangan kebanyakan mujinya entar aku terbang gak bisa balik lagi ke bawah", ujar Nina.


"Kamu memang pandai dalam segala hal", puji Jimmy lagi.


"Udah ahh gombal mulu, yuk kita makan", ajak Nina.


Jimmy tersenyum. Jimmy mulai menyantap hidangan yang di buat oleh Nina isterinya. Jimmy makan dengan lahapnya. Di samping memang lapar di tambah masakan Nina yang memang lezat, menambah selera makannya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan ritual makannya, keduanya menuju ruang keluarga dan bersantai sambil menikmati siaran televisi.


"Bang aku boleh nanya gak?", tanya Nina.


"Mau tanya apa?", Jimmy balik bertanya.


"Apa Abang tak akan pernah meninggalkan aku?", tanya Nina hati-hati.


"Nanyanya koq gitu, apa aku tidak terlihat serius dengan semua ini?", Jimmy balik bertanya.


"Sebenarnya aku masih sanksi bang, orang tua kamu masih menjodohkan kamu dengan Prili, aku takut nantinya kamu akan meninggalkan aku dan kembali ke Prili",kata Nina sedih.


"Sudahlah jangan di bahas lagi, aku malas bahas itu-itu lagi", kata Jimmy.


Jimmy menarik Nina ke dalam pelukannya. Tiba-tiba Nina merasa mual mencium aroma tubuh Jimmy.


Uweekkk...


Nina mendorong tubuh Jimmy ke samping.


"Aduh, kamu kenapa sih sayang?main dorong aja", tanya Jimmy tak mengerti menerima perlakuan isterinya.


"Bang mandi sana gih, ganti baju. Cium aroma kamu aku jadi mual", kata Nina.


Jimmy refleks mencium tubuhnya.


"Masih wangi, salahnya dimana?", tanya Jimmy bingung.


Nina kembali mual, kali ini Nina berlari menuju dapur. Jimmy melongo. Jimmy tak mengerti apa yang sedang terjadi. Jimmy cepat menyusul isterinya ke belakang.


Di dapur Nina memuntahkan semua isi perutnya. Tubuh Nina terasa sangat lemas. Jimmy datang menghampirinya.


"Kamu kenapa sih sayang, kamu sakit ya?", tanya Jimmy tak mengerti.


Nina tak menjawab, tangannya di kibas-kibaskannya ke arah Jimmy. Memberi tanda agar Jimmy menjauh darinya. Jimmy yang niat awalnya ingin membantu sang isteri, terpaksa menjauh.


"Mandi Bang, setelah itu ganti baju", kata Nina masih di westafel dengan posisi masih membelakangi Jimmy.


Mendengar itu Jimmy langsung menuju kamar mereka dan mandi. Setelah selesai mandi, Jimmy mendekati sang isteri yang kini sudah berbaring di ranjang mereka.


"Gimana?", tanya Jimmy sambil pelan-pelan mendekati sang isteri.


"Iya udah wangi", kata Nina sambil memegang kepala yang sedikit pusing.


"Kita ke dokter sekarang, aku tak mau kamu sakit", kata Jimmy seraya duduk di samping Nina.


"Aku gak apa-apa Bang", bantah Nina.


"Ayolah jangan membantah", kata Jimmy seraya mengangkat tubuh Nina menuju mobil mereka.

__ADS_1


"Bang, aku kan..", kata-kata Nina terhenti karena Jimmy memotong kalimatnya.


"Sudah, cukup diam itu akan membuatmu lebih rileks", kata Jimmy cepat.


Nina tak berbicara lagi, di samping kepala terasa pusing, tubuhnya juga terasa lemas akibat mengalami muntah tadi.


Jimmy memasukkan Nina ke dalam mobilnya. Jimmy mengambil dompet dan ponselnya. Lalu mengunci pintu rumahnya.


Sepanjang perjalanan mereka tak ada yang bicara. Keduanya diam seribu bahasa. Jimmy lebih fokus dengan mobil yang di kendarainya. Sedangkan Nina berusaha untuk menetralkan keadaan tubuhnya yang terasa lemas.


Setelah sampai di tempat dokter, Nina langsung mendapat penanganan dari sang dokter. Setelah beberapa menit dokter tersebut selesai dengan pemeriksaannya.


Nina dan Jimmy menunggu hasil dari pemeriksaan yang tadi di lakukan dokter.


"Gimana dok?isteri saya sakit apa dok?",tanya Jimmy tak sabar.


Dokter tersebut malah tersenyum.


"Isterinya gak sakit pak, selamat ya bapak akan menjadi seorang ayah", kata dokter tersebut sambil tersenyum.


Jimmy seakan tak percaya dengan pendengarnya. Jimmy mengulang pertanyaannya.


"Benar nih dok isteriku tidak sakit?", tanya Jimmy masih tak percaya.


"Iya, isteri bapak sekarang lagi hamil. Trimester pertama memang wanita hamil mengalami yang namanya mual, muntah dan pusing. Tapi tergantung hormonnya juga, separuh wanita ada yang gejalanya berbeda. Jadi bapak harus menjaga kandungan isteri bapak. Jaga emosinya dan kalau bisa buat dia selalu bahagia, biar dia lebih rileks menjalani masa kehamilannya", jelas sang dokter.


"Baik dok, terima kasih", jawab Jimmy.


"Ini saya kasih vitamin dan obat untuk mengurang rasa mualnya, aturan pakainya tolong di perhatikan ya pak", kata sang dokter seraya menyodorkan resep obat kepada Jimmy.


"Baik dok, terima kasih banyak dok", kata Jimmy pada dokter tersebut.


"Iya sama-sama", jawab sang dokter.


Jimmy menggandeng tangan Nina dan menuju mobilnya. Setelah memastikan Nina tidak apa-apa, akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat dokter tersebut. Dan kemali ke rumah mereka.


.


.


.


.


Selamat membaca ya readers.....


jangan lupa like, komen dan votenya ya....


mampir juga ke karya ku yang lain;

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2