
"Nina ke kamar Adel dulu ya bu", kata Nina setelah meletakkan kantong plastik yang tadi di bawanya.
Bu Ratmi mengangguk. Nina menuju kamar Adel. Terdengar suara musik dari kamar Adel. Nina membuka kamar Adel yang tidak terkunci. Di lihatnya Adel bukannya mengerjakan tugas seperti yang tadi di bilang ibunya. Adel tidur dengan menelungkup. Bunyi musik mengalun lembut di kamarnya membuat Adel terbawa suasana. Ia akhirnya tertidur.
"Woii bangun ada gempa", kata Nina dengan suara tinggi seraya memukul kasur di samping wajah Adel.
Adel langsung terlonjak dan berlari keluar kamar...
Adel berteriak sambil mencari keberadaan sang ibu.
"Gempa, gempa, ibu, ibu, ibu dimana?", tanya Adel mencari sang ibu di setiap sudut ruangan.
Bu Ratmi yang melihat kelakuan anaknya tak seperti biasanya segera menangkap tangan Adel.
"Adel kamu kenapa?", sentak sang ibu.
Adel tersadar. Ia memandang ibunya dan melihat di sekelilingnya tidak terjadi apa-apa. Nina muncul sambil tertawa terbahak-bahak. Nina tertawa seraya menahan perutnya yang terasa sakit akibat terlalu keras tertawa.
"Kamu kenapa?", tanya sang ibu lagi pada anaknya Adel.
Adel yang sudah mengingat segala sesuatunya, langsung terduduk lemas di lantai.
"Mbak Na, bu. Dia gara-garanya. Orang lagi tidur, di teriakin gempa. Kaget aku, kirain benaran terjadi gempanya ternyata mbak Na ngerjain aku", ucap Adel seraya merebahkan tubuhnya dilantai.
"Lha lha koq malah berguling-guling di lantai. Sana! kembali ke kamar aja", ucap sang ibu.
"Males bu. Ada pengganggu", ujar Adel seraya melirik Nina yang sudah berdiri di samping ibunya.
"Itu ada macam-macam buah di bawain mbakmu, kupas gih", kata Bu Ratmi.
"Ada buah yang bisa di rujak gak?", tanya Adel seraya bangun dan menuju buah yang di tuju.
"Kamu ngidam ya?", canda Nina.
"Ngidam gundulmu. Cowok aja gak punya. Sembarangan ini mbak Na bu", ucap Adel merajuk.
"Mbak kamu cuma bercanda, jangan di ambil hati", kata sang ibu melerai suasana.
"Iya ambil jantung aja", ucap Nina kembali bercanda.
"Mbak Na tuh kali yang hamil!?kan ada pasangannya ", balas Adel.
Tiba-tiba muka Nina jadi murung. Ia duduk di kursi makan. Tangannya sibuk memaikan sendok yang ada di meja makan.
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi murung gitu?ada masalah sama Jimmy?",tanya bu Ratmi.
Nina menggeleng.
"Lalu kamu kenapa?gak mungkin kalau gak ada masalah murung gitu?", selidik sang ibu.
"Mertuaku menuntut anak laki-laki dari kami", ucap Nina tanpa mengalihkan pandangannya.
"Buat aja, tinggal bilang sama kak Jimmy. Kan beres", celetuk Adel sambil menikmati buah anggur yang tadi di bawa Nina.
"Itu masalahnya bu, sampai saat ini aku belum bisa memberikan anak lagi untuk bang Jimmy", jelas Nina.
__ADS_1
"Lah masalahnya apa?kamu kan subur", ucap sang ibu.
"Aku menderita PCOS bu atau lebih di sebut mandul", ujar Nina.
"Mbak kan gak mandul. Buktinya sudah punya Iza", ucap Adel.
"PCOS ini bisa juga di derita oleh wanita yang sudah mempunyai anak. Tapi pengubatannya lebih mudah walau suatu hari nanti PCOS ini bisa muncul kembali", ucap Nina.
"Trus, mbak Na sudah ke dokter?", tanya Adel.
"Sudah. Makanya mbak bisa tahu kalau mbak menderita PCOS itu. Sekarang dalam masa pengobatan. Kata dokter sudah mengalami perkembangan. Sekarang mbak lagi mens", jelas Nina.
"Lha apa hubungannya sama mens?", tanya Adel penasaran.
"Justru mens mbak bermasalah selama ini. Mbak sering terlambat dan tidak teratur. Pernah sampai tiga bulan baru mens. Mbak kira mbak hamil, ternyata nggak. Ini umur Iza sudah hampir empat tahun tapi tanda-tanda kehamilan belum ada sama sekali", kata Nina dalam kegundahan.
"Sabar aja, mungkin tuhan belum mau ngasih. Nanti kalau tiba waktunya pasti dapat lagi ", kata bu Ratmi menghibur anaknya.
"Iya ibu benar. Sebenarnya gak masalah mbak sudah punya Iza. Mertua mbak aja yang tidak bersyukur ", celetuk Adel sekenanya.
"Huss! ngomong koq gak di rem", sergah bu Ratmi.
"hehehe iya maaf", kata Adel sambil terus mengunyah.
"Mertuaku pingin ada penerus di keluarga besar Purnama. Anak Rinal perempuan juga. Jadi beliau sangat berharap kami bisa memberi kereka cucu laki-laki", kata Nina.
"Emang istri kak Rinal sudah melahirkan?", tanya Adel.
"Belum tapi sudah di USG dan jenis kelaminnya perempuan", jelas Nina.
"Tapi biasanya 90 % pemeriksaan USG itu akurat", jawab Nina.
"Iya deh. Semoga mbak bisa cepat hamil dan bisa mendapatkan anak laki-laki, aamiin", ucap Adel.
"Aamiin", jawab Nina.
"Kamu kapan wisudanya?", tanya Nina pada Adel.
"Kalau tidak di undur dan tidak ada halangan, mudah-mudahan bulan depan bisa terlaksana", kata Adel dengan mulut penuh.
"Kalau ngomong itu habisi isi mulutnya, biar terlihat sopan", ujar Bu Ratmi.
"Tanggung bu, gak papalah ngomongnya kan sama ibu dan mbak Na juga", dalih Adel sambil nyengir.
"Syukurlah kalau sudah mau wisuda, sukses buat adek mbak", ujar Nina.
"Iya mbak, aku juga tahu diri koq", ucap Adel.
"Maksudnya?", tanya Nina tak mengerti.
"Iya kan gak enak sama kak Jimmy kalau lambat selesai, kan mbak Na yang biayai kuliah Adel", kata Adel mesem.
"Itu gak usah kamu pikirkan. Sudah jadi kewajiban mbak. Pokoknya tetap semangat", kata Nina.
"Iya aku maunya setelah wisuda nanti aku mau buka usaha di bidang pertanian, aku boleh pinjam modal gak sama mbak?aku punya sedikit tabungan tapi belum cukup untuk modal usaha. Tenang aja akan ku kembalikan koq, aku akan cicil dari hasil perharinya", kata Adel.
__ADS_1
Nina tersenyum.
"Mbak bangga sama kamu, pikiran kamu sangat maju. Mbak dukung, akan mbak kondisikan biaya untuk kamu buka usaha nanti", kata Nina dengan senyum lebar.
"Benar nih mbak?", tanya Adel girang.
"Iyaa", jawab Nina singkat.
Adel bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Nina dan memeluknya.
"Terima kasih mbakku tercinta, terkasih, tersayang. Love you so much", kata Adel langsung memeluk Nina sambil berjingkrak-jingkrak.
"Aduh lepasin dong, mbak sesak nafas nih", kata Nina tersengal-sengal.
"Eehh iya maaf. Aku terlalu bahagia", kata Adel terkekeh.
Adel melepaskan pelukannya pada Nina. Nina mengatur nafasnya.
"Kamu tuh ya kebablasan. Awas saja kalau sudah nikah nanti suamimu kamu peluk sepeti tadi, bisa pingsan dianya", kata Nina.
"Makanya nantinya aku mau punya suami yang tahan di peluk", ucap Adel sekenanya sambil tertawa.
"Emang ada?", tanya Nina.
"Ada", kata Adel singkat.
"Semoga deh", kata Nina pada Adel.
"Sudah sore mbak pulang dulu ya, nanti bang Jimmy nyariin mbak. Nina pulang dulu ya bu", kata Nina pada ibunya dan Adel.
"Gak makan dulu?", tanya Bu Ratmi.
"Gak usah bu, masih kenyang'', jawab Nina.
"Iya udah hati-hati ya. Kasihan juga Iza lama di tinggal", ujar Bu Ratmi..
"iya bu," jawab Nina seraya mencium punggung tangan sang ibu.
Adel dan ibunya mengantar Nina sampai depan rumah. Nina masuk ke dalam mobilnya. Pulang.
.
.
.
.
.
Selamat membaca ya semua..
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
Wassalam.
__ADS_1