
Lamunan keduanya buyar saat sang pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Silakan mbak mas di cicipi", kata sang pelayan sopan.
"Iya ma kasih ya", kata Prili.
"Mas toiletnya di mana ya?",kata Jimmy pada sang pelayan.
"Kanan kemudian belok kiri mas", jawab sang pelayan seraya menggerakan arah tangannya.
"Ohh okelah, terma kasih ya", jawab Jimmy.
Pelayan berlalu dari hadapan mereka.
"Aku ke toilet dulu ya bentar",kata Jimmy pada Prili.
"Jangan lama-lama ya", kata Prili.
Jimmy mengangguk. Jimmy menuju toilet sesuai arahan sang pelayan.
Prili tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia menambahkan sedikit obat tidur dan obat perangsang yang di belinya di apotik tadi pada makanan dan minuman Jimmy. Setelah selesai Prili kembali bersikap seperti biasa agar Jimmy tak curiga padanya.
Jimmy kembali ke meja makan.
"Koq belum makan?", tanya Jimmy pada Prili.
"Nunggui kamulah", kata Prili.
"Oh gitu, ya udah yuk kita makan", kata Jimmy tanpa curiga.
Prili melirik ke Jimmy. Prili tersenyum karena Jimmy makan dengan lahapnya.
"koq makannya sedikit?", kata Jimmy yang melihat Prili sudah menghentikan makannya.
"Aku takut gemuk", jawab Prili asal.
"Kamu mau gemuk mau kurus masih tetap cantik juga", puji Jimmy tulus.
Prili merasa berbunga dengan pujian Jimmy.
"Ahh sudahlah walau aku cantik kamu juga tetap tidak mau sama aku", kata Prili merajuk.
"Uhuk uhuk", Jimmy tersedak.
Prili memberikan minum pada Jimmy. Jimmy menegak minum tersebut sampai habis.
" Makanya makannya pelan-pelan biar tidak tersedak", kata Prili basa-basi.
Jimmy menyelesaikan makannya. Setelah selesai makan, Prili bermaksud pergi ke toilet tapi di batalkannya karena melihat Jimmy sudah mulai memijit kepalanya.
"Sepertinya mulai beraksi", batin Prili.
__ADS_1
"Kamu kenapa?", Prili basa-basi.
"Kepala pusing banget, kita pulang ya", ajak Jimmy pada Prili.
"Gimana mau nyetir kalau kamu dalam keadaan seperti ini?", jawab Prili.
"Kamu aja yang nyetir", kata Jimmy.
Jimmy merasakan aliran darahnya bergejolak. Mukanya terasa merah padam.
"Kita pesan kamar aja dulu, kamu istirahat, setelah agak mendingan baru kita pulang", kata Prili memberi alasan.
"Terserah kamu saja, kepalaku pusing sekali", kata Jimmy seraya mengerjap-ngerjapkan matanya.
Prili memesan sebuah kamar. Prili membawa Jimmy ke dalam kamar tersebut.
Jimmy melepaskan kancing bajunya. Tubuhnya terasa gerah. Keringatnya membasahi tubuhnya. Pandangannya sedikit pudar.
"Aahhh ada apa denganku?kenapa aku tiba-tiba menginginkannya ahh", batin Jimmy.
Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih.
"Jimmy kamu kenapa?", tanya Prili.
Suara mendesis keluar dari mulut Jimmy.
"Ahh gawat kenapa jadi begini?mataku ngantuk banget ohhh", kata Jimmy melenguh menahan kantuk dan hasrat yang bergejolak dalam tubuhnya.
Pandangan Jimmy mulai memudar. Prili memegang bahu Jimmy. Ia mendekat kepada Jimmy. Jimmy yang sudah setengah sadar, mencengkram kuat tangan Prili. Jimmy merengkuh Prili ke dalam pelukannya. Prili yang sudah menyiapkan dirinya untuk Jimmy, pasrah saat Jimmy mulai meraup bibirnya dan ********** secara kasar.
"Sayang aku cinta kamu", kata Jimmy meracau.
Prili merasa hatinya berbunga. Prili menikmati permainan Jimmy. Tangan Jimmy bergerilya tanpa batas. Jimmy bermain-main dengan leluasa. Prili mendesah.
Jimmy melawan kantuk yang menyerangnya. Jimmy sangat ganas. Setiap inchi tubuh Prili di beri stempel. Prili terhanyut. Jimmy benar-benar membuatnya luluh dan terbuai. Antara kantuk dan hasrat Jimmy berusaha untuk bisa menyelesaikan tugasnya. Dalam keadaan mengantuk berat tapi tubuhnya menuntut yang lain. Jimmy tak kuat lagi menahan kantuknya, Jimmy segera menyelesaikan tugas akhirnya.
Penyatuan pun terjadi. Air mata Prili bergulir saat benda milik Jimmy menerobos masuk ke dalam miliknya.
Prili balas memeluk Jimmy saat Jimmy mencapai klimaksnya.
"Kini kamu tak akan bisa melepaskan aku", batin Prili tersenyum penuh kemenangan. Walau ia harus merelakan kesuciannya untuk Jimmy, ia puas akhirnya ia dapat menguasai Jimmy.
Jimmy terkulai di samping Prili. Jimmy akhirnya tertidur pulas. Prili yang merasa kelelahan akibat tenaga Jimmy yang luar biasa, akhirnya ikut tertidur di samping Jimmy.
Tanpa Jimmy sadari telepon genggamnya terus berdering.
Sementara itu Nina gelisah di rumahnya karena sudah jam pulang kantor Jimmy masih belum juga sampai di rumah.
"Kemana kamu Bang, di telepon tak di angkat, sudah hampir malam masih belum juga pulang", gumam Nina.
Waktu terus berlalu. Hari sudah menunjukkan jam sembilan malam. Jimmy terbangun dari tidurnya. Jimmy yang nyawanya masih belum terkumpul semua, duduk sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Aku ohh kenapa kepalaku pusing sekali", ujar Jimmy.
"Kamu sudah bangun?", kata Prili menyadarkan Jimmy.
Jimmy kaget ada orang di sampingnya.
"Prili apa yang kamu lakukan, kemana kamu ada di sini?", kata Jimmy terlonjak kaget melihat keadaan dirinya dan Prili yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Kamu tidak ingat?kamu telah merenggut kesucianku Jimmy, kita melakukannya. Kamu menikmatinya dengan dahsyatnya, kenapa kamu berkata seperti itu?", tanya Prili sambil menangis.
"Ahh tidak, itu tidak mungkin", jawab Jimmy seraya memunguti pakaiannya dan memakainya kembali.
"Jam berapa ini?oh tuhan sudah hampir jam sepuluh malam, Nina pasti menungguku, kita harus pulang sekarang, pakai pakaianmu", kata Jimmy seraya melihat jam di ponselnya.
Prili berusaha untuk duduk tapi selangkangannya terasa ngilu akibat permainan Jimmy. Darah Prili membekas di seprei berwarna butih tersebut.Jimmy melihat bercak darah tersebut.
"Prili apa kamu masih suci?", tanya Jimmy ragu.
"Apa maksud kamu?kamu kira aku barang second, lihat darah ini bukti kalau aku masih suci", kata Prili kecut.
Hatinya sakit di tanya Jimmy seperti itu.
"Aku mencintaimu Jim, aku rela kamu ambil dan nikmati. Aku terlanjur mencintaimu", kata Prili masih dalam keadaan menangis.
Jimmy terasa dengkulnya lemas. Dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Kenapa kamu lakukan ini Prili?", tanya Jimmy tak bersemangat.
"Karena aku mencintai kamu Jim", kata Prili terisak.
Jimmy meremas rambutnya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
"Kalau kamu masih tidak percaya kita melakukannya, aku ada buktinya, aku sempat merekam aksi brutal kamu tadi", kata Prili seraya menunjukkan video singkat aksinya dan Jimmy saat mereka melakukan hubungan intim tersebut.
"Ohh memalukan, hapus Prili jangan di simpan", kata Jimmy meminta Prili untuk menghapus video tersebut.
"Aku tak akan menghapusnya kalau kamu lari dari tanggung jawab", ancam Prili.
"Sudahlah kita pulang saja dulu, sudah malam. Besok kita bicarakan lagi, Nina pasti mengkhawatirkan aku, lihatlah dia sudah menelepon rupanya tapi tak di angkat, mungkin karena tadi kita tertidur. Kenakan pakaianmu kita pulang, aku akan mengantarkanmu", kata Jimmy.
Prili menurut. Ia mengenakan pakaiannya. Jimmy mengajak Prili keluar penginapan tersebut Jimmy mengantar Prili pulang ke rumahnya. Setelah itu barulah Jimmy pulang ke rumahnya.
.
.
.
Kasih vote, like dan komennya ya readers...
Mampir juga ke karyaku yang lainnnya:
__ADS_1
Masih Ada Pelangi(tamat).
Selamat membaca....