
"Sudah berhentilah menangis. Sebaiknya kamu istirahat, makan dan minum obatnya biar cepat sehat. Jangan berpikiran yang macam-macam ", lanjut Jimmy lagi.
Prili perlahan menghentikan tangisnya. Ia mengusap air mata yang masih menempel di pipinya.
"Tapi sore nanti kamu kesini kan?", tanya Prili.
"Iya", jawab Jimmy singkat.
Pintu ruang kerja Jimmy terbuka. Jimmy melongo saat tahu siapa yang masuk.
"Telepon sama siapa?", tanyanya.
"Udah dulu ya. Bye..", Jimmy mengakhiri obrolannya dengan Prili.
"Kenapa berhenti ngobrolnya?lanjut aja gak papa. Aku tak akan mengganggu", katanya lagi.
"Hhmmm", Jimmy berdehem untuk membuang rasa tidak enak di hatinya.
"Kalau merasa terganggu, aku bisa koq keluar dari sini sekarang ", ucapnya lagi seraya duduk di kursi yang ada di hadapan Jimmy.
Jimmy menghela nafasnya. Dia bangun dari tempat duduknya.
"Sayang yang nelpon barusan itu adalah Prili. Ia ingin aku kesana sore nanti", jelas Jimmy seraya memeluk leher Nina dari belakang.
"Oh gitu, trus kamunya gimana?", tanya Nina tanpa ekspresi.
"Karena memang dia lagi sakit, ada baiknya kalau kamu ikut kesana. Mau kan?", tanya Jimmy tanpa melepas tangannya yang masih melingkar di leher Nina.
Nina diam tak langsung menjawab.
"Mau ya?!" tanya Jimmy sedikit ragu.
"Kurasa bukan ide yang baik kalau aku ikut ke sana, yang ada dia akan benci lihat aku bersama kamu menjenguknya ", Nina memutar kursi yang sekarang di dudukinya sehingga ia dan Jimmy sekarang berhadapan muka.
"Setidaknya kamu sudah menunjukkan etikad baik untuk bersilaturahmi dengannya ", jawab Jimmy.
Nina memegang kedua tangan Jimmy.
"Bang, Prili itu sangat tidak menyukai aku. Apalagi sekarang dia kehilangan anaknya, anak dari kamu. Sebaiknya abang sendiri aja kesana, titip salam aja buat Prili", ujar Nina.
"Iya udah kalau gitu, nanti aku antar kamu pulang dulu baru aku kesana. Ngomong-ngomong kita makan dulu yuk, udah laper banget ini", ucap Jimmy.
"Tujuanku kesini memang ngajakin kamu makan, yang di dalam udah nendang-nendang ", Nina mengusap perutnya.
"Emang sudah gerak-gerak ya?", tanya Jimmy melongo.
"Sesekali bang, belum aktif betul", jelas Nina.
Jimmy berjongkok. Kepalanya menempel di perut Nina. Benar saja, tiba-tiba Jimmy merasakan perut Nina bergerak.
"Iya benar sayang, dia mulai gerak. Jadi gak sabar nunggu dia lahir", kata Jimmy seraya mengelus perut Nina yang tertutup bajunya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong jadi gak nih makannya?", tanya Nina yang melihat Jimmy asik dengan perut Nina.
"Eehh iya jadi lupa, yuuk berangkat", kata Jimmy sambil menggandeng tangan Nina.
"Lepasin bang, jangan gini. Malu. Ini kantor bukan di rumah", kata Nina protes.
"Yang mau marah siapa? mereka malah senang melihat bos mereka akur", Jimmy berdalih.
"Iya gak ada sih tapi kita juga harus profesional kalau lagi kerja. Di sini aku bawahan abang, di rumah baru isteri ", jawab Nina.
"Maunya koq bawah melulu sayang?", ucap Jimmy mengerling nakal.
"Iissh dasar mesum, piktor mulu. Udah yukk laper nih", ujar Nina seraya berjalan mendahului Jimmy.
"Eehh main tinggal aja", kata Jimmy menyusul Nina.
"Kita makan di tempat pertama kali aku ngajak kamu makan", kata Jimmy setelah mereka sudah dalam perjalanan.
"Jauh amat bang, repot-repot ke tempat yang jauh gitu perut udah laper gini", kata Nina.
"Trus kamu makan apa?", tanya Jimmy.
"Lagi pengen sate dan gulai kambing abangku sayang", kata Nina dengan suara di lembut-lembutkan.
"Boleh juga tuh, kita ketempat warung sate pak Harjo aja di jamin mantul", kata Jimmy.
"Terserah abang aja deh yang penting jangan jauh-jauh ", ujar Nina.
Nina terkekeh melihat aksi Jimmy. Nina melirik kearah Jimmy beberapa detik.
"Ya Allah seandainya kebahagiaan ini hanya khusus untukku alangkah sangat berbahagianya aku",batin Nina.
Jimmy hanya memberikan senyuman saat Nina melirik padanya.
Mereka tiba di warung sate pak Harjo yang tak pernah sepi dengan pengunjung tersebut.
"Bang kamu yakin mau makan di sini?", kata Nina yang melihat warung tersebut sangat sederhana. Menurut Nina sangat tidak mungkin bagi Jimmy untuk mau makan di tempat seperti ini.
"Lho kenapa?kamu akan ketagihan makan di sini, luar biasa mantul", puji Jimmy.
"Kamu kan gak terbiasa makan di tempat seperti ini", kata Nina ragu.
"Kamu salah. Sejak berteman dengan Marsel, kami selalu berburu kuliner. Kami berteman bukan baru sekarang ini, dari SMA bayangin. Udah lama banget kan?dan selama itu juga semua makanan hampir di setiap sudut kota ini sudah kami jajal. Keren gak?jadi mana yang enak mana yang nggak kami udah hafal", jelas Jimmy.
Nina manggut-manggut.
"Persahabatan yang ekstra super, selain berteman yang cocok selera makan kalian juga cocok atau jangan-jangan selera wanitanya juga cocok", canda Nina sambil terkekeh.
"Setiap manusia suka dengan keindahan. Dan manusia yang di sebut lelaki pasti juga senang yang indah-indah termasuk suamimu ini. Tapi keindahan itu tak akan ada artinya kalau tempatnya tak terasa nyaman bagi penikmatnya. Nyaman dulu yang terpenting", kata Jimmy penuh penghayatan.
"Dan satu hal lagi sesuatu yang indah bagi sebagian orang belum tentu bagi sebagian orang lainnya. Jadi terkadang keindahan itu bukan hanya mata yang mengartikan tapi juga hati. Kamu jangan marah ya...jujur kamu dan Prili sama-sama cantik, dan mempunyai kelebihan masing-masing tapi lebih kamu yang abang pilih, kenapa?", Jimmy menghentikan kalimatnya.
__ADS_1
"Kenapa emang?!", tanya Nina jengah.
"Aahh entar kamu besar kepala lagi kalau abang bilang", ucap Jimmy seraya memandang wajah Nina yang bersemu merah.
"Karena kamu beda. Itu sebabnya aku cinta sama kamu", jawab Jimmy.
"Alasannya gak logis. Jelaskan kenapa?masa' jawabannya cuma karena kamu beda. Iya beda laahh dia Prili aku Nina", kata Nina merajuk.
"Laah koq jadi merajuk gini. Yuuk ahh kita turun, kenapa jadi bahas Prili. Jangan pusing, pokoknya 'you are number one', titik!", kata Jimmy seraya membuka pintu mobilnya. Mau tak mau Nina pun akhirnya turun juga dari mobil.
Jimmy menggandeng tangan Nina menuju warung sate pak Harjo.
"Ehh nak Jimmy kirain mobil siapa tadi", kata pak Harjo yang sudah paham dengan Jimmy.
"Kali ini aku bawa istriku kemari, dia ingin menjajal kelezatan sate dan gulai kambing milik pak Harjo", jelas Jimmy.
"Dengan senang hati, silakan duduk. Bentar akan di siapkan pesanannya", ucap pak Harjo.
Jimmy dan Nina duduk di pojok ruangan. Mereka duduk di tempat yang strategis. Bisa melihat ke segala arah.
Tak lama pesanan mereka tiba.
"Silakan nak, semoga suka ya", kata pak Harjo pada Nina.
Nina yang memang sudah lapar dari langsung mengeksekusi makanan tersebut.
"Gimana?", tanya Jimmy di sela makan mereka.
"Kurang", ucap Nina sambil memainkan bibirnya.
"Kurang?maksudnya?", tanya Jimmy tak mengerti.
"Kurang porsinya ", kata Nina sambil terkekeh.
Keduanya tertawa. Jimmy kembali memesan sate dan gulai kambingnya.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku.
Jangan lupa kasih like, komen dan votenya juga ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1