
Syukuran yang di gelar Jimmy cukup meriah. Para pegawai dan karyawannya mengucapkan selamat pada Jimmy dan Nina. Tika sebagai teman dekat Nina di kantor, dia lah yang paling bahagia. Dia senang melihat Nina bahagia. Senyum terukir di wajah kedua sahabat tersebut.
"Selamat ya, semoga tetap langgeng, menua bersama sampai ajal menjemput. Ponakanku juga harus di jaga, makan yang banyak biar bayinya sehat", kata Tika.
"Ma kasih ya, ku doakan semoga kamu cepat menyusul", kata Nina.
"Aamiin", kata Tika dengan senyum khasnya.
Semua turut berbahagia. Tak terkecuali Marsel. Dia membawa Sofi bersamanya.
"Akhirnya kamu bawa juga gadismu ke sini", goda Jimmy pada Marsel.
"Pasti bro. Kami juga tak lama lagi akan menyusul kalian. Iya kan sayang?", kata Marsel.
Sofi hanya tersenyum. Jimmy dan Marsel tertawa renyah.
Mereka berfoto bersama. Marsel memposting foto tersebut di media sosial. Marsel tidak tahu kalau aksinya menuai masalah.
Adik Jimmy yang bernama Rinaldy yang berada di luar negeri melihat postingan tersebut. Rinaldy membaca caption yang ada di foto Marsel.
"Syukuran Jimmy dan Nina. Ini apa maksudnya?", gumam Rinal.
Rinal penasaran. Dia menelepon ke mamanya.
"Halo sayang, apa kabar?dah lama gak nelpon mama?",tanya Liana pada putranya.
"Baik Ma, maaf baru sempat nelpon, sekarang mama di mana?" kata Rinal.
"Di Jalan sama calon kakak kamu", kata Liana seraya menoleh ke arah Prili.
"Calon kakak?maksudnya?", Rinaldy belum begitu mengerti.
"Ini mama lagi mau nemani calon isteri kakak kamu Jimmy, mau ke salon teman mama", jelas sang mama.
"Calon isteri?bukankah kak Jimmy sudah menikah?", kata Rinal bingung.
Wajah Liana berubah seketika.
"Dari mana kamu tahu?", Liana murka.
"Apa mama gak tahu kalau kakak mengadakan syukuran di kantornya?",tanya Rinal bingung.
"Kakak kamu baru akan tunangan minggu nanti, seandainya kamu melihat berita miring tentang kakak kamu, jangan di gubris",terang Liana sang mama.
"Ini bukan berita miring Ma, aku melihatnya ", jelas Rinal.
__ADS_1
"Ahh sudahlah, nanti kita bicarakan lagi sekarang mama masih di jalan", jelas Liana.
"Ya sudah hati-hati Ma", kata Rinal.
Liana memutus obrolan mereka. Prili yang dari tadi hanya mendengarkan saja, akhirnya berkomentar juga.
"Bagaimana ini Tan?bagaimana kalau berita ini sampai ke telinga mama dan papa", kata Prili cemas.
"Kamu tenang saja, apa pun yang akan terjadi kamu akan tetap menikah dengan Jimmy", jelas Liana.
Prili sedikit lega mendengar perkataan calon mertuanya.
Prili tersenyum walau ada sedikit ketakutan dalam hatinya.
"Semoga berita tersebut tidak sampai ke mama dan papa, aku tidak akan membiarkan Jimmy berbuat semaunya, aku harus bertindak cepat", batin Prili.
Liana dan Prili sudah tiba di tempat yang di tuju. Liana ingin Prili tampil lebih sempurna di tangan orang yang sudah profesional. Liana ingin Jimmy akan tunduk dengan kecantikan dan pesona Prili. Begitulah cara Liana mengambil hati Jimmy anak sulungnya. Berbagai macam cara di lakukannya agar Jimmy menerima Prili menjadi pendamping hidupnya.
*****
Sementara itu Kevin ingin pergi jauh dari kota kelahirannya. Dia ingin melupakan mengubur duka hatinya karena penolakan yang di lakukan oleh Adel. Kevin mengambil kuliah di provinsi lain. Dia mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Dia ingin menjadi pembisnis hebat. Kevin ingin berhasil dengan bisnis yang di jalaninya nanti dan tentunya dengan manajemen yang baik yang akan di lakukannya sendiri.
"Aku akan buktikan aku akan menjauhimu, aku mau kejar cita-citaku dulu. Setelah berhasil aku akan datang padamu lagi", batin Kevin seraya melintas wajah Adel di benaknya.
Hari pertama bagi anak rantauan adalah hari yang sangat melelahkan. Urus segala sesuatunya sendiri. Kevin berusaha untuk sebisa mungkin mengatur semua kebutuhannya dan waktunya.
Kevin masih belum paham dengan jalan kota yang baru di pijaknya tersebut. Tidak ada pilihan, ojol lebih gampang dan praktis. Walau harus merogoh kocek sedikit lebih banyak dari kendaraan lain tapi Kevin lebih memilih ojol yang lebih memudahkan jalannya.
Di tempat lain, Adel akhirnya di terima di salah satu universitas terkenal di kotanya.
"Akhirnya aku di terima di sini, senang banget. Terima kasih ya Allah", ucap Adel.
Adel lebih memilih jurusan yang peminatnya sangat minim bagi seorang wanita. Tidak kebanyakan para wanita yang lebih memilih kantoran atau yang kerjanya gampangan.
"Aku suka banget dengan berbagai tanaman, semoga cita-citaku ingin menjadi pembisnis di bidang pertanian akan sukses kelak Aamiin", gumam Adel.
Adel lebih memilih jurusan agribisnis. Dia ingin mengembangkan bakatnya di bidang pertanian.
"Jangan kayak mbak Na, ambil jurusan administrasi perkantoran tapi sukanya bercocok tanam, gak nyambung banget", gumam Adel sambil sambil terkekeh.
Adel duduk di sebuah taman di universitas tersebut. Iseng Adel membuka media sosialnya. Adel tak sengaja melihat postingan Marsel yang menandai Nina.
"Kak Jimmy adakan syukuran di kantor, koq gak ngajak kami sih?bentar... ini adalah hari ini. Artinya...ahhh mbak Na, koq gak nelpon aku sih", celoteh Adel.
Adel melihat kembali ponselnya. Adel mencari nomor Nina di ponselnya. Ia memencet nomor Nina dan menelponnya.
__ADS_1
"Halo adek mbak yang cantik, gimana udah mau kuliah ya?", tanya Nina setelah tahu siapa yang menelponnya.
"Sudah mbak, sudah mulai hari ini. Oh iya koq syukurannya gak ngajak-ngajak sih mbak?", tanya Adel langsung ke pokok permasalahannya.
"Kamu tahu dari mana?", tanya Nina tidak enak hati.
"Ini jaman canggih mbak, segala sesuatu sangat cepat dan mudah bisa di terima", jelas Adel.
"Iya sih tapi ini dadakan, ini semua Jimmy yang atur, Mbak aja sempat kaget, ini cuma sesama karyawan dan pegawai kantor saja, tidak ada orang luar", jelas Nina.
"Oohh", kata Adel singkat.
"Iya gitu ceritanya, makanya gak ngajak kamu sama ibu", kata Nina pelan.
"Iya udah deh, yang penting mbakku bahagia dan selalu rukun", ujar Adel.
"Aamiin, kalau udah kuliah pulangnya langsung ke rumah gak usah kelayapan", kata Nina.
"Iya mbak sayang, udah ya mbak, Adel pulang dulu",jelas Adel.
"Hati-hati jangan ngebut", kata Nina.
"Iya", jawab Adel seraya mengakhiri pembicaraan mereka.
Adel menuju tempat parkir dan mengambil motornya. Adel memasang helmnya dan siap menstarter motornya. Adel melajukan motornya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan hitam yang seperti tiada ujungnya.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya readers.
Bantu like, komen dan votenya juga ya.
Terima kasih yang sudah like, dan komennya.
Mampir juga ke karyaku lainnya ya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1