Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Berita hoax


__ADS_3

Nina mulai mengisi tokonya dengan berbagai kuliner dari berbagai daerah. Nina mencari makanan berbagai daerah melalui media sosialnya. Nina membuka internet dan memilih makanan yang bisa di jual dan bisa bertahan dalam waktu yang lama.


"Ini sepertinya laris manis", ujar Nina seraya mengklik makanan khas Yogyakarta.


Roti via dengan berbagai varian dari Yogyakarta tersebut di pesan oleh Nina. Nina mencari lagi dan lagi sehingga hampir seluruh makanan dari seluruh penjuru Indonesia di dapatnya.


Nina terus mencari agar lebih banyak makanan khas daerah bisa di dapatkannya. Tiba-tiba Nina mengeryitkan dahinya. Nina membaca berita yang baru saja di lihatnya.


"Pengusaha muda berinisial J menikahi anak pengusaha ternama yang berinisial W. Yang resepsinya akan di laksanakan minggu nanti", Nina terus membaca berita sampai akhir tapi tak ada foto yang tertera di sana. Nina mencoba menerka-nerka siapa orang yang di maksud oleh berita tersebut.


Nina mencoba mencari berita lainnya tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Ada apa lagi nih si bocah", gumam Nina setelah melihat layar ponselnya.


Nina menerima panggilan di ponselnya.


"Iya ada apa?", tanya Nina.


"Gawat mbak', katanya.


"Ada apa lagi sih Del, apanya yang gawat?", tanya Nina. Ternyata Adel sang adik yang menelpon.


"Mbak udah baca berita terbaru belum?", tanya Adel agak sedikit ragu.


"Berita apa? tentang apa?", tanya Nina bingung.


"Mbak, kak Jimmy mau...", ucap Adel tak melanjutkan kalimatnya.


"Jimmy mau apa?", tanya Nina tak mengerti.


"Aduh mbak jadi istri lugu banget sih, baca tuh berita", ucap Adel.


"Kamu itu ya dari tadi berata berita, ngomong yang jelas, mbak lagi banyak kerjaan gak usah bertele-tele ", ujar Nina kesal.


"Oke tapi mbak harus kuat ya karena ini menyangkut kelangsungan rumah tangga kalian juga", celoteh Adel.


"Adel gak usah banyak cerita, bilang aja yang ada apa", kata Nina dengan nada tinggi.


"Dengar baik-baik, minggu nanti akan ada acara resepsi pernikahan Jimmy pengusaha muda, itu artinya kak Jimmy. Dan yang perlu mbak tahu, itu acara resepsi dan itu artinya kak Jimmy sudah menikah, apa mbak tidak tahu akan hal itu?", tanya Adel.


Nina bukan orang mudah percaya begitu saja akan suatu berita, apalagi itu di ketahuinya dari orang bukan oleh dirinya sendiri langsung.


Nina senyum mendengar celotehan Adel adiknya.


"Bocah cilik, kalau curiga itu boleh-boleh saja jangan berlebihan, lagian itu kan baru inisial 'J' dan itu bukan berarti cuma Jimmy dong, bisa jadi Joni, Jerry atau Jono, iya kan?", bantah Nina.


"Mbak ini gimana sih?apa ada pengusaha di kota ini bernama Joni, Jono. Mbak jangan diam aja sih mbak?ibu belum tahu lho, aku juga gak ngerti kalau ibu tahu nantinya, pasti ibu syok", jelas Adel.


"Sudah tak usah di bahas lagi, nanti aku tanya langsung sama Jimmy, gak usah di pikirkan", ucap Nina. Walau ada rasa ngilu di hatinya mendengar berita tersebut tapi Nina berusaha untuk tenang karena dia belum tahu kebenarannya.

__ADS_1


Nina menutup teleponnya. Adel sangat kesal.


"Iihh gimana sih orang beri informasi malah di matiin, mbak mbak jadi orang koq lugu banget sih, sepertinya aku harus lakukan sesuatu", gumam Adel.


Adel pulang tapi tidak menuju rumahnya melainkan mendatangi tempat dimana Nina berada.


"Ngapain kamu kemari?kamu kan kuliah?", tanya Nina setelah Adel sudah berada di dekatnya.


"Udah pulang, aku langsung ke sini", ucap Adel seraya duduk di kursi yang ada di dekat pintu.


"Nanti ibu nyari lho", kata Nina.


"Nanti ku telepon. Sekarang mbak ikut aku aja dulu, kita lihat kebenarannya", ujar Adel.


"Kebenaran apa?kalau soal itu tadi, nanti sore aku tanyakan sama Jimmy nya langsung", ujar Nina.


"Lebih baik kamu bantu mbak beres-beres ini dari pada ngurusin berita hoax seperti itu", ujar Nina lagi.


"Nggak gak gak pokoknya mbak harus ikut aku sekarang ", kata Adel bertahan dengan keinginannya.


Adel menarik tangan Nina.


"Eehh main tarik aja, ini tutup dulu tokonya", ujar Nina.


"Ayo cepat mbak aku bantu", kata Adel tak sabar.


"Ayo mbak kita berangkat", ajak Adel setelah mereka selesai menutup toko tersebut.


"Kamu ikut aku aja", Kata Nina pada Adel.


"Trus motorku gimana?", tanya Adel.


"Masukin ke toko aja", kata Nina lagi.


"Nggak mau ahh besok kan Adel kuliah gak mungkin ke sini lagi untuk ambil motornya, gini aja aku di depan mbak, mbak iringi aku aja, gimana?", tanya Adel.


"Iya udah deh terserah kamu aja", ujar Nina.


Adel menstarter motornya. Ia mulai menjalankan motornya secara perlahan di ikuti oleh Nina di belakangnya.


Nina terus mengikuti motor Adel yang ada di depannya. Perjalanan mereka cukup memakan waktu. Lampu merah dan jalanan macet membuat perjalanan terasa bertambah jauh. Nina menghidupkan musik di mobilnya untuk membuang rasa jenuh. Tembang-tembang lawas bergema dalam mobil tersebut. Nina bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti irama lagu yang di dengarnya.


Adel menoleh ke belakang, melihat ke arah mobil Nina. Ia takut nanti Nina tidak mengikutinya atau salah jalan. Adel dapat melihat keberadaan mobil Nina. Adel kembali menjalankan motornya setelah lampu hijau menyala. Motor-motor seperti kupu-kupu beterbangan. Semua berjalan menyusuri jalan hitam pekat yang masih di bawah terik matahari. Nina mengikuti arah jalannya motor Adel. Sampai pada sebuah gedung mereka berhenti agak menyudut.


"Kamu yakin ini tempatnya?", tanya Nina pada Adel setelah mereka turun dari kendaraan mereka.


"Yakin seratus persen tidak akan salah", jawab Adel.


"Awas kalau kamu bohong", ujar Nina.

__ADS_1


"Tidak akan, aku aja yang masuk tanya sama satpam",ujar Adel.


"Iya udah sana",kata Nina.


Adel masuk mendekati pos satpam.


"Mau cari siapa neng?", tanya pak satpam.


"Mau tanya apa ini gedung untuk resepsinya kak Jimmy?", tanya Adel.


"Iya betul, memangnya neng siapanya pak Jimmy?", tanya pak satpam.


"Oh saya adik angkatnya, kemarin dia ngundang, kebetulan lewat sini jadi mampir dulu bentar, nanya biar tidak salah alamat ", jelas Adel berbohong. Dada Adel rasa terbakar menahan gejolak amarah.


"Ohh, iya betul neng ini tempatnya, tidak salah lagi",jawab pak satpam.


"Oh iya terima kasih pak satpam infonya", kata Adel.


"Iya neng sama-sama", kata pak satpam.


Adel permisi dan kembali menjumpai Nina di samping mobilnya. Muka Adel terasa panas.


"Kamu kenapa?", tanya Nina yang melihat wajah Adel merah padam.


"Satpam edan, orang nanya malah marah-marah. Sebaiknya kita pulang aja deh mbak, malas aku lihat tempat ini", kata Adel yang langsung menaiki motornya. Ia tak sanggup melihat wajah saudara satu-satunya itu.


"Laahh terus hasil perjalanan kita apa coba?", tanya Nina dalam bingungnya.


"Dari pada aku ribut dengan orang-orang itu lebih baik kita pulang saja, mbak tanya langsung saja nanti dengan kak Jimmy ", kata Adel seraya menstarter motornya dan perlahan meninggalkan tempat tersebut.


Nina melongo melihat kelakuan adiknya Adel. Tadi Adel lah yang menggebu-gebu mengajaknya kemari. Sekarang Adel juga yang mengajaknya untuk pulang. Nina menghela nafasnya. Dalam bingung, Nina akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan pulang.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen dan beri votenya juga ya readers yang baik.


Mampir juga ke karyaku lainnya:


Masih Ada Pelangi (tamat).

__ADS_1


__ADS_2