
Bu Ratmi sedang menikmati teh celup nya bersama Adelia putri bungsunya. Adel membuat cemilan kesukaannya sore itu yaitu brownies kukus pandan. Adel puas dengan hasil kerjanya.
"Lembut ya bu", kata Adel pada ibunya.
"Iya maknyus pokoknya, udah cocok untuk bikin toko kue", puji sang ibu.
"Ahh ibu bisa aja", kata Adel.
"Iya kalau ada kemauan ya gak masalah toh. Keterampilan punya, modal ada, tempat usaha ada. Iya tinggal kemauan aja ya kan?", bu Ratmi membakar semangat Adel.
"Tempat usahanya di mana bu?", tanya Adel.
"Titip di toko mbak kamu kan bisa", kata bu Ratmi.
"Iya juga ya bu, malam buat kue biar gak ganggu waktu kuliah", kata Adel semangatnya timbul.
"Kalau ibu sih lebih ke belajar kamu dulu, jangan mengganggu kuliah kamu", kata sang ibu.
"Buat kue kan gak susah bu. Sekarang buat kue lebih praktis dengan alat-alatnya banyak di jual di pasaran. Lebih cepat dan tidak mengganggu pekerjaan lainnya ", jelas Adel.
Ponsel Adel berbunyi. Adel mengangkat telepon dari Nina.
"Ya mbak ada apa?", tanya Adel.
"Ibu mana?", Nina balik bertanya.
"Ini ada samping aku, bu ini mbak Na mau ngomong sama ibu", Adel menyerahkan ponselnya pada ibunya.
"Ada apa nak? biasanya langsung ke rumah nggak pakai nelpon begini", kata bu Ratmi.
"Iya bu Nina juga mau bilang itu, mungkin dalam beberapa hari ini Nina gak bisa ke sana. Di samping Nina mulai kerja di kantor, Nina di larang bang Jimmy untuk pergi tanpa dia", kata Nina.
"Lho kenapa?kamu ribut sama suami kamu?", tanya bu Ratmi.
"Nggak apa-apa bu. Bang Jimmy cuma tidak mau aku kenapa-napa. Dia sangat mengharapkan anak yang ada di dalam kandunganku ini sehat. Jadi aku tidak di suruhnya untuk berpergian, biar tidak mudah capek katanya ", Nina mencoba berkelit.
"Oohh gitu. Ya sudah gak papa. Kamu pulang kerja pasti capek kan. Dia suami siaga. Dia tidak ingin membahayakan kamu dan anak yang kamu kandung ", ujar sang ibu.
"Iya bu. Bang Jimmy sangat sayang dengan anak ini", kata Nina.
"Iya udah gak papa kamu gak kesini. Jaga kandungan kamu ya. Jaga cucu ibu", kata bu Ratmi.
"Iya bu, mana Adel tadi bu?",tanya Nina pada ibunya.
"Iya mbak ini aku", kata Adel.
"Jaga ibu ya, mbak belum bisa ke sana", kata Nina.
"Iya mbak pasti", jawab Adel.
Obrolan di telepon pun berakhir.
"Ibu merasa ada yang aneh gak sih dengan mbak Na?", tanya Adel tiba-tiba.
__ADS_1
"Aneh bagaimana?kalau dia nggak bisa kemari iya karena memang dia lagi sibuk dan juga lagi hamil kan, mungkin Jimmy tidak mau terjadi apa-apa lagi dengan kandungan mbak kamu", jelas bu Ratmi.
"Iya kan mbak Na gak bisa dong kalau sama sekali gak boleh keluar cuma gara-gara dia lagi hamil. Apalagi keluarnya juga paling kesini bukan keluyuran kemana-mana. Keterlaluan banget sih jadi laki", rutuk Adel.
"Huss kalau ngomong tuh di jaga. Yang namanya sudah berkeluarga itu harus nurut apa kata suami, selagi tidak membawa mudharatnya sebagai istri iya harus turut kata-kata suami. Apalagi itu untuk kesehatan dan keselamatan kita sendiri. Gak ada salahnya mengikuti saran suami ", kata sang ibu.
"Gak gitu juga kali bu", bantah Adel.
"Surga isteri itu ada pada suami, sebagai isteri yang baik segala sesuatu harus ijin sama suami. Kalau suami ridho ya jalankan kalau tidak iya gak usah", jelas bu Ratmi.
"Entahlah sepertinya mbak Na menyimpan sesuatu ", gumam Adel.
Bu Ratmi hanya menghela nafasnya. Adel berlalu meninggalkan ibunya sendiri. Ia kembali ke kamarnya.
****
Dua hari lagi adalah hari pernikahan Marsel dan Sofi. Nina mendekati Jimmy yang sedang duduk di pinggir kolam ikan di samping rumahnya.
"Bang, boleh minta ijin gak?", kata Nina hati-hati.
"Ijin apa?", tanya Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya dari ikan-ikannya.
"Mau beli baju untuk hari Minggu nanti, baju yang ada sudah pada nggak muat lagi", ucap Nina.
"Tanya Marsel dulu warna mereka pakai warna apa, biar menyesuaikan. Nanti abang yang antar", kata Jimmy lagi.
"Abang aja deh yang telepon", Ujar Nina malas.
"Ambil ponsel abang di meja sana", kata Jimmy menunjuk meja taman yang ada di samping kolam.
"Halo bro, gimana persiapannya?", tanya Jimmy setelah tersambung ke Marsel.
"Sudah rampung bro. Iya tinggal finishnya aja", kata Marsel pada Jimmy.
"Ngomong-ngomong baju seragam keluarga warna apa nih?mau menyesuaikan warna aja", tanya Jimmy.
"Sepertinya warna purple", kata Marsel.
"Purple?!apa gak ada warna lain yang lebih cocok untuk lakinya", tanya Jimmy dengan alis bertaut.
"Iya sesuaikan saja bro. Kalau cowok kan bisa di padu dengan jas juga. Keren juga kan?",ujar Marsel.
"Iya udah deh. Kita mau cari baju dulu ini", Jimmy sangat tidak menyukai warna ungu. Tapi demi menyeragamkan pakaian dengan keluarganya Marsel, Jimmy terpaksa menerima ketentuan warna tersebut.
Obrolan pun berakhir.
"Warna ungu", kata Jimmy pada Nina.
"Cantik bang warna ungu, aku suka", ucap Nina sambil terkekeh.
"Kalau cewek sih pasti suka dengan warna ungu, kamu kan tahu abang gak suka warna tersebut, norak", ujar Jimmy.
"Sesekali gak apalah bang, demi Marsel sahabat abang", kata Nina.
__ADS_1
"Iya deh. Yuukk kita berangkat", kata Jimmy.
"Aku ganti baju dulu ya", kata Nina pada Jimmy suaminya.
"Baju itu cukuplah, mau baju apapun perut kamu tetap nyelendung", Jimmy menggoda Nina.
"Abang iihh. Nyelendung juga kan kamu penyebabnya",
Jimmy tertawa mendengar ucapan Nina. Nina memasang muka cemberut.
"Iya udah yuk", ajak Jimmy seraya menggandeng tangan Nina.
Nina mengikuti langkah Jimmy. Mereka pun akhirnya berangkat menuju butik ternama di kota tersebut.
Jimmy dan Nina memilih pakaian yang warnanya seusai yang di katakan Marsel.
"Bang aku pilih yang ini ya", kata Nina seraya menunjukkan gaun berwarna ungu brukat. Elegan dan cantik. Nina kaget saat melihat harga yang tertera di kertas kecil yang di sematkan pada baju tersebut.
"Eehh gak jadi lah bang", kata Nina seraya meletakkan kembali gaun tersebut pada tempatnya.
"Tadi katanya mau yang itu, kenapa di letakkan kembali?", tanya Jimmy tak mengerti.
"Mahal bang", bisik Nina di telinga Jimmy.
Jimmy refleks tertawa.
"Iissshh koq malah ketawa sih?", gumam Nina.
Jimmy mengambil kembali gaun yang tadi di pilih oleh Nina isterinya.
"Kamu pilih dua model, biar kalau yang ini gak pas kamu bisa ganti model yang satunya", kata Jimmy.
"Benaran bang boleh lebih dari satu?", tanya Nina tak percaya.
"Iya terserah kamu, mau tiga empat juga boleh", ucap Jimmy.
"Terima kasih suamiku sayang", kata Nina sambil mengecup pipi Jimmy secara spontan.
Jimmy mesem-mesem saat tahu pramuniaga melihat aksi Nina sang isteri.
Nina mengambil dua buah gaun berwarna ungu dengan motif dan model berbeda. Sedangkan Jimmy mengambil batik sutera berwarna ungu abstrak dan kemeja sutera ungu berlengan panjang. Setelah selesai dengan pilihan mereka, Jimmy membayar pakaian tersebut ke meja kasir.
Mereka pun pulang setelah menemukan apa yang mereka cari.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku terkasih.
Jangan lupa kasih like dan komennya ya.
__ADS_1
Mampir juga yuukk ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).