Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Seorang pembunuh


__ADS_3

Prili turun dari tempat tidurnya. Ia mendekati papanya.


"Maafin Prili pa, Prili khilaf pa", kata Prili sambil bersujud di kaki papanya.


"Papa tak sudi punya anak seorang pembunuh, lebih baik papa tak punya anak sekalian dari pada punya anak tak tahu diri seperti kamu", pak Bowo menepiskan kakinya yang di pegang Prili.


"Papa...aku mohon maafin Prili pa. Prili menyesal pa", ucap Prili masih terduduk di lantai.


"Menyesal? kemarin-kemarin tak bisakah otakmu berpikir waras untuk tidak bertindak ceroboh seperti itu",suara pak Bowo bergema di dalam rumah.


"Prili sangat mencintai Jimmy pa, aku tidak mau Nina mempunyai anak dari Jimmy. Aku hanya ingin cuma aku yang bisa punya keturunan dari Jimmy pa. Aku khilaf pa", ucap Prili seraya bangun dan kembali mendekati papanya.


"Jangan sentuh papa, papa jijik lihat kamu. Usir anak ini dari rumah ini ma", kata pak Bowo sambil melangkah meninggalkan kamar Prili.


"Papa..", kata Prili sesunggukan. Prili meminta bantuan sama sang mama. Tapi mama Hanny pun akhirnya melenggang meninggalkan kamar tersebut.


Bik Ina yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa mengelus dadanya.


"Mama...",


Prili meratapi nasibnya. Nasi telah menjadi bubur. Semua telah terjadi. Menyesal pun tiada gunanya. Orang-orang yang di cintainya kini semua menjauhinya.


"Pa, jangan usir Prili pa dia masih sakit. Kasihan dia. Biarkan dia merenung untuk sementara waktu. Dia sudah menyadari kesalahannya", kata mama Hanny berusaha menenangkan suaminya.


"Jimmy tak akan membiarkan masalah ini ma, dia akan mengusut sampai tuntas dan anakmu akan di geret ke meja hijau, mau kamu?",tanya pak Bowo dengan nafas tersengal-sengal.


"Lantas kita harus bagaimana pa?aku tak mau kehilangan Prili. Walau bagaimanapun dia anakku pa anak kita", kata mama Hanny sambil menangis.


"Suruh dia pergi dari rumah ini yang jauh", pak Bowo mengusap wajahnya yang terasa panas.


"Tidak pa, biar dia di sini. Walau harus di jeruji besi, aku tak mau Prili jauh dari kita", mama Hanny berkeras.


"Mama sama anak sama saja, papa tak mau lihat dia di rumah ini lagi. Titik!", kata pak Bowo sambil keluar dari rumah dan pergi.


"Pa, dengarkan dulu", kata mama Hanny berusaha mengejar pak Bowo. Tapi pak Bowo sudah masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.


Mama Hanny terduduk lemas di sofa ruang tamu. Hatinya sakit. Ia mau marah tapi tak tahu harus marah sama siapa.


****


Jimmy pulang ke rumah dengan muka kusut. Hatinya yang panas tak bisa di sembunyikannya dari Nina.


"Bang kamu kenapa?", tanya Nina.

__ADS_1


"Ambilin obat luka", kata Jimmy tanpa menggubris pertanyaan Nina.


Nina tak membantah. Ia mengambilkan obat luka yang ada di kotak P3Knya.


"Tangan abang kenapa?", tanya Nina cemas ketika melihat tangan Jimmy yang masih mengeluarkan darah. Nina langsung mengambil tangan Jimmy dan mulai membersihkan luka tersebut.


"Gak kenapa-napa cuma luka kecil", kata Jimmy seraya memandangi wajah Nina.


"Mulai besok kamu gak usah pergi kemana-mana, di rumah saja. Kalau tetap mau pergi harus abang yang antar", kata Jimmy memandang lekat wajah Nina.


Nina mengernyitkan dahinya. Permintaan Jimmy sedikit aneh di pendengarannya.


"Koq gitu, emangnya ada apa sih bang?hamilku kan belum besar, masih aman untuk bergerak", jawab Nina memberikan alasannya.


"Jangan membantah. Demi kesehatan bayi kita. Makan makanan yang ada di rumah, yang di masak di rumah. Kalau pun harus makan di luar itu hanya dengan abang, gak boleh sendirian ", jelas Jimmy.


Nina merasakan suaminya ini sedikit berlebihan. Tapi Nina masih fokus dengan luka di tangan Jimmy.


"Tangan abang kena apa sih, koq bisa luka disini?", tanya Nina penasaran.


"Ninju kaca rias", jawab Jimmy tanpa ekspresi.


"Salahnya apa sih?kaca gak salah koq di tinju. Luka kan jadinya. Pasti perih ini", celoteh Nina.


"Auuww", Jimmy berteriak kecil.


"Sakit?maaf ya bang, ini memang sedikit perih sih tapi sesudahnya abang akan merasa enak. Tahan ya", ucap Nina seraya meraih tangan Jimmy dan kembali mengoleskan obat tersebut pada lukanya Jimmy.


Walau terasa perih, Jimmy berusaha untuk menahan rasa sakit pada lukanya. Jimmy hanya bisa menahan rasa sakit dengan menggigit bibirnya.


"Sudah selesai",


Nina membereskan kotak P3Knya.


"Sebenarnya ada masalah apa sih?kaca koq jadi sasaran", Nina mencoba menyelidik.


Jimmy bukan menjawabnya pertanyaan Nina. Dia malah balik bertanya.


"Jika kamu ada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?", tanya Jimmy dengan pertanyaan mengambang.


"Maksudnya apa nih?pertanyaannya gak jelas bang", kata Nina.


"Kamu sudah pasti paham apa maksud abang, kamu biasanya mudah memahami sesuatu", kata Jimmy berkamuflase.

__ADS_1


"Hmmm", Nina berdehem. Ia mencoba mencerna pertanyaan suaminya.


"Abang minta dalam hal apa?",tanya Nina meminta pokok bahasan.


"Dalam segala sudut", jawab Jimmy seadanya.


"Baiklah. Kalau untuk secara detail sih rasanya kurang bang, tapi secara keseluruhan abang bisa di bilang okelah. Kalau aku jadi abang, tidak berlebihan, jalankan saja mana yang hak dan mana yang kewajiban. Aku akan meminta hakku dan menjalankan apa sudah menjadi kewajibanku. Aku akan memberikan segalanya dengan catatan ada batas kemampuannya. Dengan segala kelebihan dan kekuranganku aku akan membuat keadaan di sekelilingku senyaman dan seaman mungkin berada di dekatku", kata Nina menghentikan sejenak bicaranya.


"Apa menurutmu kewajibanku belum terpenuhi untuk kalian?dan apa kalian merasa tidak nyaman bersamaku?", celetuk Jimmy.


"Abang kan tadi minta bagaimana kalau aku jadi abang, iya itu jawabanku", kata Nina.


"Sebenarnya ada masalah apa sih bang? gak usah pakai istilah atau berkonotasi bang. Jelaskan duduk permasalahannya biar aku bisa bantu ", kata Nina berusaha untuk tenang.


"Menurutmu abang salah atau tidak jika abang memilih pisah dari salah satu kalian?", umpan Jimmy.


Nina bagai di sambar petir mendengar pertanyaan yang di lontarkan Jimmy.


"Maksud abang apa?", suara Nina bergetar.


"Abang akan menceraikan Prili", kata Jimmy enteng.


"Astaghfirullah bang, abang ngomong apa sih bang. Salahnya apa coba?dia baik, cantik, seksi lagi. Dan sangat berkelas, tidak seperti aku. Koq abang tega gitu. Dia sangat mencintai abang kan. Jangan ceraikan dia bang, dia itu sangat terobsesi bersama abang. Walau aku tidak menyukainya karena dia telah mengambil hakku tapi aku masih punya hati, aku tak mau terjadi hal yang tidak menyenangkan di hidup kita. Abang telah membuat keputusan untuk hidup bersama kami maka abang harus berkomitmen untuk tetap menjaga hubungan baik ini sampai akhir hayat", kata Nina panjang lebar.


"Awalnya iya begitu tapi sekarang tidak. Abang tidak mau punya isteri seorang pembunuh", kata Jimmy tegas.


"Pembunuh?siapa yang abang maksud pembunuh?", tanya Nina tak mengerti.


"Prili yang menyebabkan kamu keguguran waktu itu, dia pelakunya" kata Jimmy geram.


"Apa?",


.


.


.


Selamat membaca ya readersku....


Bantu like, komen dan juga votenya ya.


Mampir juga ya ke karyaku lainnya

__ADS_1


Masih Ada Pelangi (tamat).


__ADS_2