Tuanku Diktator Ulung

Tuanku Diktator Ulung
Kecewanya orang tua


__ADS_3

Prili menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang mama. Air mata Prili sudah membasahi baju mama Hanny. Sang asisten rumah tangga yang masih terbengong di depan pintu kamar Prili hanya terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.


Mama Hanny mengelus punggung sang anak berharap Prili dapat tenang. Benar saja, tak lama Prili akhirnya menghentikan tangisnya. Mama Hanny mulai berbicara padanya.


"Ada apa?tak biasanya Jimmy semarah itu sama kamu", kata sang mama.


"Dia marah karena tahu aku pernah memberi obat untuk Nina agar anak yang di kandung Nina bisa gugur", kata Prili pelan tapi yang mendengarnya seperti sambaran petir.


Mama Hanny dan bik Ina yang mendengar terbelalak, mendengar pengakuan dari Prili.


"Apa?",


Mama Hanny rasa tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Prili.


"Gila kamu ya. Sampai segitunya kamu mencintai Jimmy hingga kamu menurunkan harkat dan martabat kamu sendiri. Memalukan!!mama tak akan turut campur lagi urusan kamu. Kamu bukan saja membunuh calon bayi itu tapi juga membunuh nama baik keluarga ini", Mama Hanny keluar dari kamar tersebut. Menutup pintu kamar Prili dengan di banting. Prili dan bik Ina sampai kaget.


"Mama maafkan Prili ma, Prili khilaf ma", Prili mengejar sang mama.


"Pergi! mama malu punya anak penjahat", teriak mama Hanny.


"Tuhan dosa apa yang telah aku perbuat sehingga aku harus melihat darah dagingku menjadi seorang penjahat seperti ini",kata mama Hanny sambil menengadah ke langit-langit rumahnya.


Mama Hanny masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Mama Hanny menangis pilu. Dia tidak menyangka Prili anak semata wayangnya bisa bertindak sekejam itu.


"Mama maafkan Prili ma, Prili khilaf ma", kata Prili dengan tangisnya.


Prili menggedor pintu kamar mamanya. Tapi tak ada jawaban dari mama Hanny. Prili terduduk di lantai. Perutnya terasa nyeri. Prili menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu kamar mamanya sambil terus menangis.


Prili tak memperdulikan perih pada luka operasinya. Ia terus memanggil-manggil mamanya.


"Mama maafin Prili, mama buka pintunya ma. Mama!",teriak Prili.


Bik Ina mendekati Prili.


"Sebaiknya non ke kembali ke kamar saja, non kan masih sakit. Istirahat aja di kamar, semua sudah terjadi. Pikirkan kesehatan non. Ayo bibik antar ke kamar", kata bik Ina.


Prili menggeleng.


"Nggak bik, Prili ingin minta maaf dulu sama mama", kata Prili tak mau beranjak dari tempat duduknya.


"Nyonya lagi marah sama non, tak akan ada penyelesaian di saat hati masih panas non. Ayo kembalilah ke kamar", ujar bik Ina.


Prili membenarkan kata-kata bik Ina. Prili menghapus air matanya. Akhirnya Prili mau beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamarnya dengan di antar oleh bik Ina.


Bik Ina mengelus dadanya setelah tiba di luar kamar Prili.


"Nyesek banget pasti si nyonya, punya anak satu perempuan pula tapi tak bisa membahagiakan orang tua, astaghfirullah", ucap bik Ina.

__ADS_1


Pak Wibowo pulang dari kantor. Pak Bowo celangak celinguk mencari orang yang ada di dalam rumah tapi tak ada satu orang pun yang di temukannya.


"Bik Ina!", panggil pak Bowo lantang.


Bik Ina yang ada di dapur segera menuju sumber suara.


"Iya tuan ada apa?bibik sampai kaget", ucap bik Ina.


"Kirain gak ada orang, sepi banget. Mana mamanya Prili?", tanya pak Bowo.


"Ada tuan lagi di kamar", kata bik Ina seraya menunjuk kamar majikannya.


"Oh iya sudah saya ke kamar dulu", kata Pak Wibowo.


Wibowo langsung menuju kamarnya. Pak Wibowo kaget saat tahu kamarnya terkunci.


"Ma, buka pintunya ma", kata Pak Wibowo.


Pintu kamar terbuka. Pak Wibowo mengernyitkan dahinya saat melihat isterinya menangis. Hanny bukanlah wanita yang cengeng, kalau dia sudah menangis berarti hatinya benar-benar sakit.


"Ada apa ma?", tanya Pak Wibowo langsung.


Mama Hanny tidak menjawab, ia malah menghambur ke dalam pelukan sang suami. Hanny menangis sejadi-jadinya di dada bidang suaminya yang tak lagi muda tersebut.


Pak Bowo mengelus punggung isterinya, agar isterinya bisa tenang dan bisa di ajak bicara.


Pak Bowo mendudukkan isterinya di sisi tempat tidur.


Mama Hanny menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya melalui mulut secara perlahan. Dada yang terasa sesak sedikit merasa enakan. Mama Hanny mulai berbicara.


"Tadi Jimmy dan Prili ribut. Jimmy marah besar sama Prili", kata mama Hanny menghentikan sejenak bicaranya.


"Namanya juga rumah tangga ma pasti ada pasang surutnya", ucap pak Bowo bijak.


"Masalahnya rumit pa. Jimmy tak terima perlakuan anak kita", ucap mama Hanny kembali menangis.


"Masalah apa?apa Jimmy tidak lihat Prili lagi sakit gitu", ujar pak Bowo mulai emosi.


"Ini kejadiannya bukan sekarang pa, ini kejadian beberapa bulan yang lalu ", kata mama Hanny sambil sesunggukan.


"Bicara yang jelas ma", ucap pak Bowo.


"Prili penyebab Nina keguguran waktu itu pa, ia tidak ingin Nina mempunyai keturunan dari Jimmy. Dia memberi obat penggugur kandungan pada Nina pa. Aku malu pa sama Liana",ujar mama Hanny dengan tangisnya semakin mengguncah.


"Anak laknat. Memalukan. Di mana dia sekarang?", tanya pak Bowo naik pitam.


"Jangan marah berlebihan pa, ingat anak kita masih sakit", mama Hanny mengingatkan.

__ADS_1


"Itu karma dia, akibat terlalu terobsesi", kata pak Bowo seraya melangkah keluar menuju kamar Prili.


"Prili keluar kamu", suara pak Bowo terdengar lantang di dalam rumah. Bik Ina buru-buru keluar dari dapur menuju ruang tengah.


"Pa, ingat pa dia lagi sakit", kata mama Hanny berusaha mengingatkan suaminya.


"Anak ini harus di kasih pelajaran, anak tak tahu di untung", kata pak Bowo.


Pak Bowo membuka kamar Prili. Di lihatnya Prili duduk bersandar di tempat tidur sambil menangis.


"Kamu mau bikin papa dan mama malu hhah? serendah itu moral kamu, cuma karena seorang Jimmy kamu mau jadi penjahat. Papa bisa mencarikan kamu seratus Jimmy kalau kamu mau. Tapi ini, kamu sudah menjadi seorang pembunuh dengan mengatasnamakan cinta. Anak bodoh!papa malu punya anak seperti kamu", pak Bowo sangat marah.


Prili turun dari tempat tidurnya. Ia mendekati papanya.


"Maafin Prili pa, Prili khilaf pa", kata Prili sambil bersujud di kaki papanya.


"Papa tak sudi punya anak seorang pembunuh, lebih baik papa tak punya anak sekalian dari pada punya anak tak tahu diri seperti kamu", pak Bowo menepiskan kakinya yang di pegang Prili.


"Papa...aku mohon maafin Prili pa. Prili menyesal pa", ucap Prili masih terduduk di lantai.


"Menyesal? kemarin-kemarin tak bisakah otakmu berpikir waras untuk tidak bertindak ceroboh seperti itu",suara pak Bowo bergema di dalam rumah.


"Prili sangat mencintai Jimmy pa, aku tidak mau Nina mempunyai anak dari Jimmy. Aku hanya ingin cuma aku yang bisa punya keturunan dari Jimmy pa. Aku khilaf pa", ucap Prili seraya bangun dan kembali mendekati papanya.


"Jangan sentuh papa, papa jijik lihat kamu. Usir anak ini dari rumah ini ma", kata pak Bowo sambil melangkah meninggalkan kamar Prili.


"Papa..", kata Prili sesunggukan. Prili meminta bantuan sama sang mama. Tapi mama Hanny pun akhirnya melenggang meninggalkan kamar tersebut.


Bik Ina yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa mengelus dadanya.


"Mama...",


.


.


.


.


.


Siapkan tissue ya..bab ini mengandung bawang.


Selamat membaca ya readersku semuanya.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


__ADS_2