
Siang itu karena hari libur, Nina bersih-bersih di rumahnya. Maklum karena sibuk kerja, pergi pagi pulang sore jadi tidak ada waktu untuk beres-beres dan bersih-bersih.
Adelia si adik lebih memilih membersihkan halaman rumah mereka dari pada beresin rumah dan membersihkannya.
"Mbak Na aja yang bersihin rumah ya, biar halaman aku yang urus", kata Adel.
"Iya mbak udah paham, pasti kamu maunya yang cepat selesai dan santai", kata Nina
"Bukan gitu mbak, tapi mbak kan kalau ngurusi rumah super rapinya dan bersihnya cling", kata Adel memberi alasan.
"Beralibi, ya sudah sana, bunganya di siram juga ya", kata Nina.
"Siap mbak", kata Adel segera berlalu.
Beberapa jam kemudian Nina sudah selesai memasak dan beresin rumah.
"Mana tuh anak lama banget bersihin halaman?", gumam Nina.
Nina menuju teras depan untuk mencari sang adik.
"Enak-enakan di sini ternyata", kata Nina melihat sang adik duduk santai di teras depan.
"Tugasku udah selesai mbak sayang, jadi karena itu aku bisa santai sekarang", kata Adel tanpa mengubah posisi duduknya.
"Oh gitu ya, pada hal kamu bisa kan bantuin mbak di dalam", kata Nina.
"Kenapa gak bilang dari tadi kalau minta bantuan?", kata Adel tanpa beban.
"Gak perlu nunggu di perintah juga kali", kata Nina sambil bertolak pinggang.
"Ya udah mari ku bantu", kata Adel seraya bangkit dari duduknya.
"Telat, sudah selesai semua", kata Nina sembari masuk ke dalam rumah.
Adel bermaksud menyusul Nina tapi tiba-tiba ada sebuah motor besar masuk ke halaman rumahnya. Adel cuma memperhatikan pria tersebut turun dari motornya. Kemudian dia menuju ke arah Adel.
" Ninanya ada?", tanya pria itu. Adel melihat pria tersebut dari atas ke bawah seperti penyidik.
"Ada, maaf dengan kakak siapa ya?", tanya Adel sambil terus memandangi sang pria yang ada di hadapannya.
"Dengan kak Dedi", kata Dedi memperkenalkan diri.
"Tampan juga nih orang", bisik batin Adel.
"Dek bisa ketemu dengan kakak kamu?", tanya Dedi mengagetkan Adel.
"Eh iya kak bisa, bentar ya di panggilin dulu", kata Adel. Dedi mengangguk.
Adel masuk ke dalam rumah. Tak lama Adel muncul kembali.
"Masuk saja dulu kak, mbak Na lagi mandi", kata Adel.
Adel mempersilakan masuk pada tamunya. Adel langsung ke belakang menuju dapur. Dedi masuk dan duduk di ruang tamu. Dedi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
Tak lama Adel kembali dengan membawa secangkir teh manis hangat.
"Silakan di minum kak", kata Adel.
__ADS_1
"Terima kasih ya, jadi ngerepoti",kata Dedi.
"Tinggal dulu ya kak", kata Adel sambil berlalu.
Dedi hanya mengangguk.
"Maaf ya lama nunggunya", kata Nina merasa tak enak hati.
"Gak papa", kata Dedi memandang Nina penuh arti.
Nina mau bertanya apa maksud kedatangan Dedi ke rumahnya, tapi niat itu di batalkannya. Akhirnya Nina dan Dedi bercerita bersenda gurau, ingat di masa-masa sekolah mereka dulu.
*****
Semenjak saat itu Dedi lebih sering datang ke rumahnya Nina. Nina senang ada kawannya yang mau datang ke rumahnya. Bahkan Dedi dan Nina sudah sering jalan berdua.
Hingga suatu hari Dedi tak bisa untuk tidak mengutarakan isi hatinya..
"Nin, ada yang ingin aku katakan padamu", kata Dedi agak sedikit gugup.
"Ya apa Ded?", tanya Nina tak mengerti.
"Sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini padamu", kata Dedi sambil menatap Nina.
Nina memandang Dedi menunggu apa yang akan di katakan Dedi.
"Tapi kamu jangan marah ya", kata Dedi pada Nina.
Nina mengangguk. Dedi kembali melanjutkan kalimatnya.
"Dari dulu aku suka sama kamu Nin dan sampai sekarang rasa itu masih ada, mau kah kamu jadi kekasihku?", kata Dedi pada Nina.
"Nin ku mohon jawablah, aku cinta kamu Nin, kamu gak marahkan?", tanya Dedi lagi.
Nina menggeleng.
"Aku butuh jawaban darimu Nin, ku mohon jawablah, apa pun keputusanmu aku akan terima", kata Dedi pasrah.
Nina merasa tenggorokannya kering seketika. Di pandangnya wajah tampan Dedi sejenak. Nina menarik nafasnya, menghempaskannya kasar.
"Nin, maukah kamu jadi kekasihku?", tanya Dedi mengulang pertanyaannya.
Nina tertunduk.
"Aku belum siap Ded, tapi bukan berarti aku sudah punya pacar, tidak...aku hanya belum berpikir ke sana, aku masih ingin bebas, belum mau terikat", kata Nina masih tertunduk.
"Aku tidak memaksamu sekarang, aku bisa menunggumu kapan kamu siap", kata Dedi tidak memaksa.
"Aku serahkan sama allah Ded, aku tidak akan menolak kalau kelak kamu adalah jodohku, tapi untuk sekarang kita teman saja ya, maafkan aku, aku belum siap Ded", kata Nina memberanikan diri menatap bola mata Dedi.
Ada kekecewaan mendalam di hati Dedi tapi walau bagaimanapun dia tidak bisa memaksa Nina untuk menjadi kekasihnya.
"Jujur aku sangat kecewa Nin, tapi aku bisa apa, aku hanya berharap kelak kamu bisa menjadi bagian dalam hidupku",kata Dedi sembari memegang tangan Nina. Nina menarik halus tangannya dari genggaman Dedi.
"Takkan lari gunung di kejar, kalau kita memang jodoh kita pasti akan dipertemukan lagi", kata Nina memegang bahu Dedi.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, jaga diri kamu, kita tetap teman kan?",:tanya Dedi.
__ADS_1
Nina menganggukkan kepalanya. Dedi tersenyum di paksakan. Dedi bangun dari tempat duduknya dan bermaksud berlalu dari hadapan Nina.
'Ded", kata Nina, Dedi menghentikan langkahnya.
"Ya?!",Dedi membalikkan badannya.
"Sekali lagi maaf ya", kata Nina tak enak hati.
"Ya Nin gak papa, pulang dulu ya", kata Dedi seakan tak terima atas penolakan Nina.
Nina mengangguk. Dedi berlalu. Nina mengantarkan Dedi sampai teras depan. Dedi menaiki motor besarnya dan pulang. Nina masuk kembali ke dalam rumah setelah Dedi menghilang dari pandangannya.
"Adel", kata Nina kaget saat Adel sudah tegak di depan pintu.
"Kamu tuh ya bikin kaget aja, sejak kapan kamu berdiri di situ?", tanya Nina, dadanya masih bergemuruh karena kaget.
"Kepo sih mbak", kata Adel sambil tersenyum pada Nina.
"Eehhh mau kemana?kamu belum menjawab pertanyaanku", kejar Nina.
"Mbak Na juga kenapa mesti nolak sih orang ganteng gitu", kata Adel sambil terus melangkah menuju kamarnya.
"Mbak tidak mau pacaran dulu, mbak mau fokus cari uang dulu", kata Nina mengikuti langkah Adel.
"Coba kalau aku jadi mbak, aku akan terima kak Dedi jadi kekasihku, dia baik, ganteng, mapan juga", kata Adel sekenanya.
"Kenapa kamu yang sewot sih?",tanya Nina setelah duduk di ranjang Adel.
"Mbak jangan mikirin aku dan ibu terus, pikirkan juga mbak, umur mbak kan sudah pas untuk berumah tangga", jelas Adel.
"Iish anak kecil sudah bisa menasehati ternyata"kata Nina.
"Iya mba, mbak juga harus memikirkan masa depan mbak juga", kata Adel.
Tiba-tiba suara ibu mereka terdengar memanggil nama Nina.
"Nina", kata ibunya suara sedikit keras.
"Ada apa bu?", tanya Nina setelah dekat dengan ibunya.
"Ada tamu untuk kamu", kata sang ibu.
Nina.mengkerutkan keningnya. Nina menuju pintu.
"Ada apa ya Dedi kembali lagi?", gumam Nina dalam hati.
Nina membuka pintunya. Orang tersebut membelakanginya.
"Koq balik lagi, ada yang tinggal ya?",tanya Nina langsung.
Orang tersebut membalikkan badannya. Orang itu tersenyum.
"Kau?", kata Nina kaget.
.
.
__ADS_1
.
Tolong bantu votenya ya. Jangan lupa like dan komennya juga. Thanks.