Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Lihat Arjuna


__ADS_3

Jimmy pulang kerja lebih awal. Rasa rindu terhadap Nina sang isteri selalu datang. Rasa kelelakiannya selalu muncul bila mengingat wajah Nina.


Jimmy langsung menuju kamar, berharap Nina sedang berbaring manja menantinya di sana. Jimmy senyum-senyum sendiri mengingat akhir-akhir ini dia selalu meminta Nina untuk bermesraan dengannya. Jimmy kecewa ketika tak mendapatkan Nina di tempat tidur.


"Kemana dia?apa mungkin di kamar Iza!?", gumam Jimmy. Jimmy keluar dari kamar. Dia mencari keberadaan Nina. Dia menuju kamar Iza. Dengan hati-hati sekali Jimmy membuka pintu kamar Iza, takut membangunkan tidur siang putrinya tersebut. Terlihat Iza tidur dengan sangat pulasnya. Tapi Jimmy tak melihat Nina sang isteri bersama putrinya tersebut. Jimmy menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Kemana dia ya?", tanya Jimmy pada dirinya sendiri.


"Mbak, mama Iza kemana?", tanya Jimmy pada mbak Yuni yang sedang sibuk di dapur.


"Tadi di belakang tuan. Katanya jalan-jalan cari angin luar", jawab mbak Yuni.


"Ohh", jawab Jimmy singkat.


Jimmy langsung keluar lewat pintu belakang. Benar saja dia bisa melihat Nina sedang duduk tersandar di pohon rambutan yang sangat rindang itu. Jimmy tersenyum. Jimmy mendekati Nina.Terlihat Nina seperti kesakitan.


"Sayang kamu kenapa?", tanya Jimmy cemas.


Rasa ingin bermesraan hilang seketika. Yang timbul malah rasa cemas yang teramat sangat.


Nina menggigit bibirnya menandakan rasa sakit kembali menyerangnya.


"Sayang kamu jangan membuat abang takut, apa kamu terjatuh?", tanya Jimmy cemas.


"Mungkin mau lahiran bang", jawab Nina sambil menahan sakit.


"Apa? melahirkan?kenapa gak bilang dari tadi", kata Jimmy cepat.


Jimmy dengan sigap langsung menggendong tubuh Nina menuju mobilnya.


"Mbak, cepat bantu bukain pintu mobilnya", kata Jimmy setengah berteriak.


Mbak Yuni dengan setengah berlari, membukakan pintu mobil untuk majikannya tersebut.


Tanpa berpikir panjang, Jimmy langsung membawa Nina ke rumah sakit terdekat.


"Tolong isteri saya sus, ia mau melahirkan", ucap Jimmy dengan nafas ngos-ngosan.


"Baik pak. Bapak tunggu disini ya, biar isteri bapak bisa langsung kami urus", ucap salah satu perawat.


"Baik, sus", ucap Jimmy.


Nina langsung di bawa ke ruang bersalin. Jimmy menggigit jari jempolnya untuk menghilangkan kecemasannya. Jimmy duduk di kursi tunggu, namun baru beberapa detik Jimmy sudah kembali tegak mondar-mandir, lalu kemudian duduk kembali.


Satu jam pertama sudah di lewati Jimmy. Satu jam kedua pun sama belum terdengar suara tangis bayi. Baru satu jam ketiga suara bayi terdengar dengan sangat lantang.

__ADS_1


"Apa tangis bayi itu tangis anakku?", batin Jimmy. Wajah Jimmy terlihat sumringah. Kecemasannya berganti dengan kegembiraan. Walau belum mengetahui kalau bayi yang menangis itu anaknya atau bukan, tapi Jimmy berkeyakinan kalau itu adalah suara tangisan anaknya.


Seorang perawat keluar dari ruangan tersebut. Jimmy cepat menyongsong sang perawat.


"Suster, gimana isteri saya sus?", tanya Jimmy cepat.


Perawat tersebut tersenyum.


"Isteri bapak telah melahirkan, selamat ya pak bayinya sehat. Bapak tunggu saja dulu, nanti akan di panggil. Mari pak saya permisi", kata sang perawat.


"Iya sus, terima kasih" kata Jimmy. Sang perawat berlalu dari hadapan Jimmy.


"Alhamdulillah, syukurlah", ucap Jimmy mengucap syukur.


Satu jam sudah Jimmy menunggu setelah kelahiran bayinya. Rasa ingin berjumpa dengan bayinya hampir tidak bisa di tahannya. Tiba-tiba seorang perawat yang lain memanggilnya.


"Suami bu Nina!", panggil perawat tersebut.


"Iya saya sus", jawab Jimmy cepat.


"Silakan pak, bu Nina dan bayi bapak sudah bisa di temui sekarang", kata sang perawat.


"Baik sus, terima kasih sus", kata Jimmy senang.


"Selamat ya sayang, kekasih hebatku", ucap Jimmy seraya mencium kening Nina.


"Bang, itu anak kita. Anak kita laki-laki bang", ucap Nina sambil menangis haru karena bahagia.


"Laki-laki?kamu gak salah ucap kan sayang?", tanya Jimmy tidak percaya dengan pendengarannya.


"Iya bang anak kita laki-laki", kata Nina memperjelas ucapannya.


"Terima kasih ya Allah. Selamat ya sayang. Doa kita terkabulkan", kata Jimmy sambil tak henti-hentinya memberikan ciuman di pipi Nina.


Jimmy memeluk Nina. Kemudian Jimmy menuju ranjang bayi yang berada di sebelah tempat tidur Nina isterinya. Mata Jimmy berkaca-kaca melihat anaknya yang sedang tertidur pulas tersebut. Jimmy mengangkat bayinya tersebut dan di bawanya mendekat pada sang isteri.


"Lihat sayang, dia begitu mirip denganmu", ucap Jimmy seraya mencium pipi sang anak.


Nina tersenyum dan mengelus kepala sang anak. Jimmy menjalankan tugasnya sebagai orang tua. Dia mengumandangkan azan di telinga sang anak. Tugas pertama sebagai orang tua telah Jimmy laksanakan. Rasa bahagia menyelimuti hati Jimmy dan Nina. Rasa bahagia tersebut Jimmy luapkan dengan menelpon orang tua, mertua dan adik-adiknya. Jimmy terlihat sangat antusias dalam berbicara. Semua ucapannya mewakili rasa bahagianya yang tak terhingga.


Jimmy juga menelpon Marsel, agar besok di adakan syukuran dengan membagi-bagikan makan siang untuk seluruh karyawan.


Tidak sebatas itu saja, Jimmy menyuruh Marsel menyantuni anak-anak yatim di salah satu panti asuhan yang tak jauh dari kantor mereka.


Sementara itu mama Liana yang mendengar kalau Nina telah melahirkan seorang anak laki-laki, dengan cepat mama Liana mengajak pak Purnama untuk segera ke rumah sakit untuk melihat sang cucu.

__ADS_1


"Ayo pa cepetan, mama sudah gak sabar mau lihat cucu kita", ujar mama Liana.


"Iya ma. Senang banget dapat cucu", goda pak Purnama.


"Yang pasti doaku terkabulkan pa", ucap mama Liana enteng.


Pak Purnama cuma bisa geleng-geleng kepala. Kakek dan nenek tersebut ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit untuk melihat sang cucu idaman.


Sedangkan Adel dan ibunya seperti mendapat durian runtuh mendengar kabar Nina melahirkan seorang anak laki-laki.


"Syukur Alhamdulillah akhirnya mbak Na mendapatkan seperti yang di harapkan. Tapi waktu itu mbak Na bilang kalau hasil USG nya perempuan, eehh malah yang lahir laki-laki", kata Adel pada bu Ratmi.


"Dokter baru mengira-ngira karena posisi bayinya waktu itu masih posisi menyamping. Setelah itu mbak kamu gak pernah USG lagi, sudah pasrah. Iya apa boleh buat, kalau memang perempuan iya sudah gak masalah", kata bu Ratmi menjelaskan.


"Pasti mbak Na dan kak Jimmy sangat senang banget mendapat anak laki-laki ya bu", ujar Adel.


"Pasti. Apalagi mama mertuanya pasti senangnya tiada tara", kata bu Ratmi membayangkan wajah besannya tersebut.


"Ayo bu kita ke rumah sakit sekarang", kata Adel pada sang ibu.


"Gak nunggu suami kamu dulu?", tanya bu Ratmi.


"Kalau dia cepat pulang suruh nyusul aja bu, aku udah gak sabar lihat arjuna kita", ucap Adel.


"Betul juga, ayo. Ehh rantangnya jangan lupa, itu makanan kesukaan mbakmu", ucap bu Ratmi.


"Siap bu", kata Adel seraya menyambar tas kecilnya dan juga rantang yang sudah di siapkan sang ibu.


.


..


.


.


.


Kita lanjut lagi ya readersku. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Terima kasih yang sudah mampir, yang memberi like dan juga komentarnya. .


Mampir juga ke karyaku lainnya ya:


Masih Ada Pelangi (tamat).⁶

__ADS_1


__ADS_2