
Semenjak Jimmy memintanya untuk tidak membahas Prili lagi, Nina lebih fokus pada pekerjaannya. Ia tidak ingin Jimmy tambah membenci Prili bila ia mengungkit masalah yang terjadi.
Akhirnya Nina tak mau lagi menyebut dan menyinggung masalah yang pernah terjadi atau pun sekedar menanyakan kabar Prili. Baginya keluarganya lebih penting dari pada mengurus masalah yang sudah lewat.
Melihat Nina lebih fokus pada pekerjaannya membuat Jimmy merasa terabaikan. Jimmy merasakan Nina tak fokus lagi pada rumah tangga mereka. Hingga pada suatu hari Jimmy membahas masalah tersebut di meja makan.
Saat makan berlangsung, Jimmy buka suara.
"Sepertinya kamu sangat berbakat kalau urusan kerja. Banyak kemajuan dalam usaha kita. Aku bangga akan ide-ide cemerlang kamu. Tapi kalau abang boleh meminta, bisakah kamu juga bisa berperan baik di rumah ini?", Jimmy mencoba mencari kata-kata yang pas agar Nina tidak tersinggung.
"Apa maksud abang? sebagai isteri aku tetap memberi pelayanan pada abang. Cuma memang mungkin karena dalam keadaan hamil jadi mudah capek",jawab Nina.
"Jangan kehamilan kamu buat jadi alasan", kata Jimmy.
"Bang, kamu bisa lihat kan hamilku sudah sebesar ini, aku bukan tidak peduli sama kamu tapi aku capek bang. Aku tidak melupakan kewajibanku sebagai isteri. Aku masih memberikan pelayananku pada abang termasuk urusan kasur. Tapi iya terkadang aku tak bisa menahan kantuk yang menyerangku tapi itu bukan berarti aku tak mau atau tak peduli pada abang. Aku capek bang", jelas Nina.
"Baiklah aku memakluminya tapi jika Marsel kembali lagi kerja nanti abang tak ingin mendengar alasan apapun lagi dari kamu", kata Jimmy seraya mempercepat makannya.
Jimmy meninggalkan meja makan tanpa bicara apapun pada Nina. Nina mengerjapkan matanya. Menurut Nina Jimmy terlalu berlebihan. Tak biasanya Jimmy berbicara seperti itu padanya.
Nina menyelesaikan makannya. Setelah itu mereka berdua berangkat ke kantor. Tak ada yang bicara. Keduanya diam membisu. Keduanya mengikuti alur pikiran masing-masing. Sampai tiba di kantor pun mereka tak ada yang buka suara. Mereka berpisah di simpang jalan. Nina menuju ruangannya dan Jimmy menuju ruangannya.
Melihat bosnya datang Marsya cepat tegak dan menyapa bigbossnya tersebut.
"Pagi pak", ucap Marsya hormat.
Tak ada jawaban atau sekedar sedikit senyum dari bibir bigbossya tersebut. Jimmy berlalu begitu saja.
"Kenapa dia?tak biasanya bos seperti itu", batin Marsya.
Marsya kembali duduk di kursinya. Baru saja Marsya duduk, telepon di meja kerjanya berdering. Marsya cepat mengangkat telepon tersebut.
"Ke ruangan saya sekarang", suara Jimmy di telepon.
"Baik pak", jawab Marsya.
Marsya menuju ruangan Jimmy.
"Hari ini ada jadwal meeting gak?", tanya Jimmy pada Marsya.
"Ada pak tapi kliennya minta agak sore karena pagi sampai siang beliau masih ada urusan, gitu pak", jawab Marsya.
"Ohh gitu. Iya udah kalau gitu kamu boleh keluar", kata Jimmy.
"Permisi pak",
Marsya keluar dari ruangan Jimmy dan kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Jimmy kembali berkutat dengan laptopnya.
Sementara itu Nina tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Bawaan Jimmy yang hanya diam membuat Nina harus berpikir keras.
"Salahku dimana coba?", gumam Nina.
__ADS_1
"Perasaan semua kemauannya sudah ku turuti. Dia ingin aku kerja disini aku tidak menolak. Dia ingin aku tidak membahas lagi tentang Prili juga aku turuti. Aku tidak datang lagi ke toko juga sudah aku turuti. Semua yang di larangnya aku turuti. Trus salahku di mana coba?", Nina berbicara sendiri.
Nina mencoba mencari sesuatu yang membuat Jimmy seperti itu tapi Nina tetap tidak bisa menemukan kesalahannya yang membuat Jimmy suaminya sepertinya sangat kesal terhadapnya.
"Apa aku ke ruangannya saja ya?kali aja bisa membuat moodnya kembali membaik", Nina kembali bergumam.
Nina keluar dari ruangannya. Ia menuju ruangan Jimmy suaminya.
"Bapak ada, Sya?", tanya Nina pada Marsya.
"Ada bu, masuk saja", kata Marsya pada isteri bigbossnya tersebut.
Nina tersenyum dan melangkah menuju ke ruangan suaminya. Nina mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk", suara jimmy dari dalam. Nina membuka pintu ruangan Jimmy suaminya.
Dengan langkah gontai Nina masuk dan menutup kembali pintunya. Nina duduk di kursi di hadapan Jimmy.
"Ada apa?", tanya Jimmy dingin.
"Mau mengingatkan kalau hari ini kamu ada meeting", kata Nina mencoba mencairkan suasana.
"Tadi sudah di kasih tahu sama Marsya", kata Jimmy masih terus berkutat dengan laptopnya.
"Bang, pulang nanti kita beli duren ya. Lagi musim duren ini. Tadi waktu kita lewat simpang tiga disana banyak duren, besar-besar bang. Pasti segar kalau masih baru. Sepertinya duren motong itu bang. Duren terkenal dengan baunya yang harum, rasanya yang manis dan lezat serta daging yang tebal, banyak di minati banyak orang. Makannya juga gak mudah enek",celoteh Nina.
Tak ada reaksi dari Jimmy.
"Abang dengar gak sih?",tanya Nina.
"Koq Manaf sih bang?", Nina cemberut.
"Kalau nunggu pulang kan masih lama, kita juga ada meeting sore nanti. Sudah nanti Manaf aja yang belinya", titah Jimmy.
"Gak mau, aku maunya abang yang beli", kata Nina merajuk.
Nina meninggalkan ruangan Jimmy suaminya. Ia kembali ke ruangannya. Hatinya sangat berharap Jimmy mau mengajaknya keluar kantor sebentar. Tujuannya bukan hanya makan duren saja tapi juga untuk quality time dengan suaminya.
Jimmy menghela nafasnya. Dia menutup laptopnya dan keluar dari ruangannya.
"Sya, kami keluar dulu bentar ya. Kalau ada yang nyari, suruh kembali aja setelah makan siang", kata Jimmy pada Marsya sekretarisnya.
"Baik pak", kata Marsya patuh.
Jimmy melangkah menuju ruangan Nina. Ia melihat Nina duduk di kursinya dengan membelakangi pintu masuk. Nina cepat menghapus air matanya karena mendengar ada yang masuk.
Jimmy mendekat ke arah Nina. Nina mendongak melihat siapa yang ada di dekatnya. Jimmy mengulurkan tangannya pada Nina.
"Ayo", kata Jimmy pada Nina.
Nina menghela nafasnya dan memberikan senyuman termanisnya buat sang suami.
__ADS_1
"Jangan senyum begitu, abang suka gak tahan kalau lihat kamu senyum gitu", kata Jimmy lembut dengan candanya.
Nina menerima uluran tangan Jimmy. Nina langsung memeluk Jimmy dan meneruskan tangisnya di pelukan Jimmy.
"Lah koq malah nangis?", tanya Jimmy tak mengerti.
Jimmy melerai pelukan Nina.
"Kamu tahu kan abang paling gak suka lihat kamu menangis", kata Jimmy seraya menghapus air mata Nina.
"Abang juga kenapa cuekin aku, salahku apa coba?kalau abang ingin aku berhenti kerja, sekarang pun aku angkat kaki dari kantor ini. Aku tidak mau rumah tanggaku rusak hanya gara-gara sebuah kerjaan", kata Nina masih terisak. Entahlah hatinya begitu sakit menerima perlakuan Jimmy. Atau memang hormonnya yang lagi tidak baik.
"Maafkan abang ya, abang cuma merasa kamu lebih mementingkan pekerjaan sehingga abang merasa di abaikan", kata Jimmy jujur.
Jimmy menghapus air mata Nina yang semakin deras mengalir di pipinya yang mulus. Jimmy melihat bibir Nina bergetar menahan emosinya. Jimmy tak mau ambil resiko. Di raupnya bibir Nina dengan bibirnya. Awalnya Nina terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba tersebut. Lama-lama Nina menikmati sentuhan sang suami pada bibirnya.
Jimmy ******* bibir yang di rasanya sedikit bergetar tersebut. Lama permainan itu berlangsung. Nina melepaskan ciuman Jimmy ketika tangan Jimmy ingin bergerilya secara bebas.
"Sudah jangan di teruskan, ini di kantor", kata Nina melerai pelukan mereka.
"Tanggung sayang", kata Jimmy dengan wajah merah padam.
"Nggak nggak jangan , aku gak mau", kata Nina menjauh dari Jimmy.
"Teganya", kata Jimmy.
"Teruskan di rumah saja nanti", kata Nina membenahi pakaian dan rambutnya yang sudah acak-acakan akibat ulah Jimmy.
Jimmy mendekati Nina dan menarik Nina kembali ke pelukannya.
"Kita makan duren sekarang ya, setelah itu kita lanjut ke suatu tempat", bisik Jimmy di telinga Nina.
Muka Nina bak kepiting rebus mendengar bisikan Jimmy di telinganya. Nina tahu apa yang di maksud oleh Jimmy suaminya. Nina refleks mencubit pinggang Jimmy. Jimmy menggeliat kegelian sambil tertawa lepas.
Akhirnya perselisihan yang ada pun terleraikan. Mereka berdua pergi mencari duren dan memakannya di tempat tersebut. Setelah merasa puas, Jimmy mengajak Nina untuk pergi ke hotel untuk quality time beberapa jam.
Itulah sebuah rasa dalam hidup berumah tangga. Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan kata. Hubungan intim sangat di perlukan untuk kelangsungan dalam berumah tangga. Ada sebuah ungkapan, setiap biduk rumah tangga pasti ada badai nya. Dan seseorang tak akan mencari makan di luar kalau dia sudah kenyang di dalam rumahnya. Ungkapan yang sangat sederhana tapi mengandung arti yang sangat luas.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku sayang.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
Like, komen dan votenya jangan lupa ya.
__ADS_1
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).