Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Tulus memberi


__ADS_3

Mereka bertiga tertawa kecil. Mendengar rame-rame di luar, Jimmy keluar dari dalam ruangannya.


"Ada apa ini?Wina ngapain kamu di situ?kamu bolos ya?",tanya Jimmy yang sedikit kaget akan kehadiran adeknya Wina.


Adel dan Wina saling pandang. Wina tersenyum pada Adel.


"Jadi kamu sama pak Jimmy...?",tanya Adel tak meneruskan kata-katanya.


Wina menahan tawanya takut Adel marah padanya. Wina memeluk bahu Adel.


"Kak Jimmy itu kakak aku, kakak yang paling cerewet dan nyebelin", kata Wina sambil melirik sang kakak.


"Apa kamu bilang?", Jimmy sedikit sewot.


"Aku bilang aku sayang sama kakak", kata Wina terkekeh.


"Hhhmmm", Jimmy mendengus.


"Kenapa gak bilang si Win kalau kak Jimmy itu kakaknya kamu?", tanya Adel.


"Kamu juga nggak bilang kalau mbak Nina kerja di kantor ini", kata Wina.


"Iya juga ya", kata Adel merasa kalau dia juga salah tak memberi informasi lengkap.


"Ada perlu apa kemari?", tanya Jimmy ke Wina.


"Biasa", kata Wina singkat sambil memainkan jari telunjuk dan jari jempolnya di gesek-gesekkan.


"Kartu kamu kan ada", kata Jimmy.


"Aku perlu yang cash kakak sayang", bujuk Wina


"Gak bisa nunggu nanti atau besok aja?", tanya Jimmy.


"Aku perlu sekarang kakak, mau minta sama papa malas pulang ke rumah", kata Wina.


"Jangan bilang kalau kamu mau kelayapan lagi", kata Jimmy mempertegas.


"Iya nggak lah, udah kasih aja kenapa sih, banyak amat tanyanya",kata Wina dongkol.


Jimmy menghela nafasnya, memberi kode pada Wina untuk mengikutinya, dan Jimmy masuk kembali ke dalam ruangannya di ikuti oleh Wina.


"Gimana aku mau nge prank mbak Nina kalau Wina juga ada di sini", batin Adel.


"Kamu juga ngapain kemari?pulang sana, pulang sekolah bukannya langsung pulang", kata Nina pada Adel.


"Mbak kalau marah terus entar cepat tua loh, aku ke sini mau tahu kantornya mbak, kalau ada apa-apa kan enak, gak nyari-nyari lagi", kata Adel berdalih.


"Udah pintar ngomong ya, sudah pulang sana", kata Nina pada Adel.


"Bawel banget sih, iya aku pulang", kata Adel.


"Ayo Del kita pergi", kata Wina setelah keluar dari ruangan Jimmy.


Wina dan Adel keluar. Jimmy mendekati Nina.


"Halo cewek godain kita dong", kata Jimmy menggoda Nina.

__ADS_1


"Apa sih pak?", kata Nina malu-malu.


"Koq pak sih sayang?", tanya Jimmy.


"Ini kan kantor, gak enak kan kalau ada yang dengar aku panggil kakak atau sayang",kata Nina.


"Ruangan kita terpisah dengan ruangan lain tak kan ada yang tahu", kata Jimmy sambil menarik tangan Nina, Nina kini berada dalam dekapan Jimmy.


Nina kaget dengan apa yang dilakukan Jimmy.


"Apa yang kamu lakukan, gimana kalau ada yang lihat?", kata Nina gugup.


"Takkan ada, walau ada tak masalah, aku akan nikahi kamu", kata Jimmy sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nina.


"Lepasin kak, aku tidak mau merusak reputasimu, ayo lah kita sekarang di kantor jangan seperti ini", kata Nina berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Jimmy.


Cup..


Sebuah kecupan singgah di bibir mungil Nina.


Mata Nina melotot, mulutnya menganga lebar. Jimmy tersenyum melihat ekspresi Nina. Jimmy melepaskan pelukannya. Dan berbisik di telinga Nina.


"Kalau di kantor gak boleh, di luar kantor boleh ya?", goda Jimmy.


Wajah Nina bersemu merah. Nina merasa terjebak dengan omongannya sendiri.


"Udah mulutnya jangan lama-lama bukanya, entar ada lalat masuk", kata Jimmy seraya menutup mulut Nina dengan menggunakan tangannya. Nina memandang ke sekeliling, takut ada yang melihat aksi Jimmy barusan.


Nina menarik nafas lega, setelah tahu tak ada yang melihat.


Jimmy tersenyum pada Nina. Nina membalas senyuman Jimmy.


"Udah masuk aja ke ruangan kamu, gak enak kan kalau nanti ada yang lihat", kata Nina was-was.


"Takut amat sih, kita kan sudah resmi jadi kekasih", kata Jimmy santai.


"Aku tidak mau ada yang tahu dulu hubungan kita, ini kantor jangan tunjukkan kalau kita udah jadian, aku menjaga image kamu di sini", kata Nina mengelak.


Nina masih belum ingin memproklamirkan hubungannya dengan Jimmy. Terlalu awal untuk di ketahui orang-orang di kantor. Biarkan semua berjalan apa adanya.


"Ingat ya jangan bersikap berlebihan", tegas Nina.


"Okelah kalau itu permintaan kamu, aku akan bersikap seorang kekasih kalau sudah di luar kantor", kata Jimmy.


"itu lebih baik", kata Nina sambil mengalihkan pandangannya ke laptopnya.


"Aku tahu kamu minder, tapi aku yakin kamu adalah pilihan yang tepat untukku", batin Jimmy.


Jimmy meninggalkan Nina. Dia kembali ke ruangannya.


*****


Sementara itu Wina dan Adel pergi ke suatu tempat.


"Kita mau kemana sih Win?", tanya Adel bingung, dari tadi Wina terus menjalankan mobilnya tanpa berhenti.


"Nanti kamu juga tahu", jawab Wina tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Wina menghentikan mobilnya pad sebuah minimarket. Wina dan Adel belanja sembako dan membeli pakaian anak perempuan sekitar umur 6 tahunan. Wina mengambil beberapa potong. Kemudian mengambil beberapa potongan pakaian wanita dewasa. Lalu membayarnya.


Kemudian Wina stop di salah satu rumah makan, dia masuk ke dalam dan tak lama keluar kembali dengan membawa bungkus makanan di tangannya.


Wina kembali menjalankan mobilnya. Setelah satu jam akhirnya mereka tiba pada tempat tujuan. Sebuah tempat kumuh. Wina mengajak Adel turun dari mobilnya.


"Kamu yakin kita tak salah tempat?", tanya Adel yang bingung melihat tempat itu sangat tak layak huni.


"Nggak, aku sudah beberapa kali kemari", jawab Wina.


Tiba-tiba ada seorang anak kecil keluar dari rumah papan, yang lebih pas di sebut gubuk tersebut.


"Kak Wina", kata gadis kecil tersebut.


"Iya sayang, apa kabar kamu?apa ibumu sudah makan?", tanya Wina gadis kecil tersebut.


"Tadi pagi sudah kak, tapi siang dan sore ini belum", katanya polos sambil mengelap keringat di dahinya.


"Yuk kita lihat ibu kamu di dalam", kata Wina sambil menggandeng tangan gadis kecil tersebut. Dan membawa barang belanjaannya tadi. Adel membantu Wina membawa barang belanjaannya tadi.


Adel mengikuti langkah kaki Wina menuju gubuk tersebut. Mereka masuk ke dalam. Adel terhenyak saat melihat pemandangan yang tidak biasa di dalam ruangan tersebut. Seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan, terbaring lemah di atas sebuah kasur tipis.


"Mbak santi apa kabar?", sapa Wina pada perempuan tersebut.


"Sudah perlahan membaik non", kata perempuan yang bernama Santi tersebut sambil berusaha untuk duduk.


"Kalau nggak kuat gak usah di paksain duduknya", kata Wina.


"Udah bisa koq non, walau gak bisa lama-lama duduknya tapi sudah bisa", jelasnya Santi.


"Ini ada sedikit sembako buat kalian, ini ada pakaian juga, ini ada nasi bungkus kalian bisa langsung memakannya dan ini ada obat untuk ibu, di minum nanti obatnya ya tapi harus makan dulu", kata Wina.


"Terima kasih non, non baik sekali", kata perempuan itu sambil menangis.


"Ini gak seberapa koq mbak, mbak harus makan biar cepat sehat", kata Wina.


"Iya non ma kasih", katanya pada Wina.


Adel yang dari tadi hanya jadi pendengar yang baik, memandang ke wajah Wina.


"Wina hati kamu baik banget, tulus memberi", batin Adel.


"Dan kamu cantik, kamu harus jaga ibu ya biar ibu cepat sembuh, bisa masak buat kamu lagi", kata Wina sambil mengelus kepala gadis kecil tersebut.


"Iya kak, terima kasih ya kak", katanya pada Wina.


.


.


.


Jangan lupa vote, like dan komennya ya pembaca yang budiman.


Mampir juga di karya author yang lain:


Masih ada pelangi(tamat).

__ADS_1


__ADS_2