
Semenjak Marsel cerita tentang hubungan Sofi dan Nina, Jimmy berpikir panjang tentang hubungan kedua wanita tersebut. Jimmy baru tahu kalau Sofi dan Nina berteman dekat dan saling curhat.
"Nina tidak pernah cerita tentang Sofi, bisa-bisanya dia curhat sama orang lain, apalagi itu orang yang baru di kenalnya", gumam Jimmy.
"Setahuku Nina bukan tipe pengumbar cerita. Atau mungkin karena dia bosan di rumah sehingga dia mudah cerita dengan sembarang orang. Sebaiknya aku ijinkan saja dia ingin buka usaha tersebut, jadi waktunya di sibukkan dengan kerja bukan dengan bergosip", gumam Jimmy lagi.
Setelah selesai dengan pekerjaan kantornya, Jimmy segera pulang ke rumahnya.
"Sudah pulang", sambut Nina pada Jimmy suaminya.
"Pekerjaan di kantor telah selesai, aku ingin mengajak kamu menemui seorang teman", jelas Jimmy.
Nina mengambil tas di tangan Jimmy. Keduanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Siapa?", tanya Nina.
"Ada ruko yang mau di jual, letaknya strategis di pinggir jalan poros, dekat pasar dan tak jauh dari perumahan, dengar-dengar mau di jual karena dia akan pindah ke Medan", jelas Jimmy.
"Kapan?", tanya Nina bersemangat.
"Sekarang juga boleh", kata Jimmy enteng.
"Baiklah aku ganti baju dulu ya", ujar Nina.
"Aku juga mau ganti baju kaos aja, gerah sekali. Hari ini panasnya ekstrim banget", kata Jimmy mengiringi langkah Nina menuju kamar.
"Memangnya rumahnya di mana sih Bang?", tanya Nina setelah mereka berada di dalam mobil.
"Tidak jauh dari ruko tersebut. Setengah jam lagi nyampai", ujar Jimmy.
"Rumahnya mau di jual juga ya?", tanya Nina.
"Dengar kabar cuma rukonya yang mau di jual, rumahnya nggak", jelas Jimmy yang matanya tetap fokus ke jalan.
"Ohh", ucap Nina singkat.
"Oh iya ada kabar gembira Marsel akan lamaran dalam waktu dekat", ujar Jimmy.
"Akhirnya, Sofi pasti bahagia", ucap Nina.
"Emangnya kamu kenal sama Sofi?", tanya Jimmy penasaran.
"Ya kenal lah Bang, orang Sofi sepupu aku koq", kata Nina santai.
"Koq aku baru tahu kalau Sofi sepupu kamu", kata Jimmy.
"Dia itu anak dari paman aku, kami dua beradik nenek", jelas Nina.
"Ohh pantes aku tidak paham tentang hubungan kalian kalau neneknya adalah adik nenek kamu", kata Jimmy.
"Iya begitulah, kami jarang ketemu. Paling ketemunya di sosmed karena aku orangnya jarang keluar, dia juga orangnya sibuk, tapi komunikasi tetap jalan. Kalau mereka jadian artinya kami akan jadi sering ketemu", jelas Nina.
Jimmy manggut-manggut. Jimmy fokus ke jalan. Sesaat keduanya diam mengikuti alur pikiran masing-masing.
Akhirnya mereka tiba pada tempat yang dituju.
" Yuk turun, sudah sampai", ajak Jimmy.
Mereka turun dari mobil dan menuju sebuah rumah yang di penuhi tanaman bunga tersebut.
__ADS_1
"Pecinta bunga, jadi ingat di rumah ibu banyak bunganya ", ucap Nina seraya menyentuh mawar putih yang lagi merekah indah.
Jimmy hanya tersenyum. Jimmy mendekati pintu dan mengetuknya. Tak lama keluar seorang lelaki berperawakan besar tinggi dan sedikit buncit.
"Jimmy bosku, apa kabar?ada angin apa nih kemari?tumben-tumbenan datang tidak kasih kabar dulu", kata lelaki tersebut seraya menjabat tangan Jimmy.
"Ayo masuk, kita ngobrol di dalam", ajak pria tersebut.
Jimmy mengajak Nina untuk masuk. Mereka duduk di ruang tamu.
"Ma buatin minum, ada tamu", kata pria tersebut pada isterinya yang muncul dari belakang setelah mendengar ada suara orang bicara di ruang tamu.
"Eehh Jimmy, sama siapa?", tanya isteri pria tersebut.
"Sama isteri saya, ayo sayang kenalan dulu", ucap Jimmy pada Nina.
Nina mengulurkan tangannya pada wanita tersebut.
"Nina",
"Saras",
Mereka saling menyebutkan nama.
"Dan ini namanya bang ucok Anton", kata Jimmy menunjuk pada pria tersebut.
Nina menganggukkan kepalanya.
"Silakan duduk, saya ke belakang dulu", ujar Saras.
"Semua di kerjakan sendiri, tidak ada pembantu", kata bang Ucok Anton tentang isterinya.
"Ngomong-ngomong ada hal apa nih?gak biasanya datang tiba-tiba gini", tanya bang Ucok dengan logat bataknya.
"Mau nanya ruko yang di sana, kabarnya mau kamu jual", ucap Jimmy.
"Iya, kami mau pulang kampung mau urus kebun di sana, susah kalau jauh begini", jelas bang Ucok.
"Ohh gitu, jadi rumah ini mau di jual juga?", tanya Jimmy.
"Kalau rumah mau di kontrakkan saja, siapa tahu nanti ada keinginan balik sini lagi", jelas bang Ucok.
"Ohh gitu", jawab Jimmy singkat.
"Memangnya ada yang berminat?", tanya bang Ucok Anton.
"Rencananya saya mau beli untuk isteri saya ini, dia mau buka kuliner khas indonesia", jelas Jimmy.
"Cocok banget itu, tempatnya strategis sekali pasti cepat majunya", jelas bang Ucok.
"Iya Bang, harapannya gitu", kata Jimmy.
Saras muncul dengan membawa dua cangkir teh.
"Silakan di minum", katanya pada Jimmy dan Nina.
"Terima kasih", kata Jimmy dan Nina berbarengan.
Jimmy dan Nina meminum teh yang di suguhkan oleh sang pemilik rumah.
__ADS_1
Jimmy bernegosiasi tentang ruko tersebut dengan bang Ucok Anton. Semua berjalan dengan lancar. Jimmy akhirnya bisa mendapatkan ruko tersebut dengan sebuah kesepakatan.
Jimmy memberikan cek berisikan jumlah uang sesuai hasil negosiasi pada bang Ucok. Bang Ucok Anton memberikan kunci ruko dan sertifikat serta surat menyurat lainnya kepada Jimmy.
Jimmy dan Nina pamitan setelah semuanya selesai. Mereka permisi untuk pulang.
Nina dan Jimmy menuju mobil dan meninggalkan kediaman bang Ucok Anton.
"Bagaimana kamu bahagia?", tanya Jimmy sambil melirik Nina.
Nina mengangguk.
"Terima kasih ya", kata Nina sambil tersenyum.
Jimmy memutar mobilnya ke arah yang berbeda.
"Loh mau kemana?", tanya Nina yang mengetahui kalau jalan yang di tempuh Jimmy bukan jalan pulang ke rumah mereka.
"Kita lihat rukonya dulu", ucap Jimmy.
"Oohh", kata Nina singkat.
Nina terdiam. Jimmy terus menjalankan kendaraannya. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruko dua tingkat yang berdiri kokoh di tepi jalan tersebut.
Keduanya turun dan melihat keadaan ruko tersebut.
"Kamu suka?", tanya Jimmy pada Nina.
"Suka banget", jawab Nina senang.
"Besok atau lusa kamu sudah bisa mengisinya dengan segala pernak-perniknya sesuai keinginan kamu", kata Jimmy.
"Iya tapi harus di bersihkan dulu Bang, terus aku mau ganti warna catnya dulu biar lebih fresh, boleh ya?", tanya Nina meminta persetujuan.
"Boleh. Besok suruh pak Harto mencari tukang cat yang bagus dan cekatan, biar cepat selesai. Kamu mau warna apa?", ucap Jimmy.
"Hijau lumut atau warna toska sepertinya lebih fresh", kata Nina.
"Terserah kamu sajalah. Besok biar pak Harto yang urus semuanya, kamu bisa merancang posisi dan barang-barang yang akan kamu jual nantinya", ujar Jimmy.
"Oke suamiku sayang, kamu baik banget", kata Nina sambil menggandeng tangan suaminya.
Setelah puas melihat-lihat, akhirnya Jimmy dan Nina pulang ke rumah karena hari sudah mulai senja.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers ku sayang.
Jangan lupa kasih like, komen dan kasih votenya juga ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1