
Akhirnya Jimmy dan Nina bermalam di rumah kediaman Purnama. Jimmy tidak melupakan janjinya. Dia ingin Nina berkesan bermalam di rumah orang tuanya walau bukan malam pertama mereka nikah.
"Sayang, gimana?", bisik Jimmy setelah mereka rebahan di tempat tidur.
"Apanya?", tanya Nina.
"Ini kan malam pertama kita sayang", kata Jimmy seraya menjelajahi leher Nina dengan telunjuknya. Nina bersungut karena geli.
"Malam pertama di sini", protes Nina.
"Kan sudah di bilang kemarin, anggap ini malam pertama kita", kata Jimmy.
"Jahil amat sih bang", ucap Nina saat Jimmy memainkan daun telinganya.
Nina menyingkirkan tangan Jimmy.
"Cuma gini doang", kata Jimmy seraya menarik lengan Nina agar tubuh Nina menghadap padanya.
"Aku mau tidur", kata Nina pada Jimmy.
"Jadi gak mau nih?", tanya Jimmy mulai serius.
Nina menggeleng. Jimmy tak mau ada lagi basa-basi. Di raupnya bibir Nina. Nina ingin protes tapi Jimmy sudah memeluknya dengan erat. Tak ada pilihan bagi Nina. Berontak pun percuma. Nina membiarkan saat Jimmy mulai bergerilya di tubuhnya. Nina tak protes lagi. Jimmy tersenyum penuh kemenangan.
"I love you", bisik Jimmy.
Nina hanya memejamkan matanya . Jimmy semakin bersemangat. Nina dengan gerakan yang sudah terbatas harus rela saat suaminya menjelajah setiap inchi tubuhnya.
"Bang", cuma kata itu yang mampu di ucapkan Nina. Nina meremas rambut Jimmy.
Jimmy tak peduli. Dia ingin membuat Nina terkesan malamini. Nina benar-benar di buat terbang oleh Jimmy.
Pergulatan yang sangat panjang. Hanya deru nafas yang memburu terdengar. Nina terbuai dengan sentuhan-sentuhan suaminya.
Dunia seakan milik berdua, yang lain pada ngontrak. Mereka sudah larut dalam buaian kasih asmara. Hening. Tak ada suara.
Sampai tiba akhirnya, Jimmy tak kuasa lagi untuk berpacu. Keduanya mencapai puncak kenikmatan.
"Aku di mana?", goda Nina.
"Di surga sayang", jawab Jimmy sekenanya.
Keduanya terkulai lemas. Selang beberapa menit, keduanya menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah dalam keadaan bersih, keduanya akhirnya tertidur dengan sangat pulasnya.
Nina terbangun seperti biasa. Nina langsung menuju kamar mandi. Tak lama terdengar bunyi gemericik air dari dalam sana. Nina mandi dulu sebelum melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Selesai melaksanakan kewajibannya Nina mendekati tempat tidur untuk membangunkan Jimmy suaminya.
"Bang bangun sudah pagi, sholat dulu gih", kata Nina.
Jimmy menggeliat.
"Bang bangun", kata Nina lagi.
"Masih ngantuk, bentar lagi ya", ucap Jimmy.
"Nanti kan bisa tidur lagi bang", ucap Nina lagi.
__ADS_1
"Iya bentar lagi", kata Jimmy sembari kembali memeluk gulingnya.
"Iya udah, benaran ya", kata Nina.
"Iyaa", kata Jimmy.
Nina turun dari lantai dua tersebut. Nina menuju dapur.
"Masak apa bik?", tanya Nina pada asisten rumah tangga keluarga Purnama.
"Roti panggang non, kesukaan non Wina", kata sang bibik.
"Sini aku bantu bik", kata Nina.
"Eehh gak usah non bisa di pecat aku nanti", ujar sang bibik.
"Gak apa-apa bik, aku juga bosan gak ada yang bisa di kerjakan", kata Nina seraya mendekat pada sang bibik.
"Benar nih non?gimana kalau nanti nyonya marah?gawat non", ucap sang bibik agak takut.
"Gak mungkin lah bik. Mama orangnya baik koq. Lagian ini bukan pekerjaan berat kan. Sini biar Nina aja, bibik kerjakan yang lain aja", ujar Nina.
"Iya udah deh tapi itu aja ya non, gak usah yang lain lagi", ujar sang bibik takut.
"Iya", kata Nina singkat.
"Kalau boleh nanya nama bibik siapa?biar Nina enak manggilnya", ucap Nina.
"Surti non, panggil aja bik Surti", ucap bik Surti.
Nina membantu bik Surti sampai selesai.
"Nina ke atas dulu ya bik, mau lihat bang Jimmy dulu", kata Nina memberi tahu bik Surti.
"Baik non, hati-hati naik tangganya ", ucap bik Surti.
"Iya bik", jawan Nina.
"Anak yang baik, beda banget sama isteri den Jimmy satunya ", gumam bik Surti setelah Nina naik ke atas.
"Ya ampun bang masih tidur, tadi bilangnya iya mau bangun tapi ini masih mendengkur. Bangun bangun", kata Nina dengan suara agak di tinggikan.
"Ini jam berapa?", tanya Jimmy masih tiduran.
"Jam tujuh kurang, ayo bangun", kata Nina.
"Kamu seperti pelatih sekolah militer aja", gumam Jimmy.
"Baru juga jam tujuh, masih pagi", dalih Jimmy.
"Iya, malu bang ini di rumah mama bukan di rumah kita", jelas Nina seraya menarik selimut yang menyelimuti tubuh Jimmy.
"Oh iya aku lupa, kamu mulai hari ini ngantor juga ya. Paling lama satu bulan. Menggantikan posisi sementara Marsel. Nanti kalau Marsel sudah mulai kerja lagi, kamu boleh stop. Ini cuma sementara. Karena setelah ku pikir-pikir hanya kamu yang bisa di posisi Marsel. Jadi pilihanku ada pada kamu", jelas Jimmy.
"Trus aku kerja pakai pakaian apa?", tanya Nina.
Jimmy berpikir sejenak. Jimmy melihat jam beker yang ada di meja kecilnya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang ", ucap Jimmy enteng.
Nina melongo. Suaminya Jimmy sangat suka membuat acara dadakan seperti ini.
"Ayo bersiap, kita pulang sekarang ", ajak Jimmy.
"Iya bang. Dadakan mulu sih bang", gumam Nina.
Nina membereskan tempat tidur mereka dan merapikannya. Jimmy menuju kamar mandi. Tak lama Jimmy kembali dengan tubuh terlilit handuk.
"Bentar amat mandinya bang?", tanya Nina ketika melihat Jimmy sudah selesai dengan ritual mandinya.
"Namanya juga darurat", Jimmy melangkah menuju lemarinya.
Sedangkan Nina mengambil paper bag untuk mewadahi pakaian kotornya. Jimmy selesai berpakaiannya.
"Ayo", ajak Jimmy.
Nina menurut saja saat tangan Jimmy menggandeng tangannya. Jimmy mengambil ponselnya. Nina menyambar tas kecilnya sebelum meninggalkan kamar.
Wina berpapasan dengan mereka saat jimmy dan Nina menuruni anak tangga.
"Lho mau kemana pagi-pagi gini?", tanya Wina.
"Kakak pulang ya. Bilang sama papa dan mama, Nina mau ke kantor hari ini pakaiannya gak bawa jadi kami mau pulang dulu sekarang", kata Jimmy.
"Ohh gitu. Sarapan dulu mbak baru pulang", ujar Wina.
"Sarapannya nanti saja deh", kata Jimmy.
Nina tak bisa berbuat banyak hanya bisa tersenyum pada adik iparnya itu. Jimmy menggandeng tangan Nina menuju garasi mobil.
Ketika akan membuka pintu mobil, Jimmy baru sadar kalau kunci mobilnya ketinggalan.
"Tinggal lagi tuh kunci",Jimmy menggerutu.
"Pakai mobil ini aja, aku juga gak mau bawa mobil kalau kamu ada. Kamu yang nyetir", ucap Nina.
"Ya udah deh, biar pak Harto nanti yang antar mobil ke rumah", kata Jimmy.
Jimmy membukakan pintu mobil untuk Nina. Jimmy menyusul setelahnya. Mobil pun melaju menuju rumah mereka.
.
.
.
.
Lanjut bacanya ya readersku.
Like, komen dan kasih votenya ya jangan lupa.
Mampir juga ke karyaku yang lain:
Masih Ada Pelangi (tamat).
__ADS_1