
"Pembunuh?siapa yang abang maksud pembunuh?", tanya Nina tak mengerti.
"Prili yang menyebabkan kamu keguguran waktu itu, dia pelakunya" kata Jimmy geram.
"Apa?",
Mata Nina terbelalak. Mata membulat sempurna.
"Abang gak asal ngomong kan bang?jangan sampai Prili menuntut balik atas pencemaran nama baik", Nina ingin memastikan.
"Kalau nggak ngapain juga abang sampai marah dan kesal sehingga kaca pun jadi sasaran", kata Jimmy.
"Motifnya apa sih bang?tega Prili lakukan itu padaku", tanya Nina.
"Dia tidak ingin kamu punya anak dariku", kata Jimmy menatap wajah Nina.
"Ya Allah sampai segitunya Prili mencintai kamu bang. Kasihan dia", Nina malah merasa kasihan pada Prili bukannya membenci Prili.
"Kamu tidak marah atau sakit hati padanya?", tanya Jimmy tak mengerti sikap isterinya itu.
"Bang, jujur aku sangat sangat tidak rela kebahagiaanku di rebut orang lain. Apalagi itu adalah orang yang sudah jelas-jelas menjadi rivalku, dan sekarang aku tahu bahwa aku keguguran pun di sebabkan oleh orang yang sama. Siapa sih bang yang tak marah atau sakit hati?tapi kalau ku lihat semua di lakukannya demi mendapatkan cinta abang secara total. Sebenarnya semua itu tergantung abang. Finishnya abang yang tentukan. Tapi aku merasa kasihan padanya, dia bisa gila bila abang menceraikannya. Setidaknya abang lihat keadaan dia sekarang, Prili lagi sakit bang. Alangkah terlihat kejamnya di saat masih sakit, harus menerima perceraian pula. Kasihan dia bang", ujar Nina panjang lebar.
Jimmy menjadi sedikit ragu dengan keputusannya. Nina ada benarnya. Sangat tidak manusiawi jika mengajukan perceraian di saat Prili lagi tidak baik-baik saja. Jimmy menimbang-nimbang keputusannya.
"Beri dia kesempatan bang", kata Nina lagi.
Jimmy memandang wajah Nina lekat.
"Ohh Ninaku, semulia itu hatimu", batin Jimmy.
"Apa kamu tidak merasa kalau dia sangat keterlaluan?", Jimmy mencoba untuk mengkritik.
"Allah itu tidak tidur siang tidak tidur malam bang, kalau kita baik mudah-mudahan akhirnya juga baik. Mudah-mudahan dia mendapat hidayah -Nya", ucap Nina.
Jimmy tersenyum. Nina menyandarkan kepalanya di bahu Jimmy. Jimmy meraih tubuh Nina kedalam pelukannya.
"Aku terus berdoa semoga yang di titipkan Allah di sini sekarang selalu sehat dan kuat ", kata Nina seraya mengelus perutnya.
Jimmy pun ikut-ikutan mengelus perut Nina.
"Maafkanlah Prili bang", kata Nina lagi.
"Iya baiklah. Tapi ini karena kamu yang meminta. Dan jika suatu hari nanti dia mencoba kembali untuk mencelakai kamu, aku tak akan mengubah keputusanku lagi", kata Jimmy.
"Gitu dong. Kalau papanya baik, anaknya juga baik nantinya", kata Nina kembali mengelus perutnya.
Jimmy hanya tersenyum mendengar opsi isterinya.
"Semoga nantinya dia benar-benar berubah ya bang", kata Nina lagi.
"Semoga", kata Jimmy.
"Ngomong-ngomong ada yang bisa di makan gak nih?", tanya Jimmy.
"Abang lapar?", Nina balik bertanya.
"Kalau tidak lapar tidak akan nanya soal makanan ", kata Jimmy seraya memencet hidung Nina.
"Kali aja mau ngajak jalan, keluar rumah gitu. Mbak Yuni masak sih bang tapi aku lagi pengen pecel lele ", kata Nina mesem.
"Ooh jadi maksudnya mau makan di luar nih?", Jimmy mencoba menebak.
Nina hanya tersenyum.
__ADS_1
"Demi yang di sini", kata Jimmy seraya meletakkan tangannya di atas perut Nina.
"Tapi gak papa kan ya ke pecel lele", kata Nina hati-hati.
"Demi bidadari surgaku ", kata Jimmy mencoba mencairkan suasana hatinya.
"Gitu dong", kata Nina sumringah.
Mereka pun akhirnya pergi ke tempat pecel lele. Dan mereka pun makan di sana.
Pulang dari makan, Jimmy tak langsung mengajak Nina pulang ke rumah mereka. Jimmy melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.
Jimmy menceritakan perihal rumah tangganya pada mama dan papanya. Mereka sangat terkejut. Tidak menyangka Prili tega melakukan semua itu.
Jimmy dan Nina tak lama di sana. Setelah beberapa jam akhirnya mereka pun meninggalkan kediaman orang tuanya.
****
Tiga hari sudah berlalu. Setelah kejadian itu Jimmy tak lagi datang atau sekedar memberi kabar pada Prili. Pak Bowo sangat memahami konflik yang sedang terjadi dalam rumah tangga anaknya. Dia tidak terlalu menuntut pada Jimmy untuk peduli pada anaknya. Pak Bowo mengantengkan permasalahan tersebut untuk sementara. Dia mau lihat apa yang akan Jimmy lakukan pada anaknya.
"Pa, apa menurut papa Jimmy akan membawa masalah ini ke rana hukum?", tanya mama Hanny pada suaminya.
"Entahlah. Kalau melihat dari kemarahannya waktu itu, aku yakin dia tidak akan membiarkan Prili bebas begitu saja tapi ini sudah tiga hari tapi tak ada terjadi sesuatu apapun di sini",pak Bowo menganalisa.
"Apa itu artinya Jimmy memaafkan Prili?", tanya mama Hanny.
"Entahlah. Papa hanya pasrah dengan keadaan. Karena memang Prili sudah sangat keterlaluan", ujar pak Bowo.
"Mama tahu Prili salah pa, tapi mama ingin papa membuat pembelaan buat Prili pa. Mama tidak mau Prili di penjara pa. Dia masih sakit", mama Hanny mencoba untuk membuat hati pak Bowo iba.
"Mama tahu kan, papa sangat membenci ketidakadilan. Dan ini anak kita melakukannya. Papa sudah tidak bisa berpikir waras gara-gara Prili. Cinta telah membutakan matanya. Biarkan dia berpikir. Seandainya Jimmy harus membawa ini ke rana hukum kita bisa berbuat apa. Anak kita memang salah", jelas pak Bowo.
"Setidaknya buat hukumannya menjadi ringan pa, bantu Prili dengan pengacara terbaik di kota ini", mama Hanny seperti tak menerima begitu saja kata-kata suaminya.
Tiba-tiba ponsel mama Hanny berbunyi. Mama Hanny melihat layar ponselnya.
"Liana pa", kata mama Hanny seraya menatap suaminya pak Bowo.
"Angkat", kata pak Bowo tenang.
Mama Hanny mengangkat telepon dari mama Liana.
"Iya Li ada apa?", tanya mama Hanny langsung.
"Kamu di mana?kita harus bicara sekarang", kata mama Liana.
"Di rumah. Kamu ke rumahku aja ya", kata mama Hanny.
"Baiklah aku ke sana sekarang", kata mama Liana.
Obrolan pun berakhir.
"Ada apa?",tanya pak Bowo.
"Ada yang mau di bicarakan katanya", kata mama Hanny sedikit kecut.
Pak Bowo menghela nafasnya.
"Mungkin Liana akan membahas masalah ini", ujar pak Bowo.
"Mungkinlah pa", kata mama Hanny tak bersemangat.
Pak Bowo mengajak isterinya Hanny untuk keluar dari kamar. Pak Bowo menuju ruang tamu sedangkan mama Hanny menuju dapur.
__ADS_1
"Bik, siapkan minum dan cemilan ya mau ada tamu", kata Hanny pada asisten rumah tangganya bik Ina.
"Baik Nya",kata bik Ina.
Hanny meninggalkan dapur dan menuju ruang tamu. Tak lama Liana pun datang di temani suaminya Purnama.
"Mari silakan duduk", kata pak Bowo.
Purnama dan Liana duduk bersebelahan. Suasana sedikit kaku. Pak Bowo mencairkan suasana tersebut.
"Ma buat minum untuk besan kita", kata pak Bowo pada mama Hanny.
"Iya pa, bentar ya di tinggal dulu", kata Hanny pada kedua besannya itu.
"Gak usah repot-repot Han, kita nggak lama koq", kata Liana.
"Gak papa Li, kamu kan jarang juga datang kemari", kata Hanny berusaha menenangkan hatinya.
Haanny tersenyum dan berlalu menuju dapur. Tak lama mama Hanny datang bersama bik Ina dengan membawa minum beserta cemilannya.
Setelah meletakkan minum dan cemilannya bik Ina pun berlalu.
"Kita langsung aja ke pokok permasalahannya", kata pak Purnama yang diam dari tadi.
Mama Hanny dan Liana saling pandang.
"Jimmy sudah menceritakan semuanya pada kami. Sebagai orang tua, kami merasa sangat kecewa dengan kelakuan Prili. Pendidikan tinggi dengan latar belakang keluarga yang bonafit, memiliki wajah yang cantik ternyata prilakunya begitu. Maaf kalau kata-kataku sedikit kasar", kata Purnama langsung.
"Kami juga sangat kecewa dengan kelakuan Prili. Seandainya Jimmy mau membawa ini ke rana hukum, kami tak bisa berbuat banyak. Anak kami memang salah, terserah kalian maunya bagaimana ", kata pak Bowo pasrah.
"Nina berhati mulia, dia memaafkan Prili dengan begitu gampang. Dia cuma minta Prili tidak mengulangi perbuatannya lagi", kata Liana menimpali.
"Benarkah?", kata Hanny dengan rasa tidak percaya.
"Iya, Nina tidak mau berita ini menyebar. Dia tidak mau reputasi Jimmy rusak gara-gara masalah ini. Ia cuma ingin Prili tobat dan tidak melakukannya lagi", kata Liana lagi.
"Baik sekali hati si Nina ya", gumam Hanny.
"Ayo di minum dan di makan dulu cemilannya", kata pak Bowo pada besannya.
Pak Purnama dan Liana meminum minuman yang telah di siapkan untuk mereka tersebut.
"Kami kira itu saja, kami ke sini cuma untuk menyampaikan hal tersebut. Jimmy mungkin masih belum memaafkan Prili tapi setidaknya Jimmy tidak membawa masalah ini ke polisi", kata pak Purnama.
"Baiklah, sampaikan terima kasih kami pada Nina. Tolong sampaikan permintaan maaf kami padanya ", kata pak Bowo.
Setelah merasa tak ada lagi yang mau di bicarakan, akhirnya pak Purnama membawa isterinya untuk pulang ke rumah mereka.
.
.
.
Selamat membaca ya readersku terkasih.
Jangan lupa kasih like nya ya. Komentar-komentarnya di tunggu.
Votenya jangan lupa juga ya.
Mampir juga ke karyaku lainnya:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1