
Kediaman Purnama Wijaya.
Seperti keluarga pada umumnya setiap pagi keluarga Purnama selalu sarapan bersama. Semua sudah kumpul kecuali Jimmy.
"Kakak kamu mana?", tanya sang mama pada anak gadisnya Wina.
"Gak aneh lah Ma, pasti juga kesiangan", gumam Wina seraya nyeruput susu buatan sang mama.
"Apa tadi kamu bilang?", kata Jimmy yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
"Tumben bangun cepat, mimpi di kejar anjing ya?", tanya Wina tanpa menggubris pertanyaan sang kakak.
"Apa salah kalau seseorang pingin berubah?", Jimmy balik bertanya.
Jimmy mengambil teh yang sudah di siapkan sang mama dan meminumnya.
"Iya nggak salah sih, malah bagus kan kalau ada peningkatan", kata Wina sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Jimmy nanti mama ke kantor kamu ya, nanti mama bawain sesuatu buat kamu", kata sang mama sumringah.
"Gak usah ma, biar Jimmy makan di luar saja", kata Jimmy.
Jimmy mengira akan membawakan makanan untuknya.
"Bukan makanan, tunggu aja di kantor ada yang spesial buat kamu hari ini", kata sang mama bersemangat.
Jimmy dan Wina saling pandang. Tak biasanya sang mama mau ke kantor Jimmy. Biasanya juga ke kantor papanya.
"Jadi kepo, spesial apa nih ma?masa' aku gak di kasih", ucap Wina.
"Kalau di bilang sekarang gak seru dong", kata sang mama.
"Apa sih pa?", tanya Wina kepada sang papa.
"Mana papa tahu, mamamu gak bilang apa-apa ke papa", jawab sang papa.
"Udah selesaikan saja makannya nanti telat lho", kata sang mama.
"Iiihh mama main rahasia-rahasiaan segala", kata Wina dengan muka cemberut.
"Kamu juga jadi orang suka banget kepo, aku aja yang akan di berikan kejutan oleh mama gak mau kepo, dah ahh berangkat dulu ya ma pa", kata Jimmy seraya menenteng tas kerjanya.
"Iya hati-hati ya", kata sang mama pada Jimmy.
Jimmy meninggalkan meja makan di susul Wina. Tak lama sang papa pun menyudahi sarapannya. Pak Purnama menenteng tas kerjanya.
"Emangnya kejutan apa sih untuk Jimmy?", tanya Purnama pada istrinya sambil berjalan menuju depan.
"Papa ingat gak dua hari yang lalu aku ketemu sama Hanny?", tanya sang istri.
"Iya ingat, trus?", tanya Purnama.
"Kebetulan Hanny membawa anak gadisnya, cantik banget Pa, S2 lagi. Aku pinginnya mereka Jimmy dan Prili kita jodohin aja", kata sang istri.
"Apa Jimmy mau?", tanya Purnama ragu.
"Pastilah, orang Prili nya cantik banget, berpendidikan dan baik lagi", jelas sang isteri.
__ADS_1
"Iya sudah kalau memang itu jalannya papa mendukung saja, apa lagi dia cantik pasti Jimmy suka, papa juga dulunya suka sama mama karena mama cantik dan seksi", kata Purnama menggoda isterinya.
"Oohh jadi sekarang mama gak cantik lagi, gitu?", sela sang isteri.
"Mama tetap cantik dan bohai", kata Purnama sambil tertawa.
"Iihh papa genit, udah ahh pergi sana", kata sang isteri seraya mencium punggung tangan Purnama.
Purnama sambil tersenyum melangkah dengan gontai keluar dari rumah menuju mobilnya dan berangkat kerja. Sang isteri kembali masuk ke dalam rumah.
*****
Siang harinya Liana isterinya Purnama siap-siap untuk bertemu dengan Prili anak temannya yang bernama Hanny. Liana menelpon Prili. Mereka janjian di suatu tempat. Liana berangkat menuju tempat yang telah mereka janjikan. Prili sudah menunggu di sana.
Liana buru-buru menghampiri Prili.
"Aduh maaf ya sayang, tante telat macet tadi", kata Liana memberi alasan keterlambatannya.
"Gak papa tan, lagian Prili juga baru tiba koq di sini", kata Prili sopan.
Prili terlihat sangat berkelas. Penampilannya sangat bonafit. Terlihat sekali kalau dia anak orang berduit dan berkelas.
"Kamu cantik banget sayang, sudah makan belum?", tanya Liana sambil tak henti-hentinya memuji Prili.
"Sudah Tan, tadi udah makan dari rumah", kata Prili dengan senyum manisnya.
"Iya udah kita berangkat sekarang saja, pasti Jimmy langsung jatuh cinta lihat kamu", puji Liana pada Prili.
"Tante bisa aja", kata Prili singkat.
"Benaran, kamu itu nilainya sepuluh lho, sempurna", kata Liana.
"Ayo kita berangkat, kamu bawa mobil ya?", tanya Liana.
"Iya Tan, tinggal aja gak papa di sini nanti setelah dari kantornya Jimmy baru ke sini lagi, lagian kan kantor Jimmy gak jauh dari sini", ucap Prili.
"Iya juga, iya sudah yuk kita berangkat",kata mamanya Jimmy pada Prili.
Mereka berangkat menuju kantornya Jimmy. Nina yang melihat mamanya Jimmy datang langsung menyambut.
"Nyonya silakan masuk, pak Jimmy ada di dalam", kata Nina sopan.
Nina memperhatikan wanita yang bersama Liana. Hatinya merasa tak enak.
"Baiklah, yuk sayang kita ke ruangan Jimmy", kata Liana setaya menggandeng tangan Prili.
Tiba-tiba dada Nina terasa sesak.
"Apa itu calon kak Jimmy?dia cantik dan berkelas, jauh banget denganku", batin Nina merendah.
Nina memperhatkan kedua wanita beda usia tersebut sampai menghilang dari pandangannya.
Liana membuka pintu ruangan Jimmy yang tidak terkunci. Jimmy menoleh ke arah pintu.
"Mama, koq gak bilang kalau sudah datang ke sini", kata Jimmy seraya bangkit dari duduknya.
"Kalau ngasih tahu entar gak seru dong kejutannya", kata sang mama sambil melirik Prili.
__ADS_1
Prili tersenyum. Jimmy menoleh ke arah Prili. Jimmy mencoba menebak arti semua ini.
"Jangan-jangan mama mau jodohi aku sama nih anak, ehhmm cantik juga, wanita idaman banyak lelaki", batin Jimmy.
"Jangan lama-lama mandangnya", kata Liana mamanya Jimmy membuyarkan lamunan Jimmy.
"Oh ya silakan duduk", kata Jimmy mengajak mamanya dan Prili untuk duduk di sofa.
Liana mengajak Prili untuk duduk di sofa.
"Ini kenalin dulu anaknya teman mama, ayo sayang kenalan dulu", kata Liana menyuruh Jimmy dan Liana untuk kenalan.
Jimmy mengulurkan tangannya. Prili menyambutnya.
"Jimmy",
"Prili",
Mereka saling menyebutkan nama, saling melontarkan senyuman.
"Ini lho yang mama bilang pagi tadi, kamu kan sudah dewasa sudah saatnya untuk memikirkan masa depan", kata Liana tanpa basa-basi.
Jimmy jadi teringat Nina. Wanita yang telah mengisi relung hati dan hari-harinya. Sekretaris pribadinya.
"Mama apa ini tidak terlalu buru-buru?", kata Jimmy tak bermaksud menyinggung perasaan sang mama.
"Mama ingin kalian lebih intens, yang pasti saling kenal dululah, Prili ini anaknya baik, cantik, berkelas dan berpendidikan tinggi lho", kata sang mama mempromosikan Prili pada Jimmy.
Jimmy melihat ke arah Prili sebentar, Prili memberi senyum terindahnya buat Jimmy.
"Jalau kamu belum makan, keluar gih sana bawa Prili", kata sang mama memberi jalan.
"Sudah ma, tapi kalau Prili belum makan nanti di pesanin di kantin", kata Jimmy tanpa bermaksud merendahkan.
"Kamu ini gimana sih, ajak Prili pergi keluar gitu", kata sang mama.
"Lain kali aja ya Prili, aku masih sibuk nih", kata Jimmy memberi alasan.
"Uya gak papa Jim", kata Prili.
"Kamu gak bisa istirahat bentar apa?", tanya sang mama.
"Nantilah ma, nantikan banyak waktu",kata Jimmy lagi.
"Iya udah mama dan Prili pulang dulu ya, awas jangan tidak nepati janji dosa loh", kata sang mama memperjelas.
"Iya", kata Jimmy singkat.
.
.
.
Selamat membaca ya...
Bantu like, vote dan juga komennya ya...
__ADS_1
Mampur juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).